Emely seorang gadis yang terpaksa bekerja disebuah bar karena harus menjadi tulang punggung keluarganya. Dia harus menghidupi ibunya yang sudah tidak bekerja karena penyakit leukimia yang menyerangnya beberapa bulan terakhir, dia juga memiliki seorang adik laki - laki yang kuliah disalah satu universitas dengan mendapat beasiswa karena kepintar
annya. Sedangkan sang ayah lebih memilih meninggalkan ibunya, adiknya dan juga Emely. Hidupnya semakin menderita setelah pertemuannya dengan Davino Swam. Pria yang menganggap wanita sebagai mainanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Sara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
"Maaf yah pak. Saya hanya ingin bertanya? Kenapa yah beasiswa adik saya di cabut? " Tanya Emely pada pak Jimmy. Sebelum mencari pekerjaan Emely mampir di kampus adiknya, Emely harus tahu alasan kenapa beasiswa adiknya dicabut. Emely tidak sertamerta percaya ucapan Eduar. Ingat Eduar pernah berbohong sekali padanya dan bisa saja adiknya itu berbohong saat ini. Karena tidak mungkin pihak kampus mencabut beasiswa adiknya tanpa sebab. Jika ada akibat pasti ada sebabnya kan?
"Maaf yah nona, saya bukan lagi bagian pengurusan hal itu. Saya baru saja ditunjuk menjadi petinggi kampus ini dan masalah adik anda, anda bisa tanyakan itu kepada bagian akademik yang baru. " Ucap pak Jimmy yang tengah sibuk menyiapkan dokumen - dokumen kemahasiswaan.
" Tapi pak, setahu saya disini ruangan ..." Ucapan Emely dipotong lagi oleh pak Jimmy.
"Nona, tolong saya sedang sibuk. " Gerutu pak Jimmy.
" Tapi pak, setidaknya bapak masih disini kan, dan dokumen - dokumen itu tentang para penerima beasiswa kan? " Emely menunjuk tumpuhkan dokumen yang tadi sempat dilihatnya cover depan dokumen yang disusun oleh pak Jimmy.
Pak Jimmy menarik nafas kasar dan membuangnnya. Emely tahu pria itu sedang menahan kekesalan terhadapnya.
"Kalau beasiswa adik anda dicabut, itu pasti karena dia melakukan kesalahan atau nilai hasil studinya menurun dan tidak lagi sesuai dengan standar penerima beasiswa. " Ucapan tegas dari pak Jimmy, membuat Emely yakin bahwa Eduar melakukan kesalahan.
Sementara Emely masih melamun, memikirkan bagaimana nasib Eduar selanjutnya, tiba - tiba suara pak Jimmy membuyarkan lamunan Emely.
"Baiklah. Karena saya merasa bahagia hari ini, silakan sebutkan nama adik anda. Saya akan melihat mengapa beasiswa adik anda dicabut. " Ucap pak Jimmy akhirnya.
"Eduar Qian Huzein. " Ucap Emely lirih.
"Tunggu, sepertinya nama itu tidak asing. " Berpikir dan mengingat - ingat. Sampai akhirnya pak Jimmy mengingat.
"Ya Tuhan itu adik ipar. Mati aku, bisa - bisa aku dicopot dari jabatanku hanya dengan hitungan jam. "
"Jimmy Basuki Purnomo, menjabat sebagai petinggi kampus XX selama 3 jam. " Pak Jimmy menggeleng, ia tidak ingin memiliki sejarah jabatan seperti itu.
" Ya ampun nona, kenapa dari tadi tidak menyebutkan nama adik anda. Dia mahasiswa yang paling pintar dikampus ini. Dia juga sangat berbakat dan juga salah satu mahasiswa favorit saya. " Sudah mulai menjilat. Pak Jimmy sangat ingat jelas pesan dari Davino. " Dia calon adik ipar saya, jadi usahakan jangan menyusahkan dia. Saya bisa marah loh." Suara Davino masih terngiang - ngiang ditelinganya.
" Apakah aku tidak menyusahkan nona ini? sedangkan menyusahkan adik iparnya saja, membuat dia marah. Apalagi ini kekasihnya. Ya Tuhan, sepertinya jabatanku akan tinggal sejarah jika gadis ini mengadukanku. " Gumam Pak Jimmy dalam hati.
" Bagaimana saya bisa bilang nama adik saya, bapak tidak memberikan kesempatan itu. "
"Maafkan saya nona, saya sangat menyesal. " Menunduk beberapa kali. Emely bingung dengan perubahan sikap pria yang memakai kacamata itu. Sikapnya sekarang jauh lebih ramah dari yang tadi. Kenapa dia juga bersikap sesopan ini, Emely bahkan tidak habis pikir.
" Iya tidak apa - apa pak, saya mengerti bapak sedang sibuk." Ucap Emely dengan tersenyum.
"Tidak saya tidak sibuk. Eh maksud saya sesibuk apapun saya, saya akan meluangkan waktu untuk membantu nona. Oh yah apa yang nona butuhkan?" Berharap gadis didepannya ini tidak akan melaporkannya pada Davino.
"Itu pak, saya mau nanya kenapa beasiswa adik saya dicabut? " Tanya Emely lagi.
" Oh itu. Maaf nona, sepertinya pihak kampus salah mengambil keputusan. Ini hanya salah paham saja nona. Beasiswa adik nona tidak dicabut, malahan ada penambahan beasiswa. " Emely bingung tidak mengerti dengan penjelasan pak Jimmy. Tapi dia merasa lega bahwa adiknya bisa kuliah lagi. Melihat kebingungan Emely pak Jimmy kembali menjelaskan.
"Jadi adik nona mendapatkan double beasiswa. Yaitu beasiswa kurang mampu dan juga beasiswa berprestasi. " Walaupun Emely kuliah tidak lama di kampus ini, namun Emely tahu kampus ternama ini tidak menyediakan beasiswa untuk mahasiswa yang kurang mampu, kecuali beasiswa untuk mahasiswa berprestasi. Tapi sudahlah mungkin itu peraturan baru pihak kampus, toh kata pak Jimmy dia baru diangkat jadi petinggi kampus. Mungkin aja peraturan itu dibuat beliau.
" Begitu yah pak, saya pikir adik saya melakukan kesalahan. " Mendengar ucapan Emely pak Jimmy mengangkat tangannya melambaikan " Tidak nona, adik anda tidak melakukan kesalahan apapun. Maaf sudah merepotkan nona untuk datang kesini. Sebenarnya tadi saya sudah berniat menghubungi adik nona untuk menyampaikan hal ini. Tapi keburu nona datang kesini. Maaf yah nona. " Kok jadi pak Jimmy yang merasa bersalah dan minta maaf. Emely jadi tidak enak hati.
"Baiklah pak, kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih sekali lagi. " Ucap Emely sembari menunduk memberi hormat dan dibalas hal yang sama oleh pak Jimmy.
" Saya akan mengantar nona kedepan. " Emely lagi - lagi dibuat bingung oleh sikap pak Jimmy yang begitu sopan memperlakukannya. Seperti dia nyonya besar saja.
"Terima kasih telah berkunjung nona dan sampaikan salamku pada tuan. " Ucapan pak Jimmy terakhir kali disaat tubuh Emely mulai menjauh dari ruangan itu.
"Tuan? " Emely jadi bingung sendirikan? Siapa tuan yang dimaksud pak Jimmy.
***
"Gimana kak sudah dapat pekerjaan? " Tanya Eduar disaat kakak perempuannya itu sampai didalam rumah. Emely terlihat sangat lelah, mungkin karena hampir seharian ini dia mencari pekerjaan.
Emely menggeleng, sambil meraih segelas air yang diberikan Eduar padanya.
"Sepertinya kak Emely harus berusaha lebih keras lagi. Kenapa sih susah banget cari kerjaan dibulan yang masih jauh dari kata hari raya. Biasanya kalau dekat hari raya, banyak penambahan karyawan. Jadi masih ada peluang buat kerja. " Memijat pangkal hidungnya, bahkan kepalanya hampir pecah mengingat dia harus segera mengganti uang sahabat - sahabatnya, ditambah uang yang dipinjamnya dari rentenir.
Coba saja dia tidak pernah bertemu pria brengsek itu, mungkin saja dia masih kerja di Bar milik kak Boy.
Setelah beberapa saat Eduar menceritakan tentang pihak kampus yang telah menghubunginya. Emely pura - pura kaget mendengarnya. Padahal dia sudah tahu, sebelum Eduar mengatakan hal itu padanya.
***
Sweet Room
"Oi men, kok jadi kamu yang galau malam ini? " Menjeda ucapannya, "Biasanya juga dia yang galau. " Haizel melirik kearah Davino yang kadang tersenyum sendiri. Entah apa yang mengusik pikirannya, sehingga wajah tampannya terlihat lebih cerah malam ini.
" Aku sepertinya patah hati sebelum waktunya men. " Alex meraih minuman diatas meja dan meminumnya tanpa sisa.
" Santai men, jangan bilang kau patah hati sama pasienmu men. " Haizel tertawa, sedangkan Davino hanya menggeleng. Bukannya malah menghibur, malahan bikin tambah bikin kesal saja.
"Emang kau kenapa men? " Menepuk pundak Alex.
