Aku tidak menyangka jika pernikahanku ternyata membuatku harus memilih antara tetap hidup dengan seorang pembunuh Ayahku atau aku harus membalaskan dendam atas kepergian Ayahku.
Sebuah cerita perjuangan hidup seorang wanita yang besar dengan bertahan hidup di jalanan karena sejak usia sepuluh tahun kedua orangtuanya harus meninggal dengan keadaan tenggelam di laut bersama mobil yang mereka kendarai. Beruntung saat itu ia tidak ikut dengan kedua orangtuanya untuk makan malam dengan kliennya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27. Game Pernikahan Di Menangkan Oleh Gara
Kini di dalam kamar Gara dan Kharisa terdiam dengan duduk di sofa sudut kamar, sementara Kharisa berbaring di atas kasur.
"Apa yang harus ku lakukan saat ini?" gumam Kharisa tanpa henti meneteskan air matanya.
Masih terasa begitu sakit tubuhnya akibat perlakuan Khard yang kasar tadi. Penyesalan, kekecewaan, kesedihan, kemarahan sudah bercampur menjadi satu.
Kini Kharisa hanya bisa meratapi keadaan tubuhnya yang sudah tidak memiliki harapan lagi. "Kharisa kau sudah kotor, tidak ada lagi yang bisa kau banggakan. Apa yang harus ku lakukan saat ini?" Kharisa terus berfikir keras untuk mencari jalan hidupnya.
"Istirahatlah, aku ada perlu di luar." pintah Gara yang segera meninggalkan Kharisa setelah memeriksa di bagian kamarnya tidak ada barang atau benda yang membahayakan.
Kharisa tidak menjawab, ia hanya meneteskan terus air matanya dengan tubuh yang bergemetar.
"Aku sudah melakukan kesalahan di pernikahan ini. Maafkan saya, Tuan Tedy." tutur Kharisa dengan langkah bergemetar turun dari tempat tidurnya.
Gara yang sudah pergi ke kantor polisi untuk menemui Khard meminta Randa menjemputnya. Tuan Tedy dan Nyonya Harina masih tidak mengetahui hal ini.
"Kak Risa." Suara Vano dan Vino serentak menyambut wanita yang terlihat berantakan itu.
Mata sembab membuat mereka berdua kebingungan.
"Kak, apa yang terjadi? apa suami Kakak menyakiti Kakak?" tanya Vino.
"Kalian mau ikut Kakak pergi?" tanya Kharisa.
"Pergi?" tanya Vano heran.
"Kak, semua masalah bisa di selesaikan tanpa harus pergi." tutur Vano.
Kharisa yang mendengar ucapan adiknya merasa benar apa yang di katakan. "Kau benar Vano, tapi Kakak sudah memiliki perjanjian dengan Gara. Dan Kakak tidak akan mau membuat keluarga ini tercemar karena memiliki menantu yang kotor."
"Kalian mau ikut atau tidak?" Kharisa kembali bersuara dengan lemasnya.
"Iya Kak, kami ikut." jawab Vino cepat meski Vano merasa ragu dengan keputusan Kakaknya. Tapi mereka tidak mungkin mau membiarkan kakaknya pergi seorang diri dan terlantar di luar sana tanpa mereka.
"Kakak minta dua kertas milik kalian dan satu pulpen." ucap Kharisa.
Vino dan Vano saling melempar tatapan seolah bertanya apa yang akan ditulis Kakak perempuannya itu, namun tak ada satu pun dari mereka yang berani bertanya pada Kharisa.
"Ayo kita pergi." ajak Kharisa yang melihat di setiap sudut bagian rumah mewah itu untuk memastikan keadaan sedang sepi. Entah kemana suaminya pergi dan mertuanya yang jelas saat ini adalah waktu yang tepat untuk ia pergi dari rumah itu.
"Nyonya Kharisa, anda mau kemana?" tanya salah satu pelayan.
"Kami ingin pergi keluar, Bi." jawab Kharisa cepat dengan ekspresi terkejutnya.
***
"Ayah, Ibu pergi mengecek keadaan menantu kita dulu yah." tutur Nyonya Harina yang masih merasa cemas.
"Loh Kharisa sudah pulang?" tanya Tuan Tedy kaget karena memang Nyonya Harina masih belum menceritakan keadaan aneh yang ia lihat tadi.
"Iya mereka sudah pulang dengan Gara, makanya Ibu mau mengecek mereka dulu yah?" ucap Nyonya Harina.
Nyonya Harina pun segera pergi ke luar kamar meninggalkan suaminya seorang diri, kemudian menghampiri kamar tempat Gara dan Kharisa saat ini.
Tiba-tiba salah satu pelayanan di rumah itu berlari dengan cepat menghampiri Nyonya Harina.
"Nyonya... Nyonya." teriaknya dengan wajah panik dan menggenggam satu kertas di tangannya.
"Ada apa, Bi?" tanya Nyonya Harina.
"Ini Nyonya." ucapnya dengan menyerahkan selembar kertas itu pada Nyonya Harina.
"Surat?" Suara pelan terdengar dari Nyonya Harina.
Dengan cepat tangannya membuka surat itu dan membaca apa yang ada di dalam tulisan kertas putih itu.
"Astagfirullah..." Nyonya Harina begitu syok saat membaca semua tulisan dari Kharisa.
"Bibi, apa Vino dan Vano juga pergi?" tanya Nyonya Harina pada pelayan itu.
