ketika keluarga belum dikaruniai keturunan dan memilih poligami sebagai solusi, bagaimana kisah keluarganya? Bagaimana sekitar bisa memahami kondisinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaDM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#chapter 28, Bahagia
Acara aqiqah putri pertama Maulana dan Atikah diadakan dikediamannya. Handai taulan, saudara, tetangga serta semua para pekerja baik di agribisnisnya Maulana maupun Bakulan Bunda pun turut serta menghadiri acara tersebut, khusus para pekerja Maulana dan Nayara akan dikasih amplop sebagai wujud syukur mereka terhadap kehamilan Nayara.
Urusan masak-masak diserahkan ke keluarga yang biasa memasak untuk hajatan. Keluarga Atikah yang meminta demikian, padahal Maulana ingin praktis panggil katering saja. Nayara diminta Ambu untuk banyak rehat.
Keluarga Nayara pun akhirnya berkenalan dengan keluarga besar Atikah karena memang belum pernah bertemu, kalo Atikah pernah saat dibawa Maulana kondangan di keluarga Nayara.
Untuk pemilihan nama pun banyak yang ingin menyumbang saran nama. Tapi Maulana memilih untuk menyematkan nama Fathia Maulana, simple tapi bermakna kemenangan. Fathia ini merupakan pembuka bagi Maulana bisa memperoleh keturunan, karena sekarang pun Nayara telah mengandung buah cintanya. Antara Maulana, Nayara dan Atikah sudah sepakat, walaupun Fathia anak yang lahir pertama, kelak jika Nayara memiliki anak maka anak tersebutlah yang akan menjadi pimpinan dalam keluarga bukan Fathia.
Tradisi Ekahan (aqiqah dalam sebutan masyarakat Sunda) ini pada garis besarnya berupa upacara pemotongan rambut bayi dan penyembelihan hewan aqiqah berupa seekor kambing. Berhubung pagi sebelum pengajian, sang bayi sudah puput puseur, maka sekalian diurus acara puput puseurnya. Tali pusat yang sudah lepas itu oleh orang yang biasa ngurusin tali pusat, dimasukkan kedalam kendil (wadah dari tanah liat). Lalu pusar bayi ditutup dengan uang logam/benggol yang telah dibungkus kasa atau kapas dan diikatkan pada perut bayi, maksudnya agar pusat bayi tidak dosol/bodong (menonjol ke luar). Pada upacara ini dibacakan do'a selamat dan disediakan bubur merah dan bubur putih serta pemberian nama bayi.
Para tetangga sudah sering melihat interaksi antara Nayara, Maulana dan Atikah yang poligami tapi damai, jadi menganggap biasa saja pemandangan yang tersaji didepan mereka. Tapi pihak keluarga Nayara yang rada tidak suka, alasannya karena lahirnya anak pertama Maulana justru dari Atikah. Biarpun sekarang Nayara tengah hamil, semua masih harap-harap cemas sebelum bayi itu dilahirkan dalam keadaan selamat.
"Nay... Ibu kok ngerasa ga nyaman ya sama kondisi sekarang" ucap Ibunya Nayara di kamar Nayara.
"Kondisi yang kaya gimana ya Bu?" tanya Nayara.
"Tikah udah bisa ngasih anak ke Maulana, ya emang kamu lagi hamil, tapi kan ga tau juga kedepannya. Apa selama kamu hamil tinggal sama Ibu dulu aja di Tebet? lagian kan deket sama Bakulan Bunda" usul Ibunya Nayara.
"Disini rumah Nay Bu... ada suami dan orang-orang yang lama kerja sama Nay" jawab Nayara pelan.
"Ibu khawatir kalo Atikah bisa berbuat aneh-aneh sama kamu. Itu kan anaknya Cing Titi punya indera keenam, katanya dia liat kalo Atikah tuh main curang sama kamu, Maulana dan orang tua Maulana. Dia main dukun" bisik Ibunya Nayara.
"Astaghfirullah Bu... masa sampe begitunya, Aa' Lana itu adil kok, selama ini juga ga ada yang aneh-aneh terjadi sama kami semua" kata Nayara.
"Nay... orang kalo udah gelap mata mah bisa ngelakuin apa aja. Pokoknya Ibu khawatir. Ingat Nay.. jangan pernah raguin firasat seorang Ibu" ucap Ibunya Nayara mulai rada marah.
"Bu ... sekarang do'akan yang baik buat Nay, Aa' dan calon anak ini. Ga usah mikir macam-macam, kita pasrahin semua sama Allah" tutur Nayara.
"Pokoknya Ibu udah ngasih tau kamu ya, besok-besok kalo ada apa-apa jangan bilang Ibu ga ingetin" ucap Ibunya Nayara sambil meninggalkan kamarnya Nayara.
