Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya
Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Mobil terus melaju membelah keheningan malam yang kian larut. Di kursi penumpang, perlawanan Raisa terhadap rasa kantuk akhirnya runtuh. Kelelahan setelah seharian mengajar, penjemputan vina, acara di rumah vina, juga ditambah ketegangan menghadapi kakek parang dan drama di panti asuhan, membuat matanya perlahan memberat. Kepalanya terkulai pelan menyandar pada jendela mobil, napasnya menjadi teratur dan tenang.
Fatih sesekali melirik ke samping. Ia sebenarnya hendak menanyakan arah jalan pintas menuju rumah Raisa karena ia merasa mobil Tia di depan mengambil rute yang sedikit memutar. Namun, saat melihat Raisa yang sudah terlelap, niat itu ia urungkan.
Ia sedikit melambatkan laju kendaraan agar guncangan tidak mengusik tidur wanita di sampingnya. Dalam temaram lampu dasbor, Fatih memperhatikan profil wajah Raisa yang tampak jauh lebih lembut saat tidur. Tidak ada tatapan tajam yang menantang, tidak ada bibir yang siap melontarkan argumen logis. Yang ada hanyalah raut wajah lelah seorang wanita yang baru saja memberikan seluruh energinya untuk menenangkan seorang anak kecil yang ketakutan.
Fatih fokus mengikuti lampu belakang mobilnya sendiri yang dikendarai Tia di depan. Ia menjaga jarak memastikan mereka tetap dalam satu irama hingga akhirnya kedua mobil itu berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar minimalis rumah Tia.
Tia turun dari mobil mewah Fatih dengan wajah ceria, namun ia segera memberikan isyarat telunjuk di bibir saat melihat Raisa masih memejamkan mata di dalam mobil. Fatih mematikan mesin mobil Raisa dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara klik yang tajam.
Tia mendekat ke jendela pengemudi yang dibuka sedikit oleh Fatih. " tidur ya, Dok?" bisik Tia tertahan.
"Iya. Sepertinya dia sangat kelelahan," jawab Fatih dengan suara rendah, hampir berbisik. "Kuncinya saya tinggalkan di sini. Saya akan pulang dengan mobil saya."
Tia menerima kunci mobil Raisa yang diulurkan Fatih. Ia menatap Raisa yang masih terlelap, lalu menatap Fatih dengan senyum penuh arti. "Makasih ya, Dokter Fatih. Maaf sudah merepotkan malam-malam begini. Tapi saya rasa, Raisa aman kalau Dokter yang antar."
Fatih tidak menanggapi godaan itu. Ia keluar dari mobil Raisa dengan gerakan tenang. "Tolong pastikan dia masuk ke rumah dengan aman setelah bangun nanti. Hormon kortisolnya mungkin sudah turun, tapi dia butuh istirahat total."
Tia terkekeh pelan. "Siap, Dokter. Diagnosis diterima."
Fatih berjalan menuju mobilnya sendiri, namun sebelum masuk, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah mobil di mana Raisa masih tertidur. Ada kilatan aneh di matanya sebuah pengakuan tak terucap bahwa malam ini, tembok es di hatinya sedikit retak oleh kehangatan yang dibawa oleh sang Ibu Guru.
"Selamat malam, Tia. Sampaikan salam saya pada... rekan Anda," ujar Fatih sebelum akhirnya masuk ke mobilnya dan melesat pergi meninggalkan kompleks perumahan yang sunyi itu.
Tia berdiri di pinggir jalan sambil memutar-mutar kunci di jarinya, tersenyum lebar. "Yah, setidaknya es-nya sudah mulai retak sedikit," gumamnya puas sebelum mengetuk kaca jendela mobil untuk membangunkan sahabatnya.
Ketukan lembut di kaca mobil perlahan menembus alam mimpi Raisa. Ia mengerjap, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu jalan yang masuk ke dalam kabin. Kesadaran Raisa pulih sepenuhnya saat ia menyadari dirinya tidak lagi berada di kursi pengemudi, melainkan di kursi penumpang.
Tia membuka pintu mobil dengan wajah yang masih dihiasi senyum jahil.
"Bangun, Tuan Putri. Kita sudah sampai di istana," goda Tia sambil membantu Raisa menegakkan duduknya.
Raisa memegang kepalanya yang sedikit pening, lalu menoleh ke kursi kemudi yang sudah kosong. "Loh? Kok kita sudah di sini? Tadi... Dokter Fatih yang nyetir?"
"Seratus buat kamu! Dia nyetir pelan banget, kayak lagi bawa porselen pecah belah supaya kamu nggak bangun," jawab Tia sambil menarik tangan Raisa untuk keluar dari mobil.
Raisa turun dengan langkah gontai, melirik jam di pergelangan tangannya. "Ya ampun, sudah jam sebelas lewat. Aku harus segera pulang, besok ada jam pertama."
Tia langsung berkacak pinggang, menghalangi jalan Raisa. "Pulang? Dengan kondisi mata merah dan nyawa yang belum kumpul begini? Enggak ya, Rai. Ini sudah terlalu larut. Bahaya"
"Tapi, Tia..."
"Nggak ada tapi-tapi. Malam ini kamu menginap di sini. Aku sudah siapkan baju ganti dan sikat gigi baru. Besok pagi kita berangkat bareng ke sekolah dari sini, lebih dekat kan?" perintah Tia dengan nada guru BK yang tidak bisa dibantah.
Raisa menghela napas panjang. Ia melihat ke arah jalanan depan rumah Tia yang sudah sangat sepi. Mengingat kejadian dengan kakek berparang tadi, nyalinya untuk menembus malam sendirian memang sedikit menciut.
"Baiklah, aku menyerah. Aku menginap," gumam Raisa pasrah.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Raisa duduk di tepi tempat tidur tamu. Pikirannya mendadak kembali ke momen di panti asuhan tadi. Ia teringat bagaimana Fatih menatapnya, dan bagaimana pria itu dengan keras kepala bersikeras mengantarnya pulang.
"Rai, belum tidur?" Tia muncul di ambang pintu sambil membawa dua gelas susu hangat.
"Baru mau," jawab Raisa singkat.
Tia memberikan salah satu gelas ke Raisa, lalu duduk di sampingnya. "Cie, yang tadi dikawal Dokter Fatih. Kamu tahu nggak? Pas kamu tidur tadi, dia bener-bener mastiin kamu nggak terganggu."
Raisa menyesap susunya, berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Dia cuma menjalankan tugas medisnya, Tia. Katanya hormon kortisolku tinggi, jadi dia merasa bertanggung jawab."
"Hormon kortisol atau hormon rindu, tuh?" goda Tia lagi sambil tertawa kecil. "Tapi serius, Rai. Ibu Indah tadi kelihatan suka banget sama kamu. Dan Fatih... sepertinya dia mulai melihat kalau kamu bukan cuma ibu guru yang galak di sekolah."
Raisa terdiam. Ia menatap stiker keberanian yang masih tersisa satu di dalam tasnya, teringat janji yang ia buat pada Azka. "Dunia ini sempit ya, Tia."
"Mungkin itu namanya takdir, Rai. Sudahlah, ayo tidur. "
Raisa mengangguk, mematikan lampu kamar, namun matanya masih menatap langit-langit dalam kegelapan. Untuk pertama kalinya, bayangan dokter dingin itu tidak lagi terasa mengintimidasi, melainkan memberikan rasa aman yang asing di hatinya.
......................
Pagi itu, sinar matahari menyelinap di antara celah gedung SMA Pelita Bangsa, namun bagi Vina, atmosfer sekolah masih terasa sedikit mencekam. Ia berdiri di depan gerbang, jemarinya meremas tali tas ranselnya dengan kuat. Kakinya terasa berat, seolah terpaku pada aspal. Bayangan randi dan teman teman nya sempat terlintas di benaknya.
Vina menarik napas panjang, mencoba mengingat senyum Raisa dan Tia semalam. Namun, keraguan itu tetap ada.
Dari kejauhan, di koridor utama yang menuju lapangan, seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda tiba-tiba menghentikan langkahnya. Mata Dara membulat saat melihat sosok yang sangat ia kenali sedang berdiri mematung di gerbang.
"Vina?!" teriak Dara, suaranya melengking memecah keramaian pagi.
Tanpa mempedulikan keringat yang mulai membasahi dahinya, Dara langsung berlari kencang. Sepatunya berderit di atas lantai semen saat ia melesat menuju gerbang. Di belakangnya, ada Gavin, Rian, Dafa, dan Aldi, mereka yang tadinya sedang asyik bersenda gurau, langsung tersentak.
"Woy, Dara! Tunggu!" seru Gavin. Ia segera memberi kode pada yang lain dengan gerakan kepala.
Gavin, Rian, Dafa, dan Aldi langsung ikut berlari, mengiringi langkah Dara dari belakang bak pengawal pribadi.
Dara sampai lebih dulu di depan Vina. Ia terengah-engah, namun wajahnya memancarkan kegembiraan yang tulus.
Tanpa aba-aba, ia langsung menubruk Vina dengan pelukan erat.
"Vina! Lo beneran masuk! " cerocos Dara sambil melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Vina, memastikan temannya itu benar-benar nyata.
Vina tertegun, matanya mulai berkaca-kaca.
"Dara... gue..."
"Nggak usah gue-gue-an. Ayo masuk!" Dara menarik tangan Vina dengan semangat.
Gavin dan rombongannya tiba tepat di belakang mereka. Gavin memasukkan tangannya ke saku celana, memberikan senyum miring khasnya yang menenangkan. "Selamat datang kembali, Vin. Kelas sepi nggak ada yang bisa kita godain."
"Iya, Vin. Dafa sampai nggak semangat ngerjain tugas matematika gara-gara nggak ada saingan," timpal Rian sambil tertawa, disambut protes kecil dari Dafa.
Aldi, yang biasanya paling pendiam, hanya mengangguk sopan namun tatapannya menunjukkan dukungan penuh. Mereka berlima kemudian berjalan mengiringi Vina.
Dara menggandeng lengan Vina di sisi kanan, sementara keempat cowok itu berjalan di sekeliling mereka, membentuk formasi yang seolah-olah mengatakan kepada seluruh warga sekolah bahwa, Vina berada di bawah perlindungan kami.
Rasa ragu yang tadi menyelimuti Vina perlahan menguap, berganti dengan rasa hangat yang menjalar di dadanya. Ia tidak lagi menunduk. Dengan pengawalan sahabat-sahabatnya, Vina melangkah masuk ke koridor sekolah dengan kepala tegak.
Di lantai dua, dari jendela ruang guru, Raisa dan Tia berdiri berdampingan memperhatikan pemandangan itu.
"Lihat itu, Rai," bisik Tia sambil tersenyum lebar. "Insting kamu nggak pernah salah. Mereka memang anak-anak yang luar biasa."
Raisa melipat tangannya di dada, senyum tipis yang jarang terlihat kini menghiasi wajahnya yang biasanya kaku. "Terkadang, obat terbaik bukan cuma dari dokter, tapi dari teman-teman yang peduli."