“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
Pelukan itu terasa begitu canggung. Karena selama enam tahun lamanya hidup di bawah atap yang sama, ia tak pernah sekalipun memeluk Nakula selayaknya seorang ayah kandung yang penuh kasih. Arjuna lebih sibuk dengan tugas-tugasnya.
"Maafkan Papa, Nak," ulang Arjuna, kali ini suaranya terdengar jauh lebih jelas dan bergetar. "Papa sudah terlalu terlambat menyadari semuanya."
Tubuh Nakula sempat menegang kaku selama beberapa detik dalam pelukan hangat itu. Trauma masa lalunya sempat berontak. Namun perlahan-lahan, kedua tangan kecil bocah itu terangkat, melingkar memeluk punggung tegap ayahnya erat-erat.
"Papa..."
Hanya satu patah kata itu yang keluar dari bibir mungil Nakula.
Namun, sapaan sederhana itu sudah lebih dari cukup untuk membuat air mata seorang jenderal militer yang terkenal kejam runtuh tanpa mampu dibendung lagi. Arjuna memeluk putranya semakin erat ke dalam dekapannya, menyembunyikan isak tangisnya di ceruk leher anak itu, seolah takut kehilangan darah dagingnya untuk kali kedua.
"Papa benar-benar minta maaf karena tidak ada saat kamu membutuhkan Papa," suara Arjuna bergetar parah, meruntuhkan seluruh sisa pertahanan dirinya di hadapan sang buah hati.
"Papa selalu berpikir selama kamu tinggal bersama nenek dan bibi di rumah, kamu akan baik-baik saja. Papa memberikan kepercayaan penuh kepada mereka." Ia menarik napas panjang yang terdengar berat dan menyakitkan. "Ternyata, Papa adalah pria paling bodoh karena salah menaruh kepercayaan."
Air mata hangat kembali tumpah membasahi pipi sang jenderal. "Papa benar-benar gagal melindungi mu, Nak."
Nakula perlahan mendongakkan wajahnya yang masih pucat. Ini adalah kali pertama seumur hidupnya ia melihat sang ayah, pria yang selalu tampak begitu kuat dan tak terkalahkan di matanya, menangis tersedu-sedu karena dirinya.
"Papa bahkan tidak tahu kalau setiap hari kamu menangis tersiksa di rumah itu. Papa tidak tahu kalau kamu sering dipukul, dihina, bahkan dibiarkan kelaparan. Papa terlalu sibuk mengurus dan menjaga negara, tapi justru gagal total menjaga darah dagingnya sendiri."
Nakula mengulurkan tangan kecilnya, menggenggam pelan lengan baju ayahnya. "Aku tidak pernah marah sama Papa, kok."
Arjuna mengangkat wajahnya kaget, menatap putranya tak percaya. "Tidak marah?"
Nakula menggeleng pelan dengan mata berair. "Aku cuma kangen sama Papa."
Kalimat sederhana dan tulus itu meluncur begitu saja, menghujam dada Arjuna bagaikan bilah pisau tajam yang merobek ulu hatinya.
"Aku sering lihat foto Papa yang tergantung di kamar," lanjut Nakula dengan senyum kecil yang dipaksakan. "Kalau malam tiba, aku suka diam-diam bilang selamat malam ke foto Papa. Aku bangga jadi anak Papa yang seorang jendral."
Arjuna memejamkan matanya rapat-rapat, menahan rasa sesak yang kian menghimpit dadanya hingga ia nyaris kehilangan napas.
"Aku pikir, selama ini Papa benar-benar sibuk sekali. Bibi Wina bilang, Papa kerja keras untuk negara. Jadi aku tidak boleh mengganggu waktu Papa." Nakula menunduk kembali, memainkan jemarinya.
Bocah itu menggigit bibir bawahnya. "Papa juga dibilang tidak suka anak cengeng. Kalau aku menangis atau mengadu, nanti Papa malah marah."
Arjuna langsung menggeleng kuat-kuat. "Tidak, Nak! Tidak pernah sedetik pun Papa akan marah padamu!"
"Tapi, bibi bilang Papa lebih sayang sama Kak Damar. Katanya aku ini anak pembawa sial yang bikin mama meninggal. Makanya Papa tidak pernah mau menggendong aku," lirih Nakula. Tangis bocah itu akhirnya pecah seketika.
"Aku... aku iri waktu lihat Papa gendong kak Damar di ruang tamu. Aku juga pengin digendong Papa, walaupun cuma sekali saja."
Mendengar jeritan hati putranya yang selama ini terpendam dalam kesendirian, Arjuna tak sanggup lagi menahan emosinya. Tanpa berkata-kata lagi, ia langsung merengkuh tubuh kecil Nakula ke dalam pelukannya. Ia mengangkat dan mendudukkan putranya di atas pangkuannya, memperlakukannya persis seperti seorang ayah menyayangi anak kecil yang paling berharga di dunia.
"Nak..." panggil Arjuna serak penuh penyesalan. "Mulai hari ini, dengarkan baik-baik ucapan Papa."
Ia menatap lurus manik mata putranya. "Papa bersumpah tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu lagi di dunia ini. Kalau kamu kangen, datanglah langsung kepada Papa. Kalau kamu sedih, menangislah sepuasnya di hadapan Papa. Kalau ada yang berani mengganggumu, katakan semuanya pada Papa."
Arjuna menggenggam kedua tangan kecil Nakula erat-erat.
"Papa berjanji, mulai hari ini Papa akan belajar menjadi ayah yang baik untukmu."
Nakula mengangguk dalam isak tangisnya. "Papa, jangan tinggalin Nakula lagi, ya?"
Permintaan yang begitu polos itu meremukkan sisa-sisa hati Arjuna. Ia mencium kening putranya berulang kali dengan penuh kelembutan.
"Papa janji, Nak. Papa tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian lagi."
Di sudut ruangan, Arunika sambil diam-diam menghapus air mata yang menetes deras di pipinya. Pemandangan di hadapannya begitu mengharukan hingga ia tak sanggup bersuara. Akhirnya, tembok es yang selama bertahun-tahun memisahkan jiwa seorang ayah dan anak itu runtuh sepenuhnya, digantikan oleh kehangatan pelukan keluarga yang telah lama mereka dambakan.
"Pa, Ma, ayo pulang ke rumah," ajak Nakula.
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget