Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Ancaman Shafiya
Pintu ruang utama terbuka,
Anjani masuk.
Di sana semua orang masih berdiri. Menanti.
Anjani berhenti di tempat yang seharusnya. Tatapannya menyapu semua yang masih menunggu di sana. Tatapan yang datar, tenang. Tak ada riak kecil sekalipun yang mendatangkan tebakan.
"Sudah jelas," ucapnya tenang.
"Tidak ada yang perlu diperdebatkan." Kalimat berikutnya kunci untuk semua pertanyaan dan keraguan.
Semua orang diam, seakan menerima. Tapi tidak dengan satu orang.
Ravendra tersenyum tipis.
“Kehamilan bisa dipastikan,” ucapnya tenang.
“Tapi asalnya… belum tentu.”
Sagara langsung menatap.
Tidak lagi memberi jeda, tapi juga tidak langsung meledak.
“Lanjutkan.”
Ravendra mengangkat dagu sedikit.
“Kita bicara garis keturunan. Bukan asumsi.”
Sagara maju satu langkah.
“Kalau Anda meragukan saya--katakan lebih jelas."
Lebih mudah menjegal langkah Ravendra, jika ia menyatakan secara lugas.
Ravendra menatapnya tanpa ragu.
“Saya hanya memastikan semuanya sesuai pada tempatnya.”
Masih berlindung dalam permainan kata.
Sagara tidak langsung menjawab.
“Tempatnya,” ulangnya pelan.
“bukan Anda yang menentukan.”
“Cukup.”
Anjani bicara.
Langsung memutus bara perdebatan yang tak akan selesai dengan cepat.
Ia menatap Ravendra. Datar.
“Saya tidak meminta pendapat.”
Lalu beralih ke Sagara.
“Kamu membawa bukti. Dan itu cukup.”
Anjani sudah memutuskan. Tidak ada ruang debat. Ravendra diam.
Bukan setuju.
Tapi--ditahan.
"Pertemuan selesai. Semua kembali."
Anjani melihat semuanya tanpa basa-basi.
Sepersekian menit dari keluarga Adinata meninggalkan ruangan utama, Shafiya datang. Tatapannya bertemu dengan Sagara sesaat. Ia lalu menunduk.
"Elara."
Suara Anjani membuatnya kembali mendongak.
"Jaga anak itu. Sampai ia lahir."
Shafiya mengangguk. Cepat. "Baik."
Ia sudah seperti manusia di bawah pengawasan sistem. Patuh, tanpa tanya.
Sekilas. Sekilas saja terlihat demikian, karena ternyata kalimat Shafiya belum selesai.
"Saya akan jaga anak ini. Lalu siapa yang jaga saya?"
Sagara menatap Shafiya tak lagi datar. Tidak juga terkejut, hanya menilai.
Terlebih Anjani.
"Kamu mau apa?" Ia langsung. Tak membuka ruang diskusi.
"Katakan saja. Apapun." Suaranya kini lebih tegas. "Saya berikan."
Shafiya mendongak, menatap nyonya tua yang penuh kuasa itu. "Apapun?" ulangnya, memastikan.
Anjani mengangguk. Tanpa ragu. Tanpa menimbang.
"Saya mau status."
Hening langsung turun setelah keinginan Shafiya terucap. Hening yang tajam.
Begitupun tatapan Anjani dan Sagara yang sekilas terlihat datar. Juga tajam di saat bersamaan.
"Bukan di keluarga Adinata." Shafiya melanjutkan ucapannya. "Bukan di mata dunia. Hanya di keluarga saya."
Ia menegaskan tanpa ragu, apa yang ia mau.
Anjani memahami maksud kalimat itu tanpa tanya. Tatapannya berpindah ke Sagara.
"Sagara."
"Saya tidak menerima ikatan." Keputusannya jatuh tanpa perlu pertimbangan. "Apapun bentuknya." Penolakannya lebih dipertegas.
Shafiya menahan napas. Sesaat diam. Kecewa terlihat jelas di wajahnya yang rupawan. Saat kemudian ia mendongak.
"Baik. Saya mundur."
Shafiya tidak menunggu jawaban.
Ia lantas beranjak, tidak tergesa. Tapi juga tidak nampak keraguan.
Seolah keputusan itu sudah selesai bahkan sebelum diucapkan.
“Saya akan keluar dari kesepakatan ini,” lanjutnya, dengan suara tenang. “Termasuk dari segala hal yang menyertainya.”
Setelah titik kalimat dari ucapannya, langkahnya berbalik.
“Satu hal yang perlu Anda tahu, Nyonya,” Shafiya menambahkan tanpa menoleh, “anak ini akan tetap saya jaga. Tapi… tidak di bawah nama siapa pun.”
Kalimat itu jatuh dengan ringan. Tapi mengancam.
Shafiya berhasil membangun kekuatan di balik ketidakberdayaan yang menekan.
Ia tidak peduli dengan sistem yang berjalan dalam keluarga Adinata, juga dengan kekuasaannya--yang belum semua ia tahu.
Satu yang ia perjuangkan: nama abinya dan pesantren Darun-najah. Mereka harus bersih. Apa pun caranya.
Anjani tidak langsung menjawab. Sepersekian detik ia masih menatap langkah Shafiya yang terlihat mantap. Sampai kemudian Tatapannya beralih pada Sagara.
“Kalau dia keluar,” ucap Anjani pelan. “kita tidak kehilangan dia, tapi kita kehilangan kendali.”
Ia tidak memberikan perintah, juga tidak menegaskan apapun. Tapi apa yang diucapkannya adalah perhitungan yang dalam--bukan sebatas angka.
Sagara tidak bergerak. Tatapannya masih pada Shafiya yang kini benar-benar berjalan menuju pintu.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada upaya menahan, yang membuat situasi menjadi tidak bisa diprediksi.
“Sagara,” suara Anjani kali ini lebih rendah, tapi menekan, “ini bukan soal perempuan itu.”
Sagara juga tahu.
Ini soal variabel yang lepas.
Sesuatu yang tidak bisa ia ukur. Tidak bisa
diatur, dan tidak bisa ia pastikan lagi.
Dan itu … masalah.
Langkah Shafiya sudah tinggal beberapa jengkal dari pintu.
“Berhenti.”
Satu kata dari Sagara.
Tidak diucapkan dengan keras, ataupun dengan nada tinggi.
Tapi itu pasti, dan cukup untuk membuat langkah Shafiya benar-benar terhenti.
Beberapa detik hening menggantung sebelum Shafiya menoleh.
Sagara menatapnya lurus.
“Pernikahan akan dilakukan.”
Tidak ada emosi yang terbaca di wajahnya. Juga tidak ada keraguan.
“Hanya sebatas yang kamu minta.”
Shafiya diam. Mencari sesuatu di wajah lelaki itu--kepalsuan, kebohongan, yang sayangnya, tidak ia temukan.
“Hanya status. Di keluargamu. Tidak lebih," lanjut Sagara.
Sunyi kembali mengambil ruang. Shafiya masih diam, sampai ia tahu kalau keputusan itu sudah selesai.
“Baik.” Shafiya memang tidak butuh apa pun selain status di mata keluarganya sendiri. Hanya itu. Tidak lebih.