NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Duda
Popularitas:44k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.

Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Mobil hitam Pak Adam berhenti di depan toko kue Nadia. Setelah berpamitan, Nadia melangkah masuk. Suara lonceng pintu berdenting manis saat ia mendorong pintu kaca.

Wulan di balik counter mendongak, matanya membulat. Rara yang baru keluar dari dapur membawa nampan kue terhenti seketika.

"Ya ampun, Mbak Nadia! Akhirnya muncul juga!" seru Wulan heboh.

Rara menaruh nampannya, lalu mendekat cemas. "Mbak Nadia gimana keadaannya? Sudah pulih pasca kecelakaan kemarin? Kita khawatir banget!"

"Iya, Mbak! Luka-lukanya gimana? Udah nggak ada yang sakit, kan?" timpal Wulan mengamati Nadia dari kepala sampai kaki.

Nadia tersenyum hangat. "Alhamdulillah, aku udah nggak apa-apa."

Nadia mengedarkan pandangan ke sekeliling toko yang rapi. "Gimana toko selama aku nggak masuk? Kalian nggak kerepotan, kan?"

"Aman banget, Mbak!" jawab Rara cepat. "Pesanan kue semua teratasi. Pelanggan juga ngerti pas kita bilang Mbak Nadia lagi ada urusan."

"Iya, Mbak. Yang penting Mbak Nadia sehat dulu," tambah Wulan tersenyum lebar.

Nadia bernapas lega. "Syukurlah kalau gitu. Maaf ya udah bikin kalian kerepotan."

Baru saja Nadia hendak ke belakang menaruh tas, ponselnya bergetar. Nama sang ibu, Mayang, tertera di layar. Ia menarik napas sejenak lalu mengangkatnya.

"Halo, Bu?"

"Nadia! Ya ampun, Nadia!" suara Mayang terdengar sangat bahagia, bertolak belakang dengan nada tingginya tadi pagi.

"Mobilnya baru saja sampai di rumah! Warnanya bagus banget, persis yang Ibu mau!" racau Mayang girang. "Ibu tak sangka kamu secepat ini ngomong sama Arvin! Terima kasih ya, Nadia... ternyata kamu sayang banget sama Ibu!"

Nadia terpaku. Matanya membulat, napasnya tertahan karena syok.

Mas Arvin... langsung belikan sekarang?! Padahal baru tadi pagi dia bilang nanti siang!

Bagaimana mungkin pria itu menuntaskan permintaan fantastis ibunya begitu cepat tanpa bertanya lagi padanya?

"Nadia! Kamu dengar Ibu, kan?" suara Mayang membuyarkan lamunan Nadia. "Bilang sama Arvin ya, terima kasih banyak! Menantu Ibu memang yang terbaik!"

Nadia menelan ludah dengan susah payah. "I-iya, Bu... nanti aku sampaikan ke Mas Arvin."

Setelah mematikan telepon, Nadia berdiri terpaku. Wulan dan Rara yang melihat wajah Nadia mendadak pucat mendekat heran.

"Mbak Nadia? Ada apa, Mbak? Kenapa mukanya kaget gitu?" tanya Wulan cemas.

Nadia mengusap wajahnya, berusaha menguasai diri meski dadanya berdebar hebat.

"Wulan, Rara... maaf ya," ucap Nadia dengan napas masih tidak teratur. "Aku harus pergi sebentar. Ada urusan mendadak."

Rara mengerutkan kening. "Lho, Mbak baru aja sampai. Mau ke mana?"

"Aku mau ke kantor Mas Arvin," jawab Nadia. "Aku titip toko sebentar, ya."

Tanpa menunggu balasan dua karyawannya yang melongo, Nadia merogoh ponsel dan memesan taksi online menuju kantor Arvin.

Di dalam taksi menuju kantor Arvin, ponsel di pangkuan Nadia bergetar. Sebuah pesan dari ibunya muncul di layar.

Nadia membelalak melihat foto-foto yang dikirim Mayang: sebuah SUV putih keluaran terbaru berkilau di halaman rumah. Harganya pasti lebih dari 300 juta rupiah.

Pesan menyusul di bawah foto.

Nadia, makasih ya! Nanti sore Ibu sama Vanya mau jalan-jalan pakai mobil baru ini. Mau pamer dulu ke tetangga sama temen arisan. Menantu kaya memang tiada tandingan!

Nadia mengurut pelipisnya. Ibunya tak tahu malu, sementara Arvin memanjakan tabiat itu tanpa berdiskusi dengannya.

Taksi berhenti di depan gedung pencakar langit megah di pusat kota. Nadia sempat terpaku takjub menatap tingginya gedung kantor milik suaminya.

Taksi berhenti di pelataran gedung pencakar langit berarsitektur modern. Nadia melangkah keluar, sempat terpaku menatap megahnya kantor sang suami.

Mengumpulkan sisa keberanian, Nadia merapikan baju sederhananya dan membetulkan hijab segi empatnya. Ia melangkah masuk menuju meja resepsionis.

"Selamat pagi. Saya ingin bertemu Pak Arvin," tutur Nadia sehalus mungkin.

Resepsionis di balik meja mendongak, menyapu penampilan Nadia dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan meremehkan.

"Mau ketemu Pak Arvin?" tanya wanita itu dingin. "Mbak siapanya beliau? Pak Arvin itu CEO kami, tidak mungkin punya kenalan dengan penampilan... seperti Mbak. Lagipula harus buat janji dulu."

Nadia mengepalkan tangan, menahan emosi.

"Maaf, Mbak. saya istrinya pak Arvin " potong Nadia tegas. "Penampilan seseorang tidak menentukan hubungannya dengan pimpinan di sini. Saya minta dengan sopan, Mbak cukup hubungi sekretaris beliau."

Resepsionis itu malah terkekeh. "Aduh, nggak usah ngajarin saya! Pak Arvin orang terpandang, mana mungkin punya istri dandanannya lusuh begini? Mending keluar sebelum saya panggil security!"

Suara lantang itu menyita perhatian. Karyawan yang lalu-lalang mulai berbisik-bisik memperhatikan Nadia.

"Ada masalah apa ini?"

Suara berat yang familier menggema dari pintu utama. Arvin yang baru selesai rapat berjalan mendekat bersama Bagas, sahabat sekaligus sekretaris pribadinya. Langkah Arvin terhenti saat melihat Nadia dipojokkan.

"Nadia?" Arvin membelalak kaget, lalu melangkah cepat. "Kenapa kamu ke sini tanpa memberitahu saya dulu?"

Nadia yang sudah sesak menepis pelan tangan Arvin. Matanya berkaca-kaca. "Memangnya harus kasih tahu dulu biar aku boleh ke sini? Pantas semua orang meremehkan aku, nggak ada yang tahu kalau aku ini istri kamu!"

Tanpa menunggu balasan, Nadia berbalik berniat pergi. Namun, Arvin dengan sigap menggapai pergelangan tangannya.

"Nadia, tunggu... maafkan saya. Tolong jangan pergi," bisik Arvin.

"Jangan seperti ini, Sayang. Hari ini juga, saya sendiri yang akan mengumumkan status kita ke seluruh karyawan."

Arvin menoleh dingin ke arah resepsionis yang kini pucat pasi. "Gas, tindak tegas resepsionis ini hari ini juga. Saya tidak mau melihat orang yang tidak menghormati istri saya masih bekerja di sini."

Bagas mengangguk tenang. "Oke, nanti aku selesaikan."

Arvin merangkul pinggang Nadia dengan protektif. "Ayo, ke ruangan saya."

Menuntunnya masuk menuju lift eksekutif di bawah tatapan terpaku belasan karyawan.

Pintu ruang kerja CEO tertutup rapat, memutus seluruh kebisingan dari luar. Ruangan bernuansa kayu mahoni dan kaca itu terasa sangat luas. Begitu dibimbing duduk di sofa kulit, Nadia langsung merogoh ponsel dari tasnya dan menyodorkan layarnya tepat di hadapan Arvin.

"Ini alasan aku ke sini, Mas. Maksud Mas Arvin apa belikan Ibu mobil 300 juta lebih tanpa omong dulu sama aku?"

Arvin melirik foto itu sejenak, lalu mendesah pelan. Raut wajahnya mendadak tampak begitu santai. "Nadia, ini terhitung murah. Lagipula sesekali saja, kan?"

Emosi Nadia makin mendidih. "Murah kata Mas?! Buat aku itu mahal banget! Kenapa nggak ngomong dulu?!"

"Saya cuma ingin menuntaskan masalahnya cepat..."

"Gimana aku nggak pusing?!" potong Nadia dengan dada naik-turun. "Mas belum kenal tabiat Ibu! Ibu bakal semakin menjadi-jadi dan minta yang lebih gila lagi! Kenapa harus turuti semua gengsi Ibu tanpa diskusi sama aku?!"

Melihat mata Nadia berkaca-kaca, Arvin tertegun. Ia melangkah maju dan langsung membawa Nadia ke dalam pelukannya.

"Maafkan saya, Nadia... saya salah," bisik Arvin lembut seraya mengusap punggung istrinya. "Lain kali saya janji akan diskusi dulu sama kamu."

Napas Nadia perlahan teratur. Rasa cemasnya terkikis berganti tenang.

Nadia mengurai pelukan lalu mengusap air matanya. "Ya sudah... aku mau pulang saja," ucapnya seraya berdiri.

Sebelum melangkah, Arvin menarik pergelangan tangannya. Dengan satu tarikan lembut, Arvin menarik Nadia hingga terduduk di pangkuannya.

"Ternyata kamu ringan juga ya," goda Arvin santai tanpa berniat melepaskan pelukannya. Pria itu justru mempererat kuncian tangannya di pinggang Nadia.

Wajah Nadia makin memerah panas. "Lepasin, Mas! Aku mau turun!"

"Kenapa?" gumam Arvin tenang. "Saya suami kamu, tak ada yang salah dari apa yang kita lakukan. Lebih dari ini juga takkan ada yang berani protes."

"Mas Arvin!" pekik Nadia tertahan. "Aku mau balik ke toko lagi. Kasihan Wulan sama Rara cuma berdua."

"Nggak boleh," potong Arvin tegas. "Kamu di sini saja sampai saya selesai kerja."

Belum sempat Nadia membantah lagi, Arvin tiba-tiba mengikis jarak dan mencium Nadia mendadak. Nadia terperanjat kaget, matanya membelalak. Ia meronta pelan, berusaha mendorong dada Arvin yang kokoh.

Begitu melepaskan tautannya, Arvin menatap Nadia dengan senyum tipis menggoda. "Bibir kamu rasa strawberry."

Nadia buru-buru melompat mundur dari pangkuan Arvin dan pindah duduk ke ujung sofa terjauh. Ia memegangi bibirnya dengan napas memburu.

"Ih, Mas Arvin! Seram banget, tahu nggak?!" seru Nadia panik. "Lama-lama Mas Arvin udah kayak om-om mesum!"

Arvin terkekeh pelan melihat reaksi istrinya yang ketakutan, menikmati wajah memerah Nadia yang menggemaskan.

Sementara itu di area lobi utama, suasana terasa sangat tegang. Bagas berdiri di balik meja resepsionis dengan tangan terbenam di saku celananya.

Di hadapannya, resepsionis wanita itu berdiri menunduk dalam-dalam. Air mata meluncur deras membasahi pipinya yang pucat pasi.

"Pak Bagas... tolong beri saya kesempatan sekali lagi," ratapnya gemetar. "Saya benar-benar tidak tahu kalau wanita itu istrinya Pak Arvin..."

"Masalah utamanya bukan terletak pada kamu tahu atau tidak siapa beliau," potong Bagas dengan suara rendah namun tajam. "Masalah utamanya adalah sikap kamu."

Bagas melangkah mendekat, menatap wanita itu tanpa simpati.

"Sejak kapan standar pelayanan di perusahaan ini diukur dari pakaian yang dikenakan tamu?" cecar Bagas. "Pak Arvin membangun perusahaan ini dengan profesionalitas, bukan untuk memelihara karyawan yang menilai martabat seseorang hanya dari penampilan!"

"Maafkan saya, Pak... saya khilaf..."

"Khilaf?" Bagas terkekeh sinis. "Kamu sengaja mempermalukan dan memojokkan beliau di depan umum. Kamu sadar siapa yang baru saja kamu permalukan? Nyonya Besar perusahaan ini. Istri sah CEO kamu sendiri."

Resepsionis itu makin tergugu.

"Surat Pemutusan Hubungan Kerja kamu sedang diproses HRD detik ini juga," tegas Bagas tanpa kompromi. "Bersihkan meja kamu sekarang. Security akan mengawal kamu keluar dari gedung ini."

Tanpa membuang waktu lagi, Bagas berbalik arah menuju lift eksekutif, meninggalkan sang mantan resepsionis yang meratapi keangkuhannya di bawah tatapan belasan karyawan lobi.

1
English Lesson
next kk😍😍😍
Fitri Yah
oh .. ferdunan beda agama toh
Fitri Yah
lanjutt lagi kaaa ... terima kasih sdh up banyak
utama
yang sabar Kenzo, bentar lagi adek kamu mau otw🤭
lanjut up kak
utama
lanjut up kak
vita
makasih kak buat ceritanya d tunggu kelanjutannya 💪💪💪
Fitri Yah
iya ajaklah nadya honeymoon, jg anak2mu mas arvin sekalian libur keluarga , pasti anak2 senang .. liburan bareng bunda sama ayahnya 😍
utama
terimakasih sudah up kak🥰
English Lesson
😍😍😍
English Lesson
next kk😍😍😍
Sri Supriatin
Nadia balik n Hana dapat baba😍😍😍🙏🙏🙏
vita
penasaran sm sikap damian nantinya sm nadia, pasti ada rasa takut ya
utama
Alhamdulillah akhirnya Nadia balik lagi kerumah,
sudahlah Ajeng mengalah saja demi si princess Hanna🤭
lanjut up kak
Iffanaya 😽
jgn² Ajeng jodoh nya Ferdinand 🤭
Fitri Yah
dah plg nad ... kasian anak2 di rumah sm suamai kamu. kan dr rumah hanya 1 jam ke rumah ajeng. next main2 lg ke rumah ajeng ajan kenzo jg kl bosen dirumah ya nad hehe .. pasti suamimu ngizinin ko hehe
utama
lanjut up kak
English Lesson
next KK 😍😍😍
vita
semoga nadia luluh kasian kenzo
Fitri Yah
terhuraa huraa aku bacanya thor. buat arvin jnj pelajaran ya ... kl ga mau kehilangan nadya lg. saling terbuka dan jgn sakiti nadya lg kl ga mau lihat nadya kabur2an lg ya. ..
utama
serindu itu meraka sama bunda yaa
lucu adek hana tahu saja cowok ganteng lagi vc🤣
lanjut up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!