Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.
Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.
Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.
Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.
Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susan Datang ke VG
Susan duduk di depan layar komputernya, tapi angka-angka di sana tidak lagi membentuk makna.
Kursor berkedip terlalu lama di satu sel. Tangannya berhenti di udara. Ia menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan, seolah berharap beban di dadanya ikut turun.
Percakapannya dengan Arman masih berputar di kepala.
Nada datar itu. Kalimat yang tidak meninggikan suara, tapi memotong lebih dalam dari bentakan mana pun. Tidak ada janji. Tidak ada kepemilikan. Tidak ada “kita”.
Hanya batas.
Susan menutup laptopnya pelan. Terlalu pelan untuk ukuran seseorang yang sedang frustrasi. Ia merapikan meja, mengambil tas, lalu berdiri tanpa pamit ke siapa pun.
Lorong kantor terasa panjang saat ia melangkah keluar. Lampu-lampu neon menyala stabil, berlawanan dengan pikirannya yang tidak.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja Arman terbuka.
Ia keluar sambil membaca berkas, langkahnya berhenti ketika melihat meja Susan kosong.
“Kemana Susan?” tanyanya tanpa menoleh, suaranya datar seperti biasa.
Sekretaris mengangkat kepala. “Pulang, Pak. Izin lebih awal.”
Arman berhenti sejenak.
Hanya satu ketukan sunyi di dadanya tidak cukup kuat untuk disebut khawatir, tidak cukup penting untuk dikejar.
“Oh,” katanya singkat.
Ia kembali melangkah masuk ke ruangannya, menutup pintu.
Dan untuk pertama kalinya, Susan pulang dengan perasaan yang lebih berat dari pekerjaannya, karena ia sadar, bahkan kepergiannya pun… tidak lagi mengubah apa pun.
.
Susan tidak langsung pulang ke apartemennya.
Ia duduk lama di dalam mobil, mesin sudah mati, tangan masih di setir. Kata-kata Arman terus berulang, tapi kali ini tidak lagi menyakitkan, melainkan memperjelas satu hal yang selama ini ia tolak.
Ada orang lain di tengah semua ini.
Dan nama itu tidak lagi samar.
Dara Valencia.
Susan membuka ponselnya, menelusuri berita, profil perusahaan, potongan wawancara. Wajah itu muncul berkali-kali tenang, terkontrol, seolah tidak pernah salah langkah. Terlalu sempurna untuk sekadar kebetulan.
“Kalau bukan dia,” gumam Susan, “kenapa semuanya berubah?”
Ia menutup layar, menatap pantulan dirinya di kaca mobil. Matanya tajam, tapi lelah. Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin mencari bukti. Ia ingin konfrontasi.
Bukan sebagai karyawan.
Bukan sebagai rekan bisnis.
Sebagai perempuan yang merasa posisinya direbut tanpa pernah diberi tahu sedang bertanding.
Susan menyalakan mesin.
Ia sudah tahu ke mana harus pergi.
Dan kali ini, ia tidak berniat datang dengan alasan administratif.
.
Susan berdiri terlalu lama di depan gedung Valencia Group sebelum akhirnya melangkah masuk.
Ia sudah beberapa kali datang ke sini dengan alasan berbeda mengantar dokumen, mengikuti rapat lintas perusahaan, atau sekadar menemani tim legal. Gedung ini bukan wilayah asing. Namun hari ini rasanya berbeda. Tidak ada undangan. Tidak ada jadwal. Tidak ada nama Susan yang tercantum di agenda siapa pun.
Ia datang atas dorongan yang tidak rapi.
Resepsionis menyebut nama Dara Valencia dengan nada profesional. Susan mengangguk, menyebut dirinya dari perusahaan rekanan, lalu menambahkan satu kalimat yang terdengar cukup meyakinkan untuk tidak dipertanyakan.
“Urusan klarifikasi data lama.”
Kalimat itu bekerja seperti kunci palsu, tidak benar-benar membuka pintu, tapi cukup untuk membuat orang mundur selangkah.
Beberapa menit kemudian, ia dipersilakan naik.
Lift melaju sunyi. Susan menatap pantulan dirinya di dinding baja. Rambutnya rapi. Blusnya tepat. Wajahnya tenang. Tidak ada yang tahu betapa kalimat-kalimat di kepalanya saling berebut keluar.
Ia bukan datang sebagai karyawan hari ini. Ia datang sebagai seseorang yang mulai kehilangan tempat.
Dara sedang membaca laporan ketika sekretarisnya mengetuk.
Danu sedang berdiri di dekat meja Dara ketika sekretaris masuk dengan wajah sedikit ragu.
“Pak Danu… ada tamu. Mengaku dari internal perusahaan mitra. Namanya Susan.”
Danu tidak langsung menjawab.
Ia hanya melirik Dara sekilas.
Tidak kaget. Tidak bertanya.
“Biarkan dia masuk,” kata Dara tenang, seolah nama itu tidak membawa bobot apa pun.
Namun Danu melangkah satu langkah lebih dekat ke Dara, suaranya diturunkan. “Ini bukan kunjungan profesional.”
“Aku tahu.”
“Dan dia tidak datang untuk kerja sama.”
“Aku juga tahu.”
Danu menghela napas pendek, lalu tersenyum tipis, senyum orang yang sudah membaca peta jauh sebelum bidak digerakkan. “Kalau begitu, ini bukan pertemuan. Ini ujian.”
“Untuk siapa?” tanya Dara datar.
“Untuk dia,” jawab Danu tanpa ragu.
Ketukan terdengar di pintu.
Danu menoleh sekali lagi ke Dara. “Kalau dia berharap menemukan perempuan yang bisa ditekan… dia datang ke tempat yang salah.”
Dara hanya merapikan manset jasnya.
“Biarkan dia masuk,” ulangnya.
Danu mundur setengah langkah, berdiri di sisi ruangan, bukan sebagai pelindung—melainkan saksi.
Karena ia tahu, sejak Susan melangkah ke lantai ini, posisi permainan sudah bergeser.
Dan Susan belum menyadarinya.
Susan masuk dengan senyum tipis. Terlalu terkontrol untuk disebut santai.
“Terima kasih sudah meluangkan waktu,” katanya.
Dara mengangguk. “Silakan duduk.”
Tidak ada jabat tangan. Tidak ada basa-basi.
Jarak di antara mereka tidak jauh, tapi terasa jelas.
Susan memulai dengan nada ringan. Tentang kerja sama. Tentang transparansi. Tentang pentingnya sinkronisasi data lama agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.
Dara mendengarkan. Kepalanya sedikit miring, seperti seseorang yang sedang menimbang nada, bukan isi.
“Dan data lama yang dimaksud?” tanyanya akhirnya.
Susan membuka map. Isinya tipis. Terlalu tipis untuk sebuah urusan resmi.
“Beberapa dokumen personal yang mungkin… terlewat saat restrukturisasi. Saya hanya ingin memastikan semuanya berada di tempat yang semestinya.”
Dara tersenyum kecil. Bukan ramah. Bukan sinis.
“Di Valencia Group,” katanya pelan, “yang salah tempat biasanya bukan dokumennya.”
Susan menegang hampir tak terlihat.
“…melainkan orangnya,” lanjut Dara.
Kalimat itu jatuh tanpa tekanan. Justru karena itu terasa berat.
Susan menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Ini bukan pertemuan klarifikasi. Ini pembacaan posisi.
“Apa maksud Anda?” tanyanya, berusaha menjaga nada.
Dara berdiri, berjalan mendekat dengan langkah tenang. Tumitnya berdetak pelan di lantai. Ia berhenti pada jarak yang sopan cukup dekat untuk didengar jelas, cukup jauh untuk tidak disentuh.
“Maksud saya,” katanya lembut, “Anda datang tanpa mandat. Tanpa otoritas. Tanpa kepentingan bisnis yang sah. Jadi pertanyaannya bukan apa yang Anda cari.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi mengapa Anda mencarinya.”
Susan membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Nama Arman nyaris keluar. Ia menahannya.
“Itu asumsi Anda,” katanya akhirnya.
“Benar,” sahut Dara. “Dan asumsi biasanya muncul saat seseorang merasa posisinya mulai goyah.”
Hening.
Susan menyadari sesuatu yang membuat tengkuknya dingin, ia tidak sedang menginterogasi. Ia sedang diurai.
“Kalau tidak ada urusan resmi,” lanjut Dara, sudah kembali ke kursinya, “saya sarankan Anda menyampaikan kebutuhan Anda lewat jalur yang tepat.”
Susan berdiri. Senyumnya kembali. Tapi kali ini retak.
“Tentu,” katanya. “Saya hanya ingin memastikan… tidak ada konflik kepentingan.”
Dara menatapnya lurus. Tatapan yang tidak bertanya.
“Konflik,” katanya, “biasanya muncul saat seseorang mencampuradukkan peran.”
Susan mengangguk. Ia tahu ini batasnya. Ia keluar tanpa menoleh lagi.
Di lift, napas Susan baru terasa berat.
Tangannya gemetar sedikit. Bukan karena marah. Bukan karena takut.
Karena sadar.
Ia bukan pemain di papan yang sama.