“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
“Kayla, Mama dan Papa akan bercerai.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, tanpa peringatan.
Seperti pisau tumpul yang ditancapkan perlahan ke dada.
Kayla yang sejak tadi duduk di sofa sambil memeluk lututnya langsung mendongak. Tatapannya datar, kosong, menelusuri wajah dua orang yang selama ini ia sebut rumah.
Tidak ada air mata. Tidak ada reaksi berlebihan. Hanya sunyi yang mengendap di matanya.
Ibunya berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya keras, seperti sudah menyiapkan diri untuk segala kemungkinan.
“Mama udah putusin. Mama akan keluar negeri.” Ia menarik napas sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dingin. “Mama gak bisa bawa kamu.”
Kayla masih diam. Bola matanya tidak berkedip. Jantungnya berdetak kencang, tapi wajahnya tetap datar, seolah kabar itu tak lebih dari pengumuman cuaca.
Ayahnya melangkah mendekat satu langkah. Suaranya dibuat selembut mungkin, meski jelas bergetar.
“Kayla, kamu ikut sama Papa aja ya, Sayang.”
Belum sempat Kayla membuka suara, ibunya sudah lebih dulu menoleh tajam ke arah ayahnya.
“Sekali lagi aku tekankan. Kalau sampai kamu pilih kasih sama anak kamu, aku gak akan tinggal diam. Aku akan kembali dan membawa Kayla!” ancamnya, matanya menyala penuh emosi.
Ayahnya tertawa kecil, sinis.
“Cih. Gak usah sok paling peduli. Nyatanya kamu akan pergi dengan laki-laki lain.”
Ibunya mendengus. “Aku pergi dengan Bagas. Karena kamu yang lebih dulu s*lingkuh dari aku!”
“Aku s*lingkuh juga gara-gara kamu!” balas ayahnya, suaranya meninggi.
“Kamu selalu nyalahin aku!”
“Karena memang kamu yang salah!”
Pertengkaran itu kembali berputar seperti kaset rusak. Kata-kata tajam beterbangan, saling menabrak, tanpa peduli ada seorang anak yang berdiri di tengah-tengah reruntuhan mereka.
Kayla mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak. Kepalanya berdengung. Lalu, tanpa ia sadari, suaranya meledak.
“BERHENTIIIIII!”
Jeritannya menggema di ruang tamu. Membuat dua orang dewasa itu membeku di tempat. Untuk pertama kalinya sejak tadi, mereka menoleh ke arah Kayla bukan sebagai saksi, tapi sebagai korban.
Kayla berdiri. Tubuhnya gemetar, tapi suaranya justru terdengar tegas.
“Kayla gak akan ikut Mama atau Papa.” Ia menatap ayahnya, lalu ibunya, bergantian. “Kayla bisa urus diri Kayla sendiri.”
Tidak ada tangisan. Tidak ada rayuan. Hanya keputusan yang diucapkan oleh gadis empat belas tahun yang terlalu cepat dewasa karena keadaan.
Tanpa menunggu jawaban, Kayla berbalik. Langkahnya cepat, namun terkontrol.
Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan pelan—terlalu pelan untuk seseorang yang hatinya baru saja retak.
Di dalam kamar, Kayla menyandarkan punggungnya ke pintu. Ia menatap langit-langit, membiarkan sunyi menelannya.
Dadanya sakit. Sangat sakit.
Namun Kayla menolak menangis.
Karena sejak hari itu, ia belajar satu hal:
bahwa orang dewasa bisa pergi kapan saja—
dan satu-satunya orang yang bisa ia andalkan, hanyalah dirinya sendiri.
**
Beberapa tahun kemudian.
Lampu-lampu klub berkelip liar, beradu dengan dentuman musik yang memekakkan telinga. Asap rokok bercampur aroma alkohol memenuhi udara, membuat malam terasa semakin panas dan berisik. Di sudut VIP, tawa pecah tanpa beban.
“Woooo! Cheers untuk kemenangan kita!” seru Adelia sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
“Cheers!” sahut Ditha, tak kalah semangat.
Zayn ikut menyeringai lebar. Keempat gelas itu bertemu di udara, beradu keras sebelum isinya diteguk habis. Cairan panas mengalir di tenggorokan Kayla, tapi ia tak meringis. Justru tersenyum puas.
Malam ini miliknya.
Kayla baru saja memenangkan balapan ilegal di pinggiran kota. Namanya kembali disebut-sebut. Uang taruhan berpindah tangan. Dan seperti biasa, kemenangan dirayakan dengan pesta, keras, bebas, tanpa aturan.
“Gila sih kamu, Kay,” kata Zayn sambil menepuk meja. “Mobil lo kayak setan kesurupan. Lawan-lawan langsung nyerah.”
Kayla terkekeh kecil. Rambut hitamnya tergerai, riasan matanya tebal dan tajam. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis empat belas tahun yang dulu berdiri di ruang tamu, berteriak menghentikan pertengkaran orang tuanya.
Yang ada sekarang hanyalah Kayla Aurora,, gadis yang dikenal berani, nekat, dan tak peduli konsekuensi.
“Menang itu soal fokus,” jawabnya santai. “Kalau ragu dikit aja, habis.”
Adelia mengangguk setuju. “Dan Kayla gak pernah ragu.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tapi bagi Kayla, itu adalah kebiasaan yang lahir dari luka lama. Kehidupan Kayla benar-benar berubah.
Sejak perceraian orang tuanya enam tahun lalu, ia memilih hidup sendiri. Tidak ikut ayah, tidak ikut ibu. Ia menolak jadi barang tarik-ulur dua orang dewasa yang sibuk dengan kebahagiaan masing-masing.
Ayahnya kini bahagia dengan keluarga barunya, istri baru, anak tiri, rumah yang katanya lebih “tenang”.
Ibunya pun sama, menetap di luar negeri bersama laki-laki pilihannya, hidup yang terlihat sempurna dari unggahan media sosial.
Tak satu pun dari mereka benar-benar menoleh ke belakang.
Dan Kayla… memilih berhenti berharap.
Ia pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sekolah ditinggalkan. Rumah hanya sekadar tempat singgah. Malam jadi sahabat, kecepatan jadi candu, dan kebisingan klub jadi pelarian dari sunyi yang terlalu berisik di kepalanya.
Di lintasan balap, ia merasa hidup.
Di klub malam, ia merasa bebas.
Meski sebenarnya, semua itu hanya cara untuk tidak merasa apa-apa.
Kayla menyesap minumannya lagi. Pandangannya sempat kosong, menembus keramaian. Di balik tawa dan sorak kemenangan, ada ruang hampa yang tak pernah benar-benar terisi.
“Lo kenapa?” tanya Ditha, menyadari perubahan itu.
Kayla menggeleng cepat. “Gak apa-apa.”
Seperti biasa. Selalu “gak apa-apa”.
Padahal jauh di dalam hatinya, ada gadis kecil yang dulu berteriak minta diperhatikan. Gadis yang belajar terlalu cepat bahwa rumah bisa hancur, dan cinta bisa pergi kapan saja.
Maka Kayla memilih sendiri. Mencari kebahagiaan sendiri. Dengan caranya sendiri, meski caranya sering kali salah.
Dan ia tak tahu… bahwa suatu hari, hidup akan memaksanya berhenti berlari, dan mempertemukannya dengan jalan pulang yang tak pernah ia rencanakan.
**
Pagi-pagi sekali atau setidaknya begitu yang Kayla kira, ponselnya berdering tanpa ampun di atas meja kecil di samping tempat tidur. Getarnya menggema di kepala Kayla yang masih terasa berat, seolah ada palu yang mengetuk-ngetuk dari dalam.
Ia meringis. Aroma alkohol semalam masih samar tercium. Tanpa membuka mata, tangannya meraba-raba permukaan meja hingga menemukan ponsel.
“Hemmm…” gumamnya malas, suara serak bercampur kantuk.
“Astaghfirullah, Kayla… kamu belum bangun, Nduk?”
Seketika itu juga, mata Kayla terbuka lebar. Suara itu. Suara yang sangat ia kenal. Suara yang selalu terdengar lembut, bahkan ketika menegur.
Kayla menurunkan ponsel sedikit, menatap layar dengan jantung yang mendadak berdebar.
Eyang.
Ia langsung duduk, pusingnya seakan terlupakan. Dengan cepat Kayla menarik napas, berusaha menetralkan suaranya menyembunyikan sisa mabuk, menyembunyikan kehidupan yang tak pernah ingin ia perlihatkan pada perempuan sepuh di seberang sana.
“Eyang… kenapa pagi-pagi udah telepon?” tanyanya, dibuat sopan dan setenang mungkin.
Di seberang sana terdengar suara kecil disusul desahan napas. “Astaghfirullah pagi darimana, cah ayu? Ini sudah jam satu!”
____
...Yuhuuuu.......
...Assalamualaikum wr. wb kesayangan Mommy semuanya. Gimana kabarnya? sehat dong ya? 🥳...
...Bantu ramaikan kamar baru Mommy ya, biar bisa tamat 🙈🤣...
...Cukup, like, komen dan Tap love nya 🥰 gampang kan (mode maksa) 🤣...
...Mulai hari ini, Kayla dan ustadz Hanan akan menemani kalian di waktu Sahur yaaa 🥰...
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj