Riana terpaksa menerima lamaran keluarga seorang pria beristri karena keadaan yang menghimpitnya. Sayangnya, pria yang menikahinya pun tidak menghendaki pernikahan ini. Sehingga menjadikan pria tersebut dingin nan angkuh terhadap dirinya.
Mampukah Riana tetap mencintai dan menghormati imamnya? Sedangkan sikap labil sering sama-sama mereka tunjukkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata
Langit tertunduk lemas tanpa kata. Ia menangis dalam diam. Bukan hanya penyesalan akan perbuatan yang ia lakukan pada Riana. Tetapi, rasa gundah itu juga tercipta, karena saat ini dia juga telah kehilangan kepercayaan dan kasih sayang kedua orang tuanya. Yang selama ini mendukung dan juga membantu setiap kesulitannya. Langit telah kehilangan tempatnya berkeluh kesah.
Bagaimana seorang Langit tidak merasa kehilangan? Pada hakekatnya, Kedua orang tua itulah, yang selama ini begitu menyayangi dan mengayominya. Sekarang mereka telah menyerah dengan kelakuannya. Langit benar-benar telah kehilangan tempatnya bersandar.
Langit menyadari bahwa hukuman ini memang pantas ia dapatkan. Apa yang ia perbuat pada Riana, jauh lebih menyakitkan dari pada hukuman ini.
Namun, ia juga tidak memungkiri bahwa hukuman ini sangatlah menyakitkan untuknya.
Langit kembali meneteskan air mata. Apa lagi ketika ia melirik bayi mungil yang kini terlelap di sampingnya. Bagaimana nasib gadis cilik ini nanti, jika seandainya ia tinggal bekerja di luar rumah? Siapa yang akan menjaganya? Yuta? Mana mungkin! Menjaga raganya saja, Yuta tak sanggup. Lalu, bagaimana wanita yang terbaring lemah itu bisa menjaga putri mereka.
Kini, Langit menyadari bahwa apa yang orang tuanya pilih untuknya adalah sesuatu yang terbaik.
Namun, ego itu ternyata sanggup memutus jalan tersebut. Langit menyesal.
Sedetik kemudian, Langit terlena dengan pemikirannya tentang Ara. Sepertinya dia lupa, bahwa apa yang ia miliki saat ini, kemungkinan kedua orang tuanya pasti bisa saja menarik semuanya. Mengambil semua darinya.
Langit masih menyadari, bahwa separo harta yang ia miliki adalah sumbangsih mereka. Lalu bagaimana sekarang?
Orang tuanya tak menerima dirinya bekerja lagi di perusahaan milik keluarga. Yang artinya, mulai detik ini dia kehilangan pekerjaan. Langit telah kehilangan mata pencaharian utamanya.
Lalu, jika sudah begini? Bagaimana caranya dia bisa membayar biaya rumah sakit Yuta? Membeli susu untuk Ara? Sedangkan dompet dan juga handphone miliknya hilang. Yang artinya dia juga harus mengurus semua kartu-kartu yang hilang beserta dompet tersebut.
Langit benar-benar hancur. Bisa dikatakan, saat ini dia berada di titik terendahnya. Bagiamana tidak?
Masalah yang ia hadapi kini bukan hanya perihal hati. Tetapi juga materi. Semua serasa hilang hanya karena satu dendam yang tak beralasan untuk Riana. Untuk gadis itu. Gadis yang ia sakiti. Bukan hanya itu, Langit juga tega merenggut kesuciannya.
Bukankah perbuatannya ini jauh lebih biadap dibanding logika keserakahannya selama ini.
"Tuhan! Ampuni aku!" ucap Langit.
Ingin rasanya ia berlari mengejar orang-orang yang pernah peduli padanya. Sayangnya, orang-orang tersebut telah ia kecewakan, telah ia sakiti, telah ia injak harga dirinya. Rasanya, Langit tak punya keberanian lagi untuk mengejar mereka. Hanya untuk sekedar meminta maaf dan ampun.
Rasanya, hukuman yang kini mereka berikan masih belum setimpal dengan apa yang pernah ia lakukan pada gadis malang itu.
Langit masih ingat dengan jelas, bagaimana ia memperlakukan Riana selama ini.
Dari pertama kali Riana menginjak rumahnya saja, dia sudah memperlakukan gadis itu bak pembantu. Masih mending pembantu, masih dapat kamar yang layak. Lah, Riana! Langit dengan tega menempatkan gadis itu di gudang yang penuh debu. Tidak diizinkan menginjakkan kaki di rumah utama.
Belum lagi hinaan-hinaan yang ia lakukan hampir setiap kali bertemu.
"Maafkan aku, Ri!" ucap Langit dalam diam. Kembali pria ini meremas kuat kedua tangannya. Ingin rasanya ia memberi pelajaran pada dirinya sendiri. Agar paham, bahwa keburukan yang kita tanam pasti akan kembali pada diri kita sendiri.
Sebenarnya wehangan itu sering orang tuanya sampaikan. Namun, entah mengapa, Langit seakan gelap mata. Langit seakan lupa, bahwa apa yang kita tanam pasti akan kita tuai. Dan sekarang, nasehat itu menjadi nyata.
Keburukan yang ia tanam untuk Riana, dalam waktu sekejab, keburukan itu kembali padanya. Bukankah, jika sudah begini, menyesalpun sudah tak ada guna! Langit menyesal dalam jerit tangis yang kini memenuhi relung hatinya.
***
Sayangnya, penyesalan yang dirasakan oleh Langit, tidak jua dirasakan oleh Yuta. Ternyata wanita ini tersenyum dalam diam. Tersenyum sembari pura-pura memejamkan mata. Tersenyum bahagia, karena rencana yang ia susun berhasil tanpa mengalami kendala.
Ternyata wanita berhati busuk itu telah mengetahui segalanya. Mengetahui tentang apa saja yang terjadi di dalam rumahnya.
"Kalian pikir bisa menyingkirkan aku begitu saja. Heh, kita lihat, siapa yang lebih cerdas di sini?" tantang Yuta dalam hati. Wanita ini membuka matanya Sedikit. Mengintip apa yang terjadi pada sang suami.
Yuta tersenyum, sebab Langit terlihat terpuruk. Yang artinya, apa yang telah ia rencanakan benar-benar berhasil.
"Tidak pa-pa, Pi. Sekarang menangislah. Besok aku akan membuatmu tersenyum. Sebab inilah yang Mami inginkan. Inilah tujuan Mami. Mami tak mau kamu terus dipengaruhi oleh orang tua jahatmu itu. Apa lagi berani-beraninya membawa benalu dalam rumah tangga kita.
Maafkan atas keserakahanku selama ini, Sayang." ucap Yuta dalam hati.
Ya, Yuta mengakui bahwa penyakit dan juga segala yang terjadi padanya hanyalah rekayasanya selama ini.
Sebenarnya penyakit Yuta tidak separah itu. Yuta menipu semua orang. Termasuk tim medis yang menanganinya.
Tujuannya melakukan ini tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mengeruk harta kedua orang tua sang suami. Yuta gemas, karena sang suami tak jua di kasih harta warisan. Tidak jua di kasih perusahaan agar bisa dikelola sendiri oleh suaminya.
Yuta kesal, karena sang suami hanya pasrah saat diatur-atur oleh kedua orang tuanya. Yuta geram, karena berkali-kali ia mendorkng Langit untuk meminta perusahaannya sendiri, tapi Langit selalu menjawab belum saatnya.
Itu sebabnya, Yuta merencanakan semua ini. Agar orang tua Langit segera memberi putra mereka perusahaan sendiri. Sayangnya, harapan dan tujuannya meleset.
Yuta semakin gila ketika dokter menemukan parasit di dalam otaknya. Dari situlah, Ia pun mendapatkan ide untuk memulai ide gilanya. Yuta mulai berani menyusun rencana-rencana gilanya. Yang penting baginya adalah orang tua sang suami mau dengan suka rela memberikan uang lebih pada mereka. Sehingga Yuta bisa berbelanja sesuka hatinya. Berinvestasi seperti teman-teman segengnya.
Memanjakan diri tanpa ada seorangpun yang tahu. Melakukan apa pun yang ia mau, tanpa dicurigai oleh orang-orang bodoh di sekitarnya. Bahkan ia tak segan-segan memecat pekerjanya yang mulai curiga padanya. Termasuk perawat yang merawatnya selama ini.
Bersambung....
msh merasa paling tersakiti