NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ekspedisi Baruna & Kengerian Zona Abisal

Lokasi: Kapal Riset Lepas Pantai RV Nusantara, Laut Banda.

Waktu: 11.00 WIT (Enam Bulan Pasca Insiden Jakarta).

Matahari bersinar terik membakar gelombang biru tua Laut Banda yang tampak tenang. Namun, ketenangan di permukaan itu hanyalah sebuah ilusi yang menutupi jurang maut di bawahnya.

Di geladak belakang kapal riset RV Nusantara milik BPCBAN, sebuah kapal selam laut dalam (Bathyscaphe) berwarna kuning dan hitam sedang digantung oleh derek (crane) raksasa. Bentuknya tidak memanjang seperti kapal selam militer, melainkan membulat dengan kapsul titanium berbentuk bola di bagian perutnya.

Di lambungnya tertulis nama: K.S. BARUNA - 01.

“Tekanan hidrolik stabil. Baterai lythium-polymer 100%. Sistem cadangan oksigen hijau,” lapor Sarah melalui radio komunikasinya.

Ia sedang berada di dalam kapsul sempit berdiameter 2,5 meter itu, memakai pakaian selam khusus (Thermal suite) berwarna biru laut yang dirancang untuk menahan suhu beku. Keringat menetes dari dahinya saat ia mengkalibrasi puluhan layar panel di hadapannya.

Di kursi kopilot di sebelahnya, duduk Dimas. Lengan kanan kemeja thermal nya di gulung hingga siku, memperlihatkan bekas luka bakar Lemuria yang kini telah menjadi keloid berbentuk seperti ranting pohon yang disambar petir. Dimas tengah mengusap sebuah Batu Sulaiman (Akik Air) dengan ibu jarinya, merapalkan doa penolak bala.

“Gimana rasanya duduk di dalam mesin cuci seharga seratus miliar, Prof?” Canda Sarah, menoleh pada suaminya sambil mengencangkan sabuk pengaman lima titik.

“Terasa sempit dan mahal, Bu Dok,” jawab Dimas, matanya menatap jendela viewport (kaca pengintai) berbahan acrylic Quartz setebal 15 sentimeter di depannya. “Dan jujur saja, aku lebih suka menghadapi hantu di darat yang kakinya nggak napak, daripada harus berurusan sama makhluk yang napas pakai insang.”

Suara operator di geladak terdengar dari radio interkom.

“Baruna-01, ini Kontrol Permukaan. Derek siap melepas kait. Cuaca permukaan ideal. Target koordinat: Dasar Palung Weber, kedalaman 7.400 meter. Kalian siap turun?”

Sarah menatap Dimas. Keduanya mengangguk serentak.

“Baruna-01 siap. Lepaskan kami, Permukaan,” jawab Sarah mantap.

CLANG!

Suara kait baja yang dilepas menggema di lambung kapal. Perut Sarah terasa tertinggal di udara saat Baruna dijatuhkan.

BYUUURR!!

Air laut langsung menelan kapsul mereka. Cahaya matahari yang terik seketika berubah menjadi biru kehijauan yang sejuk melalui kaca jendela tebal. Kapal selam itu bergoyang sebentar, lalu mulai stabil, ditarik oleh tangki pemberat (ballast) menuju perut bumi.

Angka kedalaman di layar Sarah berputar cepat.

[DEPTH: 50 Meters… 150 Meters… 300 Meters…]

Lokasi: Zona Tengah Malam (Midnight Zone), Laut Banda.

Waktu: 12.30 WIT.

[DEPTH: 4.200 Meters…]

Sudah satu setengah jam mereka turun tanpa henti. Di luar jendela, cahaya matahari sudah lama lenyap, digantikan oleh kegelapan absolut. Hitam pekat yang terasa menindas. Suhu air di luar telah anjlok ke 2 derajat Celcius.

Hanya ada suara dengungan mesin pendingin kapal dan suara napas mereka sendiri. Sesekali, terdengar suara KRAAAKK… TING! Yang mengerikan dari lambung titanium yang sedang menyesuaikan diri dengan tekanan air di luar yang kini mencapai 400 kali lipat tekanan udara di darat.

“Setiap kali lambungnya bunyi, rasanya nyawaku berkurang satu tahun,” gumam Dimas, tangannya mencengkeram erat sandaran kursi.

“Itu normal, Dim. Baja titaniumnya mengkerut beberapa milimeter karena tekanan,” Sarah mencoba menenangkan, meski matanya tak lepas dari layar sonar. “Kita sudah masuk zona abisal. Nggak ada ikan normal yang hidup di sini. Cuma cumi-cumi raksasa dan ikan anglerfish yang buta.”

Dimas memejamkan mata. Di dalam lautan yang gelap ini, tanpa sadar ia terus membiarkan Mata Batinnya terbuka sedikit sebagai radar cadangan.

