Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~04
Tak terasa beberapa jam perjalanan telah Marni lalui dan kini wanita itu telah sampai di kampungnya, sebuah perkampungan yang sangat asri dengan komoditas pertanian sebagai sumber pemasukan warganya.
"Marni kamu sudah pulang nak?"
Seorang wanita paruh baya dengan daster lusuh yang nampak robek dibeberapa bagian langsung memeluk anak gadisnya yang sudah setahun ini pergi merantau ke kota, sebulan sekali mereka baru bisa berbicara melalui sambungan telepon itu pun pinjam milik kepala desa karena memang belum terlalu banyak ponsel di desanya mengingat minimnya jaringan internet yang ada disana.
"Marni kangen bu." Marni semakin mengeratkan pelukannya, terlalu banyak beban yang ia tanggung hingga kini hanya airmata yang mewakili seluruh perasaannya karena mengadu pun tidak mungkin.
"Tolong maafkan Marni ya bu." imbuhnya lagi dalam hati, ibunya pasti kecewa jika mengetahui apa pekerjaannya di kota.
Keduanya pun mengurangi pelukannya ketika sang ayah datang dengan cangkul di pundaknya, pria tua dengan kulit sedikit terpanggang matahari itu nampak berkaca-kaca saat melihat putri kecilnya datang.
"Bapak," Marni pun langsung memeluknya dengan sepenuh hati.
"Bapak kotor, nduk." ucap pria berusia empat puluh tahunan itu, sebenarnya dari segi usia masih muda hanya saja kerasnya hidup membuat pria itu terlihat jauh lebih tua dari umurnya.
Marni tidak perduli ayahnya kotor atau tidak karena dulu dengan tangan dan badan kotor itu ia bisa hidup dan tumbuh menjadi seorang gadis, pelukannya pun semakin erat sampai terdengar sebuah suara motor yang sengaja di gas dengan sedikit kencang hingga membuat mereka semua langsung kaget lalu beralih menatapnya.
"Marwan!"
Teriak sang ibu ketika melihat putra keduanya itu baru datang dari sekolah padahal hari telah sore, entah apa yang telah dilakukan oleh bocah itu diluar sana karena jam sekolah hanya sampai siang hari saat hati jum'at.
Marni menatap adiknya tersebut, setahun ia tinggal adiknya sudah semakin besar saja lalu pandangannya jatuh ke arah motor ninja yang dipakainya. Apa itu motor baru? dapat dari mana adiknya karena pasti harganya tidaklah murah.
"Baru datang mbak?" ucap Marwan seraya mencium tangan kakak perempuannya itu.
"Hm, Ngomong-ngomong motor siapa itu dek?" tukas Marni ingin tahu.
"Motorku lah mbak," sahut pemuda itu menyombongkan dirinya.
Marni nampak sedikit terkejut mendengarnya karena setahun yang lalu sebelum ia tinggal pergi ke kota adiknya hanya punya sepeda butut untuk pergi sekolah.
"Nak, maafkan ibu ya uang yang kamu kirim terpaksa ibu belikan motor buat adikmu karena sekolahnya sekarang jauh dari sini." ucap sang ibu dengan nada rendah serta penuh penyesalan.
"A-apa?" Marni nampak tak percaya mendengarnya, jika memang ingin beli kenapa harus motor ninja bukankah masih ada motor bekas yang harganya jauh lebih murah.
"Biasa saja kali mbak, cuma 30 juta kalau mau beli yang bagus itu diatas 50 juta." celetuk Marwan tanpa perasaan bersalahnya sama sekali.
Marni hampir menangis mendengarnya, setiap bulan ia mengirim uang 5 juta kepada ibunya bahkan kalau ia mendapatkan banyak tips bisa lebih dari itu, ia berharap sang ibu bisa menyisikan untuk biaya membangun rumahnya toh biaya hidup di kampung juga murah dan ayahnya juga bekerja meskipun tidak banyak mendapatkan penghasilan tapi paling tidak sangat cukup untuk biaya makan sehari-hari bersama kedua adiknya.
"Jadi bagaimana dengan bangun rumah kita bu, paling tidak di pondasi dulu." ucapnya menatap sang ibu karena ia masih menyimpan sedikit tabungan untuk menaikkan bata meskipun hanya bangunan setengah badan yang penting tidak akan bocor lagi dan jauh lebih layak untuk mereka tinggali.
