Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Cemburu yang Terselubung
Tawa Selene pecah mendengarkan pernyataan Damian. Suara tawanya yang renyah memenuhi dapur, seolah-olah apa yang baru saja dikatakan pria itu adalah lelucon paling lucu tahun ini. Ia menyeka air mata kecil di sudut matanya sambil tetap mengaduk masakan.
"Damian, kau pikir aku tinggal di sini selamanya?" tanya Selene di sela tawanya. "Aku masih punya rumah, dan orang tuaku masih lengkap. Kadang-kadang aku pulang untuk tinggal bersama mereka beberapa hari dalam seminggu."
Damian tertegun, sedikit merasa bodoh karena asumsinya sendiri. "Lalu... kenapa kau menghabiskan hampir seluruh waktumu di sini? Di tempat yang bahkan tidak memiliki fasilitas layak ini?"
Selene menghentikan gerakannya, tatapannya melembut saat melihat ke arah jendela yang menembus ke halaman di mana anak-anak panti sedang bermain. "Karena kebahagiaan dan senyuman tulus anak-anak di sini adalah sesuatu yang sangat aku rindukan setiap kali aku pergi. Di luar sana, orang-orang tersenyum karena tuntutan sosial atau uang. Tapi di sini? Senyum mereka nyata. Aku merindukan rasa dibutuhkan itu, Damian."
Damian terdiam. Dadanya terasa sesak oleh sebuah perasaan baru yang asing namun tajam: Cemburu.
Ia merasa cemburu pada anak-anak panti itu. Bagaimana bisa bocah-bocah kecil yang belum tahu cara mengikat tali sepatu dengan benar itu bisa mendapatkan "kerinduan" dari seorang Selene? Sedangkan dia, pria yang menguasai setengah ekonomi kota ini, bahkan harus bersandiwara menjadi asisten hanya untuk mendapatkan perhatiannya selama beberapa jam.
"Aku juga ingin menjadi alasanmu tersenyum. Aku ingin menjadi sosok yang kau rindukan setiap kali kau memejamkan mata," batin Damian posesif.
"Hanya mereka?" suara Damian terdengar lebih berat dan sedikit serak.
Selene menoleh, bingung. "Maksudmu?"
Damian melangkah mendekat, mengabaikan uap panas yang membumbung di antara mereka. Ia menumpukan kedua tangannya di pinggiran meja dapur, mengurung Selene dalam ruang geraknya yang dominan.
"Apakah hanya anak-anak itu yang kau izinkan untuk kau rindukan?" tanya Damian dengan tatapan yang sangat intens, mengunci manik mata Selene. "Bagaimana denganku? Berapa lama aku harus menghilang agar kau merindukanku seperti kau merindukan tempat ini?"
Selene terpaku. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia takut suaranya akan terdengar bergetar. Atmosfer di dapur yang tadinya santai mendadak berubah menjadi sangat bermuatan emosi.
"Damian, kau... kau bicara apa?" bisik Selene, berusaha membuang muka namun Damian dengan lembut namun tegas menarik dagunya agar kembali menatapnya.
"Aku serius, Selene. Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang mengisi pikiranmu, bahkan saat kau sedang berada di tengah-tengah anak-anak itu," ucap Damian pelan, tepat di depan wajah Selene.
Pltak!
Jentikan jari Selene mendarat tepat di dahi Damian dengan suara yang cukup nyaring. Damian tersentak, refleks memegang dahinya sambil mengaduh pendek. Matanya mengerjap, menatap Selene dengan ekspresi yang sulit dipercayai.
"Jangan melantur, Tuan Asisten!" Selene tertawa kecil, meski pipinya masih menyisakan rona merah. "Kau ini baru kenal aku beberapa hari, sudah bicara soal rindu-rinduan. Kerjakan ikanmu atau kita tidak akan makan malam hari ini!"
Damian mematung di tempatnya. Hening sejenak. Jika ini terjadi di kantor Nicholas Group, siapa pun yang berani menyentuh dahi sang CEO seperti itu pasti sudah tinggal nama atau minimal kehilangan karier selamanya. Namun di sini, di dapur yang beraroma tumisan bawang ini, Damian Nicholas justru merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Wajahnya yang biasanya dingin dan kaku perlahan memanas. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidupnya, seorang pria yang dikenal sebagai predator bisnis yang kejam itu... tersipu malu.
"Kau... kau baru saja menjentik dahi asisten keluarga Nicholas?" tanya Damian, suaranya sedikit goyah, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya yang baru saja hancur oleh satu jentikan jari.
"Memangnya kenapa? Di sini kau asistenku, bukan asisten keluarga Nicholas," sahut Selene santai, kembali sibuk dengan sayurannya seolah tidak terjadi apa-apa. "Dan di dapur ini, aku adalah bosnya. Jadi, berhenti memasang wajah serius yang dramatis itu."
Damian menyentuh bekas jentikan di dahinya. Rasanya sedikit perih, tapi ada sesuatu yang manis di sana. Keberanian Selene memperlakukannya seperti manusia biasa—bukan sebagai mesin uang atau penguasa yang ditakuti—membuat dinding pertahanan di hati Damian semakin runtuh.
Ia memperhatikan punggung Selene yang sibuk bergerak. Sisi posesifnya yang tadi membara kini berubah menjadi rasa kagum yang tak terbendung. Gadis ini adalah satu-satunya orang di dunia yang berani menentangnya, mengejeknya, bahkan menjentik dahinya, dan ironisnya, Damian justru menyukai itu.
"Jika kau tahu siapa aku sebenarnya, apakah kau masih akan berani menyentuhku seperti ini, Selene?" batin Damian sambil tersenyum kecil tanpa sadar.
"Baiklah, Bos," gumam Damian akhirnya. Ia kembali fokus pada ikan-ikan di depannya dengan semangat baru. "Aku akan menyelesaikan ini. Tapi jangan salahkan aku jika nanti aku menuntut balas atas jentikan dahi ini."
Selene menoleh sedikit, memberikan tatapan menantang. "Oh ya? Bagaimana cara asisten sepertimu menuntut balas?"
Damian menghentikan gerakannya, menatap Selene dengan tatapan yang kembali dalam dan penuh arti. "Akan kupikirkan nanti."