Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 Kencan lagi?
"Kamu suka, kan, dengan bunga mawar kuningnya?" tanya Kael setelah menghentikan mobilnya di parkiran restoran padang yang direkomendasikan Adelia. Sebenarnya dia sudah pernah beberapa kali makan di sana. Baik sendiri atau ketika bersama Levi.
"Suka." Adelia melepaskan seatbeltnya.
"Kenapa pilihan kamu warnanya kuning terus?" Adelia menatap Kael.
"Kamu mau diganti warna apa?" Kael tidak jadi membuka pintu mobil, dia kini berbalik menatap Adelia.yang ternyata sedang memandangnya.
"Merah?" tanya Kael agak enggan. Dia benar benar tidak menyukai warna itu.
Adelia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan warna merah. Tapi jangan warna kuning terus juga." Adelia membuka pintu mobilnya.
"Aku bisa sendiri," tukas Adelia cepat ketika Kael akan membuka mulutnya. Adelia tau kalo Kael akan memintanya tetap berada di mobil sampai dia membukakan pintu mobil untuknya.
Kael menganggukkan kepalanya.
"Oke. Besok akan aku kirimkan warna yang lain."
Adelia tidak jadi menurunkan kakinya, keluar dari dalam mobil.
"Jangan besok. Mawar mawarnya masih segar segar," larang Adelia dengan senyum tersungging d bibirnya.
Kael tertawa tanpa suara sambil membuka pintu mobilnya.
Mengirim mawar hanya alasannya saja. Dia hanya ingin bertemu Adelia.
Mereka berjalan beriringan ke dalam restoran.
Tapi langkah Kael dan Adelia tertahan oleh seruan beberapa orang perempuan muda di depan mereka.
Adelia masih mengingatnya. Begitu juga Kael.
"Hai.... Kita ketemu lagi," sapa Nesie antusias. Dia bersama dengan Lisa, baru saja selesai makan siang.
Adelia tersenyum, sedangkan Kael melihat ke arah lain.
"Kak, maaf, ya, sering menyusahkan," ucap Nesia dengan wajah ngga enak karena melihat ketakacuhan Kael. Laki laki itu sepertinya masih marah.
Baru sekarang dia bisa melihat Kael seutuhnya. Nesie melirik Lisa yang juga sedang menatap Kael.
Pantas saja Nafa berpaling dari Arsa. Kael ganteng banget. Dia juga macho dan atletis, batin Nesie memuji.
"Ngga apa apa, kok. Saya duluan, ya," pamit Adelia setelah melemparkan senyum ramahnya pada kedua perempuan muda yang selalu dia temui secara kebetulan. Dan sepertinya katanya, selalu menyusahkan.
"Ya, kak," sahut Nesie dan Lisa kompak.
Keduanya memperhatikan Adelia dan Kael yang menjauh, memasuki restoran.
"Cantiknya beda auranya sama kita," komentar Lisa setelah dari tadi mengamati Adelia dan Kael.
"Iya. Aura old money," kekeh Nesie yang diikuti Lisa.
Tapi kemudian Nesie menepuk keningnya.
"Kita lupa nanya namanya."
"Oh iya." Lisa juga menepuk keningnya. Dia sama.sekali mgga kepikiran.
"Perlu, ngga, kita ngasih tau Nafa kalo mantannya dengan pacar barunya sedang makan di sini?" tanya Lisa meminta pendapat Nesie.
Nesia menatap pintu masuk restoran. Kael dan pacar barunya sudah tidak ada di sana. Mereka sudah masuk ke dalam.
Nesie menarik nafas dalam.
"Sebaiknya engga. Anggap aja ini balas jasa kita karena gadis itu selalu memaafkan kecerobohan Jeni." Nesie menatap Lisa yang kemudian tersenyum setelah mendengar ucapannya.
"Oke. Aku juga ngga ingin Nafa mengganggu pasangan ideal itu. Sepertinya mereka sedang kencan." Lisa tersenyum agak lebar.
"Iya. Kelihatannya Kael yang kecintaan," tukas Nesie. Dia tidak percaya gadis sebaik itu bisa menikung Nafa.
Mereka sudah sangat mengenal karakter Nafa, karena sudah sejak lama bersama. Bahkan karakter yang lainya. Mereka jatuh bangun meniti karir hingga bisa seperti ini.
Kalo info ini diketahui Nafa, temannya pasti akan langsung datang dan membuat drama yang memalukan di restoran ini.
Pacar baru Kael ngga pantas mendapatkan perlakuan buruk dari Nafa. Bukan salah dia, kan, kalo Kael menggantikan posisi temannya.
"Mereka juga kayaknya setara. Orang orang seperti kita cukup dikasih tas LV atau hermes aja udah bahagia banget. Ngga usahlah nuntut dinikahi," cibir Lisa.
Nesie tergelak mendengarnya.
*
*
*
"Aku sudah pernah beberapa kali makan di sini," ucap Kael sambil memotong tunjangnya sebelum menusuknya dengan garpu.
"Oooh.... Berarti enak, dong, makanan di sini," sahut Adelia. Pilihan makanannya sama dengan Kael. Ada beberapa lauk yang dipesan selain tunjang. Seperti udang bakar dan menu wajib, daging rendang.
"Selain makanannya, minumannya juga segar segar dan banyak pilihan. Ownernya pintar bikin pelanggan mau datang berkali kali."
Adelia ngga menjawab, tapi senyum manis tersungging di bibirnya.
Nanti akan dia sampaikan pujian Kael pada Luna, agar sepupunya itu yang meneruskannya pada Hasan-suaminya.
"Nanti sore aku jemput, ya. Dokternya minta aku kontrol di rumah sakit aja."
"Jam berapa?"
"Jam limaan ngga apa apa? Aku ada meeting sampe sore," ucap Kael agak ngga enak. Meeting ini cukup penting. Dia agak sungkan meminta ijin pada Kael.
"Ngga apa apa." Adelia malah punya banyak waktu untuk merapikan dandanannya. Dia juga bisa mandi agak lama nanti.
Kael menatap lekat wajah yang kini menunduk menatap makanannya.
Semoga aku masih single dan anak orang kaya, batinnya.
Setelah melihat rumah mewah Adelia, dia pasti akan merasa insecure kalo nantinya terungkap jati dirinya ternyata bukan anak orang kaya seperti yang disangkakan Levi.
Apalagi kalo ternyata sudah punya istri. Dia akan langsung diblacklist Adelia.
*
*
*
Sore ini Baim dan Jetro sudah berada di hotel lagi.
Mereka sedang menikmati secangkir kopi panas untuk melepas lelah setelah seharian bekerja mengumpulkan banyak data.
"Ternyata dia laki laki yang sedang patah hati," tawa Baim penuh ejekan.
"Pengen tau reaksi Adelia. Cemburu ngga dia." Jetro tersenyum miring.
"Jelas cemburu," sergah Baim yakin.
Untung mereka menemukan rekaman cctv di rumah salah satu warga yang file rekamannya masih tersimpan rapi.
Memang belum mendapatkan identitas Kael, tapi kebetulan atau memang keberuntungan, jejak Kael mereka temukan di gedung apartemen milik keluarga besar mereka.
Ada satu unit yang didatangi Kael dan ditinggali seorang model papan atas. Jejak digitalnya sangat mudah di dapatkan. Mereka melihat Kael yang meninggalkan kamar itu dengan wajah marah, pada malam enam bulan yang lalu.
Ngga lama kemudian, datang beberapa tenaga medis yang terburu buru memasuki unit itu dan beberapa menit kemudian beberapa tenaga medis itu mendorong brankar yang ditiduri laki laki muda dengan wajah babak belur.
Di belakang para tenaga medis itu, terlihat perempuan yang merupakan model yang menempati unit yang didatangi Kael tadi.
"Perempuan dan laki laki babak belur itu pasti tau siapa Kael," ucap Baim, kemudian dia meneguk kopinya lagi.
"Kael ternyata diselingkuhi." Jetro menggelengkan kepalanya.
"Kalo mereka berdua tau Kael lupa ingatan...., menurut kamu, apa yang akan terjadi?" tanya Jetro sambil menatap Baim.
"Dimanfaatkanlah. Mungkin juga akan ditipu lagi selagi ingatan Kael belum sembuh," sahut Baim yakin.
"Aku juga berpikir begitu."
Keduanya meneguk lagi kopinya dan menghabiskannya.
"Lebih baik video ini kita kasihkan pada Adelia. Biar dia saja yang menunjukkannya pada Kael," pungkas Jetro.
"Okelah kalo begitu. Info lanjutan nanti saja," sahut Baim sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya memejam sesaat.
Jetro hanya tersenyum menanggapinya. Mereka memang butuh waktu istirahat beberapa jam untuk pencarian
Kyknya Kael ingat Adel deh