Sang ibu nampak menatapnya penuh menyesalan lalu menggeleng kecil. "Biaya sekolah adikmu mahal nak karena nilainya kurang ibu terpaksa masukkan di sekolah swasta kejuruhan belum lagi biaya prakteknya," sahutnya memberikan penjelasan kemana arah uang yang di kirim oleh putrinya tersebut selama setahun belakangan ini.
Marni tak bisa berkata-kata lagi, padahal jika ia hitung-hitung tabungannya lebih dari 40 jutaan jika dalam sebulan ibunya hanya menghabiskan 2 juta untuk biaya makan mereka dan sekolah adik-adiknya, kini rencana tinggallah rencana padahal setelah membangun rumahnya sedikit lebih layak ia akan menetap di kampung dengan berjualan kecil-kecilan tapi sepertinya itu hanya ada dalam angannya semata..
"Mbakkan bisa pergi ke kota lagi untuk bekerja biar kita bisa bangun rumah gitu saja kok repot," celetuk Marwan lagi dengan santainya ketika melihat kemarahan terpendam di wajah sang kakak lantas berlalu masuk begitu saja.
Ingin sekali Marni menampar bibir adiknya itu karena dengan entengnya bicara seperti itu, tidak tahukah jika selama ini ia harus menahan kesedihan setiap kali pelanggannya mulai melecehkannya hanya demi uang saweran yang tak seberapa?
Sejak kecil sebagai anak pertama Marni memang dituntut untuk mengalah kepada kedua adik lelakinya bahkan saat ia hendak melanjutkan sekolahnya ibunya dengan santai berkata anak perempuan sekolah tinggi mau jadi apa paling ujung-ujungnya juga di dapur ucapnya kala itu.
"Tapi bu Megawati perempuan pertama yang bisa menjadi presiden bu," balasnya dengan harapan pikiran ibunya terbuka.
"Halah bu Megawati jadi presiden karena ayahnya juga presiden lalu kamu mau bermimpi jadi presiden sedangkan ayahmu cuma tukang cangkul di sawah orang?" sahut sang ibu dengan berbagai sanggahannya.
"Lebih baik bantu ayahmu cari uang agar adikmu bisa sekolah tinggi karena mereka laki-laki bisa diharapkan kelak," imbuh wanita itu lagi.
Marni tak lagi berdebat karena apapun yang akan ia utarakan akan tetap salah di mata ibunya dibanding dengan anak kesayangannya itu.
"Benar kata adikmu nak lebih baik kamu kembali kerja di kota lagipula kamu baru satu tahun bekerja kenapa harus berhenti? itu tetangga kita yang rumahnya paling ujung dia merantau ke ibu kota selama 5 tahun sekarang bisa membangun rumah, membeli mobil, berangkatkan orang tuanya berhaji dan juga membeli beberapa petak sawah disini." ucap sang ibu hingga membuat Marni kembali dari lamunannya, ibunya sejak dahulu memang suka membanding-bandingkannya baik antar adik-adiknya maupun dengan anak orang lain.
"Dia sarjana S1 jika ibu lupa," sahut Marni sembari menarik kopernya yang sejak tadi masih berada di teras rumahnya yang masih berupa tanah itu namun saat hendak masuk ke dalam rumahnya tiba-tiba tetangga samping rumahnya nampak keluar dan menyapanya.
"Kamu sudah pulang Marni?" ucap Astuti istri Joko yang kehidupannya memang sedikit lumayan karena suaminya sudah bertahun-tahun bekerja di kota hingga bisa membangun rumah dan juga membeli dua motor terbaru belum lagi beberapa emas yang menghiasi leher serta tangan wanita itu.
"Iya mbak, bagaimana kabarnya mbak?" sahut Marni yang urung masuk ke dalam rumahnya.
"Sini biar bapak yang bawa kopermu nduk,"
Koper di tangan wanita itu pun kini beralih ke tangan sang ayah lantas dibawanya masuk ke dalam disusul oleh ibunya, sedangkan kedua adiknya sudah masuk duluan sejak tadi.
"Kamu kerja apa di kota Mar kok bisa belikan adikmu motor mahal, kamu tidak kerja aneh-anehkan?" ucap Astuti to the point, wanita itu memang suka bicara ceplas ceplos tanpa mempedulikan perasaan lawan bicaranya.
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu