NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 "JOGJA ISTIMEWA" - (The Trilogy of Jogja)

Malam perlahan merengkuh kota Yogyakarta, menggantikan semburat lembayung senja dengan pekatnya langit berbintang.

Di kawasan Jeron Beteng, ritme kehidupan malam selalu berjalan dengan tempo andante—lambat, tenang, dan mendamaikan.

Suara deru kendaraan bermotor yang membelah jalan raya di luar keraton hanya terdengar sayup-sayup, kalah oleh paduan suara jangkrik yang mulai bersahut-sahutan dari balik semak-semak dan rimbunnya pohon mangga.

Wira sedang duduk bersila di atas kursi rotan panjang yang terletak di teras depan rumah klasik Bude Ning. Angin malam yang berhembus cukup dingin menyapu kulitnya, menerbangkan ujung rambut ikalnya yang masih setengah basah setelah ia mandi.

Di atas meja kayu jati berukir di hadapannya, tersaji sepiring nasi putih hangat yang masih mengepulkan uap tipis, ditemani semangkuk sayur lodeh nangka muda, dua potong tempe garit goreng, dan sepiring kecil sambal terasi bumbu terasi bakar buatan Mbok Darmi.

Perut Wira sebenarnya sudah menolak untuk diisi barang satu suap pun.

Bagaimana tidak?

Hanya dua jam yang lalu, ia dan Asmara menghabiskan waktu di angkringan dekat Alun-alun Kidul. Wira dengan kalap memakan dua bungkus nasi kucing oseng tempe, lima tusuk sate usus, dan beberapa potong mendoan. Perutnya benar-benar sudah meronta kepenuhan.

Jika ini adalah Wira Aji Pratama di bulan pertama kedatangannya ke Jogja, pemuda itu pasti sudah menepis piring tersebut.

Ia akan dengan angkuhnya berkata kepada Mbok Darmi, "Gue udah kenyang, Mbok. Taruh aja di dapur, nanti juga dimakan kucing," lalu ia akan masuk ke kamar, membanting pintu, dan bermain game di ponselnya hingga larut malam.

Namun, malam ini...

Wira yang duduk di teras itu adalah Wira yang telah direkonstruksi ulang oleh sang putri abdi dalem.

Wira menatap kepulan asap dari sayur lodeh itu. Ingatannya melayang pada petuah Asmara tempo hari di Ruang Budaya, saat gadis itu menegurnya karena menyisakan makanan bekal.

.....

"Mas Wira, menghargai makanan itu bukan sekadar soal lapar atau kenyang. Ini soal menghargai tangan yang sudah lelah memasaknya. Menolak makanan yang sudah disajikan dengan tulus adalah bentuk kesombongan yang paling melukai hati."

.....

Kata-kata itu terngiang jelas di telinganya, seolah Asmara sedang berbisik tepat di sebelahnya.

Wira menarik napas panjang, mengendurkan sabuk celana kolor pendeknya sedikit. Ia meraih sendok, menyendok nasi beserta kuah lodeh dan potongan tempe garit. Dengan pelan, ia memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya.

Seketika, mata Wira sedikit melebar.

Meski perutnya sudah kenyang, entah mengapa, setiap suapan dari makanan sederhana rumahan ini terasa luar biasa nikmat. Jauh lebih nikmat dari biasanya. Bumbu sayur lodeh yang gurih dengan sentuhan rasa manis khas masakan Jogja itu melebur sempurna di lidahnya.

Tiba-tiba saja, Wira menyadari bahwa kelezatan makanan ini bukan semata-mata karena racikan bumbu Mbok Darmi, melainkan karena suasana hatinya yang sedang mekar seperti bunga wijayakusuma di tengah malam.

Sambil mengunyah, pemuda itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintarnya.

Ia membuka aplikasi pemutar musik, mencari sebuah lagu yang baru saja ia unduh sore tadi setelah mendengarnya diputar oleh seorang pengamen jalanan di dekat angkringan.

Ibu jarinya menekan tombol play.

Dari speaker ponselnya yang diletakkan di atas meja, mengalunlah sebuah dentuman beat hip-hop modern yang menghentak, berpadu secara magis dengan suara alunan gamelan tradisional yang sangat khas.

Lagu itu berjudul...

"JOGJA ISTIMEWA" dari grup "Jogja Hip Hop Foundation".

Wira menyandarkan punggungnya ke kursi rotan.

Ia memejamkan mata, membiarkan lirik lagu yang dibawakan dengan rap berbahasa Jawa itu merasuk ke dalam telinganya.

.....

