NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Tunik Katun Merah Muda

"Apakah... apakah memang sudah sama sekali tidak ada opsi baju cadangan lain yang berwarna normal, Tuan?" tanya Damian dengan nada suara yang teramat ragu. Sepasang kelopak matanya menatap pasrah ke arah jubah tunik pink terang tersebut.

Alan hanya memberikan gelengan kepala pasrah sebagai jawaban mutlak atas keberatan sang Raja Demon. Di posisi seberang mereka, Ethan yang melihat pemandangan visual tersebut hampir saja menyemburkan suara tawa kerasnya ke udara.

Di dalam benaknya, ia mulai membayangkan betapa teramat konyol dan runtuhnya reputasi dari sesosok penguasa superior yang ditakuti di seluruh peradaban benua jika malam ini terpaksa berjalan memakai sepotong tunik katun berwarna merah muda terang pemberian istri Alan di Alfheim. Itu pasti akan menjadi lelucon terbaik abad ini.

Sambil mengembuskan seulas napas panjang yang sarat akan beban mental yang berat, Damian akhirnya terpaksa memakai pakaian katun pink tersebut ke atas tubuhnya. Pilihan ini ia ambil murni demi melindungi kulit dadanya dari gigitan angin malam yang kian menusuk tulang.

Mereka bertiga pun akhirnya kembali melanjutkan langkah kaki. Mereka berjalan menembus lapisan kabut tipis yang mulai turun menyelimuti hamparan ladang gandum dan jagung selama kurang lebih sepuluh menit lamanya dalam keheningan yang canggung.

Secercah harapan baru mendadak muncul di dalam benak Alan ketika sepasang matanya menangkap siluet bayangan dari sebuah bangunan rumah kayu sederhana berlantai dua. Bangunan itu berdiri dengan kokoh di atas area perbukitan kecil di kejauhan depan mereka.

"Akhirnya... kita menemukan tempat persinggahan," gumam Alan dengan nada suara lega yang teramat sangat.

"Semoga saja pihak pemilik rumah kayu tersebut saat ini belum terlelap tidur dan bersedia memberikan kita tumpangan bermalam atau sekadar tempat berteduh dari dinginnya malam."

Meskipun di dalam hatinya masih diliputi oleh keraguan mengenai bagaimana cara menjelaskan eksistensi Damian yang memakai baju pink cerah kepada pemilik rumah, Alan tetap memilih untuk mempercepat ritme langkah kakinya. Ia mulai mendaki jalur jalan tanah setapak menanjak yang menuju ke arah bangunan rumah kayu tersebut.

Ethan dan Damian terpaksa harus melangkah cepat mengekor di posisi belakang punggung Alan dengan perasaan bergejolak.

****

Cklek!

Lucas Emerson memutar kenop pintu kayu kamar tidur putrinya dengan gerakan tangan yang teramat halus dan berhati-hati. Ia berusaha sekeras mungkin agar tidak menciptakan suara gesekan engsel besi yang bising dan mengganggu ketenangan rumah.

Kedua belah telapak tangannya yang kokoh tampak memegang sebuah nampan kayu berukuran sedang. Nampan itu berisi segelas susu putih hangat yang masih mengepulkan uap tipis ke udara, bersandingan dengan semangkuk puding cokelat legit yang permukaannya masih tampak berkilau manis mengundang selera.

"Apakah ada bagian urusan pengemasan barang yang bisa Ayah bantu untuk menyelesaikannya, Nak?" tanya Lucas dengan nada suara lembut yang kebapakan.

Ia melangkah masuk melewati ambang pintu. Pria itu berjalan hati-hati memutari tumpukan gulungan perkamen pelajaran yang berserakan di atas lantai papan, lalu meletakkan nampan kayu tersebut tepat di atas permukaan meja belajar kayu yang saat ini sedang diterangi oleh pancaran lampu lentera minyak berwarna kuning redup.

White, yang pada detik itu sedang dalam posisi tubuh membungkuk di depan sebuah koper kanvas tua di atas tempat tidur, dengan cepat menolehkan kepalanya. Untaian rambut putih salju aslinya tampak sedikit berantakan akibat terlalu sibuk bergerak memilah pakaian sejak sore tadi. Ia menyunggingkan seulas senyuman lebar yang teramat tulus hingga kedua sudut kelopak matanya menyipit indah, lalu memberikan gelengan kepala pelan kepada sang ayah.

"Tidak usah repot-repot, Ayah. Proses pengemasan barang-barang bawaanku sudah hampir selesai seratus persen," jawab White sembari jemari tangannya memasukkan lembar pakaian terakhir ke dalam koper kanvasnya.

"Kalau memang situasinya sudah aman seperti itu, Ayah akan langsung kembali ke kamar sebelah untuk beristirahat. Jangan pernah lupa untuk menghabiskan segelas susu hangat itu dan memakan puding cokelatnya sampai habis, ya!" pesan Lucas penuh perhatian.

White menegakkan posisi punggungnya yang ramping. Kemudian, secara jenaka ia memberikan gestur hormat tangan yang teramat tegas layaknya seorang prajurit militer yang sedang menerima instruksi komando dari atasannya.

"Siap, instruksi dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, Ayah!" ucap White bersemangat.

Lucas terkekeh renyah menyaksikan tingkah laku jenaka putri angkatnya tersebut. Ia membalikkan tubuhnya ke belakang dan mulai melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar.

