Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.
Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.
Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.
Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.
Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 01
Part 01
Tina, wanita cantik berambut panjang itu berlari cepat ke sebuah rumah mewah, di mana banyak mobil terparkir di halamannya. Saat ini ia sedang tergesa-gesa, karena setengah jam yang lalu, bosnya meneleponnya dan mengatakan bila ia harus segera datang ke rumahnya untuk sebuah urusan. Sedangkan penampilannya harus rapi dan sopan, padahal ia baru saja bangun dari tidurnya saat itu, yang memang kebetulan hari ini adalah hari libur.
Sejak berada di rumah, Tina terus menggerutu selama di perjalanan, merasa kesal dengan bosnya yang selalu saja bersikap seenaknya dan bahkan terkesan ingin menindasnya. Tina sendiri bingung, kenapa hidupnya harus dipertemukan dengan lelaki dingin bernama Alfan. Ya, nama bosnya memang Alfan, tepatnya Alfansyah Mahendra. Nama yang cukup berwibawa untuk pria yang terlalu irit bicara.
Menurut Tina, meskipun bosnya memiliki kulit putih dengan wajah tampan, namun tak bisa memungkiri bila sikap dan kepribadiannya itu terlalu kejam. Kemauannya itu harus segera terpenuhi dan harus dikerjakan sesempurna mungkin. Membuat Tina sering mendapatkan masalah, bila ia tak melakukan pekerjaannya dengan benar.
Sekarang di sini lah Tina, di rumah bosnya yang entah sedang ada acara apa, karena banyak orang masuk ke dalamnya. Namun Tina tidak peduli, karena yang penting sekarang ia harus menemui bosnya, ia harus datang secepat mungkin dan tidak boleh terlambat atau kalau tidak ia akan dipecat. Seperti itu lah ancaman bosnya, saat mengganggu tidurnya dengan nada dering teleponnya.
"Aku harus cari Pak Alfan di mana?" Tina menggaruk pelan lehernya, merasa bingung harus mencari bosnya di tengah orang-orang yang berlalu lalang dengan tenangnya.
"Aku telepon lagi kali ya?" Tina menjentikkan jarinya, merasa lega dengan idenya. Sampai saat tangannya merogoh isi tasnya dan tidak mendapati ponselnya di dalamnya, di saat itulah Tina membulatkan matanya, merasa tak percaya dengan perabaan tangannya. Tina melototi isi tasnya dan bahkan membalikkannya untuk mencari benda pipih miliknya, namun hanya ada dompet di sana.
"Ponselku ketinggalan? Astaga. Sekarang, bagaimana aku bisa menghubungi Pak Alfan?" Tina tampak gelisah, ia terlihat seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, matanya meneliti ke segala arah, mencari sosok bosnya di antara mereka.
"Perhatian semuanya," suara MC kini terdengar, memusatkan perhatian semua orang ke arah panggung. Di mana ada dua orang yang tengah tersenyum menatap satu sama lain, mereka tampak bahagia dan serasi dengan kostum pangeran dan putri kerajaan. Sedangkan di kedua sisi mereka ada keluarga dari kedua belah pihak, termasuk Alfan yang berdiri tenang di sisi panggung.
"Kita akan memulai acara pertunangan antara Alfina dengan Rio." MC terus memberikan arahan untuk acara tersebut, sedangkan Tina yang sempat fokus ke arah panggung langsung tersenyum saat mendapati ada bosnya di sana. Dengan tenang, Tina berjalan ke arah panggung untuk mendekati bosnya dan memberitahukan keberadaannya.
"Pak Alfan," panggil Tina lirih di dekat panggung, tepatnya di bawah Alfan berdiri.
"Pak, saya di sini." Tina kembali berbicara dengan nada yang sama, sampai saat tatapan bosnya jatuh pada keberadaannya, di saat itu lah Tina tersenyum lega. Setidaknya, ia tidak akan mendapatkan masalah karena terlambat, bukan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, bosnya itu justru menatap dingin ke arahnya, ekspresinya yang memang selalu datar semakin terlihat mengerikan sekarang, membuat Tina terdiam dengan sesekali menelan ludah.
"Pasti aku sudah buat salah lagi." Tina bergumam dalam hati, merasa tidak enak dengan keberadaannya, pandangannya juga tertunduk dengan resah, meski bosnya terus menatap tajam ke arahnya.
Tina terus tertunduk takut bahkan hanya untuk melirik sekitarnya, sampai saat suara tepukan tangan terdengar, menandakan pertunangan itu berjalan lancar. Tina sendiri tidak tahu, siapa yang sedang bertunangan di atas panggung itu, karena yang ia tahu bosnya sudah menyuruhnya untuk segera datang untuk menemuinya.
Melihat semua orang bertepuk tangan, Tina hanya tersenyum dan melakukan hal yang sama. Sampai saat tangannya ditarik oleh seseorang, Tina terkejut dan menoleh ke arah tangannya yang tengah digenggam bosnya, Alfan.
"Pak Alfan, kenapa ...." Tina terlihat kebingungan saat bosnya itu menarik lengannya ke arah panggung, yang mau tak mau harus Tina ikuti arahannya. Ia bahkan tidak berani bertanya, saking banyaknya orang yang memerhatikannya.
"Semuanya," ujar Alfan setelah mengambil mic milik MC di sampingnya.
"Wanita yang berada di samping saya ini adalah calon istri saya, namanya Tina. Mungkin hal ini bukan berita besar untuk kalian, tapi saya di sini cuma ingin menyampaikan ke orang tua saya, bila saya mau menikah dan wanita ini adalah calon istri saya." Alfan menunjuk ke arah Tina yang mematung penuh kediaman, otaknya masih mencerna ucapan bosnya yang begitu lugas dan tegas sembari menunjuk ke arahnya.
"Apa ...? Calon ... istri ...?" Tina bergumam tak percaya, tatapannya terus tertuju ke arah Alfan yang tampak tenang.