"Ketikung laku nisto, pesti ilang pamore~~~"

(Tersesat dalam perbuatan nista, pasti hilang pamornya/wibawanya...)

"Memayu hayuning bawono~~~"

(Memperindah keindahan dunia...)

.....

Irama lagu itu terasa begitu mewakili dirinya saat ini.

Sebuah perpaduan antara pemberontakan jiwa muda yang diwakili oleh ketukan beat rap yang keras, dengan kebijaksanaan dan ketenangan yang diwakili oleh alunan gamelan pelog.

Wira membuka matanya, menatap langit malam Jogja yang bersih tanpa awan.

Tiba-tiba, sebuah senyum paling tulus dan paling damai yang pernah ia rasakan, terukir di wajahnya.

Ia mengingat kembali momen di angkringan tadi sore.

Ingatan tentang bagaimana Asmara menatapnya di bawah cahaya lampu bohlam kuning temaram. Mata bulat gadis itu yang memantulkan ketulusan. Tawa renyahnya yang lepas tanpa beban. Keberanian gadis itu mendobrak batas aturan keratonnya hanya demi memperpanjang waktu bersama Wira.

Dada Wira bergemuruh hebat, dipenuhi oleh sebuah perasaan hangat yang meluap-luap.

Bogor, dengan segala kebisingan dan kebebasannya, perlahan-lahan mulai memudar dari singgasana rindunya. Kota hujan itu kini hanya seperti menjadi bagian dari masa lalunya. Wira menyadari bahwa pelariannya, rasa marahnya, dan segala bentuk pemberontakannya selama ini telah berakhir.

Pemuda itu menatap pilar-pilar jati rumah Bude Ning. Ia menatap jalanan Jeron Beteng yang sepi. Ia menghirup udara malam yang membawa aroma tanah dan bunga melati.

"Gue... nemuin rumah gue," batin Wira, sebuah pengakuan jujur yang menggema di relung hatinya.

"Gue pikir... gue dibuang ke neraka kedisiplinan. Tapi ternyata bokap gue salah. Dia nggak buang gue. Dia ngirim gue pulang ke tempat yang seharusnya."

Yogyakarta kini bukan lagi penjara baginya.

Kota ini telah menjadi rumahnya.

Sebuah rumah yang terasa begitu istimewa, begitu magis, dan begitu mengikat jiwanya.

Dan Wira tahu persis, satu-satunya alasan mengapa kota yang bergerak lambat ini bisa menaklukkan hatinya yang liar, adalah karena keberadaan seorang gadis.

Asmara Putri. Sang Bulan dari Abdi Dalem Keraton.

Gadis yang mengajarinya bahwa ketenangan bukanlah sebuah kelemahan, melainkan kekuatan terbesar untuk meredam amarah.

Lagu "JOGJA ISTIMEWA" terus mengalun menemani suapan demi suapan Wira.

Di bawah langit malam itu, sang preman dari Bogor telah resmi menggantungkan jaket perlawanannya. Ia telah jatuh cinta, sedalam-dalamnya, pada kota ini...

Dan pada seorang putri yang mendiaminya.

.....

.....

Sementara itu, hanya terpisahkan oleh beberapa blok gang kecil di kawasan Jeron Beteng yang sama, suasana di kediaman keluarga Asmara terasa begitu syahdu dan menentramkan.

Di ruang tengah rumah limasan yang sederhana namun sangat bersih itu, keluarga kecil tersebut sedang menikmati makan malam. Tikar pandan yang wangi digelar di atas lantai semen yang telah dipoles halus. Sebuah lampu gantung klasik memancarkan cahaya kuning yang hangat, menerangi hidangan makan malam mereka.

Asmara duduk bersimpuh dengan postur yang sangat anggun di sebelah ibunya, Nyi Surti. Sementara ayahnya, Romo Dwijo, duduk bersila di hadapan mereka berdua.

Di atas tikar, tersaji hidangan yang tak kalah sederhananya dari milik Wira: nasi putih, sayur bening bayam, dadar telur tebal, dan sambal bawang.

Keluarga abdi dalem itu makan dalam keheningan yang penuh unggah-ungguh. Tidak ada suara denting sendok yang beradu keras dengan piring. Tidak ada kecapan mulut yang berlebihan.

Bagi keluarga keraton, meja makan adalah tempat bersyukur, bukan tempat untuk berbicara panjang lebar sebelum piring benar-benar bersih.

Asmara menyuap nasi dengan pelan, mengunyahnya tanpa suara. Namun, di balik ketenangan postur dan gerakannya, pikiran gadis itu sama sekali tidak berada di ruang makan tersebut.

Jantung Asmara masih berdebar dengan ritme yang tak wajar.

