Zia dan Zion, yang memiliki keterikatan sejak kecil, terpisah cukup lama lalu bertemu lagi saat salah satunya menjadi hantu. Bersama mereka menghadapi dan mengungkap peristiwa-peristiwa ganjil yang terjadi di sekitar mereka. Akankah akhirnya mereka bisa bersama menyelesaikan semua misteri yang mewarnai hidup mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Titik Terang
Zia dan Zion kemudian duduk di atas karpet. Mereka kembali melihat satu persatu album lama yang ada di kotak kayu.
"Tunggu..."
Zion tiba-tiba meminta Zia menghentikan tangannya yang akan membuka lembar berikutnya.
"Ini..."
Kata Zion seraya menunjuk foto Ibu Zia yang duduk di depan sebuah rumah.
"Ini rumahmu?"
Tanya Zion.
Zia diam. Ia tak begitu yakin, tapi sepertinya iya.
"Aku juga melihatnya di mimpi. Kita makan di rumah itu. Ibumu yang memasak."
Zia memandang Zion.
Lalu...
Mereka membuka album lagi, hingga lembar terakhir, terlihat foto tiga orang laki-laki.
Ayah Zion, ayah Zia, dan yang satunya adalah...
"Salim... Dia yang bernama Salim, Zi."
Zion menunjuk laki-laki yang berdiri sebelah Ayahnya.
"Dia yang membawa tubuhmu?"
Lirih Zia.
Zion mengangguk.
Zia dan Zion kemudian keluar, ingin memastikan lagi pada Melan.
"Ya benar, orang itu, tapi dia sudah tua sekarang."
Kata Melan.
Zia dan Zion saling memandang, lalu mengangguk dan tersenyum.
Titik terang mulai ada.
Zia baru masuk ke dalam rumah, dan akan menuju kamar mandi saat ia mendengar hpnya berdering.
Siapa malam-malam menelfonnya. Pikir Zia.
Zia kemudian mengambil hpnya dari dalam tas selempang miliknya yang tergeletak di atas kasur.
"Mbak Wati."
Gumam Zia.
Zia kemudian mengangkat panggilan dari mbak Wati.
"Ya Mbak."
"Zia, kamu di mana?"
Suara dari seberang terdengar panik.
"Aku pulang ke rumah Mbak, kenapa?"
"Cepat ke Rumah Sakit, tuan muda Zion sekarat."
"Apaa?"
"Cepat, mbak kirim alamat Rumah Sakitnya."
Sambungan telfon ditutup.
"Ada apa Zi?"
Tanya Zion.
"Ziyan sekarat kata Mbak Wati."
"Bagaimana bisa? Bukankah tadi dia di kamar saat kita pergi."
Zion tak percaya.
Zia mengedikkan bahunya.
Tiba-tiba perasaanya tak enak.
Kenapa jantungnya berdebar tak karuan.
Ada apa ini?
Zia kemudian meraih tas selempangnya, buru-buru ia mengeluarkan Oscar, motor bututnya.
"Mau ke mana?"
Tanya Melan yang melayang turun dari pohon depan rumah Zia.
"Rumah Sakit."
"Ziyan sekarat."
Tambah Zion saat tatapan Melan seolah menuntut penjelasan lebih.
Zia menstarter motornya.
Dua hantu itu membonceng Zia di belakang.
Apa yang terjadi? Kenapa Ziyan tiba-tiba sekarat?
Batin Zia ketar-ketir.
Zia terus melajukan motornya, saat kemudian ia berpapasan dengan seorang penjual sate di jalan tembusan untuk mempersingkat perjalanan, tiba-tiba tukang sate itu lari terbirit-birit karena melihat Melan yang membonceng Zia melambai padanya.
"Melan plis deh, jangan ngisengin orang."
Kata Zion emosi.
Melan cekikikan.
"Aku cuma melambai doang kok, ngapa dia lari."
Kata Melan membela diri.
"Kasian dia udah tua, lari begitu kalo ada apa-apa anak isterinya di rumah gimana."
Nasehat Zion.
"Iya... iya... cerewet."
Melan misuh-misuh.
Akhirnya Zia sampai di parkiran Rumah Sakit.
Ia menelfon Mbak Wati.
Mbak Wati keluar menjemput Zia, dan mereka masuk ke dalam bersama-sama.
Zion dan Melan melayang mengikuti mereka.
"Ngga nyangka di sini banyak banget hantu."
Kata Zion yang sejak masuk parkiran sampai ke dalam, ia melihat banyak hantu mondar mandir.
"Hantu kan suka menyerap energi negatif. Di Rumah Sakit banyak orang mengeluh, sampai orang yang mulai putus asa dengan sakitnya."
Kata Melan.
"Sama seperti kamu, bunuh diri karena putus asa."
Sinis Zion.
Melan menabok punggung Zion.
"Aku ngga niat bunuh diri beneran,"
"Ya, kamu bodoh."
Melan menabok Zion lagi berkali-kali.
**--------**
Semalaman Ziyan tertidur setelah kepalanya mendapat tiga belas jahitan.
Ziyan terbangun di pagi hari, dan melihat Zia yang tertidur di sofa ruangan ia dirawat.
