NovelToon NovelToon
Lima Kakak Valerius

Lima Kakak Valerius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: mona28

Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUDUHAN TERHADAP SANG AYAH

“Adrian Valerius.”

Nama itu menggema di dalam ruangan bawah tanah yang dingin.

Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang bergerak. Cahaya monitor berkedip-kedip, menerangi wajah-wajah yang mendadak menegang. Di luar ruangan, angin malam berembus melalui celah jendela tua, menghasilkan suara melengking yang membuat suasana semakin mencekam.

Aren berdiri di antara kelima kakaknya. Tangannya tanpa sadar menggenggam gelang hitam berlambang serigala di pergelangan tangannya.

Ia menatap Gabriel Soren, pria yang baru saja melontarkan tuduhan paling mengerikan yang pernah didengarnya.

Adrian Valerius, ayah yang membesarkannya.

Ayah yang selalu memastikan ia makan tepat waktu, yang mengajarinya menunggang kuda, yang tetap duduk di samping tempat tidurnya ketika ia sakit, dan yang selama ini berdiri paling depan untuk melindunginya.

Pria itu dituduh sebagai dalang serangan terhadap mansion mereka.

“Ulangi perkataanmu,” ujar Raka akhirnya.

Suaranya begitu rendah sampai terdengar lebih mengancam daripada teriakan.

Gabriel menatap putra sulung keluarga Valerius itu tanpa gentar.

“Adrian Valerius adalah orang yang memberikan perintah untuk menyerang mansion kalian semalam.”

Riven langsung maju satu langkah.

“Jaga mulutmu!”

“Riven.” Raka mengangkat satu tangan, menghentikan adiknya sebelum pria itu benar-benar menerjang Gabriel.

Namun, sorot mata Raka sendiri tidak kalah tajam. Ia menatap Gabriel seolah sedang menilai bagian tubuh mana yang harus dilumpuhkan terlebih dahulu jika pria itu terbukti berbohong.

Darren berdiri di sampingnya dengan rahang mengeras. Leon segera melirik Aren, memastikan adik bungsunya itu tidak mengalami kepanikan. Sementara itu, Kian telah bergerak menuju komputer utama, jemarinya bersiap memeriksa setiap data yang mungkin bisa membuktikan atau membantah tuduhan tersebut.

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia berdiri beberapa langkah dari Gabriel, wajahnya tampak lebih tua daripada beberapa menit sebelumnya.

Kemudian, ia mengangkat kepalanya.

“Aku tidak pernah memerintahkan serangan terhadap mansionku sendiri.”

Gabriel tersenyum tipis.

“Benarkah?”

“Ya.”

“Kalau begitu, bagaimana kau menjelaskan kode otorisasi yang digunakan para penyerang?”

Kian menghentikan gerakan tangannya.

“Kode otorisasi?”

Gabriel mengangguk. Ia mengeluarkan sebuah perangkat penyimpanan kecil dari saku mantelnya, lalu meletakkannya di atas meja besi.

“Di dalamnya terdapat rekaman komunikasi dan log perintah yang dikirim sebelum serangan. Kode yang digunakan berasal dari sistem administrator tertinggi keluarga Valerius.”

Darren mengambil perangkat itu, tetapi tidak langsung memasukkannya ke komputer.

“Benda ini bisa saja sudah dimanipulasi.”

“Tentu saja,” jawab Gabriel santai. “Itulah sebabnya aku membawanya ke sini. Kalian bisa memeriksanya sendiri.”

Kian mengambil perangkat tersebut dari tangan Darren.

“Jangan ada yang menyentuh komputer utama sampai aku selesai memeriksa ini.”

Ia menghubungkan perangkat itu ke terminal terpisah yang dibawanya. Layar kecil menampilkan sejumlah berkas terenkripsi. Kian segera bekerja, membongkar lapisan keamanan satu demi satu.

Di tengah kesibukan itu, Aren masih menatap ayahnya.

“Ayah?”

Adrian menoleh.

Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Aren, tetapi Adrian memahami pertanyaan yang tersembunyi di baliknya.

Aren ingin tahu apakah pria yang berdiri di hadapannya masih merupakan ayah yang sama.

Adrian melangkah mendekat.

“Aren, lihat Ayah.”

Aren mengangkat wajahnya perlahan.

“Ayah tidak memerintahkan siapa pun untuk menyerang keluarga kita,” ujar Adrian tegas. “Ayah tidak akan pernah menyuruh orang lain menyakiti kakak-kakakmu. Ayah juga tidak akan pernah menggunakanmu sebagai alasan untuk melukai mereka.”

“Tapi kenapa kode Ayah bisa digunakan?” tanya Aren lirih.

Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam sesaat.

Dan keheningan singkat tersebut terasa jauh lebih menyakitkan bagi Aren daripada jawaban apa pun.

“Ayah belum tahu,” jawab Adrian akhirnya. “Namun, seseorang memiliki akses ke sistem lama keluarga kita. Jika orang itu berhasil memperoleh kode administrator, dia bisa membuat perintah palsu seolah-olah berasal dari Ayah.”

Gabriel mengeluarkan tawa pendek.

“Penjelasan yang nyaman.”

Riven berbalik tajam.

“Sekali lagi kau tertawa seperti itu, aku pastikan kau tidak akan keluar dari rumah ini dengan kaki sendiri.”

“Cukup!” bentak Raka.

Suara itu membuat seluruh ruangan kembali hening.

Raka kemudian menatap Gabriel.

“Kau mengatakan memiliki bukti. Kalau begitu, tunjukkan. Jangan berharap kami akan menjatuhkan keputusan hanya karena kau menyebut nama ayah kami.”

Gabriel mengangguk seolah telah memperkirakan permintaan tersebut.

“Baik.”

Ia menarik kursi dan duduk di depan monitor kedua. Ketika Kian selesai membuka salah satu berkas, sebuah rekaman komunikasi muncul di layar.

Suara statis terdengar selama beberapa detik.

Kemudian, suara seorang pria memenuhi ruangan.

“Gunakan jalur timur. Jangan menghancurkan arsip bawah tanah. Target harus ditemukan hidup-hidup.”

Aren merasakan bulu kuduknya berdiri.

Suara itu terdengar berat dan tenang.

Sangat mirip dengan suara Adrian.

Rekaman berlanjut.

“Jika pewaris menolak ikut, gunakan gelang itu sebagai alasan. Pastikan mereka percaya bahwa keluarga Valerius tidak lagi aman baginya.”

Wajah Riven langsung berubah.

“Mereka ingin Aren.”

Leon berdiri lebih dekat dengan adiknya, sementara Darren mengepalkan tangan.

Aren menunduk menatap gelang hitam di pergelangan tangannya. Benda yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya peninggalan dari ibu kandungnya kini menjadi alasan orang-orang bersenjata mengejarnya.

“Matikan,” kata Adrian tiba-tiba.

Kian menghentikan rekaman.

Semua mata beralih kepada Adrian.

Pria itu memejamkan mata sebentar, seakan sedang menahan sesuatu yang sangat berat.

“Aku mengenali suaranya,” ujar Gabriel. “Kalian juga mengenalinya. Itulah suara Adrian Valerius.”

“Rekaman suara bisa ditiru,” sahut Kian. “Apalagi dengan teknologi yang tersedia sekarang.”

“Kalau begitu, periksalah.”

“Aku memang sedang melakukannya.”

Kian kembali mengetik. Ia memisahkan saluran audio, memeriksa metadata, lalu membandingkan pola suara dalam rekaman dengan beberapa arsip komunikasi Adrian yang tersimpan di sistem keluarga.

Beberapa menit berlalu.

Akhirnya, Kian bersandar di kursinya.

“Ada yang aneh.”

“Apa?” tanya Darren.

“Rekaman ini bukan rekaman utuh. Ada bagian yang dipotong, lalu disambungkan dengan bagian lain. Metadata-nya juga telah diubah.”

Gabriel menyipitkan mata.

“Itu tidak membuktikan bahwa perintahnya palsu.”

“Benar,” jawab Kian. “Tapi juga tidak membuktikan bahwa Ayah yang mengatakannya.”

Raka mengangguk pelan.

“Kita belum punya dasar untuk menyimpulkan apa pun.”

Gabriel menatap Adrian.

“Kau selalu pandai membuat orang meragukan bukti.”

Adrian melangkah mendekatinya.

“Dan kau selalu pandai muncul ketika sebuah keluarga sedang berada di ambang kehancuran.”

Untuk pertama kalinya, senyum Gabriel menghilang.

Kedua pria itu saling menatap. Ada sejarah panjang yang tidak diketahui Aren di antara mereka, sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar perselisihan biasa.

Viktor, yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, akhirnya berbicara.

“Gabriel, kau menghilang selama tujuh belas tahun. Tidak ada kabar, tidak ada bukti bahwa kau masih hidup. Sekarang kau muncul membawa rekaman yang belum terverifikasi dan langsung menuduh Adrian.”

Ia melangkah mendekati kakaknya.

“Aku ingin tahu satu hal. Mengapa sekarang?”

Gabriel tidak segera menjawab.

“Karena mereka mulai bergerak lagi.”

“Siapa mereka?”

“Orang-orang yang menjalankan Proyek Serigala Hitam.”

Nama itu membuat Kian kembali menoleh ke layar.

Gabriel melanjutkan, “Selama bertahun-tahun, aku berusaha memastikan bahwa arsip utama tidak jatuh ke tangan mereka. Tetapi setelah Aren ditemukan dan dibawa ke dalam keluarga Valerius, semuanya berubah. Mereka tidak lagi sekadar mencari dokumen. Mereka membutuhkan pewaris Ravencroft untuk membuka sesuatu yang tidak bisa dibuka oleh siapa pun selain dirinya.”

Aren merasakan dada sesak.

“Protokol Terakhir?”

Gabriel menatapnya.

“Benar.”

“Kalau aku memang hanya kunci untuk membuka arsip, kenapa mereka menyerang mansion?” tanya Aren. “Kenapa mereka membuat keluargaku saling mencurigai?”

Gabriel terdiam beberapa detik sebelum menjawab.

“Karena mereka tahu bahwa selama kau berada di bawah perlindungan keluarga Valerius, mereka tidak bisa mengambilmu dengan mudah. Mereka harus menghancurkan kepercayaan di antara kalian terlebih dahulu.”

Aren menoleh kepada Adrian.

“Jadi, tuduhan terhadap Ayah juga bagian dari rencana mereka?”

“Mungkin,” jawab Gabriel. “Atau mungkin Adrian memang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar.”

“Cukup,” ujar Darren. “Kau tidak bisa terus menggunakan kata mungkin untuk menutupi kekurangan bukti.”

Gabriel menatapnya dingin.

“Kau ingin bukti yang lebih kuat? Baik. Periksa catatan perintah dari malam keluarga Ravencroft dihancurkan. Cari kode AR-01.”

Adrian mendadak menegang.

Perubahan itu begitu singkat, tetapi Aren melihatnya.

Raka juga melihatnya.

“Ayah mengenal kode itu?” tanya Raka.

Adrian tidak menjawab dengan segera.

“Ayah,” panggil Aren sekali lagi.

Adrian mengembuskan napas panjang.

“AR-01 adalah kode operasi darurat yang pernah digunakan oleh almarhum ayahku, Alistair Valerius.”

Gabriel mengangguk.

“Dan kode itu muncul dalam catatan perintah pada malam Ravencroft diserang.”

Ruangan kembali sunyi.

Aren merasa seolah seluruh masa lalunya sedang runtuh untuk kedua kalinya. Selama ini, ia mengira bahwa jawaban atas tragedi keluarganya tersimpan di balik nama-nama asing, organisasi rahasia, dan dokumen yang telah dikubur selama bertahun-tahun.

Namun, semakin banyak jawaban yang ia temukan, semakin dekat rahasia itu kepada orang-orang yang paling ia cintai.

“Apakah Ayah tahu tentang serangan terhadap keluarga kandungku sejak awal?” tanya Aren.

Adrian menatapnya.

“Ayah tahu bahwa keluarga Ravencroft diserang. Ayah juga tahu bahwa Alistair terlibat dalam operasi yang berkaitan dengan malam itu.”

“Apakah Ayah tahu siapa yang memerintahkannya?”

“Ayah tidak tahu siapa yang memberikan perintah terakhir.”

“Apakah Ayah berada di sana?”

Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam lebih lama.

Raka menatap ayahnya dengan sorot mata yang berubah. Darren tidak lagi menyembunyikan kecurigaannya. Bahkan Kian menghentikan pekerjaannya untuk menunggu jawaban.

Akhirnya, Adrian berkata, “Ya. Ayah berada di sana.”

Aren merasa jantungnya seperti berhenti sesaat.

“Ayah berada di rumah keluargaku ketika mereka diserang?”

“Aren—”

“Kenapa Ayah tidak pernah memberitahuku?”

Suara Aren bergetar. Ia tidak berteriak, tetapi justru itulah yang membuat pertanyaannya terasa menyakitkan.

Adrian mengulurkan tangan, tetapi Aren mundur setengah langkah.

Gerakan kecil itu membuat wajah Adrian berubah.

“Ayah ingin melindungimu.”

“Dengan menyembunyikan semuanya?”

“Ada hal-hal yang tidak bisa Ayah jelaskan saat itu.”

“Dan sekarang?” Aren menatapnya dengan mata mulai berkaca-kaca. “Apakah sekarang Ayah bisa menjelaskan semuanya?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Aren menunduk, menahan air mata yang mengancam jatuh. Ia tidak ingin menangis di hadapan orang-orang yang baru saja mengetahui bahwa hidupnya dibangun di atas rahasia. Ia juga tidak ingin Gabriel melihat betapa besar pengaruh tuduhannya terhadap keluarga ini.

Namun, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.

Ia takut.

Bukan karena para penyerang yang mungkin masih mengincarnya, melainkan karena ia mulai menyadari bahwa orang-orang dewasa di sekelilingnya mungkin telah menyimpan kebenaran selama bertahun-tahun.

Riven segera merangkul bahunya.

“Dik, kau tidak harus menjawab apa pun sekarang.”

Leon berdiri di sisi Aren yang lain.

“Kita akan mencari kebenarannya bersama-sama. Jangan memaksakan dirimu.”

Darren menatap Gabriel dengan dingin.

“Dan sampai semua bukti terverifikasi, tidak ada seorang pun yang boleh menggunakan keadaan Aren untuk memaksakan pengakuan.”

Raka tetap berdiri di antara Adrian dan Gabriel. Ia tidak membela ayahnya secara membabi buta, tetapi juga tidak membiarkan orang asing menghancurkan keluarga mereka hanya dengan sebuah rekaman.

“Kita akan memeriksa setiap catatan,” katanya. “Tidak ada keputusan yang dibuat malam ini berdasarkan dugaan.”

Adrian memandang kelima putranya satu per satu, sebelum akhirnya menatap Aren.

“Ayah tidak meminta kalian mempercayai Ayah tanpa bukti,” katanya. “Ayah hanya meminta satu hal. Jangan biarkan orang yang menghancurkan keluarga Ravencroft menghancurkan keluarga kita dengan cara yang sama.”

Gabriel berdiri.

“Kalau begitu, buktikan bahwa kau tidak bersalah.”

Ia berjalan menuju terminal utama dan memasukkan sebuah kode pada panel di sampingnya. Layar yang semula menampilkan rekaman komunikasi berubah menjadi daftar dokumen lama.

Satu per satu, nama muncul di layar.

ALISTAIR VALERIUS.

ARMAND RAVENCROFT.

ADRIAN VALERIUS.

GABRIEL SOREN.

Di bawahnya terdapat sebuah berkas yang belum pernah dilihat Kian sebelumnya.

PROTOKOL TERAKHIR — AKSES GANDA DIPERLUKAN.

Kian segera mendekati layar.

“Akses ganda?”

Gabriel mengangguk.

“Berkas ini hanya bisa dibuka melalui dua kunci. Kunci pertama berasal dari gelang Aren. Kunci kedua berasal dari otorisasi administrator yang dibuat pada malam operasi terakhir.”

“Dan siapa yang memiliki otorisasi itu?” tanya Darren.

Gabriel menatap Adrian.

“Adrian Valerius.”

Adrian tidak membantah.

Namun, ia juga tidak terlihat terkejut.

“Ayah?” Raka menatapnya tajam. “Mengapa otorisasi itu masih berada di tangan Ayah?”

“Karena kode tersebut tidak pernah dihapus,” jawab Adrian. “Kode itu diwariskan dari Alistair kepadaku sebelum dia meninggal. Aku tidak pernah menggunakannya untuk mengaktifkan Protokol Terakhir.”

“Lalu mengapa tidak menghapusnya?” desak Kian.

“Karena jika kode itu dihapus, arsip yang menyimpan bukti tentang malam keluarga Ravencroft dihancurkan tidak akan pernah bisa dibuka.”

Gabriel tertawa kecil, tetapi kali ini terdengar pahit.

“Jadi, selama tujuh belas tahun kau menyimpan kunci menuju kebenaran, sementara Aren tumbuh tanpa mengetahui siapa dirinya.”

Adrian menatapnya dengan tajam.

“Aku menyimpan kunci itu karena aku berjanji kepada Elena akan melindungi anaknya. Aku tidak tahu apakah membuka arsip tersebut akan menyelamatkan Aren atau justru menyerahkannya kepada orang-orang yang memburunya.”

Aren mengangkat wajah.

“Apakah Ibu tahu tentang Protokol Terakhir?”

Adrian memandangnya dengan kesedihan yang tidak berusaha disembunyikan.

“Ya. Elena tahu bahwa gelangmu berkaitan dengan arsip itu. Tetapi dia tidak ingin kau terlibat di dalamnya. Dia ingin kau tumbuh sebagai anak biasa.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Gabriel tidak segera menyela.

Aren menatap gelang hitamnya. Ia teringat tulisan kecil di balik gelang itu, inisial yang sama dengan nama keluarga kandungnya. Ia teringat surat Elena yang mengatakan bahwa ia tidak pernah meninggalkannya karena kurang mencintainya.

“Ibu ingin aku hidup bebas,” bisiknya.

“Benar,” jawab Adrian. “Dan Ayah masih ingin hal yang sama.”

Aren mengusap sudut matanya, kemudian menarik napas panjang.

“Aku ingin tahu kebenarannya.”

“Aren,” kata Leon dengan lembut, “kita bisa melanjutkannya besok.”

“Tidak.” Aren menggeleng. “Aku tidak ingin semua orang terus memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh kuketahui hanya karena mereka ingin melindungiku.”

Kelima kakaknya terdiam.

Aren menatap mereka bergantian.

“Aku tahu kalian menyayangiku. Aku tahu kalian ingin memastikan aku aman. Tapi aku juga bagian dari keluarga ini. Aku berhak mengetahui apa yang terjadi pada keluargaku yang pertama, dan aku berhak mengetahui apakah keluarga yang sekarang membesarkanku sedang berada dalam bahaya.”

Raka menatap adiknya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk.

“Baik. Kita akan mencari kebenaran itu bersama-sama.”

Riven meremas lembut bahu Aren.

“Tapi kau tidak akan menghadapi apa pun sendirian.”

“Tidak akan,” sambung Darren.

Leon mengangguk. “Kami akan memastikan kau tetap aman.”

Kian kembali menghadap komputer.

“Kalau begitu, kita buka arsipnya.”

Namun, saat Kian memasukkan perintah untuk mengaktifkan akses ganda, layar mendadak berkedip merah.

Sebuah peringatan muncul.

PERINGATAN: AKSES TIDAK SAH TERDETEKSI.

Kian membeku.

“Aku tidak mengirim perintah ini.”

Lampu ruangan padam selama satu detik, lalu menyala kembali dalam cahaya merah darurat.

Dari pengeras suara tua di sudut ruangan, terdengar suara yang tidak dikenal.

“Pewaris Ravencroft telah ditemukan. Kunci pertama berada di tempat.”

Aren merasakan tangan Riven langsung menariknya ke belakang.

Suara itu berlanjut.

“Administrator Valerius juga hadir. Kunci kedua telah terkonfirmasi.”

Darren menatap layar dengan wajah pucat.

“Mereka mengawasi kita.”

Kian bergerak cepat, mencoba memutuskan koneksi. Namun, sebelum ia berhasil, layar utama menampilkan satu kalimat baru.

PROTOKOL TERAKHIR AKAN DIMULAI DALAM SEPULUH MENIT.

Di bawahnya, sebuah hitungan mundur mulai berjalan.

09:59.

09:58.

09:57.

Kian mencoba menghentikannya.

“Tidak bisa! Sistem ini terkunci dari dalam arsip.”

Gabriel berbalik tajam.

“Jangan biarkan hitungannya mencapai nol!”

“Aku sedang berusaha!”

Adrian berdiri di depan layar, wajahnya berubah serius.

“Semua orang dengarkan aku. Kita harus membawa Aren keluar dari rumah ini sekarang.”

“Tidak,” jawab Aren.

Semua kepala menoleh kepadanya.

Aren berdiri tegak meskipun tangannya gemetar.

“Kalau sistem itu membutuhkan gelangku dan kode Ayah, berarti mereka tidak akan berhenti hanya karena kita pergi. Mereka akan terus mengejar kita.”

