Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.
Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.
Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Alena masih berdiri di dekat jendela ketika bayangan mobil Mikha benar-benar menghilang dari halaman rumahnya.
Entah mengapa, percakapan singkat tadi justru membuat pikirannya semakin kacau. Ada terlalu banyak hal yang tidak sesuai dengan cerita Pras selama ini. Lelaki itu mengatakan bahwa pernikahannya dengan Mikha sudah tidak lagi berjalan baik, tetapi kenyataannya, ia masih memberikan perhatian besar kepada istrinya.
Bahkan sebuah mobil.
Mobil yang seharusnya menjadi miliknya.
Alena meraih ponsel di atas meja, kemudian mencari nama Pras dalam daftar kontak. Ia tidak ingin terus menebak-nebak. Kali ini, ia ingin mendengar penjelasan langsung dari lelaki yang selama ini berjanji akan menikahinya.
Panggilan itu tersambung setelah beberapa kali nada sambung terdengar.
"Hallo, Alena. Ada apa?" Suara Pras terdengar datar dari seberang.
Alena langsung mengembuskan napas kasar.
"Pras, kita perlu bicara."
"Tentang apa?"
"Tentang pernikahan kita!"
Pras terdiam sejenak. "Kita sudah membicarakan itu, Lena. Aku masih menyelesaikan beberapa urusan."
"Urusan apa lagi, Mas?" Alena mulai meninggikan suaranya. "Kamu bilang ingin menikah denganku. Kamu bilang hubunganmu dengan Mikha sudah tidak seperti dulu. Kamu bahkan berjanji akan membelikanku mobil setelah aku kembali. Tapi sekarang, apa yang aku lihat?"
Ia berjalan mondar-mandir di ruang tengah, menahan amarah yang sejak tadi semakin sulit dikendalikan.
"Kamu malah membelikan mobil untuk istrimu! Mobil yang bahkan tidak pernah dia minta!"
Pras menghela napas dari seberang telepon.
"Alena, jangan mulai lagi."
"Jangan mulai lagi?" Alena tertawa pendek, tetapi tidak ada sedikit pun kegembiraan dalam tawanya. "Kamu pikir aku bisa diam saja melihat semua ini? Pras, kamu ingin kita menikah, tapi kamu memanjakan dia dengan uang begitu besar. Setelah menikah denganku, apa yang kamu punya? Apa?"
Suaranya semakin bergetar.
"Apa yang akan kamu berikan kepadaku nanti? Rumah? Mobil? Kehidupan yang layak? Atau aku harus menerima kenyataan bahwa semua yang kamu punya sudah habis untuk perempuan itu?"
"Alena."
"Jawab aku, Mas!"
Pras kembali terdiam.
Keheningan itu justru membuat Alena semakin marah. Ia merasa lelaki itu tidak benar-benar menganggap kekhawatirannya sebagai sesuatu yang penting.
Selama ini, ia sudah menunggu. Ia sudah mempercayai setiap janji yang diberikan Pras. Bahkan, ia berani membicarakan rencana pernikahan mereka kepada orang tuanya karena yakin bahwa lelaki itu akan segera menyelesaikan rumah tangganya.
Namun, sekarang ia justru merasa seperti perempuan yang hanya diberi harapan.
"Mana mobil yang aku minta?" desaknya. "Mana, Mas? Katanya kamu akan membelikannya setelah aku kembali! Kamu sendiri yang menjanjikannya. Sekarang, Mikha yang memakai mobil lebih dulu!"
Pras memejamkan mata sesaat. Ia masih berada di ruang kerjanya, dikelilingi berkas-berkas yang harus diselesaikan. Pertemuan penting masih menunggunya, tetapi Alena justru menelepon untuk memperdebatkan persoalan yang menurutnya bisa dibicarakan nanti.
"Mobil itu aku berikan kepada Mikha karena ada alasan tertentu," jawabnya akhirnya.
"Alasan apa yang lebih penting daripada janjimu kepadaku?"
"Dia telah merawat Ibu selama Ibu sakit," jawab Pras dengan nada datar. "Anggap saja itu bayaran buat dia selama ini."
Kalimat itu membuat Alena terdiam beberapa detik.
Bayaran?
Jadi, menurut Pras, mobil mahal itu hanyalah bayaran atas apa yang telah dilakukan Mikha selama ini?
Meskipun demikian, jawaban tersebut sama sekali tidak membuatnya merasa lebih baik. Justru sebaliknya, ia merasa semakin dirugikan.
"Ya, tapi kamu belikan buat aku juga!" serunya. "Aku sudah cerita kepada orang tuaku, bahkan kepada Mikha, kalau aku bakal beli mobil. Kamu tahu bagaimana malunya aku kalau ternyata semua itu cuma omong kosong?"
"Alena, aku sedang bekerja."
"Aku tidak peduli kamu sedang bekerja atau tidak!"
"Aku tidak bisa membicarakan ini sekarang."
"Pras!"
"Nanti kita ngobrol lagi, sekarang aku masih bekerja."
Sambungan telepon terputus.
Alena menatap layar ponselnya dengan napas memburu.
"Pras!"
Ia mencoba menelepon kembali, tetapi panggilannya tidak segera dijawab. Kemarahannya yang sejak tadi tertahan akhirnya meledak.
Dengan gerakan kasar, ia membanting ponsel itu ke atas sofa.
"Brengsek!"
Dadanya naik turun. Wajahnya memerah, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.
Ia tidak habis pikir bagaimana Pras bisa bersikap setenang itu ketika dirinya sedang dipenuhi kekhawatiran. Lelaki itu seolah-olah menganggap semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan mengatakan nanti.
Padahal, yang dipertaruhkan bukan sekadar sebuah mobil.
Melainkan masa depan yang selama ini dijanjikan kepadanya.
Alena kembali duduk di sofa, lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Ia tidak ingin menikah dengan lelaki yang nantinya hanya bisa memberinya janji. Ia ingin kehidupan yang nyaman, rumah yang layak, kendaraan pribadi, dan seorang suami yang mampu memenuhi kebutuhannya tanpa membuatnya merasa harus bersaing dengan perempuan lain.
Terlebih lagi, perempuan lain itu adalah istri sah lelaki yang dicintainya.
Mikha.
Nama itu kembali membuat rahangnya mengeras.
Selama percakapan mereka tadi, Mikha memang tidak pernah menyombongkan apa pun. Namun, justru sikap tenang perempuan itu yang membuat Alena merasa terancam.
Mikha memiliki status sebagai istri Pras. Ia tinggal di rumah yang sama dengan lelaki itu, pernah merawat ibu mertuanya, dan sekarang bahkan mendapatkan mobil baru.
Sementara Alena?
Ia hanya memiliki janji.
Janji yang belum tentu ditepati.
Tidak lama setelah mobilnya meninggalkan rumah Alena, Mikha menyadari sesuatu.
Dompetnya tertinggal.
Perempuan itu meraba tas kecil yang diletakkan di kursi penumpang, kemudian memeriksa bagian dalamnya sekali lagi. Namun, dompet berwarna cokelat yang biasa dibawanya itu tidak ditemukan.
Mikha mengerutkan kening.
Ia ingat sempat mengeluarkan dompet tersebut ketika hendak mengambil kartu nama yang terselip di dalamnya. Mungkin ia meletakkannya di meja ruang tamu Alena dan lupa memasukkannya kembali ke dalam tas.
Mikha menghela napas.
Dompet itu berisi beberapa kartu penting dan uang tunai. Ia tidak mungkin membiarkannya tertinggal begitu saja.
Akhirnya, ia memutar arah kendaraan dan kembali menuju rumah Alena.
Sesampainya di sana, Mikha memarkir mobil di halaman, kemudian turun sambil membawa tas kecilnya. Ia berjalan menuju pintu depan yang ternyata tidak tertutup rapat.
"Permisi, Alena?" panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Mikha baru hendak mengetuk ketika mendengar suara Alena dari ruang tengah.
"Pras, kamu ingin kita menikah, tapi kamu memanjakan dia dengan uang begitu besar!"
Langkah Mikha langsung terhenti.
Ia mengenali nama suaminya.
Perempuan itu berdiri di dekat pintu, sementara suara Alena terdengar semakin jelas dari dalam rumah. Rupanya, Alena sedang menelepon Pras.
Mikha sempat berniat mengetuk pintu dan memberitahukan kedatangannya. Namun, ketika mendengar kalimat berikutnya, tangannya perlahan turun.
"Setelah menikah denganku, apa yang kamu punya? Apa?"
Mikha membeku.
Ia tidak pernah menyangka akan mendengar percakapan semacam itu secara langsung.
Dengan hati-hati, ia melangkah masuk ke ruang tamu. Ia tidak berniat mencuri dengar pembicaraan pribadi orang lain, tetapi namanya sendiri disebut dalam percakapan tersebut.
Dan ketika seseorang membicarakan dirinya bersama suaminya, tentu sulit baginya untuk berpura-pura tidak mendengar.
"Jawab, Mas! Mana mobil yang aku minta? Mana? Katanya kamu akan belikan setelah aku balik? Sekarang malah Mikha yang pakai lebih dulu!"
Mikha menunduk, menatap lantai beberapa saat.
Jadi, inilah alasan Alena terlihat begitu gelisah ketika melihat mobil yang diberikan Pras kepadanya.
Bukan semata-mata karena perempuan itu terkejut melihat hadiah tersebut.
Alena menginginkan mobil yang sama.
Bahkan, dari nada bicaranya, Mikha bisa menangkap bahwa persoalannya jauh lebih besar daripada sekadar keinginan memiliki kendaraan baru.
Alena sedang memikirkan apa yang akan ia dapatkan dari Pras setelah mereka menikah.
Mikha berdiri diam di dekat sofa ruang tamu. Tas kecilnya masih tergenggam di tangan, sementara dadanya terasa sesak oleh kenyataan yang perlahan terungkap.
Lalu, suara Pras kembali terdengar dari pengeras suara ponsel Alena.
"Dia telah merawat Ibu yang sakit. Anggap saja itu bayaran buat dia selama ini."
Mikha tertegun.
Bayaran?
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