"Sepertinya begitu, Nyonya. Karena tadi Bibi sedang membersihkan kamar mereka setelah itu Bibi keluar membersihkan ruang tamu tiba-tiba Bibi melihat kertas di atas meja ini." ujar pelayan itu lagi.
"Ayah, dia harus tahu soal ini." tutur Nyonya Harina yang segera bergegas masuk kembali ke kamar suaminya.
"Ayah." panggilnya dengan wajah panik.
"Ada apa, Bu?" tanya Tuan Tedy.
"Ayah, Kharisa pergi. Ia mengucapkan minta maaf pada kita semua karena dirinya tidak bisa menutupi kekurangannya terus menerus." ucap Nyonya Harina.
Wajah Tuan Tedy mengernyit tak mengerti apa maksud dari istrinya kekurangan.
"Kekurangan apa, Bu? kemana dia perginya?" tanya Tuan Tedy begitu tidak percaya.
"Ayah, Kharisa tidak bisa mencintai putra kita karena dia seorang yang menyukai sesama jenis." terang Nyonya Harina.
"Apa?" hardik Tuan Tedy. Dengan cepat ia memegang dadanya yang kembali sakit dan sesak.
"Ayah!" Nyonya Harina berteriak panik dan memegang tubuh suaminya yang kembali kambuh saat mendengar kabar mengejutkan itu.
"Dada Ayah sangat sakit, Bu." tutur Tuan Tedy.
"Ayah bertahanlah, kita akan segera ke rumah sakit yah. Ayah bertahan sebentar dulu." Nyonya Harina segera memanggil pelayan dan juga supir untuk membantu suaminya masuk ke dalam mobil dan berangkat ke rumah sakit.
Selama diperjalanan Nyonya Harina begitu panik melihat keadaan suaminya yang kembali kambuh, sedangkan Tuan Tedy tak henti-hentinya menyebut nama Kharisa.
"Kharisa... Kharisa...anakku." begitu ucapannya terdengar dengan suara yang bergemetar. Air mata pria itu menetes merasa begitu sakit hatinya mendengar keadaan Kharisa yang sebenarnya.
Selama ini ini Tuan Tedy benar-benar menaruh harapan yang begitu besar pada Kharisa. Meskipun caranya termasuk salah karena telah memaksa Kharisa untuk menikah dengan putranya.
Itu semua Tuan Tedy lakukan karena keegoisannya untuk menyayangi Kharisa sebagai anaknya dan tidak ingin Kharisa menikah dengan pria lain selain Gara.
"Pak, mobilnya di cepatkan sedikit." Suara Nyonya Harina yang begitu panik.
"Baik, Nyonya." jawab supir di depan kemudian menambahkan kecepatan mobil mereka.
***
Sedangkan Gara yang sudah berada di kantor polisi beberapa kali ingin memukul Khard, namun petugas kepolisian segera mencegahnya. Karena itu adalah tugas mereka untuk melindungi siapa pun yang ada di sel itu.
"Kau pria brengsek, bagaimana bisa kau memiliki otak sekotor itu? hah! kurang baik apa Ayahku denganmu brengsek!" pekik Gara yang terus berteriak pada Khard.
"Gara, aku memang pria brengsek tapi cintaku lebih besar pada Kharisa dari pada cintamu. Bahkan aku tahu kau sama sekali tidak memiliki cinta pada istrimu." ujar Khard dengan wajah datarnya.
Ia sama sekali tidak menunjukkan penyesalan jika sudah melecehkan Kharisa dan mengambil keperawanan istri orang.
"Baj*ngan!" pekik Gara yang kembali berdiri ingin memukul Khard. Namun semua petugas sudah kembali mencegahnya.
Tiba-tiba ponsel milik Gara berdering menandakan ada satu panggilan di dalam sana.
"Ada apa, Bu?" tanya Gara yang begitu paniknya saat mendengar isak tangis Nyonya Harina tanpa bisa mengatakan apa pun di seberang telepon.
"Ibu, ada apa?" tanya Gara yang sangat panik.
Gara menyangka jika saat ini Nyonya Harina tengah menangisi Kharisa.
"Ayah, Gara... Ayah." Suara Nyonya Harina terus terhenti tanpa bisa menjelaskan keadaan Tuan Tedy yang sedang kritis di rumah sakit.
"Ibu, katakan ada apa dengan Ayah?" tanya Gara cemas.
"Sekarang Ibu katakan ada di mana?" tanya Gara cepat.
Nyonya Harina yang bisa menyebutkan nama rumah sakit segera mengakhiri panggilan telepon itu.
"Randa, sekarang juga kita pergi ke rumah sakit." ucap Gara.
Gara dan Randa segera berlari menuju mobil kemudian mobil melaju ke rumah sakit tempat Tuan Tedy dirawat.
"Aku ke rumah sakit, dan kau ke rumah setelah ini. Pastikan Kharisa baik-baik saja. Tapi ingat jangan masuk ke kamar, kau suruh pelayan di rumah untuk memeriksa keadaannya." pintah Gara.
"Baik, Tuan." jawab Randa patuh.
khard pgen sutik mati ..
kalo bisa di ubah aja alurnya...
😁😁😁😁
pas detik2 kard mau menodai kharisa bara datang dan belum sempat melakukan tindakannya....
kasian kharisa, 🥺
sy suka bngat ceritanya..😍😍
adakah season ke2 nye😊
ga nyangka uda end
hhhe
tn tedy tepat waktu bgt sii dtg nya