“Aren, ini bukan waktunya membantah,” kata Adrian.

“Aku tidak sedang membantah, Ayah. Aku hanya tidak ingin terus berlari dari sesuatu yang bahkan tidak kita pahami.”

Raka menatap hitungan mundur, lalu memandang Kian.

“Bisakah kau menghentikannya?”

“Beri aku akses penuh dan mungkin aku bisa memutuskan pemicu utamanya. Tapi aku perlu tahu siapa yang mengendalikan sistem ini.”

Gabriel mendekati terminal.

“Ada satu cara. Protokol itu harus dibuka secara manual menggunakan kedua kunci. Setelah arsip utama terbuka, kita bisa melihat siapa yang mengirim perintah.”

Adrian segera menggeleng.

“Tidak. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ketika protokol diaktifkan.”

“Kalau kita tidak membukanya, sistem akan mengambil alih semua jaringan yang terhubung dengan arsip ini,” balas Gabriel. “Termasuk sistem keamanan mansion Valerius.”

Raka mengumpat pelan.

Kian memeriksa jaringan dan wajahnya semakin tegang.

“Dia benar. Ada koneksi yang sedang menyebar ke server mansion. Kalau dibiarkan, kita bisa kehilangan seluruh sistem keamanan.”

Aren mengulurkan tangannya, memperlihatkan gelang hitam yang melingkari pergelangan tangannya.

“Gunakan gelangku.”

“Tidak,” jawab kelima kakaknya hampir bersamaan.

Aren menatap mereka dengan mata membesar.

“Setidaknya dengarkan penjelasanku dulu.”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan,” kata Riven. “Kami tidak akan membiarkanmu menjadi sasaran lagi.”

“Aku sudah menjadi sasaran sejak lahir, Kak.”

Kalimat itu membuat Riven terdiam.

Aren melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.

“Aku tidak ingin mengorbankan diri. Aku hanya ingin membantu. Kalau kunci pertama memang gelangku, kita harus mencari cara menggunakannya tanpa membiarkan sistem mengambil alih kendali.”

Kian mengamati layar beberapa detik, kemudian mengangguk perlahan.

“Mungkin ada cara. Aku bisa mengisolasi terminal ini dari jaringan lain, lalu membuka arsip dalam lingkungan tertutup. Tapi aku membutuhkan waktu.”

“Berapa lama?” tanya Raka.

“Lebih cepat daripada hitungan mundur itu, kalau tidak ada yang menggangguku.”

“Kerjakan,” perintah Raka.

Darren dan Leon membantu Kian memutus jalur jaringan sekunder. Riven tetap berdiri di sisi Aren, sementara Raka mengawasi Gabriel dan Adrian secara bergantian.

Di layar, hitungan mundur terus berjalan.

07:12.

06:48.

06:21.

Kian akhirnya mengangkat kepala.

“Aku berhasil mengisolasi terminal. Sekarang kita bisa membuka arsip tanpa memberi akses langsung ke sistem mansion.”

Gabriel mengambil gelang hitam Aren dengan sangat hati-hati, tetapi sebelum menyentuhnya, ia berhenti dan memandang Adrian.

“Jika kita membuka berkas ini, semua rahasia yang kau sembunyikan selama tujuh belas tahun akan terbongkar.”

Adrian tidak mengalihkan pandangannya.

“Kalau memang kebenaran itu akan menyelamatkan anakku, aku tidak akan menghentikannya.”

Aren melepaskan gelangnya sendiri dan menyerahkannya kepada Kian.

Kian menempatkan gelang itu di atas pemindai yang terpasang di terminal. Cahaya biru menyala, memindai lambang serigala, kemudian berubah menjadi hijau.

KUNCI PERTAMA DITERIMA.

Selanjutnya, Adrian memasukkan kode administrator lama milik Alistair.

Layar kembali berkedip.

KUNCI KEDUA DITERIMA.

Seluruh ruangan mendadak hening.

Sebuah folder tersembunyi terbuka di layar. Di dalamnya terdapat daftar nama, rekaman video, dokumen perintah, dan satu berkas dengan tanda merah yang berkedip.

PERINTAH ASLI — MALAM KEJATUHAN RAVENCROFT.

Aren menahan napas.

Kian mengarahkan kursor ke berkas tersebut.

“Kita menemukannya.”

Namun, sebelum ia sempat membukanya, layar menampilkan permintaan autentikasi terakhir.

UNTUK MELIHAT NAMA PEMBERI PERINTAH, PEWARIS HARUS MEMILIH: VALERIUS ATAU RAVENCROFT.

“Apa maksudnya?” tanya Darren.

Gabriel memucat.

Adrian menatap layar seolah baru saja melihat sesuatu yang paling ia takuti.

“Ayah?” Aren berbisik.

Adrian tidak menjawab.

Di bawah pilihan itu, muncul tulisan baru.

SATU KELUARGA AKAN DISELAMATKAN. SATU KELUARGA AKAN DIHANCURKAN.

Hitungan mundur yang sempat terhenti kembali berjalan.

04:59.

04:58.

04:57.

Kian mencoba menutup jendela itu, tetapi sistem menolak perintahnya.

“Ini bukan sekadar arsip,” katanya tegang. “Ini mekanisme keputusan yang sengaja dibuat untuk memaksa pemegang kunci memilih salah satu keluarga.”

Raka langsung berdiri di samping Aren.

“Kita tidak akan memilih berdasarkan ancaman.”

Gabriel memandang Adrian.

“Kau tahu tentang ini, bukan?”

Adrian menatap layar dengan rahang mengeras.

“Aku tahu bahwa Alistair pernah merancang mekanisme penguncian. Tapi aku tidak pernah mengetahui bahwa dia menambahkan pilihan seperti ini.”

“Bohong,” desis Gabriel. “Kau tahu lebih banyak daripada yang kau akui.”

“Dan kau tahu lebih banyak daripada yang kau ceritakan!” balas Adrian.

Untuk pertama kalinya, suara Adrian menggema begitu keras hingga Aren terkejut.

Kedua pria itu saling menatap dengan kebencian yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.

Di antara mereka, Aren berdiri dengan pergelangan tangan yang kini tidak lagi mengenakan gelang hitam.

Ia menatap dua pilihan di layar.

VALERIUS.

RAVENCROFT.

Dua nama keluarga yang membentuk hidupnya.

Satu memberinya tempat untuk pulang.

Satu memberinya darah, sejarah, dan ibu yang tak pernah sempat ia kenal sepenuhnya.

Ia tidak ingin memilih salah satunya.

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun memaksaku membenci salah satu keluargaku,” ujar Aren.

Ia melangkah mendekati layar.

“Aku Aren Valerius. Aku juga Aren Ravencroft. Kalau kalian ingin kebenaran terbuka, berhentilah memperlakukanku seperti benda yang bisa diperebutkan.”

Sesaat, layar berhenti berkedip.

Lalu muncul sebuah pesan baru.

IDENTITAS GANDA TERDETEKSI.

Kian terbelalak.

“Aren, jangan sentuh layarnya!”

Namun, Aren tidak menyentuh apa pun. Ia hanya berdiri di hadapan terminal, menatap dua nama yang selama ini dipisahkan oleh kebencian dan rahasia.

Sistem berbunyi sekali.

Kemudian, pilihan VALERIUS dan RAVENCROFT menghilang.

Sebuah berkas baru terbuka secara otomatis.

PERINTAH ASLI BERHASIL DIPULIHKAN.

Nama pemberi perintah muncul di layar.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Raka menatap tulisan itu dengan wajah membeku. Darren mundur satu langkah. Leon menutup mulutnya dengan tangan. Riven mengumpat pelan, sementara Kian menatap data tersebut seolah tidak percaya pada apa yang dilihatnya.

Gabriel perlahan menundukkan kepala.

Adrian berdiri tanpa bergerak.

Aren membaca nama itu sekali lagi, berharap matanya salah.

Namun, tulisan tersebut tidak berubah.

PEMBERI PERINTAH: ALISTAIR VALERIUS.

Di bawahnya terdapat catatan tambahan.

PERINTAH DILAKSANAKAN OLEH: GABRIEL SOREN.

Viktor menoleh kepada kakaknya dengan wajah pucat.

“Kau…”

Gabriel tidak menjawab.

Namun, sebelum siapa pun sempat mengajukan pertanyaan, satu baris terakhir muncul di layar.

PENGUBAH PERINTAH SETELAH EKSEKUSI: ADRIAN VALERIUS.

Aren perlahan berbalik menatap ayahnya.

Adrian tampak seperti seseorang yang baru saja menyaksikan masa lalunya bangkit dari kubur.

