NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.

​Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.

​Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.

​Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianat

"Mengkhianati? Siapa yang bilang aku mengkhianati visi Tuan Iago?" Eldric berhenti sejenak. "Aku hanya memilih untuk menunggu Tuan Iago kembali dengan selamat. Itu agar visinya tidak hancur berkeping-keping oleh aksi gegabah kalian yang tidak sabaran."

"Sampai kapan kau akan menunggu, Eldric?" Otto menekan, pisau di tangannya tak bergeming sedikit pun dari leher Eldric. "Sampai kita semua mati kedinginan di gang busuk ini? Sampai kesempatan emas ini lewat begitu saja dan kita tetap menjadi sampah masyarakat yang bersembunyi di lorong-lorong kotor?"

"Entahlah, Otto." geram Eldric, suaranya dalam dan berat. "Tapi yang pasti, apa yang akan kau lakukan jika rencanamu itu gagal total? Kau sudah memikirkan konsekuensinya dengan matang? Atau kau cuma mau bermain pahlawan kesiangan sendirian tanpa peduli nasib anggota lain?"

Tangan Otto mengepal lebih erat di gagang pisaunya, hingga buku-buku jarinya memutih. Alisnya yang tipis mengerut sedikit, dan sorot matanya yang tajam menusuk wajah Eldric. Kata-kata Eldric itu seperti tamparan keras yang menyadarkannya dari hiruk-pikuk amarahnya. Dia memang belum punya rencana yang sempurna.

"Lihat?" Eldric menghela napas panjang. "Kau hanya akan memperparah keadaan organisasi ini dengan kebodohanmu. Kau mungkin pintar, Otto, tapi kau gegabah."

Dia memalingkan pandangannya dari Otto ke anggota lain yang berdiri kaku membeku di tempat, wajah mereka campur aduk antara ketakutan yang mendalam dan rasa penasaran yang tak tertahankan. "Dengar, prediksi Tuan Iago mengenai keruntuhan Cirland mungkin benar adanya. Mungkin sudah mulai terjadi seperti kata Otto. Tapi jika kalian bertanya padaku bagaimana cara memanfaatkan situasi kacau ini, kalian salah." Pandangan Eldric yang berat menyapu mereka satu per satu. "Pertanyaan sebenarnya adalah: apa yang akan terjadi pada diri kita sendiri di tengah kekacauan ini? Apakah kita akan ikut kena imbasnya? Bahkan jika kita cuma berdiam di sini?"

"Cih..." Otto mendesis pelan, rasa frustrasi memuncak. Kekakuan di bahunya perlahan luruh, tenaganya mengalir keluar. Dia akhirnya menarik pisaunya kembali dari leher Eldric. Tanpa kata lagi, tanpa menatap siapa pun, dia berbalik dan mulai berjalan menjauh dari lingkaran cahaya api yang hangat, menuju kegelapan lorong yang dingin.

"Hei, Otto! Mau ke mana lagi kau?!" teriak Eliana, suaranya pecah. Dia melompat berdiri dan berlari mengejarnya, kakinya yang ramping terbenam dalam salju yang mulai menumpuk tebal di tanah, membuat langkahnya berat dan tersendat-sendat, hampir jatuh.

"Tenang saja, Eliana." Otto menghentikan langkahnya tanpa menoleh sedikit pun. Dia menatap lurus ke depan. "Aku tidak akan membawa nama kalian dalam apa pun yang akan kulakukan. Apa pun yang terjadi mulai sekarang, itu urusanku sendiri, urusanku dengan Tuan Iago."

Melihat sikap Otto yang begitu membangkang, Eldric segera berdiri dengan gerakan cepat. Tangannya yang besar mengepal erat di samping tubuhnya, urat-urat biru di lengan dan lehernya yang tebal terlihat menonjol dan berdenyut hebat. "Oi, brengsek!" teriaknya, suaranya menggelegar. "Kau melangkah sekali lagi dari sana, maka aku akan menganggapmu sebagai pengkhianat Organisasi IV! Dan kau tahu betul bagaimana kita memperlakukan pengkhianat di organisasi ini!"

Kata-kata ancaman itu menggantung berat di udara yang dingin.

Para anggota lain yang tadi duduk atau bersandar di dinding kini semuanya berdiri serempak, tubuh mereka tegang kaku. Wajah-wajah mereka dipenuhi oleh kecemasan yang mendalam dan ketakutan yang nyata, mata mereka bergerak bolak-balik dengan cepat antara Eldric dan Otto.

Mereka saling berbisik dengan suara desisan ketakutan, tapi tak satu pun dari mereka berani untuk menantang langsung perintah pemimpin sementara mereka.

"Tunggu, Eldric!" kata Eliana. "Kau tidak bisa seenaknya! Ini Otto! Dia anggota kita!"

"Diam!" bentak Eldric dengan suara keras. Matanya yang tajam masih tertancap pada punggung Otto yang tak bergerak. "Meski aku cuma pemimpin sementara, akulah yang memegang komando saat ini! Kalian semua harus menghormatiku, sama seperti kalian menghormati Tuan Iago! Dan dia," ia menunjuk Otto dengan telunjuknya yang besar, "tidak menunjukkan hormat sedikit pun padaku!"

"Eldric, kau terlalu jauh!" Eliana semakin geram, tangannya mengepal di samping tubuh.

"Eldric."

Suara itu datang dari Otto. Pelan, jernih, dan menusuk, memotong ketegangan yang membeku. Dia masih membelakangi mereka semua, tapi sekarang kepalanya menoleh sedikit ke samping, cukup untuk memberikan sorot mata birunya pada Eldric dari balik bahunya yang basah.

"Kau sama sekali tidak pantas untuk menjilat permen itu." Ia diam sejenak. "Kau bahkan tak akan pernah mengerti bagaimana rasanya," lanjut Otto.

Kemudian, tanpa menunggu respons atau reaksi apa pun dari Eldric atau yang lain, dia kembali berjalan. Siluetnya yang kurus perlahan-lahan melebur dan menyatu dengan bayangan-bayangan panjang dan tirai salju yang terus turun deras.

Melihat pria berambut perak itu dengan santai menghilang ke dalam kegelapan, tangan Eldric gemetar hebat tak terkendali. Nafasnya keluar sebagai uap putih yang bergejolak, tidak beraturan.

Sementara anggota lainnya, termasuk Eliana, wajah mereka terlihat semakin suram dan muram. Kepergian Otto malam itu bukan sekadar kehilangan satu orang anggota; itu adalah tanda perpecahan yang nyata, pengakuan pahit bahwa mereka kini mungkin harus memusuhi dan memburu salah satu yang terbaik, terpintar, dan paling setia di antara mereka.

Beberapa dari mereka mengerutkan alisnya dalam-dalam, memegang dahi mereka yang mulai berdenyut pusing, menghela napas panjang yang putus asa. Sebagian yang lain hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan lemah, bibirnya komat-kamit seolah sedang berkata sesuatu yang tak terdengar, mungkin doa atau kutukan.

Meski Otto selama ini dikenal sebagai orang yang sangat sulit, menyebalkan, arogan, dan tak bisa diatur, mereka semua harus mengakui satu hal dengan jujur: kepintaran dan kesetiaannya yang membabi buta pada Tuan Iago. Dialah satu-satunya yang paling menyerupai sang Master mereka.

Di malam yang terus digempur tanpa ampun oleh badai salju kecil yang tak kunjung reda, Otto berjalan sendirian. Topeng kelincinya yang retak parah kini tergantung di pinggangnya, terbuka dan basah kuyup oleh salju yang terus menerpa.

Dingin yang menusuk tulang sumsum sepertinya tak ia hiraukan sama sekali. Wajahnya yang muda dan pucat pasi menghadap langsung ke arah angin, mata birunya kini menatap lurus ke depan tanpa fokus, ke arah distrik permukiman yang gelap gulita di kejauhan.

"Seharusnya aku setuju untuk mampir ke kerajaan itu tadi malam," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, sambil memainkan pisau belatinya di antara jari-jarinya yang kaku dengan kelincahan. Pisau itu berputar-putar, menangkap cahaya bulan yang temaram sesekali. "Mungkin di sana ada jawaban yang kucari. Atau setidaknya, tempat berteduh."

...****************...

Esok paginya, sinar matahari musim dingin yang pucat dan lemah, menyusup pelan melalui jendela berkaca buram di rumah Yuki. Cahayanya berdebat lemah dengan sisa-sisa dingin malam yang masih menggantung membandel di udara dalam ruangan, hanya berhasil menerangi partikel-partikel debu yang menari lembut dan lambat dalam sinarnya yang redup.

Iago terbangun dengan perlahan, matanya berat. Dia duduk di tepi tempat tidur daruratnya—hanya beberapa helai selimut wol tipis yang sudah usang dan karung gandum bekas yang diisi jerami kering—di sudut ruang tamu yang bersebelahan langsung dengan dapur.

Kepalanya terasa berat dan penuh, dipadati oleh sisa-sisa mimpi buruk yang tak bisa diingat secara utuh, hanya potongan-potongan gambar yang mengerikan, tapi jauh lebih jernih dan ringan daripada hari-hari sebelumnya.

Yang terpenting, suara-suara yang biasanya berbisik, menggoda, atau memerintah di dalam kepalanya, tetap diam seribu bahasa.

Dari dapur kecil, aroma harum dan menggoda mulai menyebar perlahan, mengalahkan bau kayu basah yang terbakar dan tanah yang lembap. Yuki sudah bangun lebih awal, seperti biasa.

Iago mendengar suara gesekan kayu kering yang dimasukkan ke dalam tungku besi, lalu desisan lemak yang membuncah saat sesuatu.

Aroma itu, campuran sempurna antara bawang goreng yang harum, telur yang gurih, dan lemak hewani yang membuat air liur menumpuk, membuat perutnya yang kosong menggeram keras dan panjang, suaranya nyaring memecah keheningan pagi.

Dia berjalan pelan, hampir tanpa suara, ke ambang pintu dapur, lalu berhenti di sana. Yuki berdiri membelakangi pintu, rambut merahnya yang biasanya tergerai liar dan berantakan kini diikat longgar dengan sepotong kain di tengkuknya, beberapa helai terlepas dan membingkai wajahnya. Bahunya yang ramping bergerak ritmis dan anggun sambil mengaduk sesuatu di dalam panci kecil dengan sendok kayu yang sudah hitam oleh api.

"Pagi," ucap Iago, suaranya masih serak dan berat.

Yuki menoleh, dan senyum hangat yang tulus dan cerah langsung merekah di wajahnya. "Pagi, Iago. Tidur nyenyak?"

"Ya," Iago mengangguk pelan, matanya tak bisa lepas dari kegiatan Yuki yang teratur dan penuh perhatian. "Kau selalu bangun pagi sekali."

"Kebiasaan sejak kecil, terpaksa." Yuki mengangkat bahu dengan ringan. "Harus menyiapkan segalanya sebelum Edward bangun dan mulai rewel. Tapi ia juga sudah bangun sekarang. Anak itu mulai mandiri, tidak perlu dibangunkan lagi."

Seperti yang baru saja dikatakan, suara Edward yang bersenandung kecil terdengar dari ruang tidur sempit di seberang.

Suasana di rumah kayu sederhana itu terasa begitu aman, begitu teratur, dan begitu sangat normal—jauh, sangat jauh dari segala kekacauan berdarah, konspirasi busuk, dan intrik mematikan yang Iago tinggalkan setiap kali dia melangkah keluar dari pintu rumah ini.

