Jatuh cinta adalah perasaan terindah, namun apa jadinya jika cinta memiliki syarat?
Asfa hanya jatuh cinta, cinta yang membutakan hatinya. Hingga syarat menghempaskannya pada hubungan asing tanpa rasa. Akankah pernikahannya menumbuhkan cinta yang baru? Atau kandas di tengah karam?
Kembalinya sang Papa dengan tamparan keras di pipi mulusnya, menghentikan cinta butanya. Hidupnya terlalu berharga untuk di permainkan! Kembalinya Seorang Asfa, mendadak membuat dunia menjadi panas dengan musuh-musuh yang berdatangan silih berganti, berdoa untuk kehancurannya. Ada pengkhianatan yang menusuknya dalam diam. Jatuh bangun kepercayaan orang-orang di sekelilingnya menjadi emosi tanpa batas menghantam jiwanya.
Akankah orang-orang dalam circle kehidupannya bertahan? Siapa yang akan menjadi pendukung setianya? Siapa musuh-musuh yang siap menikamnya?
Hanya takdir yang tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Bunda Anya
"Siapa kau? " ucap seseorang mengagetkan pria yang tengah memegang selimut di tangannya.
Hanya satu jari telunjuk di bibir pria itu memberikan isyarat untuk diam, dengan pelan selimut di tangannya sudah membalut sempurna hingga batas pundak seorang gadis yang terlelap di tempat tidur king size nya. Setelah mematikan lampu, pria itu keluar mengajak pengganggu yang tiba-tiba saja masuk mengagetkan tugasnya untuk menjaga queen.
"Apa kau tidak punya sopan santun!" seru pria itu menunjuk pria berkacamata di depannya setelah berada di ruangan lain yang cukup jauh dari kamar utama.
"Harusnya aku yang bilang begitu! Ngapain ke kamar istri boss ku tengah malam gini! " jawab ketus pria berkacamata.
"Aku tidak peduli siapa boss mu itu! Tugasku adalah menjaga queen, jangan mengganggu pekerjaan ku." ancam pria itu dengan meninggalkan pria berkacamata yang bermuka tidak jelas.
Deg...
"Sabar Leo, siapa sebenarnya anda nona? Kenapa semakin hari banyak kejadian yang membuat ku pusing sepuluh keliling." batin Leo dengan mengelus dada nya sendiri.
Bagaimana dirinya tidak curiga di saat semua tamu delegasi asing kini menginap di sebuah mansion yang sungguh mewah dengan fasilitas lengkap, bahkan mereka tidak mempermasalahkan meski meeting nya di tunda hingga esok atau beberapa hari ke depan. Baru saja tugasnya selesai untuk menemani jamuan makan bersama delegasi asing, mata nya menangkap sebuah bayangan di atas sana yang sudah di jelaskan oleh pelayan jika kamar utama itu milik nona muda mereka.
Dengan langkah seribu Leo menghampiri lantai atas dimana kamar nona muda berada, tanpa permisi tangannya memutar gagang pintu yang memang tidak di kunci. Mata nya menangkap seorang pria dengan tubuh yang bisa membuat kaum hawa ngiler tengah memegang selimut ditangannya, pertanyaan Leo hanya di jawab dengan bahasa isyarat.
Hingga akhirnya hanya ancaman dan kesabaran yang di dapatkan Leo, sedangkan di sebuah tempat yang jauh dan gelap terdengar cukup sunyi tanpa adanya suara rintihan lagi. Beberapa langkah mulai mendekati dengan suara berat di setiap jejakan, membuat suasana sunyi itu buyar seketika.
Ceklek.... (sebuah saklar lampu di nyalakan hingga menunjukkan keadaan yang cukup memprihatinkan dengan bau anyir yang masih tersisa)
"Ayo kalian bawa mereka ke tempat Moli! " perintah seorang wanita paruh baya yang kini berpakaian serba jeans itu.
"Baik Bunda." jawab ke empat bodyguard dengan sigap membawa dua mangsa tersisa.
Keduanya terlihat cukup pasrah membuat wanita paruh baya itu tidak berselera untuk bermain, namun mendengar nama Moli di sebut pasti akan menjadi tontonan yang menyenangkan. Melewati bagian utama mansion hingga berakhir dengan jalan keluar belakang yang memiliki taman indah dengan berbagai jenis bunga langka, suara ombak laut mulai terdengar samar dengan kesegaran yang di bawa oleh angin.
"Tuan... " ucap wanita paruh baya itu memanggil sosok pria yang tengah menatap biru nya laut di bawah sana.
"Lakukan dengan cepat! Aku tidak punya waktu lagi, bukankah bunda ingin bermain? " jawab sosok itu dan membalikkan badannya.
"Bermainlah, keduanya milik bunda Anya. Kirimkan saja videonya pada ku dan ya simpan kepala mereka sebagai hadiah utama." ucap sosok itu dan melangkah meninggalkan tempat nya merenung.
"Terimakasih Tuan Justin." jawab bunda Anya dengan senyuman psikopat nya yang membuat ke empat bodyguard susah menelan ludahnya.
Meninggalkan dua mangsa yang dipastikan akan mendapatkan kematian mengerikan di tangan wanita paruh baya itu, tubuhnya memang terlihat tua tapi jangan meremehkan bagaimana kekuatan nya. Bahkan jika ke empat bodyguard tadi berusaha bertarung dengan satu wanita paruh baya itu maka di pastikan akan kalah, karena wanita paruh baya itu juga seorang psikopat tingkat tinggi dimana tuan besar memberikan kehidupan kepada wanita malang itu setelah dunia menghina dan merendahkan dirinya.
Teringat jelas di dalam memori otaknya bagaimana pertemuan pertama kali dirinya dengan bunda Anya yang dalam keadaan bermandikan darah dengan tatapan mata bagaimana singa, namun berkat tuan besar nya yang mau memberikan pelatihan khusus tentang emosi dan senjata membuat bunda Anya semakin lincah di usianya yang tidak muda.
Apalagi di saat itu nona muda sendiri justru terjun langsung untuk membantu bunda Anya yang dalam keadaan emosi tidak stabil setelah pembunuhan berantai yang di lakukan wanita paruh baya itu, meskipun tuan besar melarang tapi Asfa tetap saja mendekati bunda Anya tanpa rasa takut. Beberapa luka pun akhirnya di dapatkan oleh Asfa namun bukannya mundur tapi gadis itu semakin lebih lembut dan sabar dengan perhatian yang tulus.
"Maafkan aku nak, pasti ini sakit." ucap lirih Bunda Anya dengan mata sedih melihat sebuah bekas cakaran di punggung Asfa.
"Tenanglah bunda, ini tidak sesakit luka di hati bunda. Ku harap bunda akan lebih kuat dari dalam dan luar, terimakasih bunda Anya mau mendengarkan ku sekarang." jawab Asfa dengan senyuman manisnya.
Itulah percakapan di antar bunda Anya dengan nona muda nya setelah kebersamaan selama dua bulan penuh yang mampu membuat suasana haru dan bangga seorang ayah sekaligus penghuni mansion lainnya, sungguh memang keberuntungan bukan karena mereka bisa hidup dengan layak tapi karena memiliki majikan dengan pewaris tahta yang besar dan baik hati nya.
Terlihat sebuah mobil van hitam telah terparkir sempurna di depan pintu utama, beberapa pengawal juga berdiri di luar mobil yang menandakan tuan besar ada di dalam mobil itu. Dengan langkah di percepatan justin menghampiri mobil yang langsung di sambut dengan pintu terbuka oleh seorang bodyguard, terlihat seorang pria yang tengah memejamkan mata dengan bersandar menyilangkan kedua lengan nya.
Klik... (pintu di tutup dengan suara pelan namun tegas)
"Jalan!" perintah tuan besar tanpa membuka mata nya.
Keduanya hanya diam sepanjang perjalanan yang membuat justin mau tidak mau harus mengerjakan pekerjaan lain melalui ponselnya, kesamaan dari dua majikannya adalah jangan mengganggu singa yang tengah beristirahat kecuali emergency. Perjalanan yang cukup memakan waktu itu membuat justin menguap beberapa kali karena memang beberapa hari terakhir kurang istirahat setelah kembali nya nona muda membuat masalah datang silih berganti tanpa pesan pemberitahuan terlebih dahulu.
"Tidurlah!" perintah tuan besar dengan suara khas nya yang tidak mungkin terbantahkan.
Tubuh dan fikiran nya memang lelah membutuhkan di charge untuk pekerjaan selanjutnya, tanpa sungkan lagi Justin ikut memejamkan mata nya dengan posisi yang sama seperti tuan besar karena itu memang posisi seorang pria sejati yang tidur dalam mobil.
Perjalan itu berakhir tanpa terasa membuat Justin menikmati mimpi yang tiada ujungnya, tanpa di sadari nya jika perjalanan sudah berakhir dan penghuni mobil sudah berpindah tempat. Satu deringan ponsel membuyarkan mimpi Justin dan dengan berat hati mata nya mulai terbuka kembali untuk memeriksa siapa yang menghubungi nya, samar tapi nyata tercetak jelas sebuah nama yang membuat balas dendam nya kembali hadir.
"Ada apa? " tanya Justin ketus.
"Datanglah kemari, ada sesuatu yang harus ku tunjukkan. Ini tentang Delia! " jawab orang di seberang.
"Simpanlah, besok kami akan kesana." jawab Justin menutup sambungan telfonnya.
"Ya ampun di tinggal sendirian, apa ini di kunci?" gumam Justin yang menyadari sudah ada di depan sebuah mansion mewah hanya saja dirinya tertinggal di mobil seperti barang tidak berguna.
Klik...
"Syukurlah tuan ku masih berbaik hati, eeuuh sebaiknya aku tidur lagi di dalam sebelum rapat esok." gumam Justin berjalan memasuki mansion dengan password pribadinya.
......................
"Siapa yang bertanggung jawab untuk hal ini?! Katakan." tanya seorang gadis dengan dress putih memperlihatkan sesuatu dari benda pipih yang ada di tangannya.
kalau memang ngak cinta seharusnya jujur dari awal.... jangan menjadikan oranglain tumbal atas kegoisan aqsa n keluarga.....
semangat ya asfa.....
dan ingat cinta bisa krn terbiasa
Selamat pagi, semuanya.
Buat semua reader's tercinta.
Terima kasih telah memberikan support dan membagikan semangat kalian agar othoor trus berkarya.
Sehat selalu, ya buat kalian. 🥰