Namun, baru beberapa inci saja langkah kakinya melewati bingkai pintu kayu, gerakan tubuhnya mendadak berhenti seketika. Ia memutar kembali wujud raganya untuk masuk kembali ke dalam ruang kamar. White yang saat itu sedang sibuk menarik tuas kancing kopernya pun sontak mendongakkan kepalanya dengan kerutan dahi penuh rasa heran.

"Kenapa Ayah mendadak kembali masuk lagi ke kamarku?" tanya White bertanya-tanya.

"Ayah hanya ingin memberikan sedikit peringatan penting kepadamu, Nak. Besok pagi-pagi sekali kita sudah harus bertolak meninggalkan desa ini. Jadi, pastikan setelah kamu menghabiskan susumu, cepatlah padamkan lenteramu dan tidur! Ayah sama sekali tidak mau melihat putrinya kesiangan bangun atau terlambat datang di hari pertama akademi barumu besok," ujar Lucas menggunakan nada peringatan yang sarat akan kasih sayang seorang ayah.

White memberikan anggukan kepala patuh tanpa adanya bantahan. "Baik, Ayah, aku mengerti. Tapi... jika boleh tahu, apakah besok kita akan pergi bertolak menuju ke Kota Vespera menggunakan kuda tunggangan tua milik Ayah?" tanya White dengan nada suara yang diliputi keraguan yang nyata.

Di dalam benaknya, ia mulai membayangkan bagaimana tersiksanya harus menaiki kuda tua milik ayahnya yang pergerakannya lambat untuk perjalanan sejauh itu. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan harus menempuh jarak perjalanan jauh antarkota menuju ke Vespera dengan kendaraan hewan yang lambat.

Perjalanan dari Desa Arcania menuju ke Kota Vespera biasanya memakan waktu tempuh yang cukup melelahkan. Ia bisa dipastikan akan terlambat menghadiri jam masuk akademi barunya jika nekat mengandalkan hewan tua itu.

Lucas tersenyum penuh arti, menampilkan binar misterius di wajah kuyunya. "Tenang saja, buang jauh-jauh kekhawatiran konyolmu itu, White. Ayah tidak akan pernah tega menggunakan kuda tua itu untuk perjalanan jauh besok. Hewan itu memang setia menemani pekerjaan Ayah, namun kecepatannya terlalu lambat untuk mengejar waktu sekolahmu. Besok, Ayah akan mengantarmu pergi menggunakan kereta kuda besar."

White menaikkan sebelah alis matanya tinggi-tinggi. Ekspresi wajah cantiknya dipenuhi oleh rasa sangsi yang amat sangat besar atas ucapan ayahnya.

"Kereta kuda besar? Kereta yang mana yang Ayah maksud?" selidik White.

Sejauh memori yang ia miliki tentang aset kekayaan keluarga mereka yang serbakekurangan, satu-satunya unit angkutan roda empat yang mereka miliki di rumah ini hanyalah sebuah kereta kuda barang pengangkut hasil pertanian. Saat ini kereta tersebut masih terparkir pasrah di bawah bukit, dalam kondisi bak belakangnya dipenuhi oleh puluhan karung rami berisi kentang panenan hari ini yang memancarkan aroma tanah basah yang menyengat.

"Ya... kereta yang mana lagi yang keluarga kita miliki kalau bukan kereta sayur tua itu, Nak. Doakan saja semoga di masa depan nanti hasil panen kita melimpah dan Ayah bisa memiliki cukup uang untuk menyewa kereta yang jauh lebih bagus untukmu," jawab Lucas dengan nada suara jujur apa adanya sembari melangkah mendekat dan menepuk lembut pundak putrinya.

"Tapi... bukankah kondisi bak belakang kereta sayur itu saat ini sedang dipenuhi oleh muatan puluhan karung kentang hasil panen kita tadi siang? Apa Ayah benar-benar merasa yakin mau membawa semua muatan kentang berbau tanah itu ikut serta masuk ke dalam wilayah Kota Vespera?" tanya White ragu.

Lucas tertawa renyah hingga kedua belah bahunya berguncang hebat mendengar pertanyaan polos putrinya. "Tentu saja tidak akan seperti itu skenarionya, White. Besok pagi-pagi buta sekali sebelum matahari terbit, Ayah akan memacu kereta barang itu untuk mengantarkan dan menjual seluruh muatan karung kentang tersebut ke pasar induk kota terlebih dahulu. Setelah kondisi bak belakang kereta sudah kosong bersih, baru Ayah akan langsung berkendara pulang kembali ke rumah untuk menjemputmu. Jadi... pastikan seluruh raga dan barang bawaan koper milikmu sudah berada dalam kondisi siap sedia saat Ayah pulang dari pasar induk nanti."

"Baiklah kalau begitu urusannya, Ayah. Aku berjanji akan bangun jauh lebih pagi dari biasanya besok," ucap White memantapkan tekadnya.

"Bagus sekali. Sekarang cepat habiskan susumu, padamkan sumbu lenteramu, dan segera tidurlah!" tutup Lucas sembari melangkah keluar dan menutup pintu kamar secara rapat.

White menghela napas panjang, menatap segelas susu hangat di hadapannya sebelum beralih menatap jendela kamar yang menghadap langsung ke arah lereng bukit. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, di bawah keremangan malam pedesaan, tiga sosok supernatural asing sedang berjalan mendaki bukit menuju ke arah rumah kayu kediamannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!