Cinta, bisa membutakan segalanya. Karena cinta.
Bianca menghalalkan segala cara, untuk memiliki seorang pemuda yang sangat di cintainya.
Bianca melakukan tindakan bodoh, yang menyebabkan dia mengandung anak dari pria yang di cintainya.
Apa yang terjadi pada Bianca??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip
Happy reading guys 🥰
👇👇👇👇
"Mal..! bangun..!" Jonathan menggoyang-goyangkan lengan Kamal, masih berada dalam dunia mimpi.
"Aku masih ngantuk baby." gumam Kamal tanpa membuka matanya, hingga mengira teman tidurnya yang membangunkannya.
"Baby..baby..wow..! bangun..!" seru Jonathan dengan sedikit keras, untung di mushola hanya ada mereka berdua.
"Kenapa kau dikamar ku Joe? apa kau ingin merasakan goyangan maut gadisku?" tanya Kamal, tanpa membuka matanya.
"Kamarmu! lihat, buka mata lebar-lebar. Di mana kita saat ini, cepat bangun. Biar kita cepat melanjutkan perjalanan, tidur di musholla masih bisa mimpi mesum," ucap Jonathan.
Jonathan berjalan keluar dari musholla, untuk mencuci wajahnya. Sebelum kembali melanjutkan perjalanannya.
Kamal duduk, kesadarannya belum pulih seratus persen. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian matanya mengitari tempat dia berada saat ini. Baru dia tersadar, di mana dia saat ini berada.
"Lupa, ternyata aku tidur di musholla pompa bensin."
Kamal berdiri dan beranjak keluar dari dalam musholla, matanya mencari keberadaan Jonathan.
"Hei..! sana cuci wajahmu, jangan berdiri didepan musholla. Seperti ubul-ubul hari kemerdekaan, kita harus bergerak," ucap Jonathan.
"Baik Boss," sahut Kamal.
***
Jam 9 pagi, Bianca tiba di rumahnya dengan selamat.
"Akhirnya, kita sampai juga. Elvan tidur?" tanya Ayu, saat menghentikan motornya di serambi depan rumah Bianca.
"Iya mbak, mau masuk gapura desa. Kepalanya sudah oleng kiri-kanan."
Bianca mengangkat Elvan turun dari atas motor, dan membawanya masuk ke dalam rumahnya yang terbuka lebar.
"Pintu terbuka, Asih mana?" Bianca heran melihat pintu rumahnya terbuka, sedangkan didepan tidak terlihat sosok Asih.
"Mbak, sudah balik?" terlihat Asih berlari dari jalan depan rumah, dengan membawa dua bungkus telur asin.
"Dari mana Sih..?" tanya Ayu.
"Tadi mau mengantarkan telur ini ke rumah Bu Ani, tapi orangnya belum pulang dari pasar," sahut Asih.
"Rumah jangan terbuka, jika pergi Sih. Walaupun isinya tidak ada yang bisa di curi, kita harus tetap waspada," kata Bianca dari dalam rumah, setelah menidurkan Elvan di ranjang.
"Maaf mbak," sahut Asih yang merasa bersalah, karena teledor.
"Sih, ini bawa kedalam. Bian, aku langsung balik ya. Makku mungkin sudah nunggu ," kata Ayu seraya menyerahkan satu tas dan dua paper bag kepada Asih.
"Iya mbak, terima kasih ya. Mau nemani Bian," ucap Bianca.
"Nemani sekaligus liburan Bian, tapi tidak asik. Karena bertemu dengan si Safi," kata Ayu.
Bianca tertawa mendengar perkataan Ayu.
"Tapi Mbak puaskan, sudah mempermalukan dia?"
"Sebenarnya belum puas, tapi aku harus jaga image di depan mas Antonio," ucap Ayu sembari tertawa ngekeh.
"Ayooo..mbak suka ya dengan mas Anton?" goda Bianca.
"Aku suka, kalau dia tidak. Tidak akan berakhir di pelaminan Bian, Apa aku harus..." Ayu memain-mainkan matanya menatap Bianca.
"Jangan! cukup Bian saja yang melakukan kesalahan," ucap Bianca, begitu sadar dengan apa yang ada dalam pikiran Ayu.
"Kesalahan yang penuh dengan kenikmatan," ujar Ayu.
"Katanya mau balik cepat," ujar Bianca.
"Kalau bahas soal kenikmatan, aku rela tidak pulang Bian." Ayu ngekeh tertawa.
"Biar Mak Leha, mencarimu dengan membawa pentungan," kata Bian.
"Ya Allah..! aku harus cepat balik, makku nunggu obatnya Bian.."
Ayu menstarter motornya dan langsung tancap gas, meninggalkan rumah Bianca.
***
"Maa, kenapa tidak pulang?" Budi Dwipangga datang pagi-pagi sekali kerumah putrinya, setelah dia pulang. Tidak menemukan sang istri didalam kamar.
"Mantu Papa keluar kota, Joice tinggal nunggu hari. Mama tidak tega ninggalin dia berdua saja dengan Yoan," sahut sang istri.
"Kenapa Mama tidak telepon Papa, kan bisa dari ketemuan dengan Pak Dani. Papa langsung ke sini," ucap sang suami seraya meletakkan bokongnya di kursi, di sebelah sang istri.
"Mama sudah kirim pesan, Papa saja yang tidak lihat ponsel. Papa itu, ngapain saja dengan Pak Dani? awas ya..! itu Papa akan Mama lockdonw selama sebulan, tidak boleh jalan-jalan keluar," ucap sang istri dengan berbisik, dari nada suaranya penuh dengan nuansa ancaman.
"Ma.." Budi Dwipangga tidak melanjutkan ucapannya, karena sang putri dan cucunya datang bergabung.
"Opa..!" Yoan langsung berlari dan duduk di atas pangkuan Budi Dwipangga.
"Cucu cantik Opa, mau berangkat sekolah?"
"Iya," sahut Yoan.
"Papa sudah lama? kenapa tidak datang tadi malam Paa? maaf ya Paa, Joice menahan Mama. Mas Tama keluar kota, ada seminar." beritahu Joice.
"Papamu datang-datang ngomel, di bilangnya Mama tidak kasih kabar Mama tidur di sini," kata sang Mama.
"Mama tidak kasih kabar ke Papa?" tanya Joice.
"Kasih kabar..! papamu saja yang tidak lihat ponselnya, nih lihat pesan yang Mama kirim ke Papa.."
Maya mengambil ponselnya, mencari pesan yang dikirim kepada sang suami.
Tapi...
Wajah Maya berubah seketika, begitu melihat pesan yang dikirimnya pada sang suami.
Tiba-tiba, tangan Maya memeluk lengan sang suami. Dan menyandarkan kepalanya di pundak Budi Dwipangga.
"Papa," ucap Maya dengan lembut.
Joice yang melihat kelakuan sang sama tahu, pasti Mama telah melakukan kesalahan.
"Ada apa? mana pesan yang Mama kirim kepada Papa?" tanya Budi Dwipangga.
"Hehehe..! ternyata, Mama lupa mengirimkan pesan itu. Mama nulis, tapi lupa kirim."
Joice tertawa terbahak-bahak, sembari memegang perutnya.
Tin..tin...
"Yoan, tuh bus sekolah sudah datang," kata Joice pada putrinya.
"Da..da..da Opa, Oma," ujar Yoan, setelah Salim pada Opa dan Omanya.
"Sini, biar Opa antar ke depan." Budi Dwipangga meraih tangan cucunya, dan menggandengnya kedepan.
"Mama betul-betul lupa kirim pesan pada Papa?" tanya Joice.
"Iya, belakangan hari ini. Mama semakin pikun," ujar Maya.
"Karena senangnya mendapatkan cucu dari Joe," ucap Joice.
"Jangan ingatkan Mama dengan anak nakal itu, bisa-bisanya ajak main di atas kasur anak gadis orang. Tapi tidak mau bertanggung jawab, cucu sudah besar. Baru ketahuan..!"
"Bianca juga, kenapa tidak ngadu pada kita Maa," kata Joice.
"Mungkin adikmu marah, makanya dia menghilang. Untung Joe main kasur-kasuran dengan Bianca, coba dengan Chelsea tadi. Mama sudah berada didalam tanah sekarang ini," ucap Maya.
"Mama ini, ada-ada saja. Main kasur-kasuran." Joice tertawa mendengar istilah Mamanya yang aneh menurutnya.
"Maa," ucap Joice sembari celingukan melihat kearah pintu depan, takut sang Papa mendengar apa yang ingin dikatakannya pada Mamanya.
"Ada apa? ada gosip baru? cepat ceritakan," kata sang Mama dengan tidak sabaran.
"Ini kejadianya sudah seminggu yang lalu, terakhir Joice periksa. Joice melihat Chelsea diruang ibu dan anak, tapi begitu Joice ingin datangi. Dia sudah tidak ada," kata Joice.
"Itu ruang ibu dan anak, ruang khusus untuk ibu menyusui anaknya kan?" tanya Mama Joice.
"Iya maa," sahut Joice.
"Apa dia sudah punya anak? kalau dia sudah punya anak? tandanya dia sudah menikah, bagus jika dia sudah menikah. Dia tidak akan datang mengganggu Jonathan."
"Semoga Maa.
Bersambung 👉👉👉
terima kasih ya kak 😍 😍😍😍