“Ayah,” bisik Aren. “Apa yang Ayah ubah malam itu?”

Adrian memandang Aren, tetapi kata-kata seolah tertahan di tenggorokannya.

Kemudian, dari pengeras suara, terdengar rekaman lama.

Suara Alistair Valerius berbicara dengan tenang.

“Jika rekaman ini berhasil dibuka, berarti anak Ravencroft masih hidup. Dan jika Adrian berada di sana, berarti dia akhirnya harus memilih antara janji kepada sahabatnya dan keselamatan anak yang dipercayakan kepadanya.”

Rekaman berhenti sejenak.

Lalu suara Alistair kembali terdengar.

“Adrian, jika kau mendengar ini, jangan biarkan Aren mengetahui apa yang kau lakukan kepada ibunya pada malam terakhir itu.”

Aren merasa seluruh tubuhnya membeku.

Ibunya.

Elena Ravencroft.

Ia menatap Adrian dengan mata yang dipenuhi ketakutan baru.

“Apa yang Ayah lakukan kepada Ibu?”

Adrian memejamkan mata.

Di luar rumah tua Bukit Arvantis, terdengar suara beberapa kendaraan berhenti secara bersamaan.

Lampu sorot menembus jendela yang retak.

Kian menoleh ke layar pengawas dan wajahnya langsung berubah.

“Raka…”

“Apa?”

“Kita dikepung.”

Raka segera mengeluarkan senjatanya. Riven menarik Aren ke belakang, sementara Darren dan Leon bergerak melindungi sisi ruangan.

Di layar pengawas, puluhan orang berpakaian hitam mengelilingi rumah tua itu. Pada lengan mereka terdapat lambang yang sama dengan simbol yang ditemukan pada dokumen Proyek Serigala Hitam.

Seseorang berdiri paling depan, mengenakan mantel panjang berwarna kelabu.

Ia mengangkat wajahnya ke arah kamera, seolah mengetahui bahwa keluarga Valerius sedang mengawasinya.

Kemudian, pengeras suara kembali menyala.

“Terima kasih telah membuka arsipnya, Aren Ravencroft.”

Suara itu terdengar tenang, bahkan ramah.

“Sekarang kami tidak perlu lagi mencarimu.”

Sosok di layar tersenyum.

“Serahkan Adrian Valerius kepada kami, dan kami akan membiarkan kelima kakakmu tetap hidup.”

Riven langsung mengarahkan senjatanya ke layar seolah pria itu berdiri tepat di hadapannya.

“Coba saja sentuh adikku.”

Namun, pria di layar tidak memedulikannya.

Ia hanya menatap Aren.

“Dan jika kau ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada ibumu, tanyakan kepada ayah angkatmu mengapa Elena Ravencroft tidak pernah kembali setelah malam itu.”

Layar mendadak mati.

Aren berdiri kaku.

Di satu sisi, ada lima kakak yang siap mempertaruhkan nyawa demi melindunginya. Di sisi lain, ada seorang ayah yang selama ini menjadi tempatnya pulang, tetapi kini menyimpan rahasia tentang malam terakhir ibunya.

Adrian akhirnya mengangkat wajah.

“Aren, apa pun yang kau dengar malam ini, ada satu hal yang harus kau ketahui.”

Aren menatapnya.

“Apa itu, Ayah?”

Adrian menelan ludah, lalu menjawab dengan suara serak.

“Ibumu tidak pernah meninggalkan rumah Ravencroft malam itu sendirian.”

Jantung Aren berdegup keras.

“Lalu siapa yang bersamanya?”

Adrian memandang Gabriel.

Gabriel memandang Viktor.

Dan Viktor, dengan wajah pucat, perlahan berbisik:

“Tidak mungkin…”

Dari lorong di luar ruang arsip, terdengar tiga ketukan keras.

Tok.

Tok.

Tok.

Sebuah suara perempuan terdengar dari balik pintu besi.

Suara yang membuat Adrian kehilangan seluruh warna di wajahnya.

“Adrian… bukakan pintunya.”

Aren membeku.

Ia tidak pernah mendengar suara itu secara langsung, tetapi ia mengenalinya dari rekaman lama yang tersimpan dalam surat peninggalan ibunya.

Suara itu milik Elena Ravencroft.

Ibu kandungnya.

Dan suara itu baru saja memanggil nama ayah angkatnya.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!