Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.
Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.
Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.
Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19.
"Kak, kenapa wajahmu memerah?" tanya Stefan tersenyum melihat wajah Lara yang terkejut karena posisi mereka saat ini.
Mendengar apa yang ditanyakan Stefan, wajah Lara semakin memerah oleh rasa kesal dan malu.
"Stefan! ka.. kamu!!" mata Lara membulat memandang Stefan yang tersenyum.
Ia sampai tidak dapat mengatakan apa pun untuk memarahi Stefan, yang tampak begitu senang dengan posisi mereka saat ini.
Senyum Stefan semakin lebar melihat Lara yang kesal, dan ia pun semakin merangkul pinggang Lara hingga semakin menempel padanya.
"Stefan!!" Lara nyaris berteriak membentak Stefan.
Tangannya pun memukul dada Stefan, agar tangan Stefan terlepas dari merangkul pinggangnya.
Suara tawa Stefan nyaris terdengar melihat wajah marah Lara, yang terlihat menarik dalam pandangan matanya.
Drtttt!
Terdengar ponsel Lara bergetar, saat Stefan ingin mengatakan sesuatu lagi kepada Lara.
Stefan terpaksa menutup mulutnya yang terbuka, dan melepaskan rangkulan tangannya dari memeluk pinggang Lara.
Dengan berat hati ia pun membiarkan Lara bergegas, untuk mengambil ponsel yang terus bergetar dari atas meja makan.
Melihat siapa yang meneleponnya, Lara meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, tanpa berniat untuk menerima panggilan tersebut.
Ia lupa memblokir nomor Cindy, saat malam itu mengganti ponsel baru yang dibelikan Stefan.
Kembali ponselnya bergetar saat Lara meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.
Lara tidak memperdulikan panggilan pada ponselnya, ia kembali ke kompor untuk mengambil susu yang ia hangatkan pada teko stainless.
Stefan yang penasaran siapa yang menghubungi Lara, melangkah ke meja makan untuk melihat ponsel Lara yang terus bergetar.
Adik tiri! nama yang tertera pada layar ponsel.
Ternyata yang menelepon Lara, adik tiri Lara, yang sudah pernah Stefan peringati agar tidak lagi mengganggu Lara.
"Kak, kenapa kamu tidak mengangkat panggilan perempuan itu?" tanya Stefan melihat layar ponsel Lara masih terus bergetar.
"Orang tidak penting, tida perlu ditanggapi!" jawab Lara dengan tenang.
"Kenapa kakak tidak blokir saja nomornya, biar dia tidak menganggu terus!"
Lara pun meraih ponselnya.
"Tunggu!" Stefan menahan tangan Lara, "Sebelum di blokir, dengar dulu apa yang sebenarnya ingin disampaikan perempuan itu padamu, kak!"
Stefan menekan tanda menerima pada layar ponsel Lara, lalu kemudian menekan pengeras suara ponsel.
Terdengar lah suara seorang pria dari dalam ponsel Lara, dengan suara yang terdengar begitu marah pada Lara.
Lara tentu saja kenal siapa pria itu, mantan suami nya yang sangat mencintai Cindy.
"Lara! kamu semakin keterlaluan! sedari tadi aku memanggil, ini baru kamu angkat panggilan ku! aku sudah cukup sabar selama ini padamu! kamu masih saja tidak berubah! kita sudah bercerai, kamu masih saja mengganggu Cindy!!!"
Tangan Stefan mengepal mendengar apa yang dikatakan lelaki dalam ponsel Lara, yang ia tebak lelaki itu selama ini pasti selalu bersikap kasar pada Lara.
Lara meraih ponselnya dari tangan Stefan, "Mau aku angkat atau tidak, itu urusan ku! kamu jangan berteriak padaku! aku tidak mengganggu istrimu!!" jawab Lara dengan nada dingin.
"Lara!! kamu pikir aku tidak tahu seperti apa sifatmu? kamu masih saja tidak mengaku sudah menindas Cindy?! cemburu mu itu semakin tidak terkendali! kamu harus minta maaf pada Cindy! aku tunggu kamu datang meminta maaf padanya! kalau tidak, jangan salahkan aku bersikap kasar padamu!!"
"Terserah apa pun yang kamu katakan! aku tidak akan meminta maaf padanya! karena aku tidak bersalah!!" jawab Lara dengan nada yang masih terdengar dingin.
"Lara!! aku tunggu kamu meminta maaf padanya! aku kirimkan alamat tempat aku dan Cindy menunggumu! aku akan melakukan segala cara padamu, dan kamu akan menyesalinya, kalau kamu sampai tidak datang meminta maaf padanya!!!"
Tut!
Panggilan dimatikan David tanpa menunggu jawaban dari Lara.
Ting!
Dan tidak sampai dua detik panggilan ponsel putus, satu pesan masuk ke ponsel Lara.
Dengan wajah yang terlihat datar dengan tatapan yang begitu dingin, Lara melihat sebuah alamat dikirim David padanya.
Stefan meraih ponsel Lara, dan dengan tatapan tajam memandang layar ponsel Lara.
"Aku akan menemani mu menemui pasangan jahat itu, kak! aku akan membuat mereka menyesali tindakan mereka, kalau mereka melakukan sesuatu padamu!"
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa menghadapi mereka! aku bisa menghadapi mereka sendirian!" jawab Lara.
"Tidak! aku harus ikut!!" kata Stefan dengan tegas.
Tanpa menunggu jawaban Lara, ia bergegas meraih pakaiannya, lalu keluar dari dalam apartemen Lara.
"Tuan, akhirnya anda pulang! apakah misi anda berhasil?"
Stefan di sambut Liam sembari tersenyum senang, begitu ia masuk ke dalam apartemen sementaranya.
"Belum!" jawab Stefan melemparkan begitu saja pakaian kotornya ke sofa, lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Hah? belum?!"
Mata Liam tidak percaya memandang Stefan, yang datang hanya memakai bathrobe saja.
Ia yakin kalau Stefan sudah melakukan sesuatu pada Lara, melihat sikap Stefan yang tidak sabaran ingin mendapatkan Lara.
Saat ia mengikuti Stefan dari usia Stefan enam belas tahun, Stefan sudah mencari keberadaan Lara dengan segala cara.
"Urus semuanya selagi aku tidak ada, aku tunggu laporan darimu!" kata Stefan begitu saja meninggalkan apartemen sementaranya, setelah ia berpakaian rapi keluar dari dalam kamar.
"A.. apa?! Tuan.. Tuan, bagaimana dengan proyek.. !!"
"Aku serahkan padamu, jangan buat aku kecewa!!" jawab Stefan menutup pintu apartemen.
Liam hanya bisa memandang pintu yang tertutup, dengan tatapan mata membulat mendengar jawaban Stefan.
"Kak, Ayo aku temani kamu!!" kata Stefan, begitu ia masuk ke dalam apartemen Lara kembali.
Lara sudah terlihat berpakaian rapi, dan duduk sedang menikmati sarapannya di meja makan.
Ia tampak sudah siap akan berangkat ke alamat yang diberikan David, setelah ia selasai sarapan.
Tanpa dipersilahkan Lara untuk duduk sarapan, Stefan dengan santainya menarik kursi, dan duduk untuk ikut sarapan bersama Lara.
"Emmm.. enak sekali!" ucap Stefan begitu mencicipi sarapan buatan Lara.
Ia kemudian menyesap susu hangat, dalam gelas yang telah Lara taruh di depan piring sarapannya.
Stefan merasa sangat bahagia sekali, akhirnya dapat merasakan masakan Lara, walau sederhana tapi rasanya sangat lezat sekali.
Piringnya sampai mengkilat tidak tersisa sedikit pun serpihan sarapan, dan begitu juga dengan gelas yang berisi susu hangat.
Apakah memang sarapan yang kubuat sebegitu enaknya? pikir Lara melihat piring Stefan yang bersih.
"Ayo! aku tidak sabaran ingin membuat mereka, yang meminta maaf padamu, kak!"
Stefan bangkit berdiri dari duduknya, lalu membereskan piring dan gelas sarapannya, dan begitu juga dengan piring dan gelas Lara.
Ia kemudian membawanya ke wastafel pencucian piring.
"Ayo, nanti saja di cuci piringnya!"
Stefan meraih tangan Lara, yang diam saja ia tarik keluar dari dalam apartemen.
Bersambung........