NovelToon NovelToon
Dia Lagi Dia Lagi

Dia Lagi Dia Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Pelakor jahat / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Khodijah Lubis

Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesombongan yang Berakhir

Ravindra duduk menyandar di sofa rumah Yunika, jasnya ia lempar sembarangan ke sandaran kursi. Satu kaki disilangkan, rahangnya mengeras, tapi matanya tidak benar-benar gelisah. Lebih tepatnya—terganggu.

Yunika menuangkan wine, mendorong gelas ke arahnya.

“Minum dulu,” katanya lembut. “Kamu kelihatan tegang.”

Ravindra mendengus kecil. “Dia lebay.”

“Siapa?”

“Tafana.” Ia meneguk wine setengah gelas. “Drama khas perempuan ditinggal. Pergi, ngilang, bikin panik. Nanti juga balik.”

Yunika duduk di sebelahnya, jarak mereka dekat, suara direndahkan seolah ini rahasia berdua.

“Iya juga. Palingan dia sekarang balik ke rumah orang tuanya. Dia kan cuma perempuan rumahan, mana ngerti kerja keras kayak kita buat cari uang?"

Ravindra tersenyum miring. “Iya sih. Hidupnya selama ini kan ditanggung sama aku. Uangnya dari mana lagi?”

Yunika tidak langsung menjawab. Ia hanya memainkan ujung gelasnya. “Salah sendiri, jadi perempuan di rumah aja males-malesan. Bukannya kerja."

“Exactly.” Nada Ravindra santai, bahkan nyaris meremehkan. “Cewek kayak gitu paling andalin orang tua. Tipikal. Sekarang sok kuat, sok mandiri. Tunggu seminggu juga lunak.”

Yunika tersenyum kecil, menenangkan. “Jadi kamu mau jemput dia?”

“Bukan jemput.” Ravindra menggeleng pelan. “Aku mau tawarkan pilihan.”

Ia bersandar lebih dalam, nada bicaranya berubah menjadi dingin dan kalkulatif.

“Aku bilang ke dia, kita beresin ini baik-baik. Nggak perlu sidang panjang. Nggak perlu bawa-bawa perselingkuhan ke publik. Dia balik, hidupnya tetap nyaman. Semua orang aman.”

“Dan kalau dia nolak?” tanya Yunika hati-hati.

Ravindra tertawa pendek. “Dia nggak akan nolak.”

Karena Ravindra selalu yakin satu hal:

Tidak ada yang benar-benar pergi darinya.

-oOo-

Rumah itu besar, rapi, terawat. Tidak menunjukkan keluarga yang hidup bergantung pada siapa pun.

Ravindra berdiri di depan pagar, sedikit mengernyit—bukan karena curiga, tapi karena ekspektasinya tidak sepenuhnya cocok.

Seorang perempuan paruh baya membuka pintu. Wajahnya ramah, tapi sorot matanya waspada.

“Selamat sore. Ada yang bisa dibantu?”

“Saya Ravindra,” katanya otomatis. “Suami Tafana.”

Perempuan itu berkedip. “Oh.”

Satu detik terlalu lama.

“Silakan masuk,” katanya akhirnya. “Tapi… Tafana nggak di sini.”

Ravindra berhenti melangkah. “Maksudnya?”

“Iya. Dia sudah lama nggak pulang.”

Nada suaranya bukan menyembunyikan. Bukan berbohong. Justru terlalu jujur.

Ayah Tafana muncul dari dalam. “Kamu cari Tafa?” tanyanya heran. “Kami kira dia sama kamu.”

Ada sesuatu yang bergeser di dada Ravindra. Tipis. Tidak nyaman.

“Dia… tidak menghubungi?” Ravindra mencoba terdengar santai.

“Kami sengaja nggak ganggu, kan kalian sudah berumah tangga,” jawab ibunya. “Anak itu kalau lagi fokus, nggak suka diganggu atau diikut campuri. Dari dulu begitu.”

Fokus?

Ravindra terdiam.

“Kamu mau ke kamarnya?” lanjut sang ibu, ragu-ragu, “Mungkin ada barang yang kamu cari.”

Ia mengangguk terlalu cepat. “Boleh.”

-oOo-

Kamar itu tidak seperti yang Ravindra bayangkan.

Tidak penuh foto dirinya. Tidak berantakan. Tidak kekanak-kanakan.

Dindingnya bersih, satu rak berisi sketchbook tersusun rapi. Di meja, alat gambar tertata. Beberapa sketsa terbuka, potongan gaun, permainan tekstur, detail lipatan kain. Indah. Presisi. Profesional.

Ia menatap rak lama. Susunannya terlalu rapi. Terlalu teratur. Seolah Tafana memang tidak pernah menyisakan ruang untuk seseorang ikut campur.

Ravindra mengambil satu map. Di dalamnya:

sertifikat lomba desain, sertifikat beasiswa, foto pameran kecil. Nama Tafana tercetak jelas.

Tangannya gemetar ringan.

Di sudut lemari, terdapat kotak transparan. Piala-piala tidak dipajang, disimpan di dalamnya. Seolah itu bukan hal besar.

“Aku nggak tahu dia jago gambar,” gumamnya.

Ibunya tersenyum kecil. “Dia jarang cerita. Takut dianggap pamer.”

Ravindra menelan ludah.

“Dia kan kuliah fashion design,” lanjut sang ayah. “Lulusnya cepat. Banyak dosen bilang dia berbakat. Tapi dia jarang pulang setelah menikah. Kami pikir… itu karena dia bahagia sama kamu.”

Kalimat itu tidak ditujukan sebagai tuduhan. Tapi justru itu yang membuatnya menusuk.

Bahagia.

Ravindra menutup map itu perlahan. Untuk pertama kalinya, pikirannya kosong. Semua asumsi yang tadi ia bangun—tentang Tafana yang bergantung, tidak punya pilihan, akan kembali merangkak—retak tanpa suara.

Ia tidak tahu di mana Tafana sekarang.

Dan yang lebih menyesakkan:

ia baru sadar, ia tidak pernah benar-benar mengenal istrinya sendiri.

-oOo-

Di mobil, Ravindra duduk lama sebelum menyalakan mesin.

Ancaman yang tadi ia siapkan—tentang kenyamanan, tentang hidup mapan, tentang “pilihan”—tiba-tiba terdengar bodoh. Usang. Terlambat.

Karena ternyata, Tafana tidak pergi untuk mengancam.

Ia pergi karena ia memang mampu.

Dan Ravindra—yang terlalu lama mengira dirinya pusat dunia—akhirnya berdiri sendirian, tanpa tahu ke mana harus mengejar.

-oOo-

Ravindra kembali ke rumah Yunika menjelang malam. Jasnya masih sama, tapi wajahnya tidak. Ada gurat kusut yang tidak bisa disembunyikan hanya dengan duduk tegak dan meneguk minuman mahal.

Yunika menyadarinya sejak pintu ditutup.

“Kamu kelihatan capek,” katanya pelan, mendekat. “Ketemu Tafana?”

Ravindra menggeleng, duduk tanpa menyahut. Ia mengambil gelas yang sudah disiapkan, menyesapnya tanpa menikmati.

“Orang tuanya nggak tahu dia di mana,” katanya akhirnya. Nada suaranya datar, tapi rahangnya mengeras. “Dan… ternyata dia nggak sebodoh yang kupikir.”

Yunika tidak langsung bereaksi. Ia duduk di sampingnya, mendengarkan, seperti biasanya.

“Maksud kamu?”

“Kamarnya penuh gambar. Dia bisa desain. Banyak sertifikat, piala.” Ravindra terkekeh pendek. “Aku bahkan nggak tahu dia kuliah apa dulu.”

Yunika mengangguk pelan, seolah mencerna. Lalu tersenyum tipis. “Tapi tetap aja,” katanya hati-hati, “dia kan sendirian.”

Ravindra menoleh.

“Orang tuanya nggak tahu, berarti dia nggak pulang ke sana. Kalau begitu…” Yunika memiringkan kepala, suaranya lembut tapi menusuk, “…pasti numpang hidup ke teman-temannya.”

Ravindra terdiam.

“Kamu tahu sahabatnya siapa kan?” lanjut Yunika. “Yang satu itu—punya butik. Sierra.”

Nama itu membuat Ravindra menyipitkan mata. “Dia?”

“Iya. Perempuan-perempuan kayak Tafana biasanya lari ke teman terdekat. Sok mandiri, tapi tetap cari pegangan.” Yunika tersenyum, meyakinkan. “Coba hubungi aja. Kalau dia ada di sana, kamu bisa tekan dari situ.”

Ravindra tidak menjawab. Tapi ia sudah mengeluarkan ponselnya.

Nada sambung terdengar dua kali sebelum diangkat.

“Halo,” suara Sierra terdengar datar.

“Sierra. Ini Ravindra.”

Ada jeda singkat. “Ada apa?”

“Kamu tahu Tafana di mana?”

Nada Sierra tidak berubah. “Nggak.”

Ravindra tersenyum tipis. “Jangan bohong. Kalian sahabatan.”

“Terus?” balas Sierra ketus. “Itu nggak otomatis bikin gue jadi GPS-nya.”

Ravindra menarik napas. “Gue cuma mau bicara sama dia. Kalau dia ada di butik—”

“Nggak ada.” Sierra memotong. “Dan meskipun ada, gue juga nggak wajib lapor ke lo.”

Nada Ravindra mengeras. “Jangan bikin ribet. Ini urusan rumah tangga.”

“Justru karena itu,” jawab Sierra dingin, “gue nggak mau ikut campur.”

“Kalau gue datangi butik lo?” ancam Ravindra. “Bawa urusan ini ke sana?”

Di seberang sana, Sierra tertawa pendek. Bukan geli, sinis.

“Silakan. Butik gue tempat umum. Tapi satu hal,” katanya pelan, tajam. “Jangan harap lo dapat apa pun dari gue.”

Sambungan terputus.

Ravindra menatap layar ponselnya, kesal. Yunika mengamati dari samping.

“Gimana?” tanya Yunika lembut.

“Songong,” jawab Ravindra singkat. “Tapi aku yakin Tafana ada di sekitarnya."

Yunika mengangguk pelan, menepuk lengannya. “Sabar aja. Perempuan cepat capek. Kalau dia kehabisan uang dan tempat, dia bakal balik."

Di tempat lain, Sierra menurunkan ponselnya dengan wajah menegang. Ia langsung membuka chat Tafana.

Sierra:

"Jangan ke butik dulu.

Ravindra barusan nelpon. Nadanya nggak beres.

Kalau lo butuh apa-apa, bilang. Tapi jangan muncul di tempat umum."

Beberapa detik berlalu sebelum balasan masuk.

Tafana:

"Aku aman. Tenang."

Sierra menghela napas, menatap layar.

Ia tahu satu hal dengan pasti: Ravindra belum berhenti.

Dan Tafana—kali ini—tidak akan mudah ditemukan.

-oOo-

Ponsel Ravindra berdering ketika ia baru saja duduk. Nama Mama muncul di layar. Ia menghela napas singkat, lalu mengangkat.

“Vin,” suara ibunya terdengar hangat. “Mama mau bilang terima kasih.”

“Terima kasih?” Ravindra mengerutkan kening. “Untuk apa, Ma?”

“Bajunya,” jawab sang ibu ringan. “Tafana kirim paket ke rumah. Beberapa potong baju. Cantik-cantik sekali.”

Ravindra terdiam. “Baju?”

“Iya. Mama sempat telepon dia, katanya itu hadiah darinya. Rancangan dia sendiri, dan katanya salah satu model yang paling laris.”

Ada jeda. Ravindra menelan ludah.

“Bahan dan potongannya bagus,” lanjut ibunya antusias. “Mama sampai kaget. Mama nggak tahu selama ini Tafana kerja bikin baju. Bajunya kelihatan profesional, Vin. Nggak asal.”

Ravindra memijat pelipisnya. “Oh… ya?”

“Memangnya selama ini dia kerja di mana?” tanya ibunya polos.

“Kamu kan suaminya. Masa nggak tahu?”

Pertanyaan itu menggantung.

Ravindra membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Otaknya kosong. Tidak ada jawaban yang bisa ia susun tanpa terdengar bodoh.

Di seberang sana, ibunya menunggu. “Vin?” panggilnya lembut.

“… nanti aku jelasin, Ma,” jawab Ravindra akhirnya, suaranya kering.

Telepon ditutup.

Ravindra menatap layar gelap ponselnya. Dadanya terasa sempit. Bukan marah, melainkan malu.

Ia baru sadar, selama ini ia hidup bersama seorang perempuan yang bahkan pekerjaannya tidak pernah benar-benar ia kenal.

Ia menarik napas panjang. Mungkin memang ia lalai. Tapi jika Tafana benar-benar ingin dipahami, bukankah seharusnya ia bicara?

1
falea sezi
jangan buat balik ya g rela q dpet laki bekas jalang.. wong perjaka aja banyak
nuraeinieni
akhirnya tafana hamil,,,,,semoga ravindra selamat dan cepat sembuh,spy dengar khbar bahagia.
amilia amel
terus bersinar ya tafana
Serenarara: Iya kaka. Ehh..🤭
total 1 replies
amilia amel
semangat tafana
amilia amel
akhirnya sadar juga kamu
falea sezi
lahh nikmati aja sampah yg kau pungut emas kau buang hehehe.. jangan buat balik Thor gk rela lah q dpet laki bekas kaya ravindra yg bekas jalang ihh jijikkk/Puke/
amilia amel
permata berlian kau lepas
batu kali kau dapatkan
falea sezi
hahaha nunggu ravindra nangess nyesel dan uda buang berlian demi sampah gmna tuh rasanya vindra
Serenarara: Yoi! Biar impas.
total 1 replies
Arin
Biar Ravindra rasakan apa yang namanya di khianati orang yang dia cintai.... Ternyata Yunika ada main sama mantan adik ipar🤣🤣🤣🤣
Serenarara: Biar ngaca dia.
total 1 replies
falea sezi
cpet cerai resmi g rela q balikan ma bekas jalang tafana berhak dpet yg setia thor
amilia amel
masih berhubungan dengan orang-orang di masa lalu Tafana
Arin
Tafana jadinya seperti lagi nostalgia🤭🤭Yang jadi kandidat calon Tafana orang-orang di masalalu, masa masih sekolah😁😁😁
falea sezi
hmmm penyesalan mu bakal g guna raf kehilangannya berlian demi sampah bau
amilia amel
akhirnya 2 sahabat sudah berbaikan dan iru berkat Ravindra
nuraeinieni
baru rasa kehilangan tafana,makanya kejar tafana,tinggalkan yunika.
amilia amel
kapokmu kapan vin....
yang kamu pilih malah obralan, padahal ada yang eksklusif
Frida Fairull Azmii
boleh gak sih thor jodohnya tafa sama flores aja,kaya nya dia tipe setia.. jgn sma ravin lg aah msa iya kakak ipar sama adik ipar udah tau rasa terumbu karang si nika..iyuuuuhh..tp bingung jg sih tafa hamilapa ngga ya,soalnya hadiah aniv nyawktu itu kecil kemungkinan tespek kali yah..
amilia amel
apa bener Sierra sejahat itu?
yang katanya sahabat tapi menusuk s
dari belakang 😓😓
Frida Fairull Azmii
waahh..jdi curiga d balik semua masalah tafana si siera ini nih sumber nya.. soalnya komunikasi antara tafa sma rivan jg gara" d bikin sibuk sma butiknya,kacau sih
nuraeinieni
aduh kenapa sierra jahat sama tafana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!