Tiba-tiba, suhu di dalam kabin kapal selam turun drastis. Napas Dimas membentuk kabut putih.

“Sar,” panggil Dimas pelan. Matanya masih terpejam, tapi alisnya berkerut tajam. “Kamu ngerasa getaran nggak?”

“Getaran apa? Sonar pasifku bersih,” Sarah melihat layar hijaunya. Tidak ada titik merah.

“Bukan getaran air. Getaran… emosi.” Dimas membuka matanya, menatap keluar ke arah kegelapan yang diterangi lampu sorot luar Baruna. “Ada sesuatu di bawah kita. Sesuatu yang ukurannya sangat, sangat besar. Dan dia lagi marah.”

BIP! BIP! BIP!

Tiba-tiba, alarm kedekatan (Proximity Alarm) di konsol Sarah menjerit panik. Layar sonar yang tadinya kosong melompong kini dipenuhi oleh satu blok berwarna merah raksasa yang bergerak naik dari kedalaman 6.000 meter dengan kecepatan mustahil.

“Mustahil!” Sarah membelalakkan matanya, mengetik dengan panik. “Benda ini seukuran kapal induk militer! Dan dia naik lurus ke arah kita dengan kecepatan 60 knot! Di tekanan air sebesar ini, fisik biologis normal bakal hancur kalau bergerak secepat itu!”

“Matikan semua lampu luar! Matikan mesin utama!” Perintah Dimas cepat. “Beralih ke mode senyap (Silent Running)!”

Sarah langsung menekan tuas Emergency Shutdown.

Lampu sorot luar kapal padam seketika. Mesin baling-baling berhenti berputar. Kabin dalam kapal berubah gelap gulita, hanya diterangi cahaya merah redup dari lampu darurat konsol.

Mereka berdua terdiam, menahan napas dalam kegelapan. Jantung mereka berdegup kencang.

Melalui kaca akrilik tebal di depan mereka, laut di luar tampak seperti ruang hampa udara.

Lalu… air laut di depan mereka mulai bercahaya.

Bukan cahaya lampu kapal, melainkan pendaran Bioluminescene (fenomena alami di mana makhluk hidup menghasilkan dan memancarkan cahaya sendiri melalui reaksi kimia di dalam tubuhnya) berwarna biru elektrik yang sangat terang.

Sebuah sosok raksasa melesat lewat di depan jendela Baruna. Sosok itu begitu panjang hingga butuh waktu sepuluh detik penuh bagi tubuhnya untuk lewat. Kulitnya tampak seperti lempengan batu obsidian hitam yang ditumbuhi terumbu karang purba, diselingi garis-garis bercahaya biru yang polanya sangat familiar bagi Dimas dan Sarah.

“Aksara Lemuria…” bisik Sarah, gemetar.

Itu bukanlah hewan laut. Itu adalah Seekor Naga Besi (Leviathan). Mahakarya biomechanical yang diciptakan ribuan tahun lalu dari perpaduan sihir dan logam purba. Ular naga raksasa yang bertugas sebagai Sentry (Penjaga) batas Palung Weber.

Naga itu berputar, gerakannya mengaduk air laut dan menciptakan arus pusaran bawah laut yang membuat kapsul Baruna bergetar hebat.

Monster itu berhenti. Kepalanya yang seukuran rumah dua lantai, dengan gigi-gigi bergerigi panjang yang bersinar, kini berada tepat di depan jendela kapal selam mereka. Makhluk itu tidak memiliki bola mata, hanya rongga bercahaya biru yang menatap langsung menembus jiwa Dimas dan Sarah.

“Dia nggak pakai mata buat melihat, Sar,” bisik Dimas sepelan mungkin. Tangannya merogoh tasnya secara perlahan, mengeluarkan patahan Kristal Biru Lemuria yang ia dapatkan di Gunung Padang (benda yang sama yang digunakan Sekar sebagai ampilifer)

“Dia melacak detak jantung dan getaran ketakutan kita. Dia ngebaca Aura kita,” sambung Dimas.

Tengah mulut Naga raksasa itu perlahan terbuka. Air laut di sekitarnya mulai mendidih. Makhluk itu sedang mengumpulkan energi ultrasonik untuk menghancurkan kapal selam kecil tersebut menjadi serpihan abu.

“Dim, kalau dia nembak energi itu, lambung kita bakal pecah dalam sedetik. Kita bakal mati kegencet air,” suara Sarah nyaris tak terdengar, tangannya berada di atas tombol flare pengecoh.

“Jangan tembak flare. Itu cuma bikin dia makin agresif,” Dimas menangkup Kristal Biru Lemuria itu dengan kedua tangannya. Ia harus melakukan sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan sifat kemanusiaannya.

Dimas harus Mematikan Jiwanya sementara.

“Sar, pegang tanganku,” perintah Dimas. “Tutup matamu. Bayangkan kamu adalah air. Dingin. Kosong. Tanpa pikiran. Tanpa rasa takut. Kita harus menyatu sama kegelapan ini.”

Sarah meraih tangan kiri Dimas. Ia memejamkan mata, memaksakan otak rasionalnya yang sedang menjerit panik untuk diam.

Dimas menyalurkan energi pembekuan (Aji Panglimunan Air) melalui Kristal Lemuria itu. Patahan kristal itu merespons, memancarkan resonansi frekuensi yang menyelimuti seluruh kapsul Baruna.

Secara spiritual, kapal selam itu menghilang. Detak jantung mereka melambat hingga batas ekstrem. Suhu tubuh mereka turun drastis, menyatu dengan suhu air laut di luar. Aura kehidupan mereka yang tadinya terang benderang bagi sang monster, kini mendadak padam layaknya TV yang dicabut kabelnya.

Naga Leviathan itu terdiam. Mulut raksasanya yang sedang mengumpulkan energi biru itu perlahan tertutup.

Makhluk purba itu memiringkan kepalanya, kebingungan. Mangsa yang tadi ada di depannya tiba-tiba “menghilang” dari radarnya, padahal bentuk fisik kapal selam itu masih ada di sana. Namun bagi penjaga Lemuria yang beroperasi menggunakan pelacakan jiwa, benda tak berjiwa hanyalah rongsokan logam yang jatuh dari permukaan.

Monster itu mendengus, menciptakan gelombang kejut kecil yang mendorong Baruna mundur beberapa meter.

Lalu, dengan satu kebasan ekor batu raksasanya, naga Lemuria itu berenang menukik kembali ke kegelapan abadi di kedalaman jurang, meninggalkan jejak pendaraan biru yang perlahan memudar.

Dimas dan Sarah masih menahan napas selama satu menit penuh hingga sonar pasif benar-benar bersih.

Dimas melepaskan genggamannya pada kristal itu. Ia menarik napas dalam-dalam, terbatuk pelan saat suhu tubuhnya kembali normal.

“Itu… gila,” Sarah menyeka keringat dingin di wajahnya. Tangannya gemetar saat menghidupkan kembali sistem oksigen lambung kapal. “Kita baru saja tatap muka sama Godzilla perairan dalam, dan kamu nyuruh aku pura-pura jadi batu.”

“Itu namanya Ştealth-Mode Mistis, Dok,” Dimas memaksakan senyum untuk mencairkan suasana. “Sang Penenun pasti menyimpan barang yang sangat berbahaya di bawah sana sampai harus menaruh anjing penjaga segede itu di pintu masuk.”

Layar kedalaman kembali berdetak.

[DEPTH: 6.800 meter…]

“Kita nyaris sampai di dasar,” lapor Sarah, menyalakan kembali lampu sorot luar, tapi kali ini dengan intensitas rendah.

Cahaya lampu menembus air laut yang keruh oleh partikel “salju laut” (sisa-sisa organik yang jatuh dari permukaan).

Dan di bawah sana, di hamparan dasar laut lumpur abisal, pemandangan yang membuat akal sehat mereka hancur mulai terlihat.

Bukan dasar laut berbatu biasa. Melainkan sebuah struktur arsitektur yang sangat masif.

Gedung-gedung berbentuk piramida terbalik dan pilar-pilar bercahaya yang diukir dari batu kristal memanjang sejauh mata memandang. Kota yang tenggelam. Arsitekturnya mirip dengan Saranjana, namun ini jauh lebih tua, lebih gelap, dan dipenuhi oleh jalinan akar-akar rumput laut raksasa.

Di tengah kota bawah laut itu, terdapat sebuah kubah hitam raksasa yang dililit oleh rantai-rantai cahaya yang sangat tebal. Kubah itu berdenyut. Dug… Dug… Dug… Seperti jantung bumi itu sendiri.”

“Dimas…” bisik Sarah, terpana melihat layar viewport. “Kita menemukan Atlantis-nya Nusantara.”

“Bukan Atlantis, Sar,” jawab Dimas, matanya tak berkedip menatap kubah hitam berdenyut itu. “Ini Alcatraz. Penjara dengan keamanan maksimum tingkat dewa.”

Dimas membetulkan kerah baju termahalnya. Petualangan di palung paling mematikan di bumi baru saja dimulai. Sang Penenun menunggu mereka di balik kubah hitam itu.

1
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NP
Makasih ya Kak, Nusantara Üniverse menanti selanjutnya 🤣
Akbar Aulia
,iya kak ,ceritanya seru
Akbar Aulia
nanti kalo sampai kabari aku ya, semoga tidak ada halangan
Akbar Aulia
terimakasih thor sudah membuat cerita yg bagus sekali, semangat terus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!