"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian di Bawah Langit
Suara denting logam kapak yang menghantam lantai beton apotek bergema memekakkan telinga. Sakura meloncat mundur, kaki-kakinya mendarat dengan ringan di atas genangan cairan antiseptik yang tumpah. Napasnya teratur, namun matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dari pergerakan pria raksasa di depannya. Komandan Iron Order itu menggeram, otot-otot lengannya menegang hingga pembuluh darahnya tampak seperti akar yang melilit tulang.
"Hanya itu kemampuanmu, Gadis Kecil?" pria itu mengejek, memutar kapak pemadam kebakarannya dengan satu tangan. "Kau cepat, tapi di dunia baru ini, kekuatan murni adalah segalanya!"
Pria itu menerjang lagi. Kali ini bukan hanya ayunan vertikal, melainkan tebasan horizontal yang menyapu seluruh area rak obat. Sakura menyadari bahwa ruang geraknya semakin menyempit. Ia melihat Chika yang meringkuk di sudut, mendekap koper serum dengan wajah pucat.
"Sekarang!" bisik Sakura pada dirinya sendiri.
[ KETERAMPILAN AKTIF: TEKNIK PEDANG ALIRAN ES - VARIASI LANGKAH: JEJAK SALJU ]
Saat kapak itu hampir mengenai pinggangnya, Sakura tidak mundur. Ia justru meluncur maju ke arah bawah ketiak pria itu. Lantai yang tadinya licin oleh cairan obat kini membeku seketika di bawah kaki Sakura, memberinya dorongan kecepatan ekstra.
DUAK!
Ujung bokken Sakura menghantam ulu hati pria itu dengan presisi yang menghancurkan. Namun, zirah pelat yang dikenakan sang komandan meredam sebagian besar dampak. Pria itu terbatuk, namun tangan kirinya yang bebas berhasil mencengkeram bahu Sakura.
"Dapat kau!"
Sakura merasakan cengkeraman yang sangat kuat, seperti catut besi yang meremukkan tulang bahunya. Sebuah rintihan kesakitan lolos dari bibirnya. Ia bisa mendengar suara retakan halus dari tulang selangkangnya.
"Sakura!" teriak Chika, ia hendak berdiri untuk membantu namun Sakura memberikan isyarat tangan agar tetap diam.
"Jangan... mendekat, Sensei!"
Sakura menggertakkan giginya. Ia memutar tubuhnya meski bahunya terasa seperti terbakar. Dengan sisa tenaga, ia mengalirkan seluruh energi dinginnya ke tangan kanannya yang memegang pedang. Pedang kayu itu mengeluarkan uap dingin yang pekat hingga berubah warna menjadi putih pucat.
KRAK!
Sakura menghantamkan gagang pedangnya tepat ke pergelangan tangan pria yang mencengkeramnya. Suhu nol mutlak yang dialirkan secara mendadak membuat saraf tangan pria itu mati rasa seketika. Genggamannya terlepas. Tanpa membuang waktu, Sakura melakukan tendangan memutar ke arah lutut pria itu—sebuah teknik Renewal Taekwondo yang pernah ia lihat dari Yuuichi.
KRAK!
Tempurung lutut sang komandan bergeser. Pria raksasa itu jatuh berlutut dengan raungan kesakitan yang mengguncang ruangan.
"Sensei, lari ke pintu belakang! Sekarang!" seru Sakura sambil memegangi bahu kirinya yang terkulai lemas.
Mereka berdua menghambur keluar lewat pintu gudang, tepat saat sisa pasukan Iron Order mulai mengepung bagian depan apotek. Di luar, Akari sudah menunggu di atas tangga darurat sebuah gedung tua yang menempel dengan apotek.
"Lewat sini! Cepat! Mereka sudah membawa anjing pelacak!" teriak Akari dengan suara parau.
Mereka mendaki tangga besi yang berkarat itu menuju atap. Setiap anak tangga yang dipijak Sakura terasa seperti siksaan bagi bahunya yang cedera. Darah mulai merembes dari balik seragam sekolahnya, menetes di atas besi tangga yang dingin.
"Sakura, kau terluka parah..." Chika mencoba meraih tangan Sakura saat mereka mencapai atap, namun Sakura terus menggeleng.
"Kita belum aman. Lihat ke bawah."
Dari tepian atap, mereka bisa melihat belasan senter menyisir jalanan. Suara gonggongan anjing dan deru mesin truk terdengar semakin dekat. Para anggota Iron Order tidak akan membiarkan pencuri obat-obatan mereka pergi begitu saja.
