NovelToon NovelToon
Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ulva k

Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.

Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.

"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."


Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.

Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.

Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?

Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 25

Motor Arfan pelan. Tidak ngebut.

Dia pelan, biar angin Jakarta malam masuk ke jilbab ku.

"Pegangan, Laila. Jangan takut," dia bilang.

Aku pegang besi belakang. Tidak pegang pinggangnya. Karena ibu pernah bilang, perempuan jangan pegang laki-laki yang bukan mahram, kecuali darurat.

Kami berhenti di tukang bakso gerobak pinggir jalan. Bukan restoran. Gerobak biasa, lampu petromaknya kuning.

"Dua mangkok bakso urat, Pak," Arfan bilang.

Kami duduk di bangku plastik pendek.

Baksonya panas. Kuahnya bening. Aku makan pelan. Dari jam 12 siang tadi makan nasi padang pemberian Arfan, aku belum makan lagi.

Arfan lihat aku makan.

"Laila, kamu dari mana?" dia tanya.

"Kuala pembuang, Pak... eh Kak."

"Jauh juga ya. Kenapa mau ke Jakarta?"

Pertanyaan itu. Pertanyaan yang tidak mau aku jawab. Kalau aku jawab jujur, aku harus cerita tentang pondok Al-Hidayah, tentang Kyai Rahman, tentang malam hujan aku diusir karna difitnah.

Aku tidak mau. Noda kopi hitam di gamis ku saja sudah susah hilang, apalagi noda itu.

"Cari kerja, Kak. Di kampung tidak ada kerja," aku jawab pendek.

Arfan angguk. Tidak maksa.

"Kamu lipat mukena paling rapi yang pernah saya lihat. Tangan kamu kayak tangan ibu saya dulu. Ibu saya juga tukang lipat mukena di Pekalongan."

Aku diam.

"Bapak kamu kerja apa?"

"Bapak kerja jadi petani sehari harinya kerja dikebun . Jaga rumah , Dulu sebelum ibu meninggal, ibu tukang setrika arang."

Arfan senyum. "Pantes kamu jago setrika. Turunan."

Jam di dinding warung bakso nunjukin jam 8.45.

"Kak, saya harus pulang jam 9," aku bilang. Ingat janji ku.

"Iya. Saya antar."

Di perjalanan pulang, Arfan tidak ajak muter-muter. Lurus ke gang kos ku. Tidak kayak laki-laki hidung belang yang sengaja muter gang sepi biar bisa pegang-pegang.

Sampai depan gang kos, aku turun.

"Terima kasih baksonya, Kak Arfan."

"Laila," dia panggil sebelum aku masuk gang gelap. Dia rogoh saku kemeja putihnya. Kasih amplop putih kecil.

"Apa ini, Kak?"

"Bonus 2 minggu kerja rapi. 500 ribu. Jangan bilang ke Mbak Sari ya. Nanti iri lagi."

500 ribu. Aku pegang amplop itu. Tipis, tapi berat.

Bukan uang haram kayak uang LC 700 ribu semalam di kos pink pudar. Ini uang lipat mukena 100 biji sampai jam 8 malam.

Aku masuk kos. Kamar 2x3 meter. Kasur tipis. Kaca kecil. Di kaca itu aku lihat wajah ku. Tidak pakai make up tebal kayak Alia. Cuma pakai atasan dan celana panjang kerja .

Aku buka Al-Quran kecil peninggalan ibu dari tas ransel hitam. Surat Al-Insyirah yang ibu selalu baca pas susah.

Fa inna ma'al 'usri yusra.

Di luar, suara motor Arfan masih ada. Dia belum jalan. Nunggu sampai lampu kamarku nyala.

Baru setelah lampu kamarku nyala kuning, suara motor itu pelan menjauh.

Malam itu aku tulis di buku tulis stok mukena, di halaman paling belakang yang kosong

Hari ke-15 di Jakarta. Tuhan, kalau Arfan ini baik, jangan ambil dia kayak Engkau ambil ibu. Kalau dia jahat kayak Kyai Rahman, kasih aku tanda. Kasih noda kopi hitam lagi di bajunya, biar aku lihat.

Aku lipat amplop 500 ribu itu, selipkan di bawah Al-Quran kecil. Sama kayak flashdisk merah di kotak kayu di rumah papan.

Di kampung, kotak kayu itu dingin. Di Jakarta, Al-Quran ku hangat.

Dua-duanya menyimpan rahasia ku.

Jam 9.10 malam, HP ku yang kusam bunyi. WA dari nomor tidak dikenal.

Foto profil laki-laki pakai peci putih paling bersih.

Tulisannya:

Assalamualaikum, Laila. Ini Kyai Rahman. Kamu di Jakarta ya? Pulanglah. Ibu kamu tunggu di kuburan.

Tangan ku dingin. Bakso yang tadi hangat di perut, jadi mual.

Kyai Rahman tau nomor ku. Dari mana?

Dan kenapa dia bilang ibu tunggu di kuburan? Ibu kan sudah...

Aku matikan HP. Tarik selimut tipis kos 500 ribu/bulan. Tapi malam ini Jakarta tidak dingin. Panas. Panas kayak malam kuburan ibu dulu.

1
Garrel
semngat laila💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!