NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Nama yang Membuatnya Terdiam

Riri segera membuka pesan yang ternyata dari Dandy.

Dandy: Bu, gimana keadaan Zinnia? Apa sudah lebih baik?

Riri membaca pesan itu sebelum membalas.

Riri: Zinnia baik-baik aja. Ada kabar bagus juga. Dia diterima kerja sebagai asisten desainer perhiasan di sebuah perusahaan. Akhirnya dia bisa kerja sesuai bidang yang dipelajarinya.

Balasan Dandy datang beberapa saat kemudian.

Dandy: Syukurlah, Bu. Aku ikut seneng dengernya. Semoga kerjaannya lancar dan Zinnia selalu sehat.

Dandy menatap layar ponselnya. Ada sedikit kelegaan setelah mengetahui Zinnia mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya. Meski perempuan itu terus menjaga jarak, ia tetap ingin Zinnia baik-baik saja.

Ia membuka percakapan mereka, menimbang beberapa kalimat sebelum akhirnya mengetik.

Dandy: Selamat, Zinnia. Aku ikut seneng kamu akhirnya dapat kerjaan sesuai bidangmu. Semoga semuanya lancar, ya.

Pesan itu masuk ke ponsel Zinnia. Senyumnya perlahan mereda ketika melihat nama pengirimnya. Ia tidak segera membuka percakapan tersebut, tetapi Riri yang duduk di sampingnya sempat melihat notifikasi itu.

Zinnia mengangkat ponselnya, lalu menunjukkan layar kepada ibunya.

Riri membaca pesan yang diperlihatkan Zinnia dari notifikasi.

“Tadi Dandy nge-chat Ibu, nanya keadaanmu. Ibu bilang kamu udah lebih baik dan diterima kerja sesuai bidangmu.”

Zinnia menunduk, memainkan ujung ponselnya.

“Ibu tau kamu belum siap bicara sama dia,” lanjut Riri lembut. “Ibu gak bakal maksa kamu. Tapi Dandy masih khawatirin kamu.”

Zinnia mengangguk kecil. Ia membuka pesan Dandy, lalu mengetik balasan singkat.

Zinnia: Terima kasih.

Ia menatap pesan itu sebentar sebelum menekan tombol kirim. Tidak ada kalimat lain. Tidak ada pertanyaan tentang kabar Dandy, apalagi penjelasan mengapa ia masih menjauh.

Riri memerhatikan putrinya, tetapi tidak berkomentar.

Zinnia meletakkan ponsel di pangkuannya. Ia bersyukur Dandy masih peduli, tetapi rasa bersalah dan ketakutannya belum hilang. Ia belum sanggup menghadapi kemungkinan bahwa laki-laki itu akan terus menunggunya, sementara dirinya sendiri masih belum tahu bagaimana menjalani hidup setelah semua yang terjadi.

Untuk saat ini, ia hanya ingin berfokus pada pekerjaan barunya.

Setidaknya, ada satu hal dalam hidupnya yang mulai bergerak ke arah yang ia harapkan.

***

Pagi itu, Zinnia tiba di kantor lima belas menit sebelum jam kerja dimulai.

Setelah melapor kepada resepsionis, ia menuju lantai tempat tim pengembangan desain perhiasan bekerja. Ia mengenakan blus putih tulang dan celana bahan hitam, dengan rambut diikat rapi. Tas kecil berisi buku catatan dan ponsel tergantung di bahunya.

“Pagi, Zinnia.” Mira menyambutnya di depan ruang kerja.

Zinnia tersenyum, lalu mengangguk sopan.

“Gimana? Siap memulai hari pertama?”

Zinnia segera mengetik di ponselnya dan menunjukkan layar kepada Mira.

Siap. Saya masih sedikit gugup, tapi saya akan berusaha.

Mira terkekeh. “Wajar. Semua orang juga pernah jadi anak baru. Santai aja, ya. Kalo ada yang belum kamu pahami, tanya aja.”

Ia kemudian mengajak Zinnia berkeliling, memperkenalkannya kepada beberapa anggota tim, mulai dari desainer, staf pengembangan produk, hingga karyawan yang bertugas berkoordinasi dengan bagian produksi.

“Ini meja kerja kamu,” kata Mira setelah mereka tiba di sebuah ruangan yang dipenuhi meja dan rak berisi contoh perhiasan. “Untuk sementara, kamu bakal kerja di bawah arahan Bu Nita. Pak Damar juga bakal ikut ngecek hasil kerja kamu, terutama yang berkaitan sama pengembangan desain.

Pak Damar juga akan ikut ngecek hasil kerja kamu, terutama yang berkaitan sama pengembangan desain.”

Zinnia mengangguk sambil mengamati meja yang telah disiapkan untuknya.

Tidak jauh dari sana, Nita sedang berbicara dengan seorang desainer senior. Perempuan itu mengenakan setelan kerja berwarna krem dengan rambut tertata rapi.

“Bu Nita,” panggil Mira.

Nita menoleh.

“Zinnia sudah mulai hari ini. Untuk pengarahan pekerjaannya, saya serahkan sama Ibu.”

Nita mengalihkan pandangan kepada Zinnia. “Oh, ya. Saya ingat.”

Ia tersenyum tipis. “Selamat bergabung. Nanti saya kirimkan beberapa berkas desain yang perlu kamu pelajari. Untuk sekarang, kenali dulu sistem kerja tim dan jangan ragu nanya kalo ada yang kurang jelas.”

Zinnia mengetik balasan.

Terima kasih, Bu. Saya akan mempelajarinya.

Nita membaca layar ponselnya sekilas, lalu kembali berbicara kepada Mira mengenai jadwal rapat.

Zinnia tidak mempermasalahkan sikap atasannya yang terkesan formal. Ia justru merasa lega karena tidak langsung dibebani pekerjaan yang belum dipahaminya.

Selama beberapa jam berikutnya, ia mempelajari arsip desain, mengenali perangkat lunak yang digunakan perusahaan, dan membaca panduan pengembangan produk. Sesekali, ia mencatat istilah teknis yang belum familiar baginya.

Menjelang tengah hari, tenggorokannya terasa kering.

Seorang karyawan perempuan yang duduk di meja sebelah menoleh kepadanya.

“Zinnia, mau ke pantry? Aku juga mau ambil minum.”

Zinnia mengangguk dan mengikuti perempuan bernama Siska itu.

 

Pantry kantor tidak terlalu besar, tetapi cukup ramai saat jam istirahat mendekat. Beberapa karyawan sedang menyeduh kopi, sementara yang lain mengobrol sambil menunggu makanan mereka dihangatkan.

“Eh, ini asisten desainer yang baru, ya?” tanya seorang perempuan yang sedang berdiri di dekat lemari pendingin.

Siska mengangguk. “Iya. Namanya Zinnia. Mulai hari ini dia masuk tim Bu Nita.”

Perempuan itu tersenyum kepada Zinnia. “Aku Rani, dari bagian pemasaran. Selamat bergabung, ya.”

Zinnia membalas senyumnya.

“Jadi, kamu langsung di bawah Bu Nita?” tanya Rani lagi.

Zinnia mengangguk.

Rani melirik Siska, lalu tertawa kecil. “Wah, beruntung banget. Bisa belajar langsung dari desainer utama perusahaan.”

“Benar,” sahut seorang karyawan laki-laki yang baru masuk. “Apalagi Bu Nita itu bukan orang sembarangan.”

Zinnia mengambil gelas dari rak, lalu melirik mereka.

“Maksudnya?” tanya Siska.

Laki-laki itu mendekat sambil membawa botol minum. “Kamu belum tau? Katanya, Bu Nita itu calon nyonya CEO kita.”

Rani langsung menyikut lengan laki-laki itu pelan.

“Pelan-pelan, dong. Nanti kedengaran orangnya.”

“Emangnya kenapa? Semua orang juga udah tau.”

“Belum tentu bener.”

“Lho, kamu sendiri pernah bilang kalau mereka dekat sejak kecil.”

Rani mendengus. "Mereka emang udah kenal dari kecil. Keluarga mereka juga saling kenal. Aku pernah denger Bu Nita cerita, dulu mereka sering ngabisin waktu bareng."

Siska mengangkat alis. “Kalo cuma kenal dari kecil, belum tentu mau nikah, 'kan?”

“Nah, itu dia,” sahut Rani. “Tapi coba kamu perhatiin. Kalo ada acara perusahaan, Bu Nita sering dateng bareng CEO. Terus, dia juga beberapa kali cerita soal keluarga CEO seolah-olah udah akrab banget.”

“Terus?”

“Ya, orang-orang akhirnya nyimpulin sendiri.”

Laki-laki tadi tertawa. “Apalagi kalo ada yang coba deketin CEO, habis denger kabar itu pasti langsung mundur.”

“Emangnya banyak yang mau deketin CEO?” tanya Siska.

“Ya, jelas. CEO masih muda, sukses, dan—”

“Sudah, jangan mulai bahas penampilan orang lagi,” potong Rani sambil terkekeh. “Intinya, banyak yang nganggep Bu Nita bakal jadi istri Pak Arvid.”

Tangan Zinnia yang sedang memegang gelas mendadak berhenti.

Pak Arvid.

Nama itu berulang kali terdengar di kepalanya.

Arvid.

Jangan-jangan ...

Ia menelan ludah. Jari-jarinya terasa dingin, sementara suara percakapan di sekelilingnya perlahan seolah menjauh.

“Eh, Zinnia?” Siska menyentuh lengannya pelan.

Zinnia tersentak dan menoleh.

“Kamu kenapa? Dari tadi diam aja.”

Zinnia menggeleng cepat, kemudian membuka ponsel dan mengetik.

Nggak apa-apa. Cuma agak lelah aja.

Siska membaca jawabannya. “Oh, pantesan. Hari pertama emang lumayan bikin capek.”

Zinnia mengangguk. Ia ingin bertanya lebih banyak. Namun, bagaimana caranya menanyakan sesuatu yang bahkan belum berani ia pastikan sendiri?

Apakah CEO mereka benar-benar bernama Arvid, pria yang pernah memberinya sebuah cincin di pantai?

Apakah pria yang selama ini ia cari ternyata bekerja di gedung yang sama dengannya?

Pikiran-pikiran itu berputar tanpa memberinya jawaban.

 

...🔸🔸🔸...

...“Keberanian bukan berarti tidak takut menghadapi masa lalu, melainkan tetap melangkah meski hati belum sepenuhnya pulih.”...

...“Tidak semua orang yang menjauh ingin dilupakan, dan tidak semua orang yang tetap peduli berani memaksa untuk tinggal. Ada hati yang memilih menunggu, meski tak tahu apakah penantiannya akan berakhir bahagia.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Momz Haikal Sandhika
waduhhhh ...zinnia bisa salah faham ini...
Puji Hastuti
ealah belum apa² dah salah paham,
Dek Sri
Zinnia apa pun yang terjadi kamu harus kuat ya
Siti Jumiati
lanjuuuut kak... maaf baru bisa baca seharian rewang.
Eka Burjo
nah loh, Zinnia jadi salah faham 🫣
Hanima
Lanjuttt Zin
tse
wah belum belum dah salah paham aja nih...
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Marsiyah Minardi
Sepertinya jalanmu masih panjang tuk dapat kebenaran tentang Arvid ya Zinia
Keburu kehamilanmu membesar
Hanima
Kasiann
Puji Hastuti
zinnia tidak mengancam siapapun,tapi kenapa ada yang merasa terancam ya😄
Sastri Dalila
🥺🥺
Eka Burjo
lanjut 👍
RaDja
terima kasih
Hanima
👍👍
Hanima
Lanjut Zinnn
Sastri Dalila
👍👍👍
abimasta
ada yang merasa terancam dengan keberadaan zinnia
Sugiharti Rusli
apa Arvid memang belum punya kekasih atau sudah yah dia sebetulnya saat ini,,,
Sugiharti Rusli
meski saat ini Zinnia belum tahu efek dari malam itu berakibat dia hamil atau tidak yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sepertinya si Arvid sedang mengalami kehamilan simpatik tuh jangan" yah dia,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!