Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teknik Pernapasan Kaisar Naga
Matahari telah sepenuhnya tenggelam, digantikan oleh hamparan bintang yang berkilauan di langit malam Benua Sembilan Awan. Di atas tebing batu di belakang asrama murid luar, angin malam berhembus sejuk, membawa aroma bunga persik dari lembah di bawahnya.
Li Tian masih menatap tangan kanannya dengan takjub. Sarung tangan perunggu itu kini tampak tenang, seolah-olah percakapan dengan Naga barusan hanyalah ilusi.
"Hei, Naga... maksudku, Senior Zu-Long?" panggil Li Tian ragu-ragu. "Kau masih di sana?"
"Tentu saja aku di sini, Bocah. Ke mana lagi aku harus pergi?"
Suara Zu-Long kembali bergema di benaknya, nada suaranya terdengar malas namun angkuh.
"Dan berhenti memanggilku Senior. Panggil aku Leluhur atau Guru. Aku sudah hidup saat nenek moyangmu masih berupa kecebong di lumpur."
Li Tian terkekeh pelan. "Baiklah, Guru Zu-Long. Kau bilang kau bisa membuatku menjadi yang terkuat. Tapi lihat aku... aku hanyalah Murid Luar dengan bakat rata-rata. Pusaka ini... orang-orang bilang ini sampah."
"Sampah?!"
Tiba-tiba, sarung tangan itu memancarkan hawa panas. Li Tian bisa merasakan ketersinggungan yang luar biasa dari roh di dalamnya.
"Mereka yang buta! Dengar baik-baik, Li Tian. Di dunia ini ada jutaan Pusaka Jiwa. Pedang yang bisa membelah gunung, cermin yang memantulkan serangan, atau binatang buas yang memakan matahari. Tapi semua itu memiliki BATAS."
Bayangan seekor naga hijau zamrud yang agung berproyeksi samar di udara di depan Li Tian. Mata naga itu menatapnya tajam.
"Tapi aku... Cakar Naga Pemutus Takdir... tidak memiliki batas. Kekuatanku adalah 'PENGGANDAAN'."
"Penggandaan?" ulang Li Tian.
"Setiap sepuluh detak jantung, aku bisa melipatgandakan kekuatanmu. Satu menjadi dua. Dua menjadi empat. Empat menjadi delapan. Begitu seterusnya. Selama tubuhmu tidak meledak menahannya, kau bisa meninju Dewa sekalipun hingga hancur berkeping-keping!"
Mata Li Tian membelalak lebar. Perhitungan sederhana itu membuatnya merinding. Jika kekuatannya bisa terus digandakan... itu berarti dia memiliki potensi kekuatan tanpa batas!
"Tapi..." suara Zu-Long merendah. "Saat ini tubuhmu selemah tahu. Jika kau mencoba menggandakan kekuatanmu sekarang, tulangmu akan remuk menjadi debu. Kau butuh wadah yang kuat untuk menampung kekuatan Kaisar."
Li Tian mengepalkan tangannya. "Aku mengerti. Tubuhku adalah fondasinya."
"Tepat. Lupakan teknik 'Tempa Tubuh Dasar' yang diajarkan sektemu. Itu sampah. Mulai malam ini, kau akan berkultivasi menggunakan teknikku: Sutra Kaisar Naga Matahari."
Informasi itu mengalir masuk ke kepala Li Tian. Itu bukan sekadar teknik pernapasan, tapi cara untuk menyerap Qi murni dari bintang-bintang dan matahari untuk menempa tulang dan organ dalam.
"Duduklah. Posisi teratai. Fokuskan pikiranmu pada pusar bumi dan bintang utara."
Li Tian menurut. Dia duduk bersila di atas batu tebing. Dia mengatur napasnya sesuai instruksi Zu-Long: satu tarikan napas panjang yang berat, ditahan selama sembilan detik, lalu dihembuskan dalam sentakan cepat.
Pada awalnya, tidak terjadi apa-apa. Namun setelah siklus kesembilan, Li Tian merasakan kehangatan aneh.
Pori-pori kulitnya terbuka. Titik-titik cahaya bintang di langit seolah tertarik padanya. Energi yang sangat murni, jauh lebih padat daripada Qi alam biasa, mulai meresap masuk ke dalam kulitnya.
Rasanya sakit. Panas. Seperti direndam di dalam air mendidih.
"Ugh..." Li Tian meringis.
"Tahan!" bentak Zu-Long. "Jangan jadi cengeng! Rasa sakit adalah bukti kelemahan sedang meninggalkan tubuhmu. Bakar semua kotoran di meridianmu!"
Li Tian menggertakkan gigi. Dia mengingat wajah sombong Li Feng di panggung siang tadi. Dia mengingat tatapan kasihan Tetua Penguji.
Aku tidak mau jadi biasa-biasa saja! teriaknya dalam hati.
Dia memaksa dirinya untuk terus menyerap energi panas itu. Di dalam tubuhnya, suara gemeretak halus terdengar. Kotoran berwarna hitam pekat perlahan keluar dari kulitnya bersama keringat. Otot-ototnya yang dulu kaku kini menjadi lebih lentur dan padat. Tulang-tulangnya menyerap esensi bintang, menjadi sedikit lebih keras dan berkilau.
Satu jam berlalu. Dua jam. Hingga akhirnya fajar menyingsing di ufuk timur.
Ketika sinar matahari pertama menyentuh wajahnya, Li Tian membuka mata.
BOOM!
Aura tak kasat mata meledak dari tubuhnya, menerbangkan debu di sekitarnya.
Li Tian melompat berdiri. Dia merasa... ringan. Sangat ringan. Penglihatan dan pendengarannya menjadi jauh lebih tajam. Dia bisa mendengar suara embun menetes dari daun di kejauhan.
"Ini..." Li Tian mengepalkan tangannya. Dia melayangkan tinju ke udara.
Wush!
Suara angin yang tajam terdengar.
"Ranah Tempa Tubuh Tingkat 7 Puncak!" seru Li Tian tak percaya. "Hanya dalam satu malam, aku naik dari Tingkat 6 Menengah ke Tingkat 7 Puncak?! Biasanya butuh tiga bulan untuk itu!"
"Heh, jangan kaget," kekeh Zu-Long. "Itu baru pemanasan. Kau baru saja membersihkan kotoran di tubuhmu. Perjalananmu masih panjang, Bocah."
Li Tian tersenyum lebar, senyum yang penuh percaya diri. Dia menunduk hormat ke arah sarung tangannya. "Terima kasih, Guru."
"Simpan terima kasihmu. Sekarang, kembalilah ke asrama. Cuci badanmu. Kau bau seperti bangkai tikus."
Li Tian tertawa. Dia memang berlumuran lendir hitam berbau busuk hasil detoksifikasi tubuh. Tapi dia tidak peduli. Ini adalah bau keberhasilan.
Saat dia berjalan turun kembali ke area asrama murid luar, dia melihat papan pengumuman besar di dekat gerbang yang dikerumuni murid-murid.
PENGUMUMAN PENTING
Kompetisi Peringkat Murid Luar Tahunan akan diadakan 1 bulan lagi. Hadiah Juara 1: Pil Pembentuk Tulang Emas & Senjata Kelas Roh Rendah. 10 Besar berhak mengikuti ujian masuk Sekte Dalam.
Mata Li Tian berbinar membaca pengumuman itu.
Kompetisi Peringkat. Tempat di mana Li Feng berencana untuk memamerkan kekuatan barunya. Tempat di mana nasib murid luar ditentukan.
"Satu bulan..." gumam Li Tian, tangannya mengelus sarung tangan perunggunya yang tersembunyi di balik lengan baju. "Cukup waktu untuk membuat kejutan."
Di kejauhan, Han Gemuk berlari terengah-engah ke arahnya. "Li Tian! Li Tian! Gawat!"
"Ada apa, Han?" tanya Li Tian tenang.
"Itu... Li Feng! Dia dan geng-nya sedang memblokir jalan ke kantin! Mereka memaksa murid-murid lemah untuk membayar 'pajak perlindungan' jika mau sarapan! Mereka bilang itu untuk merayakan keberhasilan Li Feng!"
Mata Li Tian menyipit. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan oleh ketenangan yang dingin.
Dulu, dia akan menghindari masalah. Dulu, dia akan menunduk dan mencari jalan lain.
Tapi hari ini, dia adalah pewaris Kaisar Naga.
"Pajak perlindungan, ya?" Li Tian melangkah maju. "Ayo kita lihat, Han. Siapa yang sebenarnya butuh perlindungan hari ini."
"Eh? Li Tian? Kau mau ke sana? Jangan gila! Dia punya Pedang Api!" Han Gemuk panik.
Li Tian tidak menjawab. Dia hanya berjalan mantap menuju kantin. Di dalam jiwanya, Zu-Long menyeringai puas.
"Bagus. Naga tidak bersembunyi di lubang saat ada tantangan. Pergilah. Tunjukkan pada mereka sedikit taringmu."