Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Hasil Dari Resiko Yang Besar
Pintu kayu berat milik Toko Dagang Vane diketuk dengan ritme yang pelan namun mendesak.
Ketika pintu berderit terbuka, pelayan tua yang menjaga bagian depan langsung terperanjat mundur hingga menabrak rak pajangan. Ia menatap ngeri pada Arya yang berdiri mematung dengan pakaian compang-camping berlumuran darah kering, serta Max yang dipapah oleh Josh dengan lengan terikat kaku. Bau anyir isi perut dan sisa belerang seketika menyeruak, menenggelamkan aroma rempah di dalam ruangan itu.
"Panggil Tuan Vane," desis Josh parau.
Langkah kaki tergesa-gesa langsung terdengar dari koridor dalam. Vane muncul dengan mantel beludru mewahnya. Namun, ekspresi tenang yang biasa melekat di wajah saudagar licik itu seketika runtuh. Mata Vane membelalak lebar melihat kondisi Arya dan pasukannya.
"Demi Dewa..." Vane bergegas maju, menahan bahu Arya yang mulai limbung. Kulit pemuda itu terasa sedingin es. "Kalian benar-benar menembus zona transisi? Apa yang terjadi?!"
"Simpan pertanyaannya, Vane," potong Arya, suaranya sangat lemah namun tetap menuntut ketaatan. "Barang bawaannya... ada di sini."
Vane menatap sekilas gulungan kulit babi hutan masif dan bungkusan kain kotor di tangan Kin. Saudagar itu tahu barang tersebut bernilai setara kekayaan sebuah desa. Namun, melihat Arya yang bernapas putus-putus dan Max yang wajahnya pucat menahan sakit, Vane bertindak cepat. Nyawa sang pemodal jauh lebih berharga daripada sekadar mempercepat penimbangan.
"Bawa mereka ke ruang istirahat belakang! Cepat!" bentak Vane kepada pelayannya. Ia menoleh panik. "Lari ke asosiasi di distrik dalam! Sewa penyihir penyembuh terbaik yang ada. Bayar berapa pun yang mereka minta, gunakan namaku!"
Kurang dari setengah jam kemudian, seorang penyihir paruh baya berjubah linen abu-abu dengan tongkat berukir kristal air di tangan kanannya tiba dengan napas memburu.
Di dalam ruang istirahat yang hangat, penyihir itu merapal mantera pemulihan tingkat menengah. Cahaya kebiruan yang lembut berpendar di telapak tangannya, mengalir meresap ke dada Arya dan lengan Max yang hancur.
Proses itu memakan energi besar. Sihir itu bekerja memecah sisa hambatan regenerasi di dalam tubuh Arya, menyatukan kembali serat ototnya yang robek akibat overheat, serta merajut patahan tulang Max dengan presisi yang tidak bisa dilakukan tabib biasa.
Ketika sang penyihir akhirnya menurunkan tongkatnya, keringat bercucuran di wajahnya.
"Luka internal pemuda ini sudah stabil, dan paru-parunya pulih. Prajurit ini tulangnya juga sudah tersambung, tapi dia tetap tidak boleh mengangkat beban berat selama beberapa hari," ujar penyihir itu. Vane menghela napas lega dan langsung memberikan sekantung koin perak sebagai bayaran.
Menjelang siang, warna kulit Arya tidak lagi sepucat mayat. Ia bangkit dari ranjang, mengabaikan protes Max dan Josh, lalu berjalan keluar menuju meja kerja utama Vane.
Di atas meja kayu ek luas itu, pelayan Vane telah menggelar seluruh jarahan mereka. Kulit Babi Hutan Jarum yang tebal, taring-taring masif, telinga dan kristal goblin, enam lembar sisik kelabu Ironscale Basilisk sekeras baja, dan puncaknya—sebuah Kristal Mana berwarna hijau tua pekat yang memancarkan pendar sihir alami.
"Kau benar-benar gila, Tuan Muda Denwick," ucap Vane pelan, matanya tak bisa lepas dari Kristal Mana tersebut. "Membawa pulang jarahan selevel ini tanpa ada anak buahmu yang mati... ini pencapaian yang mustahil."
Arya duduk di hadapan sang saudagar, menatap lurus. "Berapa nilainya?"
Vane mengeluarkan sempoanya. Otak bisnisnya berputar cepat. "Untuk kulit babi hutan, taring, sisa material goblin, satu lembar sisik Basilisk, dan Kristal Mana berkualitas murni ini... aku berani membayar bersih lima ribu keping emas untukmu."
Angka itu membuat Erson dan Kin menahan napas di belakang Arya. Lima ribu koin emas. Itu adalah jumlah yang bisa menghidupi seluruh Baroni Denwick selama bertahun-tahun.
"Aku sepakat dengan harganya. Aku hanya menjual satu sisik," kata Arya tenang, lalu mendorong lima lembar sisik Basilisk yang tersisa ke tengah meja, berdampingan dengan pedangnya yang bengkok. "Apa kau tahu penempa hebat di sekitar sini? Aku ingin empat sisik Basilisk ini dijadikan set armor untuk diriku sendiri, dan satu sisik lagi untuk melapisi ulang pedangku yang rusak."
Vane mengusap dagunya, menimbang lempengan sisik yang berat itu. "Di sekitar sini sepertinya tidak ada pandai besi yang tungkunya mampu melebur kulit sekeras ini, Tuan Muda. Tetapi, aku ada kenalan seorang penempa terkenal di Stonehelm Kingdom—kerajaan ras dwarf di wilayah barat Verdentia."
"Berapa lama dan berapa biayanya?"
"Butuh waktu sekitar tiga bulan penuh untuk pengiriman dan penempaan khusus," hitung Vane. "Dan biayanya sekitar seribu tiga ratus koin emas."
"Lakukan," perintah Arya tanpa keraguan, lalu menatap kelima pasukannya. "Selanjutnya, aku butuh perlengkapan dari gudangmu. Lima set zirah pelat baja murni dan lima pedang tempaan berkualitas tinggi untuk anak buahku ini. Selain itu, siapkan tiga puluh set perlengkapan kesatria standar kerajaan—zirah, pedang, tombak, dan panah—serta lima gerobak penuh gandum kualitas baik."
Senyum Vane mengembang lebar mendengar pesanan masif tersebut. Jari-jarinya menari di atas biji sempoa.
"Pilihan logistik yang sangat tajam," puji Vane. "Jika keseluruhan dengan semuanya—biaya penempaan ke Stonehelm, lima zirah elite, tiga puluh set perlengkapan standar, dan gandum—maka itu akan menghabiskan sekitar tiga ribu tiga ratus koin emas, Tuan Muda."
"Ya, tidak apa-apa," jawab Arya mutlak.
"Sisa uang tunaimu adalah seribu tujuh ratus keping emas murni," Vane mencatat semuanya di atas perkamen bersegel. "Untuk lima perlengkapan elite anak buahmu, bisa langsung dipakai sekarang. Sedangkan pesanan tiga puluh set senjata dan lima gerobak gandum itu akan dikirim dengan pengawalan serikatku. Semuanya akan tiba di Kastil Denwick dalam tiga hari lagi."
Transaksi itu disepakati.
Satu jam kemudian, pemandangan mencolok terjadi di depan ruang ganti toko. Max, Josh, Willi, Erson, dan Kin melangkah keluar. Pakaian kotor bersimbah darah mereka telah dibuang. Kini, kelima prajurit itu mengenakan set perlengkapan kelas menengah ke atas—zirah pelat baja murni yang mengilap melindungi dada dan persendian mereka, dengan pedang panjang baru yang tergantung kokoh di pinggang.
Mereka tidak lagi terlihat seperti berandalan desa yang memegang tombak kayu, melainkan kesatria sejati yang siap membantai siapa pun yang menghalangi jalan tuan muda mereka.
Vane menyerahkan sebuah peti kayu kecil namun sangat berat, berisi seribu tujuh ratus keping emas murni, yang langsung dipanggul dengan mudah oleh Josh.
Arya bangkit dari kursinya, jubah barunya berkibar pelan saat ia melangkah menuju pintu keluar, diikuti dentingan pelat baja dari kelima pengawal elite-nya. Ia melangkah keluar dari Rustwood, membuktikan satu hukum mutlak di dunia ini: bahaya mematikan adalah satu-satunya jalan untuk mendatangkan emas.
👍