Kyra Andini resmi menjadi Nona di keluarga Wiratama. Namun, gelar itu tak seindah harapannya. Nyatanya pria yang menjadikannya halal, justru membenci kehadirannya.
Setiap hari perlakuan Kaisang Adipta Wiratama tak pernah baik, selalu dingin dan menganggap Kyra hanya patung pajangan saja.
Karena suatu malam terjadi kesalahan, menjadikan Kyra mengandung anak Kai. Meski begitu, Kai masih tetap berlaku kasar. Bahkan, tanpa sepengetahuan istrinya, Kai berselingkuh dengan sekretarisnya di kantor.
Bagaimanakah kelanjutan kisah rumah tangga Kai dan Kyra? Tetap bertahan, atau bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Andini Berusaha Bangkit
Kyra meninggalkan gedung tinggi di hadapannya dengan senyum mengembang penuh. Berapa saat lalu dia baru usai interview dengan manager perusahaan, dan berita baiknya dia diterima di perusahaan itu meski hanya sebagai staf bawah. Kyra juga harus melewati 3 bulan masa training untuk melihat performa kerjanya. Selama tiga bulan itu gaji yang diterima hanya separuh dari gaji karyawan tetap. Tapi semua itu tidak masalah, dia akan memulai dari nol.
Dari kantor ke rumah, membutuhkan waktu 45 menit dengan mengendarai motor matic. Sampai di rumah, Kyra gegas masuk untuk menemui putri semata wayangnya.
"Kaina sayang." Kyra mengambil alih Kaina dari gendongan Bu Idah. Dia ciumi pipi anaknya dengan gemas dan bahagia. "Kamu tahu, Sayang, Bunda diterima kerja. Alhmdulillah," ucapnya dengan penuh suka cita.
"Uaau ... mamama." Hanya seperti itu suara Kaina membalas setiap ucapan yang berkata padanya. Namun Kyra tahu, Kaina pasti ikut merasa bahagia.
"Papapa ...." Deg! Kyra terdiam, Kaina berceloteh atau memanggil ayahnya, membuat Kyra bergeming. Sudut mata Kyra mengembun hampir meneteskan air mata. Meski Kaina tidak bisa bicara, tetapi Kyra menangkap kerinduan dari sorot mata Kaina. Mungkin putrinya yang spesial itu merindukan sosok ayah.
"Kaina sudah mam?" Kyra mengalihkan kesedihan. Walau sebanyak apapun dia bertanya dan tidak mendapat jawaban, tetapi sangat meski hanya mendengar Kaina berceloteh.
"Bu, hari Senin dan selanjutnya saya titip Kaina, ya, Bu. Saya harus kerja pagi dan pulang sore," kata Kyra menoleh pada Bu Idah.
"Iya, Non. Ibu pasti jaga Nona Kecil dengan baik."
"Makasih, ya, Bu."
•
Pagi yang cerah seceria wajah Kyra yang telah bersiap untuk kembali memasuki gedung tempatnya bekerja mulai hari ini. Dia menunggu di bagian lobi untuk mendapat panggilan dari bagian personalia untuk menunjukan di ruang mana dia harus bekerja juga mendapat kartu absensi.
"Kyra Andini, silahkan ikuti saya," ucap seorang perempuan cantik mengenakan kemeja cream.
"Oh, baik," ucap Kyra dan segera mengikuti.
Kyra di bawa ke ruang desain busana, di sana sudah ada 7 orang yang menempati tempat duduk masing-masing.
"Perhatikan semuanya, ada anak baru yang akan ikut menempati ruangan devisi desain bagian 2. Namanya Kyra Andini, semoga kalian bisa saling membantu."
"Dan kamu, Andini, kamu minta ajari Desta apa saja pekerjaan yang bisa kamu lakukan."
"Baik, Bu Nisa." Kyra mengangguk. Dia membaca name tag wanita itu bernama Nisa.
"Ya sudah, saya tinggal," katanya dan mulai berlalu.
"Hai Kyra," sapa salah satu dari 7 orang itu dan mendekati Kyra.
"Hai, Mbak," balas Kyra sedikit canggung.
"Aku Desta. Aku kenalin semua yang ada di sini ya. Ini namanya Rani, Salsa, Mala, Tasya, Raihan dan Alvin." Desta menunjuk satu per satu.
"Hai, Andini. Perkenalkan, pria paling tampan di ruangan desain bagian dua. Aku Raihan Sucipto, pria single yang masih mencari jodoh."
"Huuuuu!" Semua langsung bersorak ramai. Pria bernama Raihan itu menyengir dengan menggaruk kepala bagian belakang.
"Ssttth, kalian ribut banget! Nanti kena tegur Bu Nisa!" Desta memperingati.
"Abisnya, si kudet caper-caper sok kegantengan gitu," sahut Alvin.
"Usaha, Man! Siapa tahu bisa terlepas dari masa jomblo yang menyakitkan."
Kyra tersenyum menanggapi selorohan dari rekan-rekan barunya. Dia senang disambut ramah oleh mereka.
Kyra mengambil duduk di dekat Desta dengan sebelah kirinya ada Alvin.
"Eh, Vin! Tukeran posisi yuk, biar gw dapet kesempatan," kata Raihan yang melirik Kyra duduk bersebelahan dengan meja Alvin.
Alvin justru justru menjulurkan lidah seperti anak kecil. "Sorry worry, Dewi Fortuna sedang berpihak ke gw."
"Eh, kalian bisa diem, gak? Beneran nih aku panggilin Bu Nisa buat ngasih kartu merah pada kalian!" tegur Desta.
"Oke-oke, kita balik kerja," sahut Raihan sambil mendekus membuat Desta menggeleng kecil.
Kyra memutuskan untuk merubah panggilan menjadi Andini. Dia benar-benar ingin mengubur masa lalu dan memulai dengan identitas baru. Orang akan mengenalnya dengan Andini, wanita tanpa pantang menyerah yang akan berusaha bangkit untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya. Bukan sebagai Kyra, istri Kaisang Adipta Wiratama yang dianggap bodoh dan hanya terkurung dalam istana bak neraka yang diciptakan pria itu.
Hari pertama bekerja tidak begitu sulit, Kyra hanya diminta membantu Alvin menyelesaikan desain pakaian casual bagi para remaja, di mana pekerjaan itu sangat di sukai Kyra.
Pukul lima sore Kyra baru menempelkan kartu absensi, sehabis itu dia melewati lobi dan berjalan menuju parkiran. Dia mengambil motornya dan tidak sabaran untuk kembali ke rumah. Di mana Kaina pasti sedang menunggunya.
•
Di kediaman Bagus Wiratama.
"Pi, sampai kapan kita akan menghukum Kai?" Hana berjalan mondar-mandir di depan Bagus.
Walau dia murka dengan Kai, tetapi jiwa keibuannya tetap tidak tega memberi hukuman berat pada Kai.
"Mi, jangan khawatir! Biar Kai dengan kehidupan barunya. Biar dia merasakan bagaimana hidup sudah dan tidak akan menyombongkan apa yang dia punya. Apalagi semena-mena menyalahgunakan kekayaan untuk bermain perempuan dan menyakiti Kyra. Sungguh, Papi masih sangat geram dengan Kai. Biar dia merasakan ganjaran yang setimpal, dan menyesal dengan perbuatannya," ujar Bagus masih terlihat menggebu.
"Tapi, apa Papi akan lepas tangan gitu aja?"
"Papi memang lepas tangan, tapi Papi tidak lepas awas. Tetap melihat dia dari kejauhan."
Hana menghela napas panjang dan duduk di samping Bagus. "Mami terserah Papi, tapi jangan sampai fatal semuanya, Pi. Kyra maupun Kai, tetap anak-anak yang kita punya. Sebenarnya Mami sangat sedih mereka bisa bercerai berai, tapi bagaimana lagi, semua sudah terlanjur rumit."