Ziyan sejenak mencoba bangun dari posisinya berbaring, tapi kepalanya masih sakit, akhirnya ia menyerah, ia berbaring saja sambil menatap Zia dari jauh.
Sejenak Ziyan mencoba mengingat apa yang terjadi.
Ah, Santo...
Ziyan ingat semalam ia mencari Santo.
Santo yang telah tewas di tangan para bajingan itu.
Ziyan tiba-tiba mencengkram sprei ranjang perawatannya. Darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun.
"Aku harus menghancurkan mereka dengan tanganku sendiri."
Geram Ziyan.
Tapi... tiba-tiba bayangan wajah Ibunya muncul.
Wajah ibunya saat mengangkatnya dari gedung itu.
Yah, Ziyan bisa merasakan ia dibawa melayang Ibunya, lalu entah apalagi karena Ziyan kemudian tak sadarkan diri lagi.
"Ibu... benarkah itu Ibu..."
Ziyan tiba-tiba ingin menangis. Bayangan saat Ibunya diperkosa dan bunuh diri di depan matanya begitu mengoyak batinnya. Mencabik-cabik perasaannya.
Di saat Ziyan sedang merasakan tekanan yang begitu tinggi, tiba-tiba sebuah sentuhan dirasakannya di bagian kaki.
Ziyan menoleh.
Zia ternyata sudah bangun dan berdiri di samping ranjangnya.
Sejenak mata mereka bertemu sebelum akhirnya saling menghindar karena merasakan debaran pada jantung masing-masing yang entah kenapa jadi tak beraturan.
"Ka... kamu kenapa? Apa yang terjadi?"
Tanya Zia akhirnya memecah kebekuan.
"Laki-laki muda yang akan menjadi suami Veronika, dia membunuh Santo."
Kata Ziyan.
Zion dan Melan yang akhirnya terbangun karena mendengar suara Zia dan Ziyan akhirnya melayang mendekati mereka.
"Siapa Santo?"
Tanya Zia tak mengerti.
"Teman sekaligus saudara satu-satunya."
Kata Ziyan.
"Saudaramu kan Zion, yang justru kamu bunuh."
Gumam Zia kesal.
"Dia bukan saudaraku, dia bajingan yang hanya kebetulan kembar denganku."
Ziyan tiap mendengar nama Zion selalu ingat kematian Ibunya. Ia merasa benci dengan Zion karena akan ingat dengan Ardi Subrata yang membuang Ibunya ke tempat laknat itu hingga harus bertemu kedua bajingan di sana.
Zion di tempatnya mengepalkan tinju, geram ia ingin menghajar Ziyan, tapi tiba-tiba Zion melihat sebuah bayangan melesat dari balik luar jendela.
Ia mengejar bayangan itu, namun ia sudah lebih dulu menghilang.
"Kamu akan merasakan hal yang sama jika jadi aku."
Suara Ziyan terdengar parau.
Zia menghela nafas.
"Kamu ini bodoh atau dungu."
Kata Zia tak peduli Ziyan saat ini sedang menjadi pasien.
"Kamu bilang kalian dipisahkan saat masih kecil, jadi bagaimana bisa Zion juga bersalah atas peristiwa itu. Jika kamu saja masih kecil dan ngga bisa berbuat apa-apa Zion juga begitu."
Mendengar kata-kata Zia, tampak Ziyan terdiam di tempatnya.
"Apa kamu sudah mencoba menemui Zion sebelumnya? Menanyakan padanya apa benar ia melupakanmu? Atau jangan-jangan dia ngga ingat karena dipisahkan sejak kecil dan ia ngga ada yang ngasih tau kalau dia punya kembaran."
Zia berapi-api.
Zion yang ikut mendengar Zia bicara tampak berdiri di balik kaca jendela balkon kamar perawatan Ziyan.
Ziyan, cowok itu memegangi dadanya yang kini begitu sakit.
Selama ini semua cerita yang ia dengar adalah versi Heri Sapta Wijaya, yang di mana Kakeknya yang sangat jahat pada ibu, dan Zion yang serakah menikmati semua warisannya sendiri tanpa ingat nasib Ibunya.
Yah, kenapa Ziyan tak berfikir bahwa Zion juga sama seperti dirinya, yang saat itu tak memiliki kekuatan apa-apa.
"Kamu pasti bahkan ngga tau, bagaimana Zion tumbuh sejak balita tanpa kasih sayang Ibu kandungnya. Harusnya kamu kasihan padanya, bukan malah mencelakainya."
Ziyan tertunduk.
Ia tak mampu menyanggah. Semua yang dikatakan Zia benar.
Lalu tiba-tiba...
"Santo menemukan tempat tubuh Zion di sembunyikan."
Zia, Zion dan Melan langsung diam, menunggu Ziyan melanjutkan lagi.
"Ia memberikanku alamat. Pergilah ke sana, mungkin Zion butuh pertolongan lebih."
Kata Ziyan tiba-tiba.
**---------**
yang over penakut lah . yang ga suka adventure lah . dsni lagi ...anak kek zizi dibilang nakal n bikin darting . padahal itu biasa banget. bukan anak bandel sama sekali. just normal act of a child.
padahal cerita mayan ok. tapi krn karakter2ny dibuat lebay jadi sering skip pen cpt2 lanjut krn cm pen liat alur cerita .