Viona tidak menyangka jika dirinya akan ber transmigrasi menjadi seorang ibu tiri jahat pada tahun sembilan puluhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BULI
Beberapa hari ini Vina mengikuti kakek Darma ke kebun kopi. Semua rumput akhirnya selesai di bersihkan oleh mereka berdua. Untuk jahe sementara waktu dibiarkan dulu. Vina ingin mencoba berjualan jahe ting-ting di kecamatan. Kalau mendapatkan harga jual yang bagus, maka akan ia lanjutkan untuk menggali.
Saat tengah berjalan pulang, samar-samar Vina dan Kakek Damar mendengar suara tangisan. Keduanya mempercepat langkah kaki mereka.
Tak lama kemudian mereka berdua melihat pemandangan yang mengiris hati. Bian terbaring diatas tanah dengan tubuh yang babak belur. Kedua mata anak itu terpejam. Adin menangis di sampingnya dengan wajah yang penuh luka, meski tidak separah Bian. Vina langsung menjatuhkan barang bawaanya dan mendekati mereka.
"Ada apa ini?" tanyanya dengan khawatir.
"Tante...tolong Bang Bian," pinta Adin dengan sesenggukkan. Vina pun tahu kalau saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya lebih lanjut.
Vina segera memeriksa nadi dan pernafasan Bian. Meski dia bukan seorang dokter namun jika pemeriksaan kecil saja dia masih bisa melakukannya Dia cukup khawatir saat melihat kondisi Bian seperti ini, untungnya dia hanya pingsan.
Vina pun menggendong Bian ke rumah Jaka. Adin hendak mengikuti namun kakinya terkilir. Andai tidak terkilir pasti ia sudah lari mencari pertolongan sejak tadi.
Kakek Darma meletakkan barang yang dibawa di samping keranjang Vina. Setelah itu membawa Adin ke dalam gendongannya. Kemudian dengan cepat menyusul Vina yang sudah jalan lebih dulu.
Jaka sangat terkejut melihat kedatangan Vina yang tiba-tiba. Namun lebih terkejut lagi saat melihat Bian yang ada di gendongannya. Ia pun bangun dan memberikan ruang bagi Vina untuk meletakkan Bian disampingnya.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Jaka dengan marah. Tatapannya sangat tajam saat menatap Vina.
"Aku juga tidak tahu. Aku baru saja pulang dari ladang . Kalau_"
"Apa Kamu belum puas menyiksanya," kata Jaka dengan getir. Ia langsung memotong begitu saja ucapan Vina tanpa menunggu kelanjutannya. Ia pikir Vina kembali melakukan kekerasan pada Bian. Vina asli memang pernah melakukan kekerasan pada Bian maupun Adin, tetapi tidak separah ini.
Belum sempat Vina menyangkal, Kakek Darma tiba sambil menggendong Adin di tangannya. Gadis itu belum menghentikan tangisannya. Begitu melihat ayahnya , ia langsung mengadu.
"Ayah...sakit,"adunya.
"Kenapa bisa sampai begini?" tanya Jaka dengan lembut. Namun matanya melirik Vina yang berdiri di samping ranjang. Kebetulan Kakek Darma sedang menatap ke arahnya. Sepertinya ia tahu kalau Jaka salah faham sama Vina.
" Bukan Vina yang melakukan," kata Kakek Darma.
"Tadi Kami bertemu Adin sama Bian di jalan," lanjut beliau. Jaka terkejut mendengarnya. Ia telah salah paham pada Vina.
"Apakah benar?" tanya Jaka pada Adin. Adin menganggukkan kepalanya. Kemudian dengan terbata-bata menceritakan kronologis kejadiannya.
Ternyata kedua anak ini tadi bermain, namun sekelompok anak nakal mengolok-ngolok mereka tidak memiliki Ibu. Awalnya mereka diam saja, namun karena tidak ada tanggapan anak nakal itu naik pitam. Mereka mengeroyok si kembar . Saat akan berlari kaki Adin terkelir. Sedangkan anak-anak nakal itu terus memberikan pukulan pada mereka sampai Bian pingsan. Saat itulah mereka ketakutan dan melarikan diri.
Tidak hanya Jaka saja yang marah saat mendengarnya. Kakek Darma bergegas mencari kepala Desa. Hal ini tidak bisa di diamkan begitu saja.Vina memutuskan untuk membawa Bian ke puskesmas agar mendapatkan perawatan. Lebih cepat lebih baik. Ia mengambil beberapa baju buat Bian.
"Bian Aku bawa dulu ke Puskesmas. Nanti kalau Kakek datang, tolong suruh menyusul kesana. Kalau bisa bawa Adin sekalian biar diperiksa. "
"Terima kasih. Maaf tadi Aku sempat salah paham padamu, " kata Jaka dengan tulus. Ia benar-benar berterima kasih, karena tanpa ia pinta pun Vina berkenan menyelamatkan Bian.
"Sudahlah,... Aku faham kok. Yang lalu biarlah berlalu, yang penting Mereka dulu. Aku berangkat! "
Tanpa memberikan kesempatan Jaka berbicara, Vina menggendong Bian keluar dari rumah. Karena hari masih siang, banyak orang yang masih ada di ladang atau pun hutan. Vina tidak melihat seorangpun di jalan.
Vina langsung membawa Bian ke sungai tanpa mampir ke rumahnya dulu . Padahal dirinya tidak mempunyai uang sama sekali.
Saat ia hendak membayar perahu getek, barulah ia sadar jika tidak satu koin pun di sakunya.