Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 029 - Mengamankan Cincin dan Kunci Barak
Darah kental dari kepala Luo Biao yang remuk terus mengalir lambat menuruni alur lantai marmer hitam, menyatu dengan cairan merah pekat di kolam penampung altar. Di dalam keheningan aula gua yang pengap dan berbau tembaga karat itu, hanya terdengar suara tetesan darah dan helaan napas pendek Gu Yuan yang berusaha menstabilkan kembali detak nadinya setelah pertarungan hidup dan mati yang menguras tenaga.
Gu Yuan segera berjongkok di samping jasad pengawas barak timur yang telah mendingin di lantai batu. Dengan gerakan yang terlatih, dingin, dan tanpa ragu sedikit pun, tangannya melucuti kantong penyimpan kain bersulam kasar yang terikat di balik lipatan sabuk dalaman Luo Biao.
Ia membuka simpul tali pengikat kantong tersebut dan menuangkan seluruh isinya ke telapak tangan kirinya di bawah cahaya temaram lentera minyak: sebuah botol keramik hijau berisi lima butir Pil Penempa Raga kelas fana, selembar peta kulit kayu yang menggambarkan rute perbatasan selatan menuju Wilayah Liar, dan sebuah segel kayu besi bertatahkan pelat tembaga kecil bertuliskan huruf Izin Lintasan Barak Samping.
Lima butir Pil Penempa Raga kelas fana.
Melihat butiran pil bulat berwarna abu-abu mengilat tersebut, napas Gu Yuan sedikit tertahan di tenggorokan. Bagi seorang murid luar rendahan, mendapatkan sebutir Pil Penempa Raga membutuhkan kerja paksa memecah batu tambang selama enam bulan tanpa jeda. Kelima pil ini adalah hasil pemerasan Luo Biao terhadap jatah ransum murid-murid baru selama bertahun-tahun ia berkuasa di barak timur.
Dengan lima pil bermutu ini, Gu Yuan memiliki bahan baku obat yang cukup untuk memulihkan meridiannya yang robek dan mendorong kepadatan tulangnya menembus lapis kelima atau keenam Pemurnian Raga sebelum pertempuran puncak meletus.
Gu Yuan memasukkan botol pil keramik, gulungan peta perbatasan, dan segel izin lintasan itu ke dalam saku jubah abu-abunya, menjepitnya erat dengan lilitan tali kain agar tidak terjatuh saat ia bergerak cepat menuruni tebing.
Saat ia hendak bangkit berdiri, sebuah suara isak tangis tertahan terdengar dari sudut dinding batu kapur di dekat pintu masuk gua yang gelap.
Di sana, di balik reruntuhan balok batu mimbar yang hancur berantakan, pengawas tombak keempat—satu-satunya anak buah Luo Biao yang selamat karena berdiri di barisan paling belakang saat balok penyangga runtuh tadi—tampak gemetar hebat seperti daun ditiup badai. Tombak besinya telah terlempar lepas ke lantai marmer yang licin, kedua tangannya terangkat tinggi ke udara sambil tubuhnya berlutut mencium genangan darah dan lumpur di lantai batu.
“Ampun… Kakak… ampun…” ratap pengawas muda itu dengan suara parau yang tersengal-sengal menahan kencing. Matanya menatap jasad Luo Biao yang kepalanya remuk di samping tiang batu, lalu menatap sosok Gu Yuan dengan pandangan penuh kengerian yang penuh. “Aku hanya pengawal bawahan yang dipaksa mengikuti Luo Biao ke sini… Aku tidak tahu apa-apa soal formasi altar darah… Jangan bunuh aku, tolong lepaskan nyawaku…”
Gu Yuan menatap pengawas yang bersujud gemetar itu dengan pandangan mata yang datar dan dingin tanpa riak emosi.
Membunuh orang ini sangat mudah; satu tusukan belati ke pangkal lehernya akan membungkam mulutnya selamanya tanpa suara. Namun, mayat yang bertambah di mulut gua hanya akan mempercepat Tetua Mo Cheng menyadari skala perlawanan yang terjadi di dalam altar. Gu Yuan membutuhkan waktu agar kabar kematian Luo Biao tertunda selama mungkin sampai ia berhasil mencapai lereng tebing luar dan menyelinap ke persembunyian yang aman.
Gu Yuan melangkah mendekati pengawas yang sedang bersujud itu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tangan kanannya melesat secepat kilat, menghantamkan sisi telapak tangannya yang keras seperti lempengan besi tepat ke urat saraf di tengkuk kiri pria tersebut.
Plak!
Mata pengawas itu seketika berputar ke atas, tubuhnya terkulai lemas tak sadarkan diri ke atas lantai marmer sebelum kepalanya sempat membentur lantai batu kapur.
Gu Yuan segera mengambil sisa tali tambang rami yang berserakan di dekat balok mimbar yang hancur, melilitkan tali tersebut berkali-kali ke tubuh pengawas yang pingsan itu, lalu mengikatnya erat-erat pada pilar tiang kesembilan di seberang kolam darah. Ia menyumpal mulut pria itu dengan sobekan kain jubah yang tebal agar tidak bisa berteriak seandainya ia tersadar dalam beberapa jam ke depan.
Setelah memastikan situasi di dalam aula altar aman dari gangguan mendadak, Gu Yuan bergegas melangkah kembali ke panggung mimbar batu di ujung utara.
Ia memungut belati berkaratnya yang tergeletak di lantai marmer, lalu merundukkan tubuhnya kembali merayap masuk ke dalam celah kisi-kisi hawa alami di dinding tebing belakang singgasana batu. Kali ini, tidak ada lagi tombak yang memburu kakinya dari belakang.
Dengan tumpuan kedua siku dan kekuatan Tulang Besinya, Gu Yuan merayap cepat menembus celah batu cadas yang sempit, berlumut, dan basah. Hawa dingin segar dari luar tebing bertiup semakin kencang menyapu keningnya, membawa deburan gemuruh jutaan kubik air terjun yang kini terdengar membahana dari sisi luar tebing.
Lima belas langkah merayap di celah sempit, retakan batu cadas itu akhirnya melebar, memperlihatkan sebuah tonjolan tebing batu kapur yang curam di lereng belakang air terjun.
Gu Yuan meluncur keluar dari lubang retakan tebing, mendarat dengan mantap di atas permukaan tebing batu yang basah kuyup oleh percikan air menderu. Angin kencang lembah seketika menyapu tubuhnya, membawa bau belerang basah dan kabut senja yang mulai temaram di atas Pegunungan Lembah Hitam.
Di bawah kakinya, terbentang jurang terjal sedalam puluhan depa yang berarus deras, sementara di sepanjang punggung bukit sebelah barat, puluhan obor pasukan penegak hukum sekte mulai tampak bergerak menyisir jalan setapak barak luar.
Waktu yang tersisa sebelum Tetua Mo Cheng tiba memeriksa altar darah telah habis; Gu Yuan harus segera menemukan tempat persembunyian yang aman di kompleks barak sebelum malam ritual darah tibtib