NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Obsesi / Bad Boy / Antagonis / Enemy to Lovers / Playboy
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

River Sang Provokator

"Lo mau kasih beasiswa atau mau rekrut agen intelijen, Every? Kaku banget aturan lo, nggak sekalian lo minta sertifikat imunisasi pas mereka bayi?"

Suara berat River bergema di ruang BEM yang sunyi, disusul bunyi denting botol soda yang diletakkannya di atas meja kerja Every. Ia bersandar di pintu, menatap sinis ke arah tumpukan map yang sedang dipilah Every dan Recha.

Every tidak mendongak. Jemarinya tetap lincah mencoret satu nama di atas kertas. "Ini namanya filterisasi, River. Kita punya kuota terbatas, dan gue harus memastikan dana yayasan jatuh ke tangan yang punya kualifikasi akademik yang stabil. Bukan buat anak-anak yang cuma tahu caranya hura-hura tapi IPK-nya terjun bebas."

"Stabil?" River tertawa hambar, ia melangkah mendekat dan menyambar salah satu biodata yang baru saja diletakkan Every di tumpukan 'Ditolak'. "Ini... Gibran. Fakultas Teknik. Lo tolak cuma karena IPK-nya 2,9?"

"Aturannya minimal 3,25, River. Dia gagal di tahap administrasi paling dasar," Every akhirnya menatap River, matanya tajam dan tidak kompromi. "Gue nggak punya waktu buat ngurusin pengecualian."

Recha, yang duduk di samping Every, berdehem canggung. "Sebenarnya, Every, Gibran ini anak yatim yang kerja sampingan jadi kurir sampai jam dua pagi. Makanya nilainya agak drop di semester kemarin."

River melemparkan map itu kembali ke meja Every dengan suara plak yang keras. "Lo denger itu? Dia nggak 'stabil' karena dia sibuk cari makan, Every. Bukan karena dia malas."

"Itu urusan personal dia, River! Standar tetap standar!" Every bangkit, suaranya naik satu oktaf. "Kalau gue melonggarkan aturan buat satu orang, sistem ini bakal hancur. Gue bekerja berdasarkan data, bukan perasaan."

"Data lo itu buta," River membalas, ia mencondongkan tubuhnya ke meja, menatap Every tepat di manik matanya. "Lo duduk di kursi empuk ini, pake blazer rapi, dan dengan gampangnya lo coret masa depan orang cuma karena mereka nggak memenuhi angka-angka cantik di kepala lo. Lo itu kaku, Every. Lo lebih mirip robot daripada manusia."

"Gue adil!" seru Every, tangannya mengepal di atas meja. "Adil artinya mengikuti prosedur yang sudah disepakati. Kalau Gibran mau beasiswa, dia harus belajar lebih keras, sesimpel itu!"

"Belajar lebih keras? Kapan? Pas dia lagi nganter paket di bawah hujan jam 12 malam?" River menyeringai pedas. "Lo itu nggak pernah tahu rasanya hidup di aspal, makanya lo angkuh banget sama aturan lo yang lo anggap suci itu."

"Every," Recha mencoba menengahi dengan hati-hati. "Mungkin kita bisa buat kategori 'Beasiswa Kondisi Khusus'? River ada benarnya, beberapa mahasiswa memang punya beban hidup yang beda."

"Enggak," Every tetap keras kepala, dagunya terangkat tinggi. "Sekali gue buka pintu buat pengecualian, semua orang bakal datang bawa cerita sedih mereka buat dapet duit gampang. Gue nggak mau BEM ini jadi tempat pembagian santunan, gue mau ini jadi tempat penghargaan prestasi."

River menggelengkan kepalanya, menatap Every dengan tatapan yang sulit diartikan—antara geram dan kasihan. "Prestasi itu bukan cuma soal nilai di atas kertas, Every. Bertahan hidup itu juga prestasi."

River menegakkan tubuhnya, berbalik hendak pergi, tapi ia berhenti di ambang pintu dan menoleh. "Lo tahu, Every? Cara lo mandang dunia itu terlalu bersih. Lo butuh kotor dikit biar lo tahu kalau nggak semua hal bisa lo selesaiin pake rumus dan data. Kalau lo terus-terusan kaku begini, suatu saat lo bakal patah, dan gue bakal jadi orang pertama yang ketawa pas itu terjadi."

"Gue nggak akan patah, River!" Every berteriak ke arah punggung pria itu. "Dan gue nggak butuh pelajaran moral dari orang yang bahkan nggak tahu caranya pake dasi dengan bener!"

River tidak menyahut lagi, ia menghilang di balik pintu, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruangan itu. Every kembali duduk dengan kasar, napasnya memburu.

"Recha, lanjut. Siapa nama berikutnya?" Every bertanya dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menutupi fakta bahwa kata-kata River barusan baru saja menggores benteng pertahanannya.

"Ini... mahasiswi fakultas seni, Every. Tapi... pengajuannya tanpa surat keterangan tidak mampu dari RT/RW," Recha berbisik ragu.

Every memejamkan mata sejenak, bayangan wajah sinis River terlintas di benaknya. "Tolak. Tanpa dokumen lengkap, jangan bawa ke meja gue."

Every tetap menjadi Every. Tegar, kaku, dan tidak mau kalah. Namun di dalam hatinya, sebuah benih keraguan mulai tumbuh, berdenyut pelan seiring dengan detak jantungnya yang belum juga stabil setelah debat panas tadi.

......................

Malam itu, kantor BEM terasa seperti penjara kaca. Every tidak bisa berhenti memikirkan kata "buta" yang diucapkan River.

Dengan rasa penasaran yang ia labeli sebagai "audit akurasi data", Every membuka sistem portal akademik dan melacak nama Gibran.

Matanya menelusuri riwayat pembayaran kuliah yang selalu di detik-detik terakhir, catatan absensi yang sering merah di jam pagi, namun nilai praktikumnya selalu sempurna.

"Sialan, River," umpat Every lirih. Ia melihat catatan dari dosen wali: 'Mahasiswa sangat berbakat, namun sering terkendala kelelahan fisik.'

Every menggigit kuku ibu jari, egonya berperang hebat. Namun, sebelum ia sempat mengambil keputusan, suara bising dari lapangan bawah mengalihkan perhatiannya.

---

Every berlari ke balkon lantai dua dan pemandangan di bawah membuatnya nyaris menjatuhkan tabletnya. River berdiri di tengah lapangan, duduk dengan santai di atas jok motor besarnya, dikelilingi oleh sekitar dua puluh mahasiswa yang tadi sore baru saja Every coret dari daftar beasiswa.

"Jadi ini cara lo main, River?!" Every berteriak dari atas balkon, suaranya melengking membelah malam.

River mendongak, menyunggingkan seringai kemenangan. Ia memegang sebuah megafon butut. "Gue cuma lagi kasih tur edukasi buat anak-anak ini, Every! Biar mereka tahu gimana rupa 'Diktator Administratif' yang sudah memutus harapan mereka cuma gara-gara satu dokumen kurang!"

"River, bubarkan mereka! Ini sudah jam malam!" Every turun ke lapangan dengan langkah penuh emosi, menembus kerumunan mahasiswa yang menatapnya dengan pandangan terluka.

"Ooh, Ketua BEM kita turun gunung," Zayn—yang entah kenapa ada di sana membantu River—terkekeh.

River turun dari motor, berjalan mendekat hingga Every harus mendongak untuk menatapnya. "Gibran, maju," perintah River.

Gibran, mahasiswa yang tadi mereka debatkan, melangkah maju dengan wajah kusam dan pakaian kurir yang masih melekat di tubuhnya.

"Every, tatap mata dia," River berbisik, suaranya berat dan penuh tuntutan. "Bilang langsung di depan muka dia kalau IPK 2,9-nya lebih penting daripada perjuangan dia kerja 12 jam sehari buat bayar UKT. Bilang kalau aturan lo lebih suci daripada perut dia yang lapar."

"Gue... gue punya standar, River! Kalau gue kasih dia, gimana dengan yang lain?" Every membela diri, namun suaranya sedikit goyah saat melihat tangan Gibran yang kasar dan pecah-pecah karena sering terkena deterjen atau beban berat.

"Yang lain? Mereka juga ada di sini!" River menunjuk kerumunan itu. "Ada yang nggak punya surat RT/RW karena rumahnya digusur, ada yang yatim piatu tapi dokumennya hilang. Lo mau data? Ini datanya, Every! Data yang punya detak jantung!"

"Lo nggak punya hak buat permaluin gue di depan mereka, River!" Every mendorong dada River, wajahnya memerah padam. "Lo pikir lo pahlawan? Lo cuma mau ngerusak sistem yang gue bangun susah payah!"

"Sistem lo sampah kalau nggak bisa liat manusia di dalamnya!" River mencengkeram pergelangan tangan Every, menariknya menjauh sedikit dari kerumunan agar suara mereka tidak terdengar yang lain. "Gue tantang lo sekarang. Ikut gue malam ini. Gue tunjukin rute kerja Gibran, gue tunjukin di mana mereka tinggal. Kalau setelah itu lo tetep mau coret nama mereka... gue bakal berhenti protes dan gue bakal keluar dari divisi keamanan."

Every terdiam. Napasnya memburu. Tantangan itu seperti tamparan di wajahnya yang bersih.

"Gue nggak ada waktu buat jalan-jalan sama preman kayak lo," Every mencoba menarik tangannya, namun River tidak melepasnya.

"Takut, Every? Takut kalau ternyata objektivitas lo itu cuma tameng buat hati lo yang pengecut?" River memprovokasi dengan nada yang sangat rendah dan sensual, membuat bulu kuduk Every meremang.

Every menyentakkan tangannya dengan kuat. "Oke! Gue ikut! Tapi jangan harap satu malam bisa ngerubah cara pikir gue. Peraturan tetap peraturan!"

"Kita liat nanti, Tuan Putri," River menyeringai liar, ia melempar helm cadangan ke arah Every. "Naik ke motor gue. Sekarang."

Every menangkap helm itu dengan sigap, menatap mahasiswa di sekelilingnya dengan tatapan tegar yang tak mau kalah, meski di dalam dadanya, jantungnya berdebar bukan hanya karena amarah, tapi karena ia tahu malam ini River akan membawanya ke wilayah yang selama ini ia hindari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!