"Peringatan: Kehilangan darah terdeteksi. Efektivitas tempur menurun 30%. Musuh sedang menyiapkan penembak jitu di gedung seberang. Kakak Sakura, kau harus tetap merunduk."
Sakura bersandar pada tangki air raksasa di atas atap, dadanya naik turun dengan cepat. Ia menatap langit kelabu yang mulai menggelap. Di dalam benaknya, ia membayangkan Yuuichi. Jika Yuuichi ada di sini, dia pasti akan tersenyum sinis dan melompati gedung-gedung ini dengan mudah.
"Kita akan melompat ke gedung sebelah," ujar Sakura, menunjuk ke arah blok apartemen yang hanya berjarak empat meter. "Itu satu-satunya jalan menuju jalur pipa pembuangan yang terhubung ke bunker."
"Empat meter? Sakura, itu mustahil bagi kita!" Akari berteriak ketakutan.
Sakura menatap Chika dan Akari secara bergantian. Ia memaksakan sebuah senyuman kecil, mencoba meniru ketenangan Yuuichi yang selama ini melindunginya.
"Ingat apa yang Yuuichi-kun katakan? Kita bukan lagi manusia biasa. Sistem di tubuh kalian akan merespons jika keinginan kalian cukup kuat," Sakura mengulurkan tangannya yang gemetar. "Pegang tanganku. Aku akan menarik kalian dengan energi esku."
Di kejauhan, sebuah laser merah mulai menari-nari di dinding tangki air di dekat kepala mereka. Penembak jitu itu sudah membidik.
"Sekarang atau tidak sama sekali! Lari!"
Angin kencang bertiup di sela-sela gedung tinggi, membawa aroma mesiu dan debu beton yang menyesakkan. Sakura berdiri di tepian atap, tumitnya tepat berada di ujung beton yang mulai retak. Di bawah sana, puluhan meter ke dasar jalanan, kegelapan dan maut menunggu. Namun, ancaman di belakang mereka jauh lebih nyata: suara sepatu bot yang menaiki tangga besi dan lampu laser merah yang terus menyisir mencari titik fatal di kepala mereka.
"Pegang tanganku! Cepat!" perintah Sakura. Suaranya tidak lagi bergetar; rasa sakit di bahunya yang hancur seolah teredam oleh adrenalin yang membakar sarafnya.
Chika menggenggam tangan kanan Sakura dengan erat, tangan kirinya masih mendekap koper serum seolah itu adalah bayi yang baru lahir. Akari, dengan air mata yang mengalir di pipinya, menggenggam sisi jaket Sakura. Ketiganya berdiri dalam satu garis di ambang maut.
Ting!
Sebuah peluru dari penembak jitu menghantam permukaan tangki air di belakang mereka, memuncratkan air dingin ke punggung mereka.
"LARI!"
Mereka melompat. Untuk sesaat, gravitasi seolah menghilang. Waktu melambat dalam persepsi Sakura yang telah ter-awakening. Ia melihat jarak empat meter yang menganga di antara kedua gedung sebagai jurang yang tak tertembus bagi manusia biasa. Namun, ia tidak berniat membiarkan mereka jatuh.
[ PENGGUNAAN ENERGI DARURAT: MANIPULASI ES - JEMBATAN BEKU ]
Dalam kondisi melayang, Sakura menghentakkan tangan kirinya yang cedera ke arah kekosongan di bawah kaki mereka. Sisa energi es yang ia miliki meledak keluar dalam bentuk kristal-kristal biru yang memadat secara instan di udara. Sebuah lintasan es tipis dan transparan tercipta hanya dalam waktu sepersekian detik sebelum kaki mereka menyentuh kehampaan.
Sret!
Kaki mereka mendarat di atas permukaan es yang licin. Momentum lompatan membawa mereka meluncur dengan cepat melintasi jembatan darurat itu menuju atap apartemen di seberang. Sakura menggunakan pedang kayunya untuk mengerem, menancapkan ujungnya ke beton atap saat mereka tiba di sisi lain.
"Hah... hah... hah..." Akari jatuh terduduk, napasnya tersengal-sengal, jantungnya terasa ingin melompat keluar dari dada.
"Jangan berhenti sekarang!" Sakura menarik mereka berdiri. Ia menoleh ke belakang dan melihat jembatan esnya mulai retak dan hancur berkeping-keping, jatuh ke jalanan di bawah seperti butiran kaca. Para anggota Iron Order yang baru mencapai atap gedung sebelah hanya bisa menatap dengan kemarahan saat mangsa mereka menghilang di balik bayang-bayang gedung apartemen.
Perjalanan kembali ke bunker adalah siksaan yang panjang. Sakura terus kehilangan darah, wajahnya menjadi sepucat salju yang ia ciptakan. Mereka harus melewati gang-gang sempit dan gorong-gorong pembuangan untuk menghindari patroli manusia dan kerumunan zombie yang mulai aktif di malam hari.
Setiap langkah yang diambil Sakura terasa seperti berjalan di atas paku panas. Chika terus mencoba menyalurkan aura penyembuhannya ke bahu Sakura sambil tetap berlari, namun tenaganya sendiri sudah hampir habis.
"Sedikit lagi, Sakura... bertahanlah," bisik Chika, air mata jatuh ke tangan Sakura yang memeganginya.
Saat mereka akhirnya mencapai pintu besi bunker yang tersembunyi, Rina Suzuki segera membukanya dari dalam. Wajah jenius muda itu tampak sangat panik, sesuatu yang jarang terjadi.
"Cepat! Masuk!" teriak Rina.
Begitu pintu tertutup dan dikunci, Rina langsung menunjuk ke arah meja operasi tempat Yuuichi berada. Layar monitor medis di sana mengeluarkan bunyi tit... tit... tit... yang sangat lambat dan panjang.
"Peringatan Kritis: Detak jantung Subjek Utama di bawah 2 denyut per menit. Kegagalan organ dalam mulai terjadi. Segera suntikkan Stabilisator T-02 ke dalam arteri utama leher."
Sakura terjatuh berlutut di samping meja, napasnya memburu, namun ia tetap menyerahkan koper itu kepada Chika. "Lakukan... Sensei... selamatkan dia."
Chika dengan tangan gemetar namun terlatih, mengambil botol biru bening itu. Ia mengisi alat suntik otomatis dengan gerakan yang sangat cepat. Dengan satu helaan napas panjang untuk menenangkan sarafnya, ia menancapkan jarum itu ke leher Yuuichi dan menekan tuas pengirim cairan.
Keheningan yang mencekam menyelimuti bunker itu selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
Tit... tit... tit...
Lalu, monitor itu mulai berubah. Iramanya menjadi lebih cepat. Tit, tit, tit, tit.
Lapisan es yang menyelimuti tubuh Yuuichi mulai retak dengan suara yang jernih, seperti suara es yang dimasukkan ke dalam air hangat. Uap putih keluar dari pori-pori kulitnya, dan warna kemerahan mulai kembali ke pipinya yang tadinya pucat.
Mata Yuuichi bergetar di balik kelopak matanya. Tangan kanannya tiba-tiba bergerak, mencengkeram pinggiran meja operasi hingga logamnya bengkok.
"Ugh..." Sebuah erangan rendah keluar dari tenggorokan Yuuichi.
Perlahan, kelopak mata itu terbuka. Bukan lagi warna merah gelap yang penuh amarah, melainkan warna biru es yang jernih dan tajam yang perlahan meredup kembali menjadi warna merah aslinya. Ia menoleh ke samping, melihat Sakura yang bersimbah darah namun tersenyum lega, Chika yang menangis sambil memegang suntikan, dan Akari serta Rina yang tertegun.
Yuuichi mencoba duduk, es yang tersisa di tubuhnya luruh sepenuhnya ke lantai. Ia menatap Sakura yang kini berada di ambang pingsan karena kehilangan darah.
"Kau... benar-benar melakukan lompatan itu, ya?" suara Yuuichi parau, namun ada nada bangga dan kehangatan yang mendalam di dalamnya.
Yuuichi segera melompat turun dari meja, mengabaikan kondisi tubuhnya sendiri yang baru pulih. Ia menangkap tubuh Sakura tepat sebelum gadis itu menghantam lantai. Ia memeluknya dengan erat, membiarkan energi panas dari tubuhnya yang baru terbangun menyelimuti Sakura yang kedinginan.
"Maaf aku terlambat bangun," bisik Yuuichi sambil mengelus rambut Sakura. "Sekarang, istirahatlah. Biar aku yang mengurus sisanya."
"Misi Tersembunyi Selesai: Kesetiaan dalam Kiamat. Hadiah: Sinkronisasi Atribut permanen antara Yuuichi Shiro dan Sakura Hoshino meningkat 15%. Semua luka Sakura akan pulih 50% lebih cepat dalam pelukanmu, Kakak."
Yuuichi menatap ke arah pintu bunker, tatapannya kini berubah menjadi dingin dan mematikan. Ia bisa merasakan keberadaan Iron Order yang mungkin masih melacak mereka di luar sana. Namun kali ini, sang Naga tidak lagi sedang tidur.