NovelToon NovelToon
TAWANAN CINTA MAFIA TAMPAN

TAWANAN CINTA MAFIA TAMPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Aliansi Pernikahan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Wanita Karir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desty Cynthia

"Lepasin...sakit tahu!!!"
Teriak seorang gadis yang di seret paksa oleh seorang pria tampan namun bringas.
Arabella Jenevile Dirgantara terjebak atas kecerobohannya sendiri.
Dia tak sengaja melihat hal yang seharusnya tak dia lihat.

"Jangan coba coba lari dariku gadis nakal. Nyawamu ditanganku!" Seringai pria bernama Dariush Cassano.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Cynthia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyerahkan Nyawaku

"Suapin."

Begitulah rengekan Bella yang sangat mengkhawatirkan. Tangan Dariush mengambil piring yang berisi steak itu.

"Jangan manja! Tanganmu masih berfungsi kan?"

Betapa malasnya Bella menerima makanan itu meskipun dirinya sangat amat lapar. Sebelum memakannya, Bella melirik pria yang daritadi menatapnya.

"Kenapa? Om mau juga? Atau jangan jangan makanan ini_"

Dariush memakan duluan steak yang ada di hadapannya, dia sudah tahu kemana arah pikiran Bella.

"Tidak beracun! Atau mau ditambahkan sianida? Sepertinya stoknya masih banyak!"

"Ii-iyaa aku makan. Om, Izinkan aku pulang. Aku janji akan diam! Rahasia kalian aman. Orang tuaku pasti khawatir." Lirih Bella yang sudah meneteskan air matanya. Meskipun mulutnya mengunyah, tapi hatinya terasa sakit.

"Mau pulang?"

Bella mengangguk pelan "Mau om, aku mau pulang. Mommy dan daddy pasti khawatir. Setidaknya tolong kabari mereka, kalau aku akan mati disini. Jadi jasadku bisa di kubur dengan layak."

Dariush menghela nafasnya dalam, dia tidak akan membiarkan miliknya lepas begitu saja.

"Lagian om tidak baik ada perempuan dan lelaki yang belum menikah dalam satu atap. Nanti apa kata orang orang?" Lirih Bella dengan wajah sendunya.

Jengkel tentu saja dengan ocehan gadis nakal ini. Entah sengaja atau memang Bella polos, sedari tadi dia mengoceh.

Dariush tak menjawab dia hanya fokus menghabiskan makanannya. "Menikah?" Dia justru tersenyum tipis.

Bella tak lagi bicara percuma juga toh Dariush sepertinya tidak termakan omongannya. Dia melanjutkan lagi makannya. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu. Bella sendiri tak menghabiskan makanannya.

Dia bersandar lagi ke kasur besar dan nyaman itu. Tatapan matanya kosong. Sepertinya benar firasat Dylan. Harusnya dia mendengarkan sahabatnya itu.

Sisa makanan itu di ambil pelayan. Dariush merebahkan dirinya ke kasur, sontak Bella terkejut. Tapi dia tak ingin bicara lagi, dia membalikan badannya memunggungi Dariush. Hanya terdengar isak tangisnya saja.

Darius tidak memperdulikannya hari ini terasa lelah dan berat. Begitu banyak yang ia harus urus dan pikirkan. Lengannya tertumpu di kedua matanya. Ekor matanya melirik Bella.

Dia menyelimuti Bella. Dan berdiri melangkah ke kamar mandi. Ketika tangannya ingin membuka handle pintu, dia mendengar Bella mengigau.

"Mom, dad...Bella rindu." Lirihnya, lama kelamaan dia tertidur di kasur itu lagi.

Selesai membersihkan dirinya Dariush keluar dari kamar mandi dengan handuk sepinggang juga air yang masih menetes dari rambutnya.

Dia memandang betapa teduhnya wajah Bella jika sedang tidur. Dia mendekatinya dan mengelus kepala Bella.

Bella sendiri sudah di alam mimpi. Bahkan dia mengigau lagi. "Daddy, Bella mau pulang." Air matanya menetes di pipi merahnya. Tangan Dariush terhenti kala air mata itu jatuh.

"Kamu milikku!"

-

-

-

Jay sudah memeriksa ke hotel tempat Bella menginap, bahkan anak buahnya sudah menyisir tempat itu. Tidak ada jejak kemana Bella pergi.

"Barang barangnya kosong. Apa mungkin Bella pindah hotel? Tapi kenapa ponselnya mati?"

Dylan juga mendapati kabar hilangnya Bella dari Dave. "Iya om saya akan kesana nanti malam." Ucap Dylan di telepon setelah di hubungi Dave.

"Kamu kemana, Bel? Semoga kamu baik baik saja." Lirih Dylan. Tanpa menunggu waktu lagi Dylan segera bersiap siap untuk pergi nanti malam. Dia mencoba menghubungi Bella kembali namun ponselnya mati.

Hatinya makin tak karuan. Rasa khawatir yang teramat dalam membuat dirinya gusar setengah mati. Wanita yang di cintainya sejak kecil kini hilang tak ada jejak.

Waktu berlalu begitu cepat, malam ini Dylan akan pergi ke Italy menyusul cintanya yang hilang. Ia kini sudah ada di dalam pesawat. Sedari tadi dia sibuk menghubungi seseorang untuk membantunya mencari Bella.

"Bel, tunggu aku!"

-

-

-

Matahari sudah terbit namun sang gadis cantik ini masih tertidur pulas padahal semalaman dia menangis. Entah karena terlalu lelah.

Akhirnya Bella terlelap. Dia menggeliatkan badannya di tengah sorot matahari yang menyinari wajahnya.

"Hoaaammm...udah jam berapa ini? Bibi...sarapan aku donk." Teriak Bella, sepertinya dia belum sadar kalau dirinya ada dirumah Dariush.

"Ehm!"

"Astaga! Om siapa? Kenapa ada disini?" Bella sontak kaget mendapati ada lelaki di kamar itu. Seketika dia reflek menyelimuti dirinya.

Dariush datang membawa secangkir kopi ditangannya dan dengan bertelanj*ng dada. Mata Bella membulat, salivanya tersedak saat melihat pemandangan di depannya.

"Apa kamu amnesia?" Ucap Dariush tajam.

"Heuh? Astaga! Iya benar, aku kan ada di_" Lirih Bella dia menunduk lemas. Ternyata ini bukan mimpi, Bella masih terjebak di rumah besar yang sudah seperti neraka.

"Aku akan pergi, jangan macam macam apalagi kabur! Di luar banyak pengawal." Ucap Dariush tegas.

"Ck, lagipula aku mau kemana om? Pasti pintunya om kunci kan?" Jawab Bella dengan kesal.

"Aku lapar om." Rengeknya lagi.

Dariush tak menjawab dia melangkah ke walk in closet. Bella mengekor dari belakang. Sayangnya dia justru menabrak punggung tegap itu. "Argh...om!"

Dariush membalikan badannya dan mengukung Bella ke pintu lemari. Dia memiringkan wajahnya menelisik setiap inchi wajah teduh itu.

Biasanya Dariush tidak pernah seperti ini jika berdekatan dengan perempuan. Tapi dengan Bella, ada gelanyar aneh yang merasukinya.

Bella balik memandang wajah tampan dan tegas dengan tatapan tak terbaca. Jika seperti ini rasa takutnya hilang.

Tenggorokannya terasa tercekat, nafasnya naik turun seperti naik roller coaster. Mata keduanya beradu. Dariush semakin mengikis jarak dengan Bella.

Deru nafas keduanya hangat terasa. Bahkan bibir mereka hanya tinggal sedikit lagi bersentuhan. Baru dua hari bertemu tapi Dariush tak bisa menahan gejolaknya.

"Om mau apa_hmmpt_"

Belum selesai Bella bicara, pertahanan Dariush runtuh, dia mencium bibir pemilik manik hazel grey itu. Bola mata Bella sebentar lagi keluar dari tempatnya. Bukannya berontak, Bella menutup matanya dan menikmati pagutannya.

Mungkin dengan cara ini, Bella bisa cepat keluar dari rumah Dariush. Sebisa mungkin Bella akan menuruti pria sinting ini agar bisa secepatnya kabur. Meskipun nyawa taruhannya.

Dariush menahan kedua tangan Bella ke atas. Tak tahan lagi dia melumat habis bibir itu. Seketika jantung Bella makin tidak karuan dia justru membalas dan menikmati setiap gigitan kecil dari Dariush.

Ciuman ini bagi Bella sangat berbeda dengan ciuman Dylan. Ada getaran aneh dalam dirinya. Mereka saling mengecap, melumat, dan menyesap. Cukup lama keduanya berciuman. Bella melepaskan ciumannya menghirup oksigen dalam dalam.

Ibu jari Dariush mengelap bibir mungil Bella yang basah akibat ulahnya. "Kamu milikku! Apa yang sudah menjadi milikku tidak akan aku lepas, mengerti?"

"Izinkan aku menghubungi orang tuaku!" Lirih Bella, air matanya sudah menggenang. Dia benar benar memohon pada Dariush. Setidaknya orang tuanya tidak terlalu khawatir mendengar kabarnya.

Bella berlutut di hadapan Dariush. "Tolong! Aku akan melakukan apa saja, yang penting tolong kabari orang tuaku. Sebagai gantinya, aku akan menyerahkan nyawaku."

1
Vivi Alfia Dewi
next Thor di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!