Adakalanya semua yang buruk belum tentu terjadi atas ke inginan hati seseorang. Terkadang suatu hal dapat merubah seseorang menjadi lebih buruk dari yang kita bayangkan.
Lihat lah seseorang dari sisi lain yang bukan dari sisi pendapat mu saja, namun cobalah utk melihat dari sisi mereka berdiri, maka kamu akan melihat sesuatu hal yang berbeda.
Jangan lupa like, comment, Vote.
Terimakasih readers setia ku❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceritaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Di pagi hari ini, Clara bangun seperti biasanya. Ia membersihkan rumah nya kemudian melangkah menuju kamar mandi.
"Eh, gue kan lagi sakit" gumam Clara tersadar dengan rencana nya tadi malam. Clara kembali ke ranjang nya meraih ponsel yang terletak di nakas.
"Halo Tin, uhuk uhuk uhuk" Sapa Clara dengan akting batuk nya.
"Halo, Ra lo sakit?" tanya Tina cemas.
"I iya Tin, gue meriang nih" balas Clara dengan suara bergetar.
"Yaudah lo istirahat yah, nanti gue bilang sama boss" ujar Tina. Clara tersenyum lebar, rencana nya berhasil.
"Makasih yah Tin, lo baik banget"
"Yaudah, lo istirahat gih besok gue kesana. "
"Kerja yang semangat yah Tin. " ucap Clara menutup telfon.
Satu masalah kelar, ia bisa bersantai tanpa harus bertemu dengan lelaki brensek itu.
Clara melenggang memasuki kamar mandi nya. Menjalankan rutinitas mandi yang membutuhkan waktu 20 menit.
Selesai mandi Clara keluar dari kamar nya dengan penampilan yang segar, bersenandung pelan menuju dapur.
"Astaga!!!!, gue lupa belanja" teriak Clara memeriksa kulkas dan lemari penyimpanan yang terlihat kosong.
Clara mempautkan bibir nya kesal, dengan terpaksa ia harus keluar juga. Ia takut jika nanti saat ia pergi ke mini market bertemu dengan Jeri. Jarak Cafe dan minimal market terbilang dekat.
Clara menghempaskan tubuh nya ke atas sofa, berfikir keras bagaimana cara agar ia tidak bertemu dengan Jeri.
"Bagaimana jika dia meletakkan mata mata di sana?. "
"Bagaimana jika nanti dia kembali menangkap ku?. "
"Aaahhhkkk, " Clara mengacak acak rambut nya frustasi.
Clara kembali duduk dan menatap lurus dengan yakin.
"Gue gak boleh takut, lelaki lemah kek dia gak perlu di takuti. " Ujar Clara meyakinkan dirinya, kemudian bergegas meraih tas selempang dan berjalan keluar.
...***...
Sejak kehilangan jejak Clara, Jeri menjadi yakin jika Clara berada di sekitar sini. Subuh Subuh sekali Jeri sudah memarkirkan mobil nya tak jauh dari cafe tempat Clara berkerja.
Sudah pukul 09.00 pagi Jeri belum juga melihat Clara datang ke cafe itu.
"Kenapa dia gak datang? " tanya Jeri tanpa ada yang menjawab.
Jeri menghempaskan tubuh nya pada jok mobilnya. Merasa resah, hati nya tak tenang jika ia belum menemukan Clara.
Drrrttt Drrrrt
Jeri menatap ponselnya yang terpampang jelas wajah mamanya. Ia menggeser tombol hijau kemudian menempelkan ke telinganya.
"Halo ma? "
"Halo Jer, kamu dah ketemu sama Clara?. " Tanya Rani tak sabaran. Jeri menghela nafas gusar.
"Udah mah, tapi Clara seperti nya gak mau bertemu sama Jeri" lirih Jeri pelan.
"Kamu harus berjuang nak, jangan biarkan kesempatan kedua ini terlewat kan " Ujar Rani menyemangati putra nya.
Di saat berbicara dengan Mamanya Jeri melihat seorang gadis berjalan mengendap endap di depan mobilnya.
"Mah, Jeri tutup dulu yah" Ujar Jeri memutuskan sambungan telfon dengan Rani.
Jeri tersenyum geli, melihat tingkah lucu Clara yang menatap keseliling nya dengan mengendap endap.
Jeri keluar dari mobilnya, kemudian ikut mengendap endap di belakang Clara. Jeri mengetuk pelan bahu Clara menggunakan jari nya.
"Lo cari siapa? " tanya Jeri berbisik.
"Sssttt, jangan berisik ntar mantan suami gue liat gue. " Balas Clara tanpa menoleh.
Deg.
Clara menegang, menyadari suara siapa yang berbisik pada nya tadi. Dengan cepat Clara membalik kan tubuh nya, kedua mata nya melotot melihat Jeri berdiri tak jauh dari nya.
"Sejak kapan lo disini? " Tanya Clara dingin menormalkan posisinya kemudian Melangkah mundur menjauh dari Jeri, namun Jeri lebih cepat menahan lengan Clara dan menatap nya dengan tatapan kerinduan.
"Ra, gue mau ngomong sama lo. "
"Gak, Gue gak mau bicara sama lo. " Hardik Clara sinis.
"Sebentar ajah, gue mohon! " pinta Jeri memelas. Clara memalingkan wajah nya, menghempaskan tangan Jeri.
"Lepasin gue, jangan sentuh gue dengan tangan busuk lo. "
"Ra, maafin gue. "
"Simpan kata kata maaf lo, gue gak butuh itu!. " Ujar Clara dingin, kemudian melangkah pergi menjauh dari Jeri yang mematung menatap Clara yang semakin jauh.
Jeri mengusap wajah nya gusar, ia tak bisa memaksa Clara begitu ajah. Jeri ingin secara perlahan mengajak Clara berbicara bersama nya.
Sementara Clara berjalan dengan suasana hati yang sangat kesal. Ia berusaha menghindari malah bertemu dengan nya. Clara memasuki mini market dan membeli beberapa keperluan yang ia butuh kan malam ini.
Setelah selesai belanja Clara keluar dari mini market dan memberhentikan Taxi. Ia sengaja menaiki Taxi agar Jeri tak tahu jika ia tinggal di daerah sekitar sini.
"Ha, sampai kapan gue harus lari dari dia. " Dengus Clara pelan.
"Pak, ke Star grup yah" titah Clara pada supir taxi.
"Siap neng" balas supir taxi mengangguk.
Menempuh perjalanan sekitar 30 menit akhir nya tiba di Star Grup, Perusahaan Ardi.
Clara memasuki Gedung yang menjulang tinggi, berjalan menuju lift dan menekan tombol lantai dimana Ardi bersemedi dengan berkas berkas yang selalu menumpuk.
Keluar dari lift yang tepat di depan ruangan Ardi. Clara tersenyum ramah pada Jeni sekertaris Ardi.
"Kak, Ardi ada kak? " tanya Clara sopan.
Jeni terlihat ragu, menggaruk lehernya yang tak gatal.
"Ada gak kak?" tanya Clara lagi.
"Itu, dek. Bos sedang ada tamu. Ya ada tamu" balas Jeni tersenyum yang di paksakan. Clara menaikkan alisnya curiga.
"Tamu?, kenapa kakak gugup?. " tanya Clara penuh selidik.
"Eh jangan!! " pekik Jeni tertahan menatap Clara yang telah berlalu cepat.
Blam~
Clara menghempaskan pintu ruangan Ardi. Terlihat lah dua insan manusia yang sedang memadukan kasih sayang.
Ardi tengah merangkul pundak Lisa dengan mesra. Mendengar hempasan pintu Lisa terlonjak kaget dari atas pangkuan Ardi.
"Ups Sorry, gue gak sengaja" ujar Clara dengan ekpresi datar nya. Clara memilih duduk di sofa.
Lisa merengut menghentak hentakan kaki nya menuju sofa dimana Clara tengah duduk cantik.
"Dimana mana ada lo, gak bisa apa lo gak ganggu kesenangan gue. " Dengus Lisa dengan nada kesal.
"Yeee, kalian sih mesum di kantor. Di siang bolong lagi" cibir Clara santai.
"Sudah, sudah jangan bertengkar lagi. " Lerai Ardi yang kini ikut duduk di samping Lisa.
"Lu gak kerja dek?. "
Clara menggeleng menjawab pertanyaan Ardi. Mengingat soal kerja, Clara jadi ingat persoalan nya dengan Jeri tadi.
"Tina chat gue tadi, katanya lo sakit? " ujar Lisa menaik kan alis nya, mulai curiga dengan Clara.
Ardi menatap Clara, kemudian mendekati Clara untuk mengecek suhu tubuh nya dengan menempelkan punggung tangan nya ke jidat Clara.
Clara menghindar dan berpindah duduk di sofa yang jauh dari Ardi.
"Lu apaan sih, selalu ajah kepo soal gue. " Sungut Clara menekuk bibirnya.
"Eh gadis ingusan, gue ini lebih tua dari lo. panggil gue kakak" titah Lisa menatap Clara kesal.
"Yeee tua 2 tahun je. " Cibir Clara.
"Aduhhh kalian ini, gak capek apah debat mulu" ujar Ardi pusing dengan tingkah pacar dan sepupunya ini.
"Hiksss lo bentak gue? " Clara mulai berakting menangis. Begitu juga dengan Lisa, mereka serempak menangis untuk melumpuhkan Ardi yang mulai meninggikan suaranya.
"Kamu marahin aku?? "rengek Lisa tak kalah kencang nya dari Clara.
Ardi bingung, mau membujuk siapa. Kedua nya sama sama menangis, dengan air mata buaya mereka. Ardi akhir nya memeluk kedua nya yang langsung ber tos ria.
...🍀🍀🍀🍀TBC🍀🍀🍀🍀...
ini yg dinamakan klo semua org baik akan cepat mati dan org jahat klo tiba2 baik bisa bahagia tanpa ada karma
awas luw ya... 👊👊👊
👍👍👍
follback ya kak.