Awal kisah cinta yang tak terbalas, dan tetap berusaha mencari cinta sejati untuk mengobati luka cinta yang membekas di hati.
Tetap berdiri tegak, tetap menjadi diri sendiri untuk mencari hati yang bisa menerima segala kekurangan yang ada pada pasangan.
Belajar ikhlas menerima kenyataan walau sakit di hati, namun mempunyai tekad yang kuat untuk tetap bangkit lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps.29.Renungan Menikah Muda
"Maksudnya mengajak kamu menikah, gitu?" Kayla bertanya balik kepada Cindy untuk sekedar mengkonfirmasi.
Cindy mengangguk pelan.
"Kok kamu malah lesu sih, diajakin nikah Wawan? Apa kamu enggak senang si Wawan melamar kamu?" tanya Kayla heran yang melihat sepupunya itu malah kurang senang atau kurang antusias menanggapi lamaran dari Wawan.
"Senang sih, tapi aku malah jadi bingung, La. Kuliah aku kan belum selesai. Dan dua minggu lagi kan aku harus balik ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah lagi, La. Aku masih bingung mesti jawab apaan ke Wawan."ucap Cindy tertegun sambil matanya menatap ke arah bantal yang sedang dia peluk.
Cindy mengingat kembali pada saat tadi sebelum dirinya dan juga Wawan turun dari mobil sehabis jalan-jalan saat di depan garasi rumah. Di sana cowok itu melamar Cindy. Waktu itu Kayla sudah turun duluan dari mobil dan masuk ke rumah langsung serta mengangkat tas travelnya Wawan.
"Terus Tante Rani sudah tau belum, Cin?" tanya Kayla kepada Cindy.
Cindy hanya menggelengkan kepalanya.
"Belum, baru kamu saja yang aku kasih tau." ucap Cindy membalas pertanyaan Kayla sambil masih merenung.
Kayaknya akan lebih baik, kalau semua itu akan aku omongin lagi dulu sama Wawan. Kalau aku kayaknya belum siap untuk menikah muda, apalagi dalam waktu dekat ini, kayaknya aku belum siap mental juga, La. Aku malah jadi ngeri sendiri membayangkan kalau aku menerima lamaran Wawan dan nikah dalam waktu dekat ini.
Kayla kemudian ikut terdiam sambil melihat sepupunya, Cindy. Sebenarnya sepupunya ini memang jauh lebih dewasa dari pada dirinya. Meskipun sebenarnya umur mereka sama atau sebaya.
Kayla malah jadi geli sendiri membayangkan kejadian semalam. Apalagi Kayla yang nembak si Raka. Anak-anak banget deh, kalau dibandingkan apa yang barusan diceritakan Cindy.
"Nikah muda? Idih, jauh banget deh dari bayangan aku!!" Ucap Kayla di dalam hati.
Kepikiran saja tidak pernah. Sekarang sepupunya itu malah dilamar sama cowok yang dulu kakak kelasnya waktu SMU dan sekarang bisa dibilang sudah hidup mapan atau kecukupan.
Kayla geleng-geleng kepala membayangkan semua itu.
"Kenapa, La. Kok geleng-geleng kepala?" tanya Cindy yang melihat Kayla geleng-geleng kepala sendiri.
"Enggak, lucu saja. Di antara kita ternyata ada yang sudah dilamar pacarnya. Padahal kan umur kita baru 20 tahun. Pernah enggak kamu kepikiran sampai disitu. Ada cowok yang melamar kamu di umur yang masih segini?" balas Kayla berdalih dari lamunannya tadi.
Cindy hanya menggeleng seakan tidak semangat membahas tentang lamar di lamar.
"Jadi aku mesti gimana dong, La?" tanya Cindy yang terlihat sangat bingung harus bagaimana.
"Loh kok kamu malah jadi nanya sama aku? Kan yang dilamar kamu. Jadi ya terserah kamu sajalah, kan yang diajakin nikah kamu bukan aku." balas Kayla yang juga tidak tahu harus bagaimana karena semua keputusan ada pada sepupunya itu sendiri.
"Ya maksud aku, kamu kasih opini apa gitu kek ke aku. Aku benar-benar lagi enggak bisa mikir nih, La. Sumpah La. Aku bingung banget kali ini." Ucap Cindy yang meminta opini dari Kayla karena dirinya merasa sudah mentok dan kebingungan enggak bisa mikir apa-apa lagi.