Ketika Iago mengalihkan pandangannya dari Yuki yang sibuk, dia mendapati dirinya tertarik dan terpikat pada pemandangan dari jendela kecil di dekatnya.

Pepohonan pinus yang selalu hijau sepanjang tahun di halaman kecil depan rumah, sekarang bertaburan lapisan salju tipis yang berkilauan indah di bawah sinar matahari pagi. Cabang-cabangnya yang lebat bergoyang-goyang lemah ditiup angin pagi yang dingin.

Salah satu pohon, yang batangnya sedikit melengkuk ke bawah karena usia yang tua atau beban salju yang terus menumpuk, tampak seperti seorang kakek tua yang membungkuk.

"Kak Iago!" sapa Edward dengan suara riang penuh energi, muncul dari balik pintu kamarnya dengan baju yang sudah rapi meski rambutnya masih berantakan.

"Oh, hai, Edward. Pagi. Bagaimana kabarmu?"

"Baik, baik banget!" Edward melompat kecil. "Kakak bagaimana? Kepalanya masih pusing?"

"Sudah jauh lebih baik, terima kasih sudah bertanya."

"Syukurlah." Edward melompat kecil sekali lagi dan ikut menatap ke luar jendela dengan antusias, hidungnya yang mungil hampir menempel di kaca yang dingin hingga mengembun. "Wah, nggak kerasa ya bentar lagi Natal. Akan ada pasar malam besar dan pohon Natal raksasa di alun-alun kota, kata teman-teman!"

"Ya, kau benar. Sebentar lagi."

"Bagaimana kalau nanti kita jalan-jalan lihat-lihat sebentar? Pasti banyak sesuatu yang menarik dan seru di toko-toko! Permen-permen warna-warni, hiasan pohon yang bagus, mungkin juga ada mainan baru!" Mata Edward berbinar-binar penuh harap.

"Kamu yakin, Edward?" tanya Iago. "Udara di luar itu sangat dingin, lho. Bisa-bisa kamu masuk angin atau lebih parah."

"Aku sudah sering kok keluar rumah di musim salju seperti ini!" Edward membusungkan dada kecilnya dengan bangga, lalu menoleh pada kakaknya yang sedang sibuk menata hidangan di atas meja kayu sederhana. "Ya kan, Kak Yuki?"

Yuki menoleh padanya, memberikan senyuman yang penuh kasih sayang tapi juga sedikit menggoda dan mengejek. "Oh, tentu saja, Edward sayang. Tapi bukankah terakhir kali kita pergi ke pasar musim dingin, kau merengek-rengek kedinginan? Bahkan dengan syal baru dan sarung tangan tebal?"

Wajah Edward langsung memerah padam, dari ujung telinga hingga ke leher. "Ah, Kak Yuki! Jangan ingat-ingat itu dong, memalukan! Itu kan sudah lama sekali! Aku yakin sekarang aku sudah jauh lebih kuat. Lagipula," dia melirik Iago dengan mata berbinar, "sekarang kan ada Kak Iago yang bisa menemani kita jalan! Pasti bakal lebih seru!"

Yuki tertawa lepas dan jernih. Iago hanya tersenyum hangat, ikut merasakan kehangatan candaan dan kebersamaan itu. Dia sangat menikmati, dan hampir tak percaya akan kehidupan tenang dan normal yang ia jalani beberapa hari terakhir ini bersama kakak beradik yang baik hati itu.

Senyum polos Edward, candaan sederhana Yuki, dan kebaikan tulus mereka yang tanpa pamrih sedikit pun telah membuat hatinya yang selama ini beku dan keras mulai mencair perlahan. Tapi di balik semua kehangatan yang ia rasakan, selalu ada ketakutan yang menggeliat di sudut paling gelap hatinya: ketakutan bahwa suatu hari nanti, kegelapan masa lalunya akan menemukannya dan mencemari cahaya murni mereka.

Ketika akhirnya mereka duduk bersama di meja kayu yang sederhana untuk sarapan, mereka mengobrol dan bercanda gurau dengan akrab. Edward terus bercerita dengan penuh semangat tentang harapannya untuk Natal tahun ini, tentang pohon besar, dan tentang hadiah-hadiah kecil yang ia impikan.

Suasana begitu ringan, begitu hangat, begitu normal, sampai-sampai Iago hampir lupa sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya dan apa yang telah ia lakukan.

Lalu, ketukan pintu terdengar.

Tok. Tok. Tok.

Suara itu datar, tidak terburu-buru, tapi langsung memecah keharmonisan pagi itu.

"Siapa itu pagi-pagi begini?" tanya Yuki dengan sedikit heran, sambil hendak berdiri dari kursinya untuk membukakan pintu.

"Ah, biar aku saja, Yuki. Silakan lanjutkan makan." Iago segera berdiri, lebih cepat dari yang ia kira. Gerakannya hampir seperti tersentak.

"Oh, oke. Makasih, Iago."

Iago hanya menampilkan senyum kecil sebelum berjalan melewati meja mereka menuju pintu. Langkahnya, yang tadi santai dan pelan, kini berubah menjadi tergesa-gesa dan penuh tanda tanya. Jantungnya yang sedari tadi tenang, tiba-tiba berdegup kencang dan keras di dalam rongga dadanya yang sempit. Tangannya yang sedari tadi memegang sendok dengan santai, kini gemetar halus tak terkendali saat dia meletakkannya di pinggir piring.

Dia mendekati pintu kayu yang kokoh dan sedikit lapuk. Tangannya yang dingin dan berkeringat menyentuh balok kayu geser horizontal yang mengunci pintu dari dalam. Setelah palang itu dilepaskan, ia mendorong daun pintu yang berat dengan hati-hati. Engselnya berderit pelan dan panjang.

Saat pintu terbuka perlahan, membuka cahaya pagi yang pucat dan dingin ke luar, mata Iago membelalak lebar. Seluruh udara di paru-parunya seakan tersedot keluar. Nafasnya tersangkut di tenggorokan.

Di sana, berdiri dengan membelakangi cahaya pagi yang silau dan menyakitkan mata, adalah Otto. Tapi ini bukan Otto yang biasa ia kenal selama ini.

Pria muda itu sama sekali tidak memakai topeng kelinci putihnya yang khas. Posturnya yang biasanya tegap kini sedikit membungkuk lemas. Jubah cokelat tebalnya terlihat basah kuyup dan mengeras oleh salju yang meleleh dan membeku kembali, berat dan meneteskan air ke tanah kayu teras depan.

Rambut peraknya yang biasanya tersembunyi rapi di balik topeng atau penutup kepala, kini terurai basah dan berantakan total, sebagian menempel di kening dan pipinya yang pucat pasi hingga kebiruan.

Dia memeluk dirinya sendiri dengan erat, kedua tangannya yang ramping dan pucat mencengkeram lengan jubahnya dengan kuat. Seluruh tubuhnya bergetar hebat dan tak terkendali oleh kedinginan yang sudah mencapai sumsum tulangnya. Bibirnya yang biru keunguan gemetar hebat, tak mampu membentuk kata.

Dan saat dia akhirnya membuka mulutnya dengan susah payah, suara yang keluar dari tenggorokannya adalah bisikan parau, nyaris tak terdengar:

"H-hai, Tuan Iago. M-maaf... maaf sekali sudah mengganggu Anda." Napasnya tersendat, membentuk uap putih yang cepat hilang. "B-boleh saya... boleh saya masuk sebentar? S-sangat... sangat dingin di luar."

1
Panda%Sya🐼
Benci? kerana apa itu, btw tadi aku bacanya Lego pas di baca lagi ternyata Lago 😭
Panda%Sya🐼: Astaga iyakah maaf ya Mungkin kerana huruf I L aku kira Lago /Pray//Facepalm/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!