Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Lobi Kama Company suasana mulai lengang. Beberapa karyawan sudah meninggalkan gedung, menyisakan suasana yang lebih sunyi dari biasanya. Meeting Aru dan Kenan telah berakhir lima belas menit lalu, namun Joe belum juga kembali dari parkiran,ditemani Zidan yang masih sibuk mencari mobil milik Kenan karena mereka lupa lantai parkirnya.
“Ayo duduk dulu,” ujar Kenan pelan.
Aru mengangguk dan mengikuti Kenan duduk di kursi tunggu lobi. Ia meletakkan tas di sampingnya, lalu menghela napas panjang. Keduanya pun duduk berdampingan, mengobrol ringan, tanpa Aru sadari sejak tadi Kenan terus menatapnya sambil tersenyum.
“Bagaimana kabar Kai?” tanya Aru tiba-tiba.
Nada suaranya lembut, sarat rindu. Ia sangat merindukan bocah kecil yang selalu memanggilnya bunda itu.
Kenan langsung menoleh, ada kehangatan di matanya. Ia bisa merasakan bahwa pertanyaan Aru adalah bentuk perhatian tulus.
“Kai baik,” jawab Kenan jujur. “Setiap pagi dia selalu merengek minta diantar ketemu kamu. Kepala saya mau pecah dengar tangisannya, Aru.”
Aru tersenyum lebar. Ada rasa hangat yang menyusup di dadanya.
“Kenapa Mas nggak bawa Kai ke rumah aja?” usul Aru. “Rumah kita juga nggak terlalu jauh, kan?”
Kenan terkekeh kecil.
“Mana mungkin saya bertamu pagi-pagi buta ke rumah kamu, Aru. Bisa-bisa saya disemprot ketiga kakak kamu.”
Aru ikut tertawa.
“Nggak apa-apa kok, Mas. Lagian Mas Kenan itu sahabat Phi Bisma, dan anak sahabat ayah juga. Kita kan udah kayak keluarga.”
Kenan menoleh, sorot matanya berubah lebih dalam.
“Justru itu yang bikin saya sungkan. Masa saya sama Kai tiap pagi ke rumah kamu? Nanti tetangga mikir yang aneh-aneh… kecuali satu hal,” Kenan berhenti sejenak
“Apa?”tanya Aru penasaran.
“Kecuali kita nikah.”jawab Kenan
Aru terkekeh, mengira itu candaan.
“Mas Kenan bisa aja. Mana mungkin itu terjadi.”
Kenan menatap Aru lekat-lekat.
“Kalau saya bilang itu mungkin, gimana?”
Deg.
Jantung Aru berdetak lebih cepat. Ia refleks menoleh, dan untuk sesaat dua pasang mata itu saling bertaut. Tidak ada keraguan di mata Kenan,hanya ketulusan.
Namun Aru buru-buru memalingkan wajah.
“Ekstrem juga bercandanya, Mas.”
“Saya nggak bercanda,” ucap Kenan pelan tapi tegas. “Kamu percaya nggak… saya suka sama kamu sejak pandangan pertama, malam itu.”
Degg!
Tubuh Aru menegang. Dadanya bergetar. Ia kembali menatap Kenan tanpa sadar. Suasana di antara mereka terasa begitu dekat hingga tiba-tiba ponsel Aru berdering.
Aru tersentak , ia segera melihat ponselnya. Ternyata itu adalah panggilan telepon dari rumah dan Aru cepat mengangkat telepon.
“Iya, Bik? Ada apa?”
“….”
“APA?” suara Aru meninggi. “Kapan, Bik? Kok Aru nggak tahu?”
Raut wajahnya langsung pucat.
“….”
“Oke. Aru ke rumah sakit sekarang. Makasih, Bik.”
Telepon ditutup.
Kenan langsung berdiri.
“Ada apa, Aru?”
Aru ikut bangkit, suaranya gemetar. “Kak Vian pingsan di rumah. Sekarang dibawa ke rumah sakit.”
Tanpa pikir panjang, Kenan berkata,
“Ayo, saya antar.”
“Nggak usah, Mas. Aru bisa nyetir sendiri.”
Kenan menggeleng.
“Dalam keadaan panik kayak gini? Itu bahaya.”ucap Kenan yang khawatir. Aru terdiam.