"Aku sepertinya jatuh cinta men. Buktinya aku nggak bisa lupain dia. " Alex mengangkat wajahnya setelah sedari tadi dia menunduk.
Haizel menutup mulutnya seolah kaget, namun setelah beberapa saat dia malah tertawa terbahak.
"Kau jatuh cinta sama siapa? Bekasnya Davino? " Kelakar Haizel.
"Emang kamu yang suka barang bekas Davi. Buktinya sih Bella, kau makan juga. " Protes Alex semakin membuat Haizel tertawa.
" Aku nggak suka yah, barang bekasnya Davi. Yang ada aku ketularan songong." Davino dan Haizel sama - sama tertawa mendengar ucapan Alex yang menggebu - gebu.
"Emang kau jatuh cinta sama siapa men? " Kali ini Haizel bertanya dengan serius.
"Bidadariku Emely. " Davino yang baru meneguk minumannya langsung terbatuk - batuk mendengar ucapan Alex barusan. Bahkan hidungnya terasa panas, ketika sebagian minuman itu merembes masuk ke permukaan hidungnya. Bagaimana yah kalau Alex tahu, kalau Emely itu juga bekasnya Davino.
"Woi men, pelan - pelan saja. Masih banyak tu minuman yang ngantri buat kau telan, sekalian sama botolnya. " Ucap Haizel menepuk pundak Davino yang ada disebelah kanannya.
" Terus kenapa tidak kau bilang saja sama bidadarimu yang bernama siapa....? " Haizel bertanya dengan sorot matanya kepada Alex dan Alex menjawabnya. "Emely Valery. "
"Iya Emely itu, kalau kau suka dan jatuh cinta sama dia men. Tapi tunggu.... " Haizel terlihat berfikir, mengingat sesuatu.
"Namanya seperti tidak asing. " Haizel mengingat dimana dia pernah mendengar nama itu.
"Iyalah tidak asing. Aku kan sebelumnya pernah cerita tentang dia, sama kamu. " Haizel mangut - mangut, menyetujui ucapan Alex. Haizel bahkan lupa kalau nama Emely Valery pernah didengarnya saat Emely di promosikan di pelelangan wanita, yang waktu itu dihadirinya dan dia sendiri juga yang memboyong Emely atas permintaan pria dingin yang ada disampingnya. Haizel tidak tahu saja, kalau Emely yang dimaksud Alex adalah Emely yang sama. Sedangkan Davino, pria itu tahu kalau gadis yang disukai Alex adalah gadis yang membuat hidupnya kacau.
"Bagaimana aku mau nyatakan cinta sama dia, aku nggak tahu dia dimana sekarang? Aku egois nggak sih? berharap penyakit ibunya kambuh, terus dibawah kerumah sakit. Biar aku bisa ketemu dia lagi. "
"Emang ibunya sakit apa? " Tanya Haizel. Sedangkan Davino hanya menyimak saja percakapan kedua sahabatnya.
"Kanker darah. Udah setahun dan beberapa bulan terakhir, penyakit ibunya semakin parah. Terakhir dilakukan tindakan radioterapi. " Kali ini Davino menoleh kearah Alex. Ada yang menganjal hatinya. Kalau ibu Emely sakit, lalu siapa wanita yang menjual Emely dipelelangan wanita? Sepertinya dia harus mencari tahu kebenarannya.
"Aku ke toilet dulu. " Ucapnya kemudian dan diangguki kedua sahabatnya itu.
Sebenarnya tujuan Davino bukan toilet tapi keruangan yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.Setelah mengantongi foto wanita yang mengaku sebagai ibu Emely, Davino meninggalkan ruangan pemilik pelelangan wanita. Kembali keruangan VVIP dimana Alex dan Haizel disana.
"Woi kau ke toilet apa ke hotel, lama banget. " Protes Haizel pada Davino.
"Aku cabut dulu yah." Sudah meraih kunci mobil dan ponselnya diatas meja. Tidak mendengar protes dari sahabatnya.
"Kau mau kemana? Kebiasaan. Biasanya juga kau yang paling beta lama - lama disini. Tapi beberapa hari ini kau sering cabut duluan. " Davino hanya mengangkat bahunya, tidak menghiraukan pertanyaan Haizel padanya. Namun setelah beberapa langkah ia pergi, ia berbalik.
"Aku mau ketemu bidadarinya Alex. " Ucapnya disusul senyum tipis diwajah tampannya.
"Bacot. Pergi sana, kalau kau ketemu dia malam ini berarti kau berjodoh sama dia. " Ucap Alex ngelantur. Davino hanya mengangkat tangannya berlalu meninggalkan Sweet room.
____________
Asyik udah masuk rank...
Terima kasih yang senantiasi ngevote.
Terima kasih yg selalu ninggalin jejak.