Sebenarnya Nayara udah beberapa kali melihat kelakuan Atikah yang rada aneh, kalo bikinin minuman atau makanan buat Maulana pasti akan nyampurin sama air yang dia bawa di botol kaca. Tapi ga menyangka sampe mikir pake sesuatu yang aneh-aneh. Toh selama ini Maulana pun masih memberikan hal yang sama terhadap kedua istrinya, kecuali waktu dan perhatian memang tidak bisa berimbang.
.
Sejak Nayara hamil, justru Maulana lebih banyak di rumah, dia hanya keluar kalo ada meeting aja. Semua karyawan sudah tau job descriptionnya masing-masing jadi hanya tinggal pengawasan. Untuk mitra dan petani binaan di Ciloto juga ada Abah yang bantu mengawasi. Inilah yang membuat rasa cemburunya Atikah makin menjadi. Bisa dibilang dia mengalami baby blues, merasa cape sendiri ngurusin anak sedangkan Maulana lebih memperhatikan Nayara.
Malam hari pun Maulana lebih memilih tidur sama Nayara karena ga bisa tidur denger Fathia yang nangis melulu. Atikah juga banyak kasih Fathia ke pengasuhnya daripada diurus sendiri. Ini juga yang bikin Maulana rada kesel. Dia mau anak itu lebih banyak diurus ibunya, bukan malah mentang-mentang ada yang bantu malah leha-leha. Pengasuh diambil sama Maulana sekedar membantu bukan justru menjadi pengurus utama Fathia. Sudah seringkali dinasehati sama Maulana tapi berujung ribut sama Atikah. Makanya Maulana sekarang lebih banyak diam sama Atikah.
.
Sudah sebulan yang lalu melahirkan, Fathia dan Atikah kontrol ke Rumah Sakit lagi. Maulana ikut mendampingi karena ingin tau tumbuh kembang anaknya. Bahkan Maulana sendiri yang mendorong kereta bayinya. Memang tampak seperti kakek yang mengantarkan cucunya kontrol ke dokter.
Usia Maulana yang keempat puluh tiga tahun pastinya orang akan berpandangan seperti itu. Ditambah dandanan Atikah yang modis bak abege. Tubuhnya kembali singset karena dia diet, makanya ASI ga lancar bahkan cenderung sedikit, bahkan Fathia lebih banyak minum susu formula dibandingkan ASI.
Banyak para pasien dan pengantar pasien yang melihat Atikah dengan mata ga berkedip. Kecantikannya makin terlihat, konon katanya kalo seorang wanita yang baru melahirkan itu, level kecantikannya bisa naik berkali lipat.
"Ibu.. bagaimana pola minum dan tidur anaknya?" tanya dokter anak sambil memeriksa kondisi bayi.
"Cengeng dok, nangis mulu kalo malam, padahal udah berapa botol aja susunya" adu Atikah dengan nada agak terdengar norak.
"Bukan cengeng Bu, bayi hanya bisa berkomunikasi lewat tangisannya. Kita juga ga boleh selalu mengartikan kalo nangis itu pertanda dia haus. Bisa jadi ga nyaman sama kondisi kamar yang terlalu panas atau dingin, atau bisa juga karena buang air. Begitulah anak masih diusia dibawah setahun, sebagai orang tua ya harusnya lebih memahami kondisi anak" ucap Dokter Anak.
"Kalo panas ga mungkin dok, kan kamar ber AC" sahut Atikah.
"Ya itu, mungkin terlalu dingin. Saya lihat catatan rekaman medis anak Fathia ini kenaikan berat badannya ga standar ya dari saat lahir" papar Dokter Anak.
"Saya juga heran dok, padahal saya kasih susu formula yang paling mahal, yang setara sama ASI katanya. Saudara saya juga bilang kalo minum susu itu anak bisa pinter. Kok malah kecil aja" jawab Atikah.
Maulana yang merasa malu buru-buru bertanya.
"Maaf dok, untuk kenaikan berat badan bayi itu idealnya seperti apa ya? Ini anak pertama kami jadi belum paham tentang seluk beluk bayi" tanya Maulana.
"Punya anak memang ga ada sekolahnya Pak, semua langsung belajar saat ada anak.. saya sebagai dokter bisa memahami keresahan para orang tua baru. Jadi dengan ikatan batin, semua orang tua pasti bisa melewati masa-masa seperti ini. Masa sekarang informasi bisa kita dapatkan dari mana saja, atau bisa langsung konsultasi ke dokter. Berat badan bayi umumnya naik 170-220 gram per minggu atau 450 – 900 gram per bulan selama beberapa bulan pertama. Ini kenaikannya tidak sampai 300 gram. Makanya perlu pemeriksaan yang lebih intensif lagi, khawatir ada sesuatu yang menghambat tumbuh kembang anak" jelas Dokter Anak.
Maulana menyimak dengan serius.
membuka wawasan, tau gimana kita harus mengerti orang lain gak berkutat pada diri sendiri.
keluar dari zona nyaman itu berat
Alhamdulillah Zay banyak anak jadi penerus nya juga ada
mbokya sekali kali selesaikan masalah sendiri gitu