Kenan meraih tangan Aru, menggenggamnya lembut.
“Kamu nggak ngerepotin. Saya malah takut kamu kenapa-kenapa.”
Aru akhirnya mengangguk.
Mereka berlari ke luar lobi, bertepatan dengan mobil Kenan yang tiba. Joe sudah di balik kemudi.
Zidan sempat melongo melihat tangan Aru dalam genggaman Kenan.
“Ayo masuk, Aru,” ujar Kenan.
“A-iya, Mas.”
“Zid, tolong urus semua kerjaan mbak ya,” pesan Aru cepat.
“Oke, Mbak,” jawab Zidan tanpa bertanya.
Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di Aryasatya Hospitals rumah sakit milik keluarga Kenan, tanpa Aru sadari.
Aru langsung berlari ke meja resepsionis.
“Sus, kamar pasien atas nama Alvian Naraya Wiratama di mana?”
Suster melirik Kenan, lalu mengangguk paham.
“VVIP lantai lima, kamar 05,bu.”
Aru mengangguk paham dan bergegas menuju Lift. Lift pun membawa mereka ke lantai lima.
Begitu pintu kamar terbuka—
Di dalam sudah ada Ayah Dika, Mama Yasmin, Bisma, Alvaro, dan Nathan yang sedang memeriksa Vian yang terbaring lemah di brangkar itu.
Aru membeku melihat kakaknya terbaring lemah. Air matanya langsung jatuh.
"Aru." ucap mereka terkejut melihatnya.
“Apa yang terjadi…?” suaranya bergetar.
“Mas Alvian baik-baik saja kok, dek, ia cuma dehidrasi aja,” jawab Bisma sambil mencondongkan tubuh mendekat pada sang adik.
" Kenapa bisa begini, bang?” tanya Aru.
“Dek… Kak Vian cuma kecapekan, nggak lebih dari itu. Nggak papa, ya?” jawab Bisma lembut. “Yang penting sekarang dia istirahat.”
Perlahan Aru melangkah menuju ranjang Alvian. Ia mengusap tangan kakaknya dengan lembut, menatap wajah Alvian yang pucat tapi sudah lebih tenang, air matanya terus menetes tanpa suara isak tangis.
Di dekat pintu, Kenan dan Joe berdiri, menatap adegan itu dengan rasa ingin membantu tapi tak ingin mengganggu. Mereka bisa melihat betapa besar kasih Aru terhadap Alvian, dan bagaimana Bisma berusaha menenangkan suasana.
Kenan menoleh ke Joe pelan.
“Sepertinya Aru sangat peduli sama Alvian. Itu membuat suasana jadi lebih tenang,” bisik Kenan.
Joe mengangguk. “Iya, tapi lihat juga Bisma, dia sigap banget ngadepin situasi ini. Bisa dibilang, Bisma kayak perisai buat keluarga mereka.”
Beberapa menit kemudian, Nathan selesai memeriksa kondisi Vian. Ia menatap Bisma dan berkata,
“ Bang Bisma, Om, bisa ikut sebentar ke ruang konsultasi saya? Ada beberapa hal medis yang lebih nyaman dibicarakan di sana.”
Bisma mengangguk cepat.
“Oke, Nathan. Kita ikut,” katanya sambil menepuk bahu Alvian.
Ayah Dika dan Bisma pun keluar dari kamar, meninggalkan Aru, Kenan, Joe, Alvaro, dan Mama Yasmin di kamar. Aru tetap duduk di sisi ranjang Alvian, menggenggam tangan kakaknya, sementara yang lain memilih duduk di sofa, menunggu perkembangan.
Kenan menatap Aru sebentar, kemudian berbisik pelan,
“Dia terlihat lebih tenang sekarang, Aru.”
Aru mengangguk, masih menatap Alvian dengan lembut.
“Ya… cuma dehidrasi. Tapi tetap saja, lihat kakak sakit itu bikin deg-degan.”
Kini suasana sudah sedikit tenang. Kecemasan dan ketakutan yang melanda keluarga Wiratama, kini perlahan memudar dan digantikan dengan senyuman syukur dan lega mendengar kalau Vian ternyata hanya dehidrasi saja.
Bersambung..............