Lais Labib Adley seorang tuan muda yang kaya raya namun memiliki kekurangan. Ia dipaksa menikah oleh orang tuanya demi kelangsungan keluarga mereka. Namun siapa sangka setelah berkali-kali menikah, ia tak kunjung punya keturunan dan semua pernikahannya berkahir dengan penghianatan yang dilakukan oleh para istrinya.
Aruna, gadis belia berusia 18 tahun, masih duduk di bangku SMA namun harus bekerja keras menghidupi keluarga tirinya semenjak ayahnya meninggal dan harta keluarga disita untuk membayar hutang. Kepahitan hidup tidak membuat Aruna menjadi gadis lemah nan cengeng namun justru menjadikannya gadis kuat, ceria dan penuh semangat hidup.
Kedua insan itu dipertemukan dalam peristiwa yang tak terduga saat Aruna harus melarikan diri dari kejaran para rentenir yang menagih hutang ayahnya. Dengan kebaikan hatinya Lais menampung Aruna di rumah mewahnya dan membantu biaya sekolah gadis itu. Sebagai gantinya Aruna membantu pekerjaan rumah di mansion Lais.
Bagaimana kisah mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Rohyati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lais yang usil part 2
"Sudah cukup!" kata Lais. Aruna menghentikan pijatannya. Ia lantas menyiram rambut Lais yang penuh shampoo. Setelah bersih, Aruna berdiri.
"Apa lagi yang bisa kulakukan untukmu, suamiku?" tanya Aruna dengan nada menekan karena masih kesal.
"Mau mandi bersama?" tanya Lais. Aruna tersenyum. Ia melangkah mendekati Lais. Lais menegakkan tubuhnya lalu merentangkan tangan menyambut Aruna.
Aruna memegang bahu Lais, lalu mendorongnya.
"Mandi saja sendiri!!" katanya kesal. Ia kemudian memutar tubuhnya dan melangkah keluar kamar mandi.
Brakk
Suara pintu kamar mandi dibanting Aruna.
Lais yang sedari tadi menahan tawa, langsung tergelak. Ia merasa sangat senang mengerjai istri nya itu. Lais melanjutkan mandinya. Ia merendam tubuhnya dengan air hangat.
Di luar kamar mandi, Aruna menatap dengan pandangan jengkel.
"Awas kau. Aku akan membalasmu!" Aruna bersungut sungut saking kesalnya. Ia kembali ke tempatnya belajar dengan langkah yang sengaja dihentakkan.
Aruna sama sekali tidak berkonsentrasi, ia malah mencoreti buku tulisnya dengan umpatan pada Lais untuk melampiaskan kekesalannya. Sedah lima halaman buku ia corat coret, namun rasa kesalnya tak kunjung sirna.
"Lais jahat. Lais nyebelin. Lais Tua." kata Lais membaca coretan Aruna.
Aruna kaget karena tiba-tiba Lais ada di belakangnya.
"Kau? Kapan datang?" Aruna berusaha menyembunyikan buku tulisnya.
"Hhmm apa barusan? Kenapa aku jahat? Memangnya aku menjahatimu?" tanya Lais berpura-pura bingung.
Aruna diam tidak. menjawab. Ia malu jika harus bilang soal. kejadian tadi dimana karena perbuatan Lais yang telah membangkitkan hasratnya namun ujung-ujungnya malah tidak melakukan apa-apa.
'Kenapa diam? Kejahatan apa yang aku lakukan? Katakanlah, aku akan menebusnya.' kata Lais sambil. membelai punggung Aruna membuat Aruna meremang.
Mulai lagi kan dia, nanti ujungnya juga akan seperti tadi. Aku tidak boleh terpancing.
"Ayo katakanlah sayangku... kejahatan apa yang sudah kulakukan? perbuatanku yang mana yang membuat si cantik ini kesal." bisik Lais di telinga Aruna yang diakhiri gigitan kecil di ujung daun telinga Aruna.
Aruna bergeming. Ia masih duduk memunggungi Lais tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Aruna berusaha menghalau hasratnya yang kembali muncul karena sentuhan Lais.
"Kau masih marah?" bisik Lais lagi. Tangannya memeluk Aruna dari belakang. Ia meraba perut Aruna. Jemari Lais mulai masuk ke bawah t shirt yang di kenakan Aruna dan terus naik mencari mainan kesukaannya. Di sentuh dengan halus, dan di remasnya dengan lembut. Selagi tangannya beraksi di dada Aruna, bibirnya tak henti berkelana di tengkuk, bahu dan ceruk leher Aruna.
Aruna masih diam, meski ia harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk bertahan dari serangan Lais. Ia memejamkan mata saat salah satu tangan Lais turun dan menyelusup ke bawah roknya.
Jangan di situ... aku tidak akan tahan jika kau menyentuhnya. batin Aruna.
Apa yang Aruna ucapkan dalam hati sangat berbeda dengan apa yang dimaii oleh tubuhnya. Reflek, tubuhnya justru membuka jalan bagi tangan Lais sehinga leluasa menjelajah.
Lais tersenyum penuh kemenangan manakala desahan lirih ia dengar lolos dari bibir Aruna. Meski sudah mulai panas, Aruna tetap diam.
Timbul keinginan di hati Lais untuk kembali menggodanya. Meski sebenarnya ia sudah tidak mampu menahannya untuk segera memakan habis istri kecilnya itu.
"Kau diam saja. Kau tidak suka apa yang aku lakukan ya? Kalau begitu aku pergi saja." bisik Lais mulai menarik tangannya dari tubuh Aruna.
Spontan Aruna menahan tangan itu.
"Jangan berhenti!" kata Aruna serak.
Bibir Lais melengkung indah. Ia mengangkat Aruna dan membawanya ke ranjang. Seperti yang ia janjikan, ia tidak memberi ampun pada Aruna. Tanpa cukup waktu untuk istirahat, Lais melakukannya lagi dan lagi. Sepanjang siang hingga sore, di sambung malam, Lais seolah tidak ada capeknya.
Aruna baru sadar bahwa tenaga suaminya sangatlah luar biasa.
Keesokan paginya, Aruna terbangun saat Bu Ira membuka tirai kamarnya dan cahaya matahari menerobos melalui kaca jendela. Ia mengerjakan matanya dengan malas.
"Pagi, Bu! Maaf saya kesiangan." kata Aruna sambil berusaha duduk. Ia merasakan tubuhnya sangat lemah.
Bu Ira tersenyum. Ia mengamati tubub Aruna yang penuh dengan tanda merah akibat ulah Lais. Dalam hati Bu Ira bersyukur melihat hal itu. Karena itu berarti sebentar lagi, Lais junior akan hadir ke dunia ini. Junior yang ditunggu tunggu dari dulu yang membuat Lais harus bolak balik menikah.
"Nyonya nggak perlu minta maaf. Nyonya adalah pemilik mansion ini. " jawab Bu Ira.
"Bu, kemana tuan?" tanya Aruna saat menyadari Lais tidak ada.
"Pagi-pagi sekali tuan sudah berangkat ke kantor. Tadi tuan Revan menjemputnya katanya ada hal penting. Dan Tuan berpesan agar saya tidak membangunkan nyonya. Kata tuan, nyonya kelelahan." jawab Bu Ira sambil tersenyum menggoda Aruna.
"Ck.. dasar." gerutu Aruna.
"Nyonya, apa mau saya buatkan ramuan untuk mengembalikan tenaga Nyonya? Sepertinya nyonya sangat membutuhkannya." kata Bu Ira.
"Bu.. aneh deh mendengar ibu memanggilku nyonya. Panggil saja Aruna, seperti biasanya." protes Aruna.
"Maaf, pesan tuan Lais, sekarang anda sudah resmi menjadi nyonya, jadi saya dan semua pelayan harus memanggil anda nyonya."
"Semua pelayan? Bukankah di sini hanya ada Bu Ira dan suami ibu?"
"Kemarin Tuan memesan beberapa pelayan wanita untuk membantu di rumah ini, karena tuan tidak mau anda bekerja membantu saya lagi. Pagi ini mereka datang dan mulai bekerja"
"Kok bisa? Bukankah dia tidak nyaman dengan orang asing?"
"Mungkin ini hal bagus nyonya. Siapa tahu perlahan tuan mulai bisa keluar dari trauma masa kecilnya."
Aruna menganggukkan kepalanya.
"Berapa pelayan yang ia datangkan, Bu?"
"Tidak banyak, ada sekitar enam orang"
"Hah.. itu banyak Bu. Apa saja yang akan mereka kerjakan?" tanya Aruna.
"Sebagian besar adalah untuk melayani anda. Ada dua pelayan khusus buat anda. Mereka bertugas sebagai pelayan sekaligus bodyguard anda. Mereka yang mengikuti setiap aktivitas anda untuk. menjaga keselamatan anda. Termasuk saat anda belajar dengan tuan Rendy."
"Apa? Jadi setiap saat aku akan diawasi, begitu?" tanya Aruna tak percaya.
Bu Ira hanya tertawa lirih menjawab pertanyaannya itu.
"Cih.. dasar pencemburu. Dia bukan ingin menjaga keselamatan ku Bu, Dia ingin memata-mataiku. Dia cemburu pada kak Rendy." omel Aruna.
"Tuan sangat mencintai anda, nyonya. Wajar kalau beliau cemburu." jawab Bu Ira bijak.
Cinta? Benarkah ia mencintaiku? Ia tidak pernah mengatakannya.
"Nyonya mau mandi sekarang? Biar saya siapkan airnya."
"Iya Bu. Terima kasih. Maaf merepotkan. Badanku masih sangat lemah, Bu."
"Itu biasa Nyonya. Orang muda memang selalu begitu. Dulu ibu dan suami ibu awal awal pernikahan juga begitu. Maklum baru tahu rasanya, jadi kepengen lagi dan lagi." kata Bu Ira mengenang masa mudanya yang indah.
Aruna ikut tersenyum mendengar cerita Bu Ira. Ya.. Lais baru saja merasakan indahnya memadu cinta, jadi hal yang wajar jika ia selalu menginginkannya. Asal jangan over dosis saja. batin Aruna lalu kembali merebahkan tubuhnya.
...🍃🍃🍃...
Bonusnya visual mereka ya.
Lais
Aruna
Revan
Nisa
Semoga sesuai, kalau nggak silahkan cari yang lain dech....
sepertinya jodoh lais adalah aruna👍🏻👌🏻
semoga semenarik cerita anggi dan langit. karya2mu kusuka thor.