Muka Cindy nampak kelihatan sangat stres dengan lamaran dari Wawan. Kayla yang melihat muka Cindy kelihatan sangat lesu jadi merasa kasihan terhadap sepupunya itu.
"Ya, kalau aku jadi kamu, aku bakalan bilang enggak." ucap Kayla yang kemudian memberikan pendapatnya kepada Cindy.
"Kenapa memangnya, La?" tanya Cindy kemudian setelah Kayla memberikan pendapatnya.
"Karena aku belum mau nikah muda. Aku belum siap terikat jadi pasangan suami-istri. Aku masih ingin menghabiskan waktu muda aku. Aku masih seneng bermain, masih pengen kumpul-kumpul sama teman-teman, masih demen cuci-cuci mata, dan banyak lah pokoknya. Intinya kalau aku belum siap untuk menikah muda atau menikah dalam waktu dekat ini." kata Kayla menjelaskan pendapatnya.
"Tapi konteksnya beda lo La kamu sama aku. Kamu masih jomblo sedangkan aku sudah punya cowok. Gimana dong?" balas Cindy yang menjelaskan perbedaan antara dirinya dengan Kayla.
"Kan itu tadi cuma opini dari aku, Cin. Ya, kalau memang begitu, kamu tanya saja sama diri kamu sendiri. Kamu sudah siap enggak untuk menikah muda dan kamu juga siap enggak dengan kehidupan yang akan kamu jalani setelah kamu nikah nantinya." ucap Kayla yang menyerahkan semua keputusan kepada Cindy serta meyakinkan Cindy tentang kesiapan sepupunya itu jika mau nikah muda.
"Kamu siap enggak untuk jadi istri Wawan?Kamu siap enggak kuliah sambil ngurusin suami kamu dan juga rumah tangga kamu?Belum lagi nanti, misalnya kamu dan Wawan sudah punya anak. Kamu siap dengan itu semua." ucap Kayla menambahkan serta meyakinkan sepupunya kembali agar bisa lebih bijak tentang keputusan yang akan dia ambil selanjutnya.
Cindy hanya bisa terdiam, merenungi kembali semua kata-kata yang Kayla ucapkan barusan.
Ketika Cindy masih terdiam dan nampak merenung, Kayla kemudian melanjutkan pendapatnya kembali.
"Kalau memang kamu belum siap nikah muda, enggak usah dipaksain, kali. Dari pada nanti kamu menyesal sendiri akhirnya." ucap Kayla kembali.
"Tapi kalau memang kamu sudah siap untuk menikah muda dan berani untuk menjalani semua kemungkinan resiko yang ada, apa pun itu, enggak papa lah aku akan selalu dukung kamu." ucap Kayla menambahkan pendapatnya lagi.
"Lebih baik kamu pikirin lagi matang-matang. Nikah itu bukan hal yang main-main. Bukan buat setahun dua tahun kayak orang pacaran atau kayak orang sekolah, Cin. Tapi buat seumur hidup kamu." kata Kayla yang menyarankan Cindy untuk memikirkannya lagi matang-matang.
Cindy masih saja terdiam merenung, bingung dan tidak bisa berkomentar apa-apa lagi.
"Memangnya kamu sudah yakin ya sama Wawan?" pertanyaan yang ini makin menambah kebingungan Cindy.
Cindy kemudian menatap sepupunya itu sejenak, kemudian kembali menunduk lesu. Cindy merasa sangat bingung sekali tentang apa keputusan yang seharusnya dia ambil. Karena di sisi lain, Cindy masih ingin tetap melanjutkan kuliahnya terlebih dahulu sampai dia lulus dan wisuda.
Tapi disisi lain Cindy juga bingung tentang apa baiknya keputusan yang ia ambil. Bisa dibilang semua ucapan-ucapan Kayla tersebut memang ada benarnya.
Toh, jika nantinya aku memutuskan untuk menerima Wawan aku harus siap dengan segala resiko dan kemungkinan yang akan terjadi.
"Ahhh.." Cindy ber..ahhh bingung sambil mengacak-acak rambutnya sendiri karena merasa stres, keputusan apa yang akan dia ambil.
Jangan lupa dukungannya ya sobat.
Berikan like, komentar dan juga votenya.
Terima kasih.
mampir juga yuk di karyaku.
jangan lupa beri dukungan😊😊😊