NovelToon NovelToon
Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Romansa
Popularitas:64.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"

Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.

Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Ampun, Mayor!

"Keluar Anda, Mayor Yudhana! Keluar sebelum saya panggil keamanan rumah sakit!"

Suara pekikan Ita bergetar hebat di udara ruangan. Telunjuknya menunjuk lurus ke arah pintu kayu berpelapis cat putih yang masih terbuka lebar. Amarah yang tersimpan selama empat belas hari di dadanya meluap tanpa bisa dibendung lagi.

Yudhana berdiri kaku. Garis rahangnya menegang padat, sementara jemarinya yang mengepal di sisi tubuh menyembunyikan getaran tak percaya. Pandangannya sempat mengunci bola mata Vina untuk beberapa detik—mencari raut ketakutan, rasa bersalah, atau tatapan pengabdian yang biasa ia temukan di sana. Namun, tidak ada apa-apa. Bola mata cokelat bening itu hanya memantulkan rasa heran yang telanjang dan ketidakpedulian yang pekat.

Dengan napas memburu dan langkah kaki yang dihentakkan keras, Yudhana memutar tubuhnya. Derap sepatu larsnya yang kaku bergaung di koridor luar, menjauh dengan membawa serta kekalahan pertama yang tak pernah sanggup ia cerna.

Brak!

Ita membanting pintu kamar hingga tertutup rapat. Begitu pengait besi kunci berderik kaku, bahu Ita seketika merosot. Kantong plastik berisi wadah bubur hospital yang tawar diletakkannya tergesa-gesa di atas meja nakas, sebelum ia berbalik dan mendekati ranjang.

"Nggak apa-apa, Vin ... orang itu udah pergi," bisik Ita mengusap napasnya yang terengah, lalu duduk di tepi kasur. Namun, raut wajah Ita dipenuhi kebingungan luar biasa menatap sahabatnya. "Vin ... kamu beneran nggak kenal sama dia? Kamu tadi beneran nggak lagi bercanda kan waktu panggil dia Om-om kaku?"

Vina meringis pelan saat mencoba menggeser posisi duduknya. Rasa nyeri tumpul berdenyut di pelipisnya, beradu dengan pendar sorot lampu periksa di atas kepala. Ia menatap Ita dengan raut wajah polos tanpa beban.

"Bercanda gimana sih, Ta? Orang gue emang nggak kenal!" sahut Vina santai. "Datang-datang bentak orang sakit, numpahin emosi nggak jelas. Lagian kamu kok malah nanya gitu? Sejak kapan gue kenal sama tentara bentukan kaku kayak gitu?"

Ita membeku di tempatnya duduk. Wajahnya yang tadinya tegang kini berangsur-angsur pucat pasi. "Vin ... kamu ... kamu ngomong apa, sih? Dia itu Mayor Yudhana! Suami kamu sendiri!"

Vina tertegun sejenak, lalu tertawa pelan. Tawa renyah, lepas, dan agak barbar yang sudah satu tahun ini tak pernah terdengar lagi dari bibirnya.

"Bercanda lu nggak lucu, Ta! Suami dari mana? Orang gue baru aja lulus sekolah!" Vina menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gue ingatnya kemarin sore kita baru aja merayakan kelulusan di panti, terus jajan bakso di depan gang. Kok tiba-tiba gue bangun-bangun udah rebahan di kamar rumah sakit mewah begini? Terus kenapa badan gue babak belur? Kita ketabrak angkot lagi waktu mau ambil ijazah kelulusan?"

Ita meremas jemari Vina yang dingin, menatap tajam ke dalam manik mata sahabatnya dengan raut ketakutan yang membumbung tinggi. "Vina, aku nggak bercanda! Kelulusan SMA kita itu udah dua tahun yang lalu! Kamu itu udah dua puluh tahun, dan kamu udah satu tahun nikah sama Mas Yudhana!"

Keheningan seketika menyergap ruangan yang berbau cairan antiseptik itu.

Vina menatap wajah serius Ita selama beberapa detik. Tak ada keraguan di mata sahabatnya. Namun, fakta yang baru saja diucapkan Ita terdengar begitu mustahil, absurd, dan menggelikan di telinga Vina.

Vina menyentuh pipinya sendiri, memandangi jemarinya yang polos tanpa cincin, lalu berkacak pinggang: "Bercanda lu nggak lucu, Ta! Kapan gue demen sama tentara kaku begitu?"

"Aku nggak bercanda, Vina! Demi Allah!" tegas Ita, suaranya bergetar menahan tangis baru yang siap pecah. "Kamu nikah sama Mas Yudhana setahun yang lalu! Itu permintaan terakhir almarhum Ayah kamu dengan Opa Gema! Kamu tinggal di rumah dinas militer sama dia!"

Vina terdiam. Nama Opa Gema dan almarhum Ayah sempat membuat dadanya berdesir asing, tetapi tidak ada ingatan visual apa pun yang muncul di kepalanya. Semua kenangan tentang kehidupan rumah tangga, gaun krem yang longgar, meja makan dengan kain hitam, dan penderitaan tiga ratus enam puluh lima hari terakhir telah lenyap sepenuhnya dari benaknya—terhapus bersih bersama benturan keras di aspal dua minggu lalu.

"Nggak ... nggak mungkin," gumam Vina, keningnya berkerut makin dalam. "Gue? Nikah muda sama Om-om berkumis yang sukanya bentak-bentak tadi? Ta, selera gue kan anak band sekolah sebelah! Mana mungkin gue mau diikat sama tentara kaku yang mukanya kayak papan pengumuman begitu?!"

"Tapi kamu beneran udah nikah, Vin," desah Ita lemas.

"Terus sekarang–" Vina menelan ludahnya yang pahit, matanya membelalak menatap Ita dengan kebingungan yang makin mendalam. "Sekarang tahun berapa, Ta?"

Ita menahan napas sejenak sebelum menjawab lirih, "Tahun 2026, Vin."

Vina membisu. Angka tahun itu menghantam kesadarannya seperti bongkahan batu besar. 2026? Dalam ingatan yang ia miliki saat ini, ingatan terakhirnya baru berhenti di pertengahan tahun 2024—saat ia melompat kegirangan memegang map ijazah kelulusan SMA di halaman panti asuhan. Dua tahun hidupnya hilang begitu saja tanpa jejak!

Klek.

Pintu kamar rawat inap terdorong terbuka. Dokter spesialis saraf melangkah masuk didampingi seorang suster yang membawa papan catatan medis. Dokter itu menghela napas lega melihat Vina sudah duduk tegak.

"Selamat pagi, Mbak Vina," sapa Dokter dengan ramah. "Bagaimana perasaannya sekarang?"

"Dokter!" Ita buru-buru memotong sebelum Vina menjawab. "Dok, sahabat saya ... sahabat saya kebingungan! Dia mikirnya dia baru lulus SMA di tahun 2024 dan nggak ingat kalau dia sudah menikah! Dia bahkan nggak mengenali suaminya sendiri!"

Dokter itu mengangguk pelan, seolah sudah memprediksi kondisi tersebut dari hasil pemindaian CT-scan otak Vina. Ia menarik kursi kayu di samping ranjang, lalu memeriksa mata dan refleks saraf Vina.

"Ini dinamakan Retrograde Amnesia, Mbak Ita," jelas Dokter tenang seraya mematikan lampu senternya. "Benturan hebat di bagian kepala dan pendarahan di area hipokampus membuat memori jangka pendek dan menengah pasien terhapus. Kesadaran dan ingatannya menarik diri kembali ke masa di mana ia merasa paling bahagia dan bebas—dalam hal ini, masa kelulusan sekolahnya."

"Terus ... ingatannya bisa kembali lagi nggak, Dok?" desak Ita cemas.

"Bisa secara bertahap, atau bisa juga permanen jika ada trauma emosional berat yang secara bawah sadar memang ingin dilupakan oleh Pasien," jawab Dokter diplomatis. Ia lalu menatap Vina. "Mbak Vina ingat nama sendiri?"

"Ya ingatlah, Dok! Vina!" jawab Vina cepat dengan nada santai khasnya. "Nama sahabat saya Ita, tempat tinggal saya Panti Asuhan Kasih Bunda. Yang saya nggak ingat cuma kenapa saya bisa terdampar di tempat mewah begini dan dituduh udah jadi istri Om-om kaku tadi!"

Dokter itu terkekeh pelan, menepuk dada catatan medisnya. "Kondisi fisiknya membaik dengan sangat cepat. Tapi untuk memorinya, jangan dipaksa. Biarkan dia beradaptasi secara alami. Kejutan ingatan yang dipaksakan justru bisa memicu pusing berat."

Usai memberikan petunjuk perawatan, Dokter dan perawat pamit keluar ruangan.

bersambung...

1
Nur Cahaya
semangat Vina 💪
Daneen
Wkwkwkk
Daneen
Duh bahaya kali Vina kalau bersuara
Mulaini
Jangan-jangan opa Gema sudah tahu atau memang belum tahu ya kalau cucunya Yudhana telah mengabaikan Vina sebelum kecelakaan.
Daneen
Alhamdulillah ikut senang thor
Mulaini
Vina katakan aja ke kakek Gema kalau kamu tidak mengenalnya dan kita lihat gimana reaksi Yudhana.
Teh Euis Tea
alhamdulilah akhirnya lolos jg, srmangat mommy
Mulaini
Yudhana jadi nikmati aja hasil dari keegoisan mu.
Esther
Kapok kamu Yudhana, hadapi tuh Opa Gema yang datang disaat yang tepat saat Vina tidak ada dirumah
Mulaini
Yudhana kamu jadi panik kan secara kakek mu datang berkunjung dan Vina gak ada di rumah.
Mulaini
Yudhana pelihara aja tuh gengsi mu.
Mulaini
waalaikumsalam...
Alhamdulillah 🤲
Daneen
Semoga thor
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
merry
Vina jjur np si ksh pljrann buat lakimu, dan si Tanti itu biar kapok,, gmn kelakuannya kmu di abaikan minta cerai trss,, trs msk RS siumann br dtgg di kiriin kmu cm akting ,, kuasin kmr gede kmu dpt kmr kcil,,, ceritaiin biar cerai cpt kmu fokus sm hdpmu klo jdoh kembali versi terbaik ajj vin,, tentara ko gk bs hargai istri ya heran jg 🤔🤔🤔🤭🤭
merry
asik dtg jg opa gema,, Vina gk drmh ceritaiin Vina kelakuan laki mu biar di tempeleng tu 😆😆😆😆
Kar Genjreng
kurang setuju' mommy kenapa Vina main sandiwara. biar saja untuk apa menutupi aib orang yang tidak perduli dan menyakiti,,, harusnya biar yudhayana merasakan sakit seperti yang Vina rasakan
Mommy Ghina: nanti bakal ketahuan kok
total 1 replies
Kar Genjreng
🤭🤭wah bisa gaswat nihh,,,Vina bingung yudhayana kecut dan pucat pasi mana Vina bau keringat seharian jualan Es coklat dan mampir pasar tradisional,,,kontras dengan peran istri rasa babu nya mayor jossss semoga lekas terbongkar,,👍
Kar Genjreng
rasano sebabagus bagus nya mengemas bangkai lambat laun pasti akan tercium aromanya busuk' nya,,,mamcussss 🤣🤣 sedang kan cucu menantu nya sedang mengais rezeki ,,, karena tidak sudi hidup nya menggantung kepada Pria ,,kaku dan mengabaikan bagus Kakek datang selamat datang Kek dan selamat sore 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!