Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Kekacauan di ballroom Hotel Grand Imperial berhasil diatasi oleh pasukan pengawal Deluca. Dengan barikade ketat yang menembus kerumunan tamu panik, Bashkar membawa Zela keluar gedung melalui jalur evakuasi khusus VVIP. Konvoi kendaraan serba hitam melaju membelah malam yang memutih oleh guyuran salju, mengawal perjalanan mereka kembali menuju mansion.
Sesampainya di mansion, suasana rumah megah itu mendadak sibuk. Dokter pribadi keluarga Deluca yang sudah dipanggil Rian bergegas datang membawa peralatan medis lengkap.
Di dalam kamar tidur utama yang hangat, Zela duduk di tepi tempat tidur berseprai putih. Dokter paruh baya berjas putih dengan cekatan membersihkan goresan-goresan kecil di lengan dan lutut Zela yang memar akibat terhempas ke lantai marmer tadi.
"Lukanya hanya lecet luar dan memar ringan, Nyonya," terang sang dokter seraya mengoleskan salep antiseptik dengan lembut dan membalutnya dengan perban tipis. "Namun Anda harus banyak beristirahat untuk menetralkan shock dari ledakan."
"Terima kasih, Dok," bisik Zela pelan.
Setelah dokter dan para pelayan pamit mundur meninggalkan ruangan, Zela menyandarkan punggungnya pada headboard tempat tidur. Ia menghembuskan napas panjang, menatap perban di lengannya.
Pikirannya melayang kembali ke detik-detik mengerikan di acara lelang tadi. Bau sangit asap dan dentuman bom masih berbekas jelas di ingatannya.
Kira-kira... siapa ya dalang utama di balik serangan bom tadi? pikir Zela seraya memiringkan kepalanya, mencoba mengingat-ingat kembali detail jalan cerita novel. Setahu gue di plot aslinya, ada beberapa faksi yang pengen menghancurkan Bashkar. Tapi serangan terang-terangan kayak gini... apa ini ulah salah satu musuh lamanya yang dendam setengah mati sama keluarga Deluca?
Zela menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya lebih jauh. Kelopak matanya mulai terasa sangat berat setelah melintasi ketegangan fisik dan emosional yang amat menguras tenaga sepanjang hari.
Ah, sutradara utamanya kan si es batu itu. Lagian pria seberbahaya Bashkar pasti nggak bakalan tinggal diam setelah ada yang berani ngebom dia secara terbuka. Ini mah udah pasti bakal diurus tuntas sama Bashkar sampai ke akar-akarnya, pikir Zela menenangkan diri.
Zela menarik selimut tebalnya hingga sebatas dada, memiringkan tubuhnya di atas kasur empuk, dan dalam hitungan menit, ia sudah terlelap tidur dengan sangat nyenyak.
Sementara itu, di ruang kerja pribadi Bashkar yang temaram dan dingin, atmosfernya terasa sangat pekat dan membekukan darah.
Bashkar berdiri kaku di depan jendela kaca besar, memandangi kegelapan malam dan hamparan salju di luar. Di jemari panjangnya terselip cerutu yang membubungkan asap tebal. Di bahunya, tato naga hitam bersayap yang mengintimidasi tampak samar di balik kemeja hitamnya yang lengannya tergulung.
Klek.
Rian melangkah masuk dengan cepat. Wajah asisten pribadinya itu mengeras, memancarkan keseriusan yang mendalam sewaktu mendekati meja kerja sang majikan.
"Tuan," panggil Rian dengan suara rendah dan tegas. "Interogasi terhadap pria jas abu-abu yang ditunjuk oleh Nyonya Zelara tadi telah selesai dilakukan oleh tim inti kita di markas bawah tanah."
Bashkar tidak berbalik, hanya menghembuskan uap asap cerutunya perlahan. "Siapa yang menyuruhnya?"
"Sesuai dugaan Anda, Tuan," jawab Rian meyakinkan. "Dia adalah orang suruhan dari Faksi Marcano keluarga mafia lama yang wilayah operasionalnya Anda rebut dan hancurkan dua tahun lalu di wilayah selatan. Pemimpin mereka yang tersisa rupanya menyimpan dendam kesumat yang amat dalam dan memanfaatkan acara lelang publik ini untuk membalas dendam dengan berniat menghancurkan Anda menggunakan bom pemicu jarak dekat."
Rian jeda sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang makin berhati-hati. "Pria itu mengonfirmasi bahwa bom patung burung tersebut dirancang khusus untuk meledak tepat di wajah Anda begitu jemari Anda menyentuh permukaannya. Jika saja Nyonya Zelara tidak menerjang dan menarik Anda tepat pada waktunya..."
Pernyataan Rian menggantung di udara, menciptakan keheningan yang amat mencekam.
Bashkar perlahan memutar tubuhnya. Manik mata kelabunya berkilat penuh kegelapan yang mematikan dan kekejaman murni aura seorang penguasa underworld yang tidak mengenal kata ampun bagi siapa pun yang berani mengusik wilayahnya.
"Bereskan Faksi Marcano malam ini juga," perintah Bashkar dengan suara rendah yang amat dingin bagai es. "Ratakan seluruh aset mereka, dan pastikan tidak ada satu pun dari garis keturunan mereka yang melihat matahari terbit besok pagi."
"Baik, Tuan. Segera dilaksanakan," sahut Rian tegas sebelum membungkuk hormat dan melangkah keluar untuk mengeksekusi perintah pembantaian tersebut.
Satu minggu telah berlalu sejak insiden ledakan di Hotel Grand Imperial. Dalam kurun waktu tujuh hari itu, kondisi underworld berguncang hebat setelah Faksi Marcano rata dengan tanah dalam semalam sebuah bukti nyata kekejaman Bashkar yang tak berampun.
Namun di dalam mansion Deluca, suasana justru bertolak belakang. Zela sama sekali tidak membiarkan hari-harinya berlalu tanpa mengganggu sang suami. Setiap pagi, siang, dan malam, ada-ada saja kelakuan ajaib Zela yang membuat rumah megah itu tak pernah sepi: mulai dari membawakan camilan aneh, menempel seperti benalu saat Bashkar membaca dokumen, hingga melontarkan pujian-pujian absurd yang membuat rahang para pelayan mengeras menahan tawa.
Pagi itu, hawa dingin musim dingin masih menyelimuti kota. Di area foyer utama mansion, Bashkar sudah tampil rapi dan gagah dengan setelan jas warna abu-abu gelap buatan penjahit ternama. Pria tegap itu baru saja memakai jam tangan mewahnya sewaktu langkah kaki beritme cepat menghampirinya.
Zela sudah berdiri menyamping, menghalangi jalan Bashkar menuju pintu keluar. Kali ini, wanita itu sudah berbalut mantel bulu hangat berwarna merah muda pucat yang sangat anggun, lengkap dengan tas tangan kecil yang tergantung cantik di lengannya.
"Mas! Hari ini aku ikut ke kantor ya?" seru Zela penuh semangat dengan mata bulatnya yang berbinar-binar.
Bashkar menghentikan langkahnya. Manik mata kelabunya menyipit dingin menatap penampilan istrinya yang sudah rapi seolah siap berangkat liburan.
"Tidak," jawab Bashkar singkat, padat, dan dingin tanpa ragu.
"Ih, kok tidak sih?!" Zela langsung memanyunkan bibirnya tipis, memajukan tubuhnya dan mencengkeram lengan jas tegap Bashkar dengan kedua tangannya. Ia mulai melancarkan aksi rayuan mautnya. "Plissss, Mas! Aku kan belum pernah sama sekali ngelihat kantor kamu yang megah itu! Masa istri seorang bos mafia terbesar kagak tahu bentuk kubikel dan meja kerja suaminya sendiri?"
"Kantor adalah tempat bekerja, Zelara. Bukan tempat wisata," tegas Bashkar datar, mencoba menarik tangannya, namun Zela justru makin erat menggenggamnya.
"Ya ampun, Mas... aku janji deh! Aku di sana enggak bakal ganggu kamu kerja!" Zela menggoyang-goyangkan lengan Bashkar seraya mengedip-kedipkan matanya dramatis dengan raut wajah paling memelas di dunia. "Aku cuma mau duduk manis di sofa ruangan kamu, merhatiin suami aku yang ganteng ini lagi fokus kerja... Boleh ya, Sayang? Kasihan kan istri kamu yang imut ini bosan lumutan terus di rumah seharian? Nanti kalau aku stres terus sakit gimana? Kamu tega nengok aku terbaring lemah?"
Bashkar menatap wanita di depannya ini. Rayuan-rayuan konyol, raut wajah memelas, dan mata berbinar tulus itu seolah menjadi benteng tebal yang tak mempan diintimidasi oleh aura membunuhnya. Setelah hening selama beberapa detik yang menegangkan, Bashkar menghembuskan napas panjang dari hidungnya—sebuah gestur langka yang menandakan pertahanannya sedikit goyah.
"Baik," ucap Bashkar pendek dengan nada pasrah yang sangat tipis.
Mendengar kata sakti itu, mata Zela seketika membelalak gembira!
"YEEEEEEESSSSS!" pekik Zela histeris kegirangan.
Tanpa memberi jeda atau aba-aba pada Bashkar untuk bersiap, Zela yang terlalu bersemangat langsung berjinjit di atas sepatu heels-nya. Ia merangkul leher kokoh Bashkar, memangkas jarak, dan...
CUP!
Sebuah kecupan manis dan nyaring mendarat tepat di pipi kiri Bashkar!
"Makasih banyak Suamiku yang paling tampan se-alam semesta!" seru Zela ceria seraya melepaskan ciumannya dan tersenyum lebar tanpa dosa.
Bashkar membeku di tempat. Cengkeraman jemarinya pada gagang tas kerjanya sempat mengencang seketika. Pria yang ditakuti oleh seluruh gembong kejahatan di kota itu berdiri kaku bagai patung, merasakan bekas sentuhan hangat dan wangi lembut bibir Zela yang tertinggal di kulit pipinya. Manik mata kelabunya menatap Zela dengan kilatan terkejut yang tertahan, tak menyangka wanita ini berani melakukan aksi nekad sejelas itu di depan Rian dan para pengawal yang berdiri kaku di belakang mereka.