Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.
Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.
Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.
Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.
Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: MENOLONG SEORANG GADIS
Malam telah sepenuhnya turun di taman kota.
Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kekuningan yang redup, bayangan pepohonan memanjang di tanah, sementara angin malam membawa aroma rumput basah dan tanah lembap. Dion berdiri sendirian di bawah cahaya lampu, napasnya tenang, pikirannya fokus.
“Sistem,” ucapnya dengan suara mantap, “beli Keterampilan Boxing Rank F untukku.”
Ding.
[Anda telah membeli Keterampilan Boxing Rank F.]
[1000 Poin Shop telah dikurangi.]
Detik berikutnya, sebuah sensasi asing menghantam kepalanya.
Energi tak kasat mata seolah menembus tengkoraknya, mengalir deras ke dalam otak. Dion tersentak, lututnya sedikit melemah. Informasi membanjiri pikirannya tanpa ampun, gerakan, ritme, jarak, sudut serangan, pertahanan, napas, timing.
Sepuluh tahun pengalaman Boxing, dipadatkan dan ditanamkan dalam satu tarikan napas.
“Uhh…!” Dion mengerang pelan, keringat langsung membasahi pelipisnya.
Rahangnya mengeras saat ia menerima aliran ingatan itu, latihan keras, sparring, kekalahan, kemenangan, pukulan yang masuk, pukulan yang dihindari.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Dion membuka matanya.
“Jadi… ini Keterampilan Boxing,” gumamnya.
Tubuhnya bergerak secara refleks. Ia mengambil stance dengan sempurna, kaki terbuka seimbang, bahu rileks, tangan terangkat melindungi wajah.
Tanpa ragu, ia melangkah maju, Footstep, ringan, presisi, lalu.
Jab!
Tinju lurus melesat ke depan.
Booom!
Udara di depannya meledak, gelombang angin terhempas keras hingga dedaunan di tanah beterbangan. Dion terkejut sesaat, lalu tersenyum tipis.
Ia melanjutkan, kombinasi gerakan mengalir alami. Jab, cross, hook. Pertahanan naik-turun, tubuh berputar, langkah mundur sempurna.
Tidak ada keraguan, tidak ada kekakuan. Seolah ia benar-benar telah hidup sebagai petinju selama satu dekade penuh.
“Jadi seperti ini rasanya…” ucap Dion pelan, matanya berbinar. “Perbedaan memiliki Keterampilan, dan tidak memilikinya.”
Ia menghela napas, memahami perbedaan itu dengan jelas. Tanpa keterampilan, kekuatan hanyalah tenaga mentah, liar, boros, mudah terbaca.
Namun dengan teknik, setiap pukulan memiliki tujuan. Setiap gerakan punya makna, setiap serangan memaksimalkan kerusakan. Dion baru saja menurunkan tangannya ketika.
“T-Tolong!!”
Teriakan wanita memecah keheningan malam, Dion langsung berhenti.
“Suara… wanita?” gumamnya.
Tanpa ragu, ia berbalik mengikuti arah suara itu. Suara panik itu datang dari arah yang lebih gelap, ke dalam area pepohonan, di sisi taman yang jarang dilewati orang. Langkah Dion dipercepat.
Di dalam hutan kecil itu.
“Lepaskan aku! Aku tidak mau!!”
Seorang gadis muda terpojok di antara pepohonan. Usianya sekitar tujuh belas tahun. Wajahnya mungil dan cantik, kulitnya cerah, dengan garis lembut yang mengingatkan pada perpaduan Jepang dan Tionghoa.
Seragam SMA masih melekat di tubuhnya, jas almamater biru dan bawahan putih khas murid perempuan.
Tubuhnya gemetar hebat. Di hadapannya, empat pria berdiri mengelilingi.
“Sudahlah,” ujar salah satu dari mereka, suaranya rendah dan menjijikkan.
“Ayolah ikut kami. Kami jamin kau akan menikmatinya.”
Pria itu memiliki bekas sayatan panjang di dekat matanya, memberi kesan liar dan berbahaya. Di belakangnya, tiga pria lain tertawa pelan, tatapan mereka penuh nafsu.
Mereka semua mengenakan jas hitam dan celana hitam. Di dada jas mereka, sebuah lambang mencolok terlihat jelas, Naga Hitam, huruf emas berkilau di bawah cahaya remang.
“Ti-tidak… aku tidak mau… tolong!!” jerit gadis itu, air mata mengalir di pipinya.
“Hehe,” pria bermata sayatan itu menyeringai.
“Teriaklah sepuasmu. Tidak ada yang akan mendengar.”
Wajah gadis itu memucat. Napasnya tercekik oleh rasa takut.
Pria itu mengulurkan tangannya, gerakannya lambat dan cabul. Gadis itu menutup mata, tubuhnya menegang, seluruh keberaniannya runtuh dalam satu detik.
Lalu.
“Apakah kalian ingin melakukan hal seperti itu,” suara dingin terdengar dari balik bayangan pepohonan, “pada seorang gadis SMA?”
Udara seketika membeku.
Tangan pria bermata sayatan itu terhenti di udara. Ia menoleh perlahan ke arah suara tersebut.
Dari balik gelap, sosok Dion melangkah maju. Matanya dingin, posturnya tenang.
Dan di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar kemarahan.
“Anak SMA?” salah satu pria itu mendengus, alisnya terangkat meremehkan. “Apa yang, anak SMA lakukan di sini?”
Pria bermata sayatan dan tiga temannya ikut menoleh. Mereka benar-benar bingung, di tengah taman gelap, di area yang jarang dilalui orang, seorang anak SMA berdiri dengan tenang menghadang mereka.
Dion menatap mereka satu per satu, matanya dingin tanpa gelombang emosi.
“Aku yang seharusnya bertanya,” ucapnya pelan namun tajam, “bagaimana bisa, empat pria dewasa melakukan hal cabul seperti itu?”
Tawa kecil terdengar.
“Haha, anak kecil sepertimu,” jawab pria bermata sayatan sambil menyeringai, “tidak perlu tahu urusan orang dewasa.”
“Benar,” timpal pria lain sambil tertawa. “Pulang sana. Belajar yang rajin biar lulus.”
“Hahaha! Iya, pulang!” ejek yang lain.
Mereka tertawa bersama, suara mereka memantul di antara pepohonan. Di mata mereka, Dion tak lebih dari bocah nekat yang salah tempat.
“Ck,” pria bermata sayatan mendecak.
“Hanya anak SMA biasa. Mengganggu kenikmatanku saja.”
Ia berbalik kembali ke arah gadis itu. Tatapannya kembali berubah menjijikkan, penuh nafsu. Tangannya mulai terangkat lagi.
Dan pada saat itu.
Wuuush!
Dion menghilang.
Udara seakan terpotong oleh gerakannya. Ketiga pria yang masih tertawa itu mendadak kehilangan fokus, mata mereka membelalak ketika sosok Dion lenyap dari pandangan.
“Eh?!"
Terlambat, Dion sudah berada di sisi salah satu pria. Tubuhnya berputar sempurna, kaki menapak mantap, pinggang berputar mengikuti alur yang tepat.
Hook.
Buaaak!
Tinju Dion menghantam sisi wajah pria itu dengan presisi kejam. Suara benturan terdengar tumpul, dan tubuh pria itu terlempar jauh, menghantam tanah sebelum akhirnya terkulai tak bergerak.
“ANAK INI!!” teriak pria lain panik.
Ia segera menyerang, pukulannya cepat dan terarah, jelas bukan orang biasa. Tinju itu melesat lurus ke wajah Dion.
Namun, Dion sudah bergerak.
Ia memiringkan kepala sedikit saja. Pukulan itu hanya menyentuh udara. Dalam satu tarikan napas, Dion melangkah masuk ke jarak lawan.
Baaakk!
Tinju lurus menghantam wajah pria kedua. Tubuhnya terpental, jatuh keras, dan langsung pingsan tanpa suara.
Dua tubuh ambruk hampir bersamaan, pria bermata sayatan menggeram kesal.
“Bangsat! kenapa ribut sekali...?”
Ia berbalik, dan senyumnya membeku.
Dua rekannya tergeletak tak sadarkan diri di tanah, wajah mereka hancur oleh satu-dua pukulan saja.
Tersisa satu pria lagi di dekat Dion. Wajahnya pucat, langkahnya ragu. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Ka-kau…!” suaranya bergetar. “Apa kau tahu siapa kami?!”
“Aku tidak tahu,” jawab Dion dingin. “Dan sekalipun aku tahu, aku tidak peduli.”
“Kau!” pria itu meraung, rasa takut bercampur amarah. “MATI KAU, BANGSAT!!”
Ia menyerang dengan liar.
Pukulan demi pukulan dilontarkan, cepat, brutal, penuh tenaga. Namun semua itu sia-sia. Dion bergerak lebih cepat. Setiap serangan dibaca, setiap sudut ditutup, setiap celah dihindari dengan langkah ringan dan presisi.
“BANGSAT!” pria itu berteriak frustrasi. “Kenapa aku tidak bisa mengenai mu?!”
“Karena kau lebih lemah dariku,” jawab Dion datar. “Itulah sebabnya.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari tinju mana pun.
“BAANGSAT!!”
Pria itu mengamuk, menyerang tanpa pola, tanpa kontrol. Namun justru di situlah akhir pertarungan ditentukan. Dion melesat maju, cepat seperti angin malam yang menyambar.
Pinggangnya berputar, bahunya turun, tinjunya naik.
Buaaak!
Pukulan telak menghantam rahang pria itu. Tubuhnya terangkat dari tanah, terpental jauh, lalu jatuh dengan suara berat. Tak ada teriakan. Tak ada perlawanan lagi.
Hening.
Pria bermata sayatan terpaku, mulutnya sedikit terbuka. Gadis SMA itu pun terdiam, matanya membelalak tak percaya.
Di hadapan mereka. seorang anak SMA berdiri tenang, napasnya stabil, tanpa luka sedikit pun. Tiga pria dewasa telah tumbang. Dan untuk pertama kalinya malam itu, rasa takut berpindah pihak.