Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Satu bulan kemudian...
Jingga baru saja menyelesaikan pemeriksaan seorang pasien ketika Maya menghampirinya sambil membawa selembar undangan berwarna krem.
“Ini untukmu, dari bagian manajemen rumah sakit.”
Jingga menerimanya dengan alis berkerut. “Acara apa?”
“Jamuan makan malam untuk memperingati kerja sama rumah sakit dengan beberapa perusahaan dan yayasan kesehatan. Seluruh staf perwakilan diminta hadir.”
Jingga membaca undangan itu. Namanya tercantum sebagai salah satu perawat yang akan menerima penghargaan atas dedikasi kerjanya selama beberapa bulan terakhir. Ia bahkan belum tahu namanya masuk daftar penerima.
“Aku tidak terbiasa menghadiri acara seperti ini.”
“Justru karena itu kamu harus datang,” kata Maya. “Kapan lagi kamu bisa makan enak tanpa memikirkan pekerjaan?”
“Kalau soal makanan, saya bisa menjamin jamuan malam ini tidak mengecewakan.” Suara seorang pria menyela dari belakang.
Jingga menoleh. Samudera berdiri dengan setelan rapi dan beberapa dokumen di tangan. Sebagai putra pemilik rumah sakit, ia terlibat dalam persiapan acara tersebut.
Samudera menyerahkan map kepada Maya. “Tolong sampaikan daftar penerima penghargaan kepada bagian administrasi. Pastikan nama Jingga tidak tertinggal dalam daftar tamu.”
Jingga mengerutkan kening. “Dokter, saya bisa mengurus kehadiran saya sendiri.”
“Saya tidak meragukan kemampuanmu,” jawab Samudera tenang. “Tapi saya bertanggung jawab atas acara ini. Kalau nama staf berprestasi terlewat, itu kesalahan panitia.”
Pria itu melirik jam tangannya. “Satu hal lagi. Jangan datang dengan seragam kerja, acara ini bukan rapat evaluasi.”
Maya tertawa begitu pria itu pergi.
“Jingga, kamu sadar tidak? Dokter Samudera baru saja mengatur penampilanmu, tanpa terdengar seperti sedang mengaturmu.”
“Dia hanya menjalankan tugasnya.”
“Kalau itu yang membuatmu nyaman, silakan percaya begitu.” Maya terkekeh.
Jingga menggeleng, lalu kembali memeriksa catatan pasien. Ia tidak ingin terlalu jauh menafsirkan sikap Samudera. Setelah pernikahannya berakhir, ia belum berniat terburu-buru membuka hati kepada siapa pun.
Pukul tujuh, ballroom hotel dipenuhi dokter, pengurus yayasan, pengusaha, dan tamu undangan. Jingga datang mengenakan gaun sederhana berwarna biru tua, dengan rambut tersanggul rapi dan riasan tipis.
Seseorang memanggilnya sebelum ia mencari tempat duduk.
“Jingga?”
Ia menoleh dan melihat seorang pria bersetelan abu-abu berdiri tak jauh darinya.
“Leo?”
Pria itu tersenyum. “Akhirnya kamu mengenaliku juga.”
“Kamu bekerja sama dengan rumah sakit ini?” tanya Jingga.
Leo mengangguk. “Perusahaan tempatku bekerja menjadi mitra pendukung program kesehatan. Aku datang mewakili perusahaan.”
“Seharusnya aku yang mengucapkan selamat. Kudengar kamu menerima penghargaan malam ini.”
“Namamu memang pantas mendapatkannya.”
“Terima kasih.”
Leo hendak mengajaknya menuju meja tamu ketika seorang pelayan melintas membawa nampan minuman. Gelas-gelas di atasnya bergoyang karena seseorang tak sengaja menyenggol nampan.
Leo spontan menahannya sebelum minuman tumpah ke gaun Jingga.
“Pelan-pelan,” katanya kepada pelayan. “Tidak apa-apa, lain kali lebih hati-hati.”
Leo lalu tersenyum pada Jingga. “Aku tidak ingin acara pertamamu setelah bercerai berakhir dengan gaun basah.”
“Jangan mengingatkanku tentang perceraian di tengah acara seperti ini.” Jingga tertawa kecil.
“Maaf. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa tidak semua orang menganggapmu sebagai mantan istri Rangga. Bagiku, kamu tetap Jingga.”
Percakapan mereka terhenti ketika Samudera menghampiri dengan senyum tipis. Tatapannya beralih kepada Leo sebelum kembali kepada Jingga.
“Jingga, saya perlu memastikan kamu sudah menerima susunan acara. Ada perubahan pada urutan pemberian penghargaan.”
Leo mengangkat alis. “Perubahan mendadak?”
“Keputusan manajemen,” jawab Samudera singkat.
Jingga menerima lembar susunan acara. “Baik, Dokter. Terima kasih.”
Samudera menatap Leo. “Anda mengenal Jingga?”
“Tentu,” jawab Leo santai. “Dia mantan istri sepupuku.”
Samudera mengangguk kecil. “Kalau begitu, Anda pasti tahu Jingga tidak membutuhkan belas kasihan siapa pun.”
Leo tersenyum tipis. “Saya tidak pernah menganggapnya membutuhkan belas kasihan.”
“Baguslah, pertahankan pikiran itu. Saya juga tidak menyukai orang yang mendekati seseorang hanya karena menganggapnya sedang rapuh.”
Leo memasukkan satu tangan ke saku. “Menarik, padahal saya belum mengatakan alasan saya mendekatinya.”
Samudera membalas tatapan Leo. “Saya hanya mengingatkan.”
“Kalau begitu, saya juga ingin mengingatkan Anda.” Senyum Leo tak memudar. “Jangan terlalu cepat merasa berhak mengatur siapa yang boleh mendekati Jingga.”
Jingga yang terkejut karena ketegangan diantara dua pria itu segera menyela sebelum suasa semakin panas. “Maaf, tapi kalian sedang berada di acara resmi... bukan arena debat.”
Samudera dan Leo akhirnya diam.
Acara dimulai beberapa menit kemudian. Setelah sambutan manajemen, nama Jingga dipanggil sebagai penerima penghargaan atas dedikasinya dalam pelayanan pasien. Jingga naik ke panggung dengan langkah mantap. Ia menerima plakat dari direktur rumah sakit, lalu menyampaikan terima kasih singkat.
Saat Jingga turun, Leo segera menghampirinya. “Selamat. Penghargaan itu memang pantas kamu dapatkan.”
“Terima kasih, Leo.”
“Sebagai hadiah, izinkan aku mengajakmu makan malam minggu depan. Bukan acara perusahaan, hanya kita berdua.”
Jingga terkejut. “Leo, aku baru saja bercerai.”
“Aku tahu.” Leo tidak menghindari tatapannya. “Aku juga tidak sedang memintamu menikah denganku besok. Aku hanya mengajakmu makan malam, dan kamu boleh menolak kalau tidak nyaman.”
Jingga belum sempat menjawab ketika Samudera datang membawa amplop.
“Jingga, ini undangan pelatihan keperawatan lanjutan yang akan di danai rumah sakit. Saya mengusulkan namamu karena hasil kerjamu memenuhi kriteria.”
Jingga menerima amplop itu dengan mata membesar, ia menarik napas pelan. “Pelatihan lanjutan?”
“Programnya berlangsung beberapa minggu. Peserta terbaik berkesempatan mengikuti sertifikasi profesional. Keputusan akhir tetap berdasarkan seleksi, jadi persiapkan dirimu.”
“Terima kasih, Dokter. Saya akan mempersiapkan diri.”
Leo melirik amplop itu, lalu tersenyum. “Kalau begitu, makan malam kita bisa menjadi perayaan atas kesempatan barumu.”
“Kalau dia lolos seleksi, rumah sakit akan mengadakan jamuan khusus untuk peserta. Dia tidak kekurangan alasan untuk merayakannya.” Samudera menyahut.
“Saya tidak mengajak Jingga merayakan keberhasilan rumah sakit. Saya mengajaknya karena ingin mengenalnya lebih jauh.”
Jingga memandang mereka bergantian. “Kalian benar-benar tidak bisa berbicara tanpa saling menyindir, ya?”
Leo mengangkat kedua tangannya. “Baiklah. Aku tidak akan mengganggu malammu lagi, tapi pikirkan tentang ajakanku.”
Ia pergi menyapa tamu lain, meninggalkan Jingga bersama Samudera.
Samudera menatap punggung Leo sebelum memandang Jingga. “Dia memang selalu seperti itu?”
“Seperti apa?”
“Berani mengutarakan keinginannya tanpa memikirkan situasi.”
“Bukankah itu lebih baik daripada menyindir orang yang belum tentu memahami maksudmu?” Jingga tersenyum tipis, lalu berjalan menuju meja minuman. “Selamat menikmati acara, Dokter Samudera.”
Leo, yang sedang berbicara dengan seorang rekan, sempat menoleh ke arah mereka. Senyumnya menghilang sesaat sebelum kembali terpasang. Ia mengenal Samudera melalui dunia bisnis. Pria itu bukan tipe yang memberi perhatian tanpa alasan.
Jika Samudera mulai tertarik kepada Jingga, Leo tidak berniat mundur hanya karena pria itu memiliki kedudukan lebih tinggi.
Malam itu tanpa disadari Jingga, persaingan telah dimulai. Bukan sekadar tentang siapa yang mampu melindunginya, melainkan siapa yang sanggup menghormati pilihan dan memperjuangkan hatinya tanpa berusaha menguasai hidupnya.
Namun, ada satu hal yang belum diketahui Jingga. Seseorang baru saja mengambil foto dirinya bersama Leo dan Samudera. Foto itu segera dikirimkan kepada Rangga dengan satu kalimat singkat.
[Sepertinya mantan istrimu sudah memiliki dua pria yang memperebutkannya.]
awalnya ta kira Dira yatim piatu ...jadi nyari perhatian terus dari keluarga Rangga dng dalih kehilangan suami...lah taunya masih ada ortu...janggal jadinya
bahagia ngga kamu skrg ..
denger ya Rangga dan Dira ...itu sebanding dengan apa yg dirasakan jingga saat kehilangan anaknya ...jadi ga usah so paling menderita