NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:447k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Pagi itu cahaya matahari masuk melalui jendela ruang makan dengan lembut, menyinari debu-debu halus yang beterbangan di udara. Biasanya, di jam seperti ini, aroma nasi hangat dan tumisan sudah memenuhi rumah. Bunyi wajan, suara sendok yang beradu dengan piring, serta langkah Naya yang bolak-balik dari dapur ke meja makan adalah musik pagi yang sudah terlalu lama Aslan anggap biasa.

Tapi pagi ini berbeda. Meja makan tampak kosong. Tidak ada piring, tidak ada gelas, tidak ada satupun makanan yang tersaji di atas meja makan itu. Hanya vas bunga kecil di tengah meja yang berdiri sunyi.

Aslan turun dari tangga dengan langkah yang masih sedikit berat. Rambutnya masih basah sehabis mandi, kemeja kerja yang dikenakannya belum sepenuhnya dirapikan. Matanya langsung mencari sosok yang biasanya sudah berdiri di dapur sejak subuh.

Yang ia temukan justru Naya yang sedang duduk di sofa ruang tamu, membungkuk untuk memasukkan kaki ke dalam sepatu high heels berwarna hitam. Blus putih rapi yang dikenakannya terlihat baru, celana bahan abu-abu gelap memeluk pinggangnya dengan pas, dan rambutnya diikat setengah dengan penampilan yang sangat berlawanan dari kaos oblong dan celana rumah yang biasa ia pakai setiap pagi.

Aslan berhenti di kaki tangga. “Kamu mau ke mana? Kenapa tidak masak?” tanyanya, nada suaranya campur antara heran dan kesal.

Naya tidak menoleh. Jari-jarinya masih sibuk merapikan tali sepatu. “Tidak sempat,” jawabnya datar. “Lagian percuma juga masak. Toh kamu tidak pernah memakannya.”

Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti batu yang dijatuhkan ke air tenang. Aslan merasa sesuatu di dadanya berdenyut tidak nyaman. Dulu Naya tidak pernah berbicara seperti itu. Dulu ia selalu lembut padanya.

Sekarang, wanita di hadapannya bahkan tidak bersedia menatapnya.

Naya akhirnya berdiri. Ia merapikan sedikit blusnya, mengambil tas kulit cokelat muda yang sudah siap di samping sofa, lalu berjalan menuju pintu utama dengan langkah yang mantap.

“Aku pergi dulu,” ucapnya singkat, tanpa menoleh.

“Kamu mau ke mana, Naya?” suara Aslan sedikit meninggi. Ia melangkah maju, hampir berlari kecil. “Naya!”

Naya hanya mengedikkan bahu pelan, seolah pertanyaan itu tidak cukup penting untuk dijawab. Tangannya sudah memegang gagang pintu. Detik berikutnya, pintu terbuka, lalu tertutup kembali dengan bunyi yang cukup keras.

Aslan berdiri mematung di tengah ruang tamu. Napasnya berat. Tinjunya terkepal di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Rumah yang biasanya penuh rengekkan Naya yang berusaha membujuknya, kini menjadi sepi.

Ia memandang meja makan yang kosong, lalu ke arah pintu yang baru saja dilalui istrinya. Pertanyaan yang sama terus berputar di kepalanya, semakin keras, semakin mengganggu.

Apa yang terjadi? Kenapa dia berubah? Sejak kapan Naya bisa pergi tanpa izin, tanpa penjelasan, tanpa rasa takut?

Aslan menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar. Untuk pertama kalinya sejak pulang dari Bandung, rasa percaya dirinya yang selama ini utuh mulai retak sedikit demi sedikit. Ia terbiasa dengan Naya yang menunggu, Naya yang menurut, Naya yang selalu ada. Bukan Naya yang berani mengabaikannya seperti sekarang.

*****

Aslan tiba di kantor dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Wajahnya masih menyimpan sisa ketegangan pagi tadi. Jas yang dikenakannya rapi, tapi kerahnya sedikit kusut karena sempat ia tarik saat menahan kesal di rumah. 

Ting

Lift terbuka di lantai tertinggi, dan begitu ia melangkah keluar, Faris sudah berdiri menunggu di depan pintu ruangannya.

“Selamat pagi, Tuan,” sapa Faris dengan senyum formal yang sudah hafal di luar kepala.

Aslan hanya mengangguk singkat. “Pagi.” Ia mendorong pintu ruangannya, lalu langsung duduk di kursi kebesaran di belakang meja kayu gelap yang luas. Tubuhnya bersandar ke sandaran kulit hitam, jari-jari tangan kanan mengurut pelipis yang sedikit berdenyut. Pagi ini kepalanya terasa lebih berat dari biasanya.

“Tolong bacakan jadwalku hari ini,” pintanya tanpa membuka mata.

Faris membuka tablet di tangannya, lalu membaca cepat. “Tidak ada jadwal pertemuan dengan siapa pun hari ini, Tuan. Hanya di kantor untuk menandatangani semua berkas yang sudah mendekati deadline. Ada beberapa kontrak dan laporan keuangan yang harus diselesaikan sebelum sore.”

Aslan mengangguk pelan. “Baik. Kau boleh keluar.”

Faris mengangguk, lalu menutup pintu dengan hati-hati. Ruangan kembali sunyi. Hanya bunyi AC yang samar dan detak jam dinding yang memenuhi keheningan. Aslan membuka mata, menatap langit-langit putih sejenak, lalu menghela napas panjang. Bayangan Naya yang pagi tadi pergi tanpa menoleh masih terngiang. 

Tiba-tiba ponsel di atas meja bergetar kencang.

Drrt…

Drrt…

Layar menyala. Nama Liza muncul jelas.

Aslan menghela napas, lalu mengangkatnya.

“Ya.”

“Sayang…” suara Liza langsung terdengar manja di seberang. “Kamu ke mana saja? Kenapa pesanku tidak dibalas?”

Aslan mengerutkan kening. Ia menarik ponsel dari telinga sebentar, memeriksa daftar pesan. Benar saja, tidak ada notifikasi baru dari Liza sejak semalam. “Aku tidak ke mana-mana, Sayang. Tidak ada pesan yang masuk ke ponselku, makanya aku tidak membalas,” jawabnya tenang, meski di dalam hati ia sedikit heran.

“Masak sih?” Liza terdengar tidak percaya. “Kemarin aku kirim WhatsApp ke kamu, kok. Panjang lagi. Aku bahkan sudah bilang kalau aku kangen.”

“Serius, Sayang. Tidak ada pesan yang masuk ke nomorku,” kekeh Aslan, kali ini lebih tegas. Ia bahkan membuka aplikasi pesan sekali lagi hanya untuk memastikannya.

Di seberang, Liza terdiam sejenak. “Aneh… ya sudah deh. Sekarang kamu lagi di mana? Aku kangen.”

Belum sempat Aslan menjawab, notifikasi baru masuk. Aslan menelan ludahnya ketika melihat foto yang baru saja dikirim Liza, wanita itu berpose di atas ranjang dengan mengenakan piyama yang sangat minim, senyum menggoda, dan tatapan yang sengaja dibuat menggoda.

Aslan menggeser rahangnya, menahan napas sejenak. Ia menatap foto itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu menghela napas berat. “Jangan menggodaku, Sayang,” katanya pelan, suara serak. “Aku lagi di kantor.”

Liza tertawa kecil di seberang, puas. “Kalau begitu pulang cepat. Atau… aku yang ke Jakarta saja?”

Aslan tidak langsung menjawab. Dia bingung, apa yang akan terjadi jika Naya tahu kalau dirinya membawa wanita ke rumah.

“Nanti saja, kuta harus menunggu momen yang tepat" jawabnya.

Ia mematikan telepon sebelum Liza sempat membalas lagi. Ponsel diletakkan kembali di meja. Aslan menyandarkan kepala ke sandaran kursi, menutup mata, dan mengusap wajahnya kasar.

Di satu sisi, ada Liza yang manja, menggoda, dan selalu siap. Di sisi lain, ada Naya yang tiba-tiba dingin, cuek, dan tidak lagi menunggu.

Aslan merasa kedua dunia yang selama ini ia kendalikan, mulai bergerak di luar kendalinya.

1
Cicih Sophiana
semoga kamu bahagia Nay... dapat laki laki yg baik dan setia
Cicih Sophiana
cie yg mau menikah sape segitu semangat nya...
Cicih Sophiana
klo di masakin suka aja deh... klo masak sendiri kan males🫢
Cicih Sophiana
kelamaan nih perang nya... hancurkan aja deh Aslan dan si pelakor nya
Cicih Sophiana
cie udah panggil sayang nih..
Cicih Sophiana
aq menunggu karma untuk si Aslan dan si Lusi... enak sekali jadi mereka orang jahat gak dapat balasan..
Cicih Sophiana
eh Aslan klo mau nyalahin... salah kan diri sendiri kamu yg egois... harta gono gini kamu mau menguasai sendiri...
Rini Maryani
lanjut thoor semangat
Cicih Sophiana
semoga bahagia Naya lupakan masa lalu mu bersama si Aslan... sosong masa depan mu bersama Erlan..
Cicih Sophiana
masih kurang tuh penderitaan Aslan dan si Liza seharus nya anak nya tdk selamat... kan kasian sama anak nya krn dia jd anak haram...
Cicih Sophiana
hak kamu apa Liza? nikah pun nikah siri yg gak punya hak... anak nya pun gak ada hak krn tdk terdaftar di negara... kamu mau nuntut siapa ? gak akan bisa biar kepengadilan pun
Cicih Sophiana
semoga yg jahat mendapat balasan yg setimpal... yg baik kedepan nya bahagia
Cicih Sophiana
yah awasin aja terus....
Cicih Sophiana
nih Aslan Liza..🤛🤛
Sholawat Nariyah
AUTHOR GUOBLOK membiarkan tokohu utamanya tdk tegas, dan tenggelam dlm kebodohan yg berlarut 👎
Cicih Sophiana
knp selamat... dulu Naya di larang punya anak... seharus nya keguguran dong si pelakor nya jgn di kasih bahagia mereka
Cicih Sophiana
terus lah begitu semakin hancur, rumah tdk terbayar, si Liza keguguran 😂 si Aslan bangkrut
Cicih Sophiana
sukur lah akhir nya rumah itu terjual... wah si Liza klo tau langsung stres dan langsung keguguran
Cicih Sophiana
untuk si Aslan cobalah sadar diri... itu emang sdh hak nya Naya... dia bukan merehut tp menganmbi hak nya Aslan..
Cicih Sophiana
hancur kan mereka... mereka yg serakah dan mereka yg zolim sama istri sah tapi mereka sll menyalah kan Naya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!