Setelah kepergian sang ayah untuk selama nya, Clarisa mendapati satu kenyataan pahit bahwa suami nya telah mendua kan diri nya. Hal yang lebih menyakitkan adalah wanita yang menjadi selingkuhan nya adalah adik tiri nya.
Sang suami lebih memilih sang adik dan hal itu di dukung oleh ibu tiri nya, Clarisa kembali ke kampung halaman ibu nya dan tinggal bersama sang nenek setelah dia memilih berpisah dari pada di madu.
Tapi ternyata takdir berkata lain, Clarisa bertemu dengan seorang pria yang ternyata adalah bos dari sang mantan suami. Pria itu jatuh cinta pada Clarisa kemudian menikahi nya.
Suami baru Clarisa membawa nya kembali ke kota tempat di mana sang mantan suami dan keluarga nya berada, kedatangan Clarisa kali ini membuat dia mengetahui rahasia di balik kecelakaan yang merenggut nyawa ibu nya puluhan tahun yang lalu.
Ikutan kisah Clarisa yang membalas perbuatan orang yang menjadi dalang di balik kecelakaan yang di alami oleh ibu hingga membuat sang ibu meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
Risa melepas kan diri nya dari pelukan sang suami, dia melihat sekarang waktu sudah mendekati subuh. Risa segera bangun dan dia bergegas mandi, sejak dulu Risa memang sering Mandi sebelum subuh.
Sambil mandi Risa kembali teringat dengan mimpi nya, akhir - akhir ini Risa sering memimpi kan kecelakaan yang merenggut nyawa ibu nya tersebut.
"Kenapa mimpi tentang kecelakaan itu selalu datang akhir- akhir ini, ada apa ini!" Risa sendiri tidak mengerti kenapa dia sering mendapat kan mimpi itu sejak beberapa bulan yang lalu.
Risa segera sholat subuh sementara Arvin kembali melanjutkan tidur nya. Setelah selesai sholat, Risa segera memasak sarapan untuk suami nya. Walaupun memiliki asisten rumah tangga, tapi untuk urusan suami nya Risa selalu mengerjakan nya sendiri tanpa bantuan pembantu.
Hari ini Risa menyiapkan sarapan lebih banyak dari biasa nya, karena sekarang ini ada Mama Lia dan Wulan yang tinggal di rumah mereka.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, Risa kembali ke kamar nya. Dia menyiapkan pakaian kerja induk sang suami yang sedang mandi, Risa meletakkan kemeja dan yang lain nya di atas tempat tidur. Dan dia sendiri menunggu suami nya hingga selesai mandi.
"Sayang, kok kamu termenung, ada apa?" Tanya Arvin sambil membingkai wajah sang istri.
"Gak papa mas, aku masih teringat sama mimpi aku semalam!" Jawab Risa sambil menghembus kan nafas berat.
"Itu cuma bunga tidur sayang, tidak perlu khawatir!" Arvin berkata sambil memakai kemeja nya.
Risa memasang dasi suami nya, tapi ada sesuatu yang membuat nya heran.
"Mas, leher kamu kenapa?" Tanya Risa karena dia melihat leher suami tampak sedikit memerah.
"Oh, itu semalam gatel banget jadi mas garukin jadi nya merah deh!" Arvin memberikan alasan pada Risa.
"Kebiasan deh kamu mas!" Risa mengambil lotion dan mengoles nya agar bekas merah itu tersamar kan.
Setelah itu mereka berdua turun ke bawah untuk sarapan, Risa melayani suami nya dengan baik. Ketika mereka sedang sarapan, Wulan muncul dari kamar nya hanya menggunakan lingeri yang sang tipis sehingga membuat semua bagian tubuh nya terekspos dengan sempurna.
"Wulan, apa - apaan kamu, ganti baju mu!" Risa murka melihat Wulan yang seperti nya sengaja datang di depan suami nya dengan pakaian haram itu.
"Apaan sih mbak, aku mau sarapan, aku laper nih!" Wulan lalu duduk di samping Arvin yang sedang sarapan.
"Keterlaluan kamu Wulan!" Dengan cepat Risa menyeret adik tiri nya dan membawa nya kembali ke dalam kamar nya.
"Mbak, mbak yang apa - apaan. Kenapa mbak marah aku dengan pakaian seperti ini?" Wulan tidak merasa tidak ada yang salah dengan pakaian nya.
"Wulan, di mana harga diri mu sebagai perempuan. Berpakaian seperti ini di hadapan mas Arvin, di mana otak kamu!" Berang Risa dengan sangat marah.
"Mbak, mbak kok kolom banget sih. Ini tuh udah biasa!" Wulan kesal karena Risa membawa nya kembali ke dalam kamar.
"Apa ini Wulan?" Tanya Risa sambil memperhatikan banyak tanda merah yang ada di leher dan dada Wulan.
"Apaan sih mbak!" Wulan menepis tangan Risa yang ingin menyentuh pakaian nya.
"Dengan siapa kamu melakukan nya?" Tanya Risa dengan tatapan tajam.
"Bukan urusan mbak!" Jawab Wulan dengan ketus.
"Risa, kau belum menikah, tapi kau sudah berani melakukan hal ini dengan laki - laki di luar nikah. Keterlaluan kamu Wulan!" Risa memarahi adik nya.
"Mbak, terserah aku dong. Ini hidup ku, jadi mbak jangan atur hidup ku. Urus saja urusan mbak sendiri sendiri, dan mbak harus layani suami mbak dengan baik agar tidak mencari servis di luar!" Wulan berkata dengan tatapan mengejek.
Plak.
Sebuah tamparan mendarat di pipi Wulan. Cap jari Risa tampak membekas di pipi nya.
"Mbak, berani nya mbak nampar aku. Lihat saja mbak, mbak akan menyesal karena sudah berurusan dengan ku!" Ujar Risa sambil memegangi pipi nya yang terasa perih akibat tamparan dari Risa.
"Wulan, kamu cuma numpang di rumah ku. Jadi ikuti peraturan yang ada di sini, kalau kau tidak mau silah kan kau keluar dari rumah ini!" Ujar Risa sambil berlalu meninggal kan Wulan di kamar nya.
"Risa, awas saja kau. Aku akan membuat mu keluar dari rumah ini secepat nya. Aku akan membuat kau pergi tanpa membawa apapun dari sini, aku pastikan semua nya akan menjadi milik ku!" Guman Wulan sambil membanting bantal dan juga selimut yang ada di atas tempat tidur.
"Ada apa Wulan, Mama lihat tadi Risa keluar dari kamar mu dan tadi Mama sempat denger dia ngomong sesuatu?" Tanya Mama Lia yang baru saja masuk ke dalam kamar nya Wulan.
"Wanita udik itu sangat keterlaluan Ma, dia melarang ku keluar dengan pakaian ini. Dia juga mengancam ku akan mengusir ku dari rumah ini jika masih berani menampakkan diri ku dengan pakaian seperti ini di hadapan mas Arvin!" Wulan mengadu pada ibu nya.
"Kurang ajar si Risa, berani nya dia! Lihat saja siapa yang akan keluar dari rumah ini! Ibu nya berhasil Mama singkir kan, apa lagi dia!" Mama Lia geram setelah mendengar aduan dari Wulan.
"Ayo kita keluar, biar Mama yang hadapi dia!" Mama Lia mengajak Wulan keluar dari kamar nya.
Mama Lia pergi ke ruang makan dengan di ikuti oleh Wulan, bahkan Wulan sengaja keluar dengan pakaian yang sama seperti tadi. Seperti nya dia berniat menantang Risa.
"Selamat pagi semua nya!" Sapa Mama Lia langsung duduk di salah satu kursi ynag ada di hadapan Arvin.
"Selamat pagi Ma!" Jawab Arvin sambil meneguk susu di gelas nya hingga tuntas.
Wulan dengan tidak tahu malu duduk di kursi yang ada di sebelah Arvin, seperti nya dia sengaja menunjuk kan siapa diri nya di hadapan Risa.
Risa sendiri geram melihat ulah Wulan yang sangat tidak tahu mau dan tampak murahan.
"Mas, kamu segera berangkat ya nanti kamu telat lagi!" Risa segera meraih tas kerja milik Arvin dan memberikan nya pada Arvin.
"Iya sayang, mas berangkat kerja dulu!" Jawab Arvin sambil menerima tas kerja nya dan mata nya tampak melirik Wulan seperti memberikan kode.
Risa segera mengantar kan sang suami hingga ke depan pintu, dia tidak ingin terlalu lama berdekatan dengan Wulan yang tampak tidak tahu malu.
Risa kembali ke meja makan setelah suami nya pergi bekerja, di sana tampak Wulan dan Mama Lia sedang sarapan layak nya nyonya rumah.
"Wulan, seperti nya harga diri mu itu tidak ada ya!" Sindir Risa sambil mengoles kan selembar roti tawar dengan selain coklat.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu?" Tanya Mama Lia sambil menatap Risa dengan tatapan tajam.
"Wanita yang punya harga diri tidak akan mengumbar tubuh nya di depan laki - laki yang bukan suami nya!" Ujar Risa sambil berdiri membawa piring yang berisi roti yang sudah dia oleh kan dengan selai coklat.
Risa memilih untuk sarapan di kamar nya dari pada duduk satu meja dengan Mama Lia dan juga Wulan.