Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 6.
Simon tidak pernah datang ke apartemen itu sebelumnya. Kini ia berdiri di lobi, jasnya rapi, wajahnya kembali dipoles dengan ketenangan buatan.
Resepsionis menelepon ke atas, ke unit apartemen Arunika.
Beberapa menit kemudian, Arunika turun. Penampilannya masih sederhana, namun kali ini wajahnya tanpa ekspresi.
“Ada perlu apa?” tanyanya datar.
Simon menarik napas.
“Kita bisa bicara?” Nada suaranya diturunkan, dibuat lebih lembut dari biasanya.
“Aku rasa kita sudah bicara melalui kuasa hukum.” Ujar Arunika, nada penolakannya terdengar jelas.
“Jangan seperti ini, Arunika.” Ia menatap wanita itu, mencoba membaca sesuatu yang dulu selalu bisa ia kendalikan. “Perceraian ini… terlalu terburu-buru. Media mulai berspekulasi, investor mempertanyakan stabilitas perusahaan. Jangan menyeretku ke dalam masalah karena berita perceraian kita.”
Akhirnya Simon mengungkapkan tujuan sebenarnya ia datang. Bukan karena ingin memperbaiki hubungan, melainkan demi menjaga citra dan nama baiknya sendiri.
Arunika tersenyum tipis. “Jadi kau datang bukan untuk menyelamatkan pernikahan… namun demi menyelamatkan reputasi mu.”
Simon terdiam sepersekian detik.
“Soal hubungan kita… kita bisa memulainya lagi. Aku akui, mungkin selama ini aku kurang menghargai mu. Tapi semuanya masih bisa diperbaiki. Kalau kau cemburu pada Riana, aku akan membatasi interaksi dengannya. Diantara aku dan dia tidak ada apa-apa. Aku tahu kau bersikap seperti ini karena terlalu mencintaiku, sementara aku justru mengabaikanmu.”
Pria itu berhenti sejenak, lalu menegakkan bahu dengan penuh keyakinan. “Aku berjanji, mulai hari ini aku akan belajar mencintaimu. Aku akan memastikan kau akan menjadi Nyonya Simon yang disegani orang-orang.”
Wajahnya begitu percaya diri, seolah kata-kata itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Arunika luluh dan kembali ke sisinya.
Lihat saja, dia pasti menerimaku lagi, batinnya angkuh.
Namun alih-alih menemukan kilat bahagia di mata Arunika, yang ia lihat justru seulas senyum tipis—tajam dan sulit ditebak. Bibir wanita itu melengkung miring, lalu Arunika terkekeh pelan. Tawa yang terdengar bukan karena terharu, melainkan karena geli.
“Kau sungguh murah hati, Tuan Simon,” ucap Arunika tenang. “Namun sayangnya, aku hanya ingin menjadi wanita biasa. Gelar Nyonya Simon itu… berikan saja pada Dokter Riana, yang begitu kau banggakan itu.”
Ia menatap Simon tanpa goyah. “Katamu, aku cemburu pada Riana? Kau salah. Untuk merasa cemburu, seseorang harus memiliki cinta terlebih dahulu. Sementara aku, sejak awal menikah denganmu... hanya karena sebuah kesepakatan dengan kakekmu. Aku pastikan, aku tidak pernah mencintaimu.”
Simon terdiam, rahangnya menegang.
“Kau ingin tahu apa isi kesepakatan itu? Tanyakan sendiri pada Beliau. Yang jelas, aku tidak pernah mencintaimu. Dan sekarang aku mengajukan perceraian… karena masa tiga tahun perjanjian antara aku dan kakekmu sudah berakhir.” Ucapan Arunika berikutnya semakin menekan batas kesabaran Simon.
Setiap kalimat yang meluncur dari bibir wanita itu terasa seperti tamparan, membuat wajahnya kian memerah menahan amarah yang meluap karena menghantam harga diri Simon tanpa ampun. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya menyala oleh emosi yang tak lagi mampu ia sembunyikan.
Namun di balik kemarahannya, ada sesuatu yang lebih mengusik. Untuk pertama kalinya, ia melihat hal yang berbeda di mata wanita itu... kendali.
“Kau berbeda sejak malam gala itu,” ucapnya pelan. “Siapa sebenarnya kau, Arunika?”
“Aku masih orang yang sama,” ujar Arunika datar. “Hanya saja, sekarang aku tidak akan lagi memilih diam saat direndahkan olehmu maupun oleh ibumu.”
Ia berbalik tanpa ragu. “Jangan pernah datang menemuiku lagi. Di antara kita, semuanya sudah selesai.”
Simon terpaku di tempatnya. Dalam tiga tahun pernikahan mereka, kini ia merasa sedang berhadapan dengan seorang perempuan yang sama sekali tak ia kenal.
Bukan lagi Arunika yang dahulu selalu menunduk dan memilih mengalah, melainkan seorang wanita yang berdiri tegak dengan tutur kata yang mantap dan tak terbantahkan.
Simon harus mengakuinya—malam Gala itulah, pertama kalinya ia menyaksikan Arunika berbicara setegas itu. Dadanya bergemuruh. Jika apa yang dikatakan Arunika tentang kesepakatan itu benar, maka selama ini ia telah hidup dalam kebodohan yang memalukan. Ia harus menemui kakeknya, dan memastikan sendiri kebenaran ucapan wanita itu.
Namun ketika Simon tiba di rumah besar keluarga Wijaya, ia tidak menemukan sosok yang dicarinya. Kakek Wijaya sedang berada di luar kota untuk beristirahat, jauh dari urusan keluarga maupun bisnis. Kedatangan Simon pun berakhir sia-sia. Tanpa penjelasan, tanpa jawaban. Ia tetap tidak mengetahui apa sebenarnya kesepakatan antara Arunika dan kakeknya.
Di waktu yang hampir bersamaan, audit yayasan medis milik Simon selesai tahap awal.
Transfer dana operasional dialihkan ke perusahaan cangkang, beberapa proyek pengadaan alat kesehatan dimark-up hampir dua kali lipat.
Laporan itu sampai ke meja Angkasa, ia membacanya perlahan.
“Penggelapan dana medis atas nama amal,” gumam Angkasa.
Asistennya bertanya, “Kita laporkan langsung?”
“Belum.”
“Kenapa Tuan?”
“Biarkan dia percaya masih punya waktu.” Angkasa menatap keluar jendela. “Orang seperti Simon hanya hancur... ketika sadar semua pintu sudah tertutup rapat dan tak ada jalan kembali.”
*****
Sementara itu, Riana berada di bawah tekanan berbeda. Namanya belum diumumkan dalam kasus manipulasi dosis obat, tapi investigasi belum selesai. Ia butuh sesuatu, satu kemenangan besar. Satu pembuktian, bahwa ia memang layak berdiri di proyek pusat jantung.
Kesempatan itu datang cepat, ada seorang pasien VIP dengan kasus aneurisma kompleks. Operasi berisiko tinggi, namun Riana mengajukan diri untuk unjuk gigi.
“Ini kesempatanmu,” ujar Simon saat Riana mengatakan operasi itu, “Jangan gagal.”
Riana menatapnya. ”Tidak akan.”
Namun operasi bukan panggung, dan kepercayaan diri bukan keahlian. Empat jam di ruang bedah, tekanan darah pasien tidak stabil. Perdarahan bahkan sulit dikendalikan, tim operasi mulai gelisah.
“Dokter, kita kehilangan banyak darah,” ujar asistennya pada Riana.
“Aku tahu!” potong Riana, nada suaranya mulai pecah.
Ia mengambil keputusan cepat, dan keputusan itu salah.
Monitor berbunyi panjang.
Sunyi.
Pasien tidak terselamatkan.
Berita kematian itu sampai ke media dalam hitungan jam, keluarga pasien adalah tokoh publik. Nama rumah sakit terseret. Nama perusahaan investasi—Wijaya Group juga ikut disebut.
Simon berdiri di ruang kerjanya, wajahnya dingin.
“Apa yang terjadi?” tanyanya ketika Riana datang, wajah pria itu muram.
“Itu kasus sulit, risiko tinggi sejak awal.”
“Risiko tinggi bukan berarti ceroboh!” Bentak Simon, untuk pertama kalinya pada wanita itu.
“Aku tidak ceroboh!”
Simon menatap Riana dengan sorot tajam yang dipenuhi amarah. “Kau tahu, setiap kegagalanmu sekarang menyeret namaku bersamanya. Kau terus saja membuatku kecewa. Rupanya aku yang keliru… terlalu meninggikan penilaianku terhadapmu!”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada teriakan, hubungan mereka retak di tempat.
Riana menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui, Simon tidak pernah benar-benar berdiri di sisinya. Pria itu... hanya berdiri di sisi keuntungannya sendiri.
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️