Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Mukena Baru
Safa punya satu kebiasaan yang tidak pernah dia tinggalkan sejak dia kecil.
Sholat tepat waktu, dimanapun dia berada dia tetap selalu menyempatkan solat tepat waktu.
Namun yang jadi masalahnya di penthouse ini tidak ada suara adzan. Tidak ada suara mengaji di mushola seperti di kampungnya. Jadi Safa hanya mengandalkan HP jadulnya yang layarnya retak di ujung sebagai alarem suara adzan dari subuh sampai Isya.
Jam 4 subuh, saat seluruh Jakarta masih tidur dan lampu kota masih temaram, Safa sudah bangun dia mengaji sambil menunggu waktu adzan subuh tiba.
Safa tidak pernah menyalakan lampu utama didalam rumah saat dia bangun,dia juga sangat hati-hati saat harus keluar kamar untuk mengambil air wudhu.
Setelah wudhu dia menggelar sajadahnya di pojok kamar.Sajadah yang sudah lusuh bahkan warnanya juga sudah pudar, tipis sekali sampai kalau dipakai sujud dinginnya lantai marmer begitu terasa,pinggirannya sudah sobek dan dijahit asal dengan benang berwarna putih.
Mukenanya juga sama. Mukena katun putih yang sudah menguning karena sering dicuci memakai sabun batang, bagian bawahnya ada tambalan kecil bekas tersangkut paku di rumah lamanya. Tapi mukena itu bersih, wangi dan selalu dilipat rapi.
Safa memakai mukena itu dan mulai sholat Sunnah sebelum subuh ,Khusyuk sekali. Sampai tidak sadar pintu kamarnya tidak tertutup rapat, terbuka sedikit sekitar 10 senti.
Sementara Arga baru saja pulang setelah menyelesaikan meeting dengan klien dari Jepang. Kepalanya berdenyut nyeri sementara kelopak matanya yang terasa pedih membuatnya tidak bisa memejamkan mata.Arga memutuskan turun ke bawah untuk mengembil air minum karna kebetulan air minum di kamarnya habis.
Namun saat melewati depan kamar Safa, langkahnya terhenti.
Dari celah pintu, dia melihat Safa sedang sujud. Lama sekali sujudnya. Mukena putih yang menguning itu terlihat kebesaran di tubuh kecil Safa.
Melihat pemandangan itu entah kenapa membuat dada Arga terasa sesak.
Dia berdiri di situ sampai Safa selesai sholat. Safa lalu mengangkat tangan dan berdoa. Suaranya pelan, hampir berbisik, tapi karena penthouse sepi, Arga masih bisa mendengarnya.
"Ya Allah, sembuhkan ibu hamba di kampung, lancarkan rezeki Mas Arga, mudahkan pekerjaannya,jauhkanlah mas Arga dari marabahaya ,jauhkan mas Arga dari orang-orang yang punya niat jahat.Semoga Mas Arga hari ini tidak marah sama hamba lagi semoga Mas Arga selalu diberikan kesehatan, panjang umur dan keberkahan atas stiap rizkinya."
Arga mengerutkan kening. Gadis itu mendoakan dirinya? Padahal dia yang membuat hidup Safa jadi berantakan,menjadi istri kontrak diusianya yang baru 20 tahun dan dia juga sering membentak dan memarahinya karna ceroboh dan gaptek.
Safa selesai berdoa, mengusap wajahnya, lalu mencium mukena dan sajadahnya dengan penuh hormat sebelum melipatnya dengan sangat rapi. Setelah itu mukena dan sajadah itu dimasukkan ke dalam tas kresek hitam, karena Safa tidak punya lemari khusus dan takut kotor kalau ditaruh sembarangan.
Arga urung ke dapur dan memutuskan kembali ke kamarnya tanpa bersuara. Tapi setelah sampai di kamar pikirannya tidak bisa tenang sampai pagi.
Entah sampai jam berapa dia terjaga dan pagi harinya jam 7 pagi saat sedang sarapan, Arga memperhatikan Safa lagi. Safa memakai gamis yang itu-itu saja, yang dia bawa dari kampung dan memang hanya dua potong. Hijabnya juga sama, sudah agak pudar warnanya.
"Safa," panggil Arga tiba-tiba sambil meletakkan cangkir kopinya.
"Iya Mas?" Safa yang sedang makan telur dadar langsung tegak.
"Kamu tidak punya baju lain?"
Safa kaget. "Punya Mas, ada dua. Ganti-ganti tiap hari aku cuci. Kenapa Mas? Bau ya? Maaf ya Mas kalau bau,tapi tadi aku udah pakai pewangi ko buat parfum." jawab Safa polos.
"Bukan bau. Maksud saya, kamu tidak beli baju baru? Uang bulanan 10 juta yang saya transfer untuk jatah bulanan tidak kamu pakai?"
Safa menggeleng polos. "Uangnya aku kirim semua ke ibu di kampung mas.Uang itu buat berobat ibu sama buat bayar utang di warung. Aku nggak butuh baju baru, yang ini masih bagus kok, masih bisa dipakai. Sayang kalau beli baru."
Arga diam. Dia baru ingat, dia memang memberikan uang saku sesuai kontrak. Tapi dia tidak pernah bertanya uang itu dipakai untuk apa. Ternyata gadis ini tidak pernah memakai uang itu sepeserpun untuk dirinya sendiri.
Setelah itu Arga cepat-cepat pergi ke kantor karna ada rapat dadakan.Namun begitu sampai kantor arga tidak fokus sama sekali.
Di depan klien penting yang sedang presentasi proyek triliunan, pikiran Arga malah melayang ke sajadah tipis yang hampir bolong dan mukena yang menguning yang Safa pakai dan disimpan kembali di tas kresek hitam.
Setelah rapat selesai, dia langsung menekan interkom.
"Rina, masuk ke ruangan saya sekarang."
Sekretarisnya Rina, masuk dengan membawa buku catatan.
"Carikan saya butik mukena terbaik di Jakarta. Yang premium, yang paling bagus. Sekarang juga."
Rina melongo. "Mukena, Pak Arga? Untuk siapa Pak?"
"Untuk istri saya. Carikan yang bahannya paling lembut, adem, yang satu set dengan sajadahnya. Jangan yang murahan,carikan yang harganya paling mahal dan paling bagus dan jangan norak warnanya."
Rina hampir menjatuhkan bukunya. Selama 5 tahun kerja dengan Arga, baru kali ini bosnya yang super dingin itu meminta dia mencarikan mukena.
"Baik Pak, saya carikan.Kebetulan di Kemang, ada butik mukena sutra premium."
"Belikan dua set. Satu putih, satu pink. Ukurannya kecil."
Jam 5 sore, Arga pulang lebih cepat dari biasanya. Ini hal yang langka, karena Arga biasanya pulang jam 9 malam.
Di tangannya ada dua paper bag besar yang sangat cantik, dengan logo emas timbul.
Safa yang sedang duduk di ruang tamu sambil mencoba menjahit hijabnya yang sobek di bagian ujungnya memakai jarum pentul, terkejut melihat Arga tiba-tiba pulang cepat.
"Mas Arga pulang cepat? Tumben."
Arga meletakkan dua paper bag itu di atas sofa dengan agak canggung.
"Ini buat kamu."
Safa bingung. "Apa ini Mas?"
"Buka saja."
Safa membuka paper bag pertama dengan hati-hati. Matanya langsung membesar, mulutnya terbuka.
Di dalamnya ada mukena sutra premium warna putih bersih dengan renda cantik di bagian dagu dan bawahnya. Bahannya lembut sekali, adem, jatuh, tidak seperti mukena katunnya yang kaku. Ada tas mukenanya juga yang terlihat cantik sekali.
Paper bag kedua isinya sajadah super tebal dan empuk, warna pink pastel dengan bordir bunga mawar yang halus, bagian bawahnya anti selip.
Safa memegang mukena itu dengan kedua tangannya sangat hati-hati takut kotor.
"Ya Allah Mas... ini... ini buat aku beneran? Ini bagus banget Mas..."
"Ya, buat kamu. Mukena kamu yang lama sudah jelek, sudah menguning dan sobek. Kalau dipakai sholat di penthouse ini malu-maluin. Nanti kalau nenek datang lagi dikira saya tidak mampu membelikan istri mukena yang layak. Jadi saya belikan."
Dia selalu terlihat gengsi,namun Safa tau itu bentuk perhatian dari Arga.
"Mas, ini pasti mahal banget ya? Aku nggak enak, aku nggak pernah dibeliin barang sebagus ini seumur hidup aku."
"Pakai saja. Anggap saja itu inventaris dari penthouse."
Safa sudah tidak bisa menahan senyumnya. Dia bahagia sekali sampai matanya berkaca-kaca.
"Mas, boleh aku coba sekarang ya? Boleh ya?"
"Coba saja, memang buat dipakai."
Safa lari ke kamar dan memakai mukena baru itu. Dia keluar lagi dengan wajah berbinar-binar seperti anak kecil dapat mainan baru.
"Mas, gimana Mas? Cantik nggak? Lembut banget Mas, adem banget, serasa dipeluk awan. Seumur hidup aku belum pernah pakai mukena selembut ini. Di kampung mukenaku kan katun biasa yang agak kaku dan kasar.
Arga menatap Safa. Dengan mukena putih sutra yang bersih itu, wajah Safa yang polos terlihat lebih bercahaya, lebih bersih, lebih cantik.
"Cocok," kata Arga singkat, lalu cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lain karena merasa aneh. Kenapa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.
Safa tidak sadar dengan kegugupan Arga. Dia langsung menggelar sajadah baru yang empuk itu di ruang tamu dan sholat Ashar di situ.
"Mas, sajadahnya empuk banget, Mas. Kalau sujud nggak sakit jidatnya."
Arga duduk di sofa, pura-pura sibuk main HP, tapi matanya melirik Safa yang sholat dengan mukena barunya.
Selesai sholat, Safa berdoa lama sekali. Setelah itu dia melipat mukena dan sajadah baru itu dengan sangat hati-hati, seperti melipat berlian.
Dia terus mengelus mukenanya.
"Mas, makasih banyak ya Mas Arga. Semoga Allah balas kebaikan Mas dengan rezeki yang lebih banyak lagi. Aku bakal pakai mukena ini tiap hari, bakal aku jaga baik-baik, bakal aku cuci pakai tangan biar nggak cepet rusak."
Arga berdeham untuk menyembunyikan rasa canggungnya. "Sudah, tidak usah berlebihan. Cuma mukena. Harganya tidak seberapa."
Padahal satu set mukena itu harganya hampir 4 juta.
Malam harinya, ada kejadian kecil yang membuat Arga terdiam lama.
Jam 10 malam, Safa ketiduran di sofa ruang tamu dengan tv yang masih menyala. Di pelukannya masih ada tas mukena baru itu, dia memeluknya begitu erat seperti saat memeluk boneka kesayangan.
Arga keluar dari ruang kerja dan melihat pemandangan itu. Safa tidur meringkuk, memeluk mukena barunya.
Arga menghela napas pelan. Dia mengambil selimut tipis dari kamarnya dan menyelimutkan ke tubuh Safa dengan gerakan yang sangat pelan, takut membangunkannya.
"Gadis gaptek, polos, tapi gampang terharu padahal cuma dibelikan mukena," gumam Arga pelan, tapi ada senyum kecil di sudut bibirnya.
Saat Arga mau balik ke kamar, tangan Safa yang sedang tidur tanpa sengaja menarik ujung kemeja Arga.
"Bu... jangan tinggalin Safa... Safa takut sendiri..."
Arga terdiam. Safa mengigau memanggil ibunya. Suaranya terdengar ketakutan dan kesepian.
Pelan-pelan, Arga melepaskan pegangan tangan Safa dan membetulkan selimutnya lagi.
Dia kembali ke kamarnya, tapi malam itu dia tidak bisa tidur. Bayangan Safa yang bahagia luar biasa hanya karena dapat mukena baru, yang memeluk mukena itu seperti harta paling berharga di dunia, terus terngiang di kepalanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Arga, dia merasa uangnya yang banyak di rekening itu akhirnya berguna untuk sesuatu yang benar-benar membuat seseorang bahagia dengan tulus.
Bukan untuk menbeli jam tangan ratusan juta atau mobil sport, tapi untuk membeli mukena putih seharga beberapa juta yang membuat gadis desa polos itu tidur sambil tersenyum.
Bersambung