Harap Baca Suamiku Pria Lumpuh, supaya nyambung dengan kisah mereka, ya.
Bagaimana, jika orang yang kamu cintai, adalah seorang yang telah menjadi masa lalu terburukmu. Yang telah menjadi penyebab penderitaanmu dimasa lalu. Padahal, Ia telah memberikan semuanta untukmu.
Carolina Hermawan. Gadis yatim piatu itu baru saja mengenal sebuah cinta dan bahagia, sejak bertemu dengan Reza Edwardo. Salah satu pewaris Nugraha's company.
Mereka sepakat menikah usai Olin wisuda, dan telah merancang semuanya. Tapi, rupanya keluarga Nugraha atau Papa Edward memiliki masa lalu diantara keluarga Olin.
Apa masalah itu, dan bagaimana mereka menghadapinya? Berstu, atau justru memcari jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecupan pertama dari Olin.
"Hanya, Oh?"
"Lalu, kau mau aku bagaimana? Apa, aku harus berjingkrak memberimu semangat? Atau bahkan, sambil menciummu?"
Reza langsung bergidik, membayangkan ucapan Ali yang begitu absurd baginya.
"Sudahlah, mending aku pulang. Kai sudah begitu mengantuk, begitu juga aku. Semoga, besok tak ada panggilan darurat dari Bos Papi."
Ali kemudian pergi, meninggalkan Dua orang yang tengah kasmaran itu.
"Adik Ali, cantik ya?"
"Ya jelas cantik, dia kan perempuan."
"Aku, apakah cantik? Atau, cantik hanya karena seorang perempuan?"
Pertanyaan itu, menghentikan langkah kaki Reza secara tiba-tiba.
"Kok, nanyanya begitu? Kenapa?"
"Engga," Olin berusaha mengalihkan perhatian. Ia menggandeng Reza, keluar dari area mall itu.
"Mau kemana?"
"Ke taman, tempat kita sering ketemu." ajak Olin.
Reza kembali memacu motornya, lalu menuju taman yang di ceritakan Olin. Mereka duduk bersama di kursi, tepat seperti ketika mereka bertemu dulu. Hanya saja, kali ini dengan keadaan berbeda.
Olin menyandarkan kepalanya di bahu Reza, menatap bintang yang gemerlapan diatas langit dengan bulan yang bersinar cerah.
"Mas?"
"Ya, sayang?"
"Tidak, hanya ingin. Memanggil," Olin seperti tengah menahan sebuah kata yang ingin terucap dari bibirnya.
Penasaran, tapi Reza tak ingin mempertanyakannya. Ia tengah menikmati moment yang indah sekarang. Tanpa ada gangguan dari siapapun.
Reza mengganti posisi. Ia berbaring di pangkuan Olin, sejenak memejamkan mata, dengan Olin terus membelai dan memainkan rambutnya..
"Aku hanya ingin, tapi kau belum mengabulkannya. Aku hanya mau, tapi kau masih berat mengatakan iya. Yang aku bisa, hanya terus menunggu. Menunggu dengan segala rasa yang nyaris tak pernah terduga olehku."
"Aku sudah mengatakan iya. Hanya saja, menunggu sebuah moment yang tepat untuk kita. Kamu bersyukur. Meski rumit, tapi tak ada yang merendahkanmu serendah-rendahnya kamu hidup di dunia. Apalagi, dengan segala kurang yang kamu miliki." jawab Olin.
Reza mendongakkan kepalanya, tangannya meraih wajah Olin dan membelainya begitu lembut. Tak ada kata lagi yang bisa terucap. Karena Ia ingat, jika sejak awal mereka akan membagi kepelikan hidup bersama.
" Udah malam, pulang yuk? Nanti, Papi cariin." ajak Olin.
Reza pun segera berdiri, mengulurkan tangannya dan Olin segera meraihnya.. Malam yang singkat, tapi begitu berkesan. Mereka bahkan tak pernah ingat akan hari jadi mereka. Tapi, mereka akan ingat setiap moment membahagiakan dalam hidup berdua.
Reza kembali mengantar Olin pulang. Bahkan hingga ke depan pintu kostnya.
"Ngga nawarin mampir, ya? Soalnya udah malem."
"Iya, aku tahu. Selamat malam, Olin."
"Selamat malam juga, Mas. Makasih, bonekanya." ucap Olin.
Reza mengangguk, lalu pergi setelah Olin menutup pintu. Berjalan pelan, menyusuri tempat yang mulai sepi itu. Hingga langkahnya, terhenti karena sebuah panggilan yang begitu lembut padanya..
"Mas?"
"Ya, Sayang?" Reza membalik badan, dan Olin berlari kecil menghampirinya.
"Apa?" tanya Reza, dengan senyum manisnya.
Cupp!
Olin tak berkata apapun, hanya mengecup pipi Reza. Kemudian, Ia segera membalik tubuh dan berlari lagi masuk ke kamarnya.
Reza terdiam mematung. Ia mengusap pipi, bekas kecupan Olin padanya. Lemas, lunglai, dan pastinya letoy seperti biasa. Tulang dan persendian seolah tak memiliki tenaga lagi, bahkan nyaris jatuh ketika menuruni anak tangga yang ada disana.
"Carolina? Aaaahhhh...." Reza menahan degup jantungnya yang bergetar begitu cepat.
"Rasanya, begitu sesak. Aaakkkkhhh!"
Reza berlari cepat, menuju motornya dan segera pulang. Untung saja, Ia masih bisa fokus dan selamat sampai ke tujuan. Ia pulang, dengan rasa yang begitu bahagia.
*
Intensnya Zaolin bertahap ya kak.🙏🙏🙏 Hadirnya Mami dan Papi disini, karena memang mereka wali utama Reza dan Papanya yang juga akan bangkit nanti.
Belum tau, bangkit baik, buruk, atau malah lupa segalanya. Ckckck.. Kasihan Babang Eza kalau Papanya lupa permanen..
dan dijawab tinggal ditempat jauh dan butuh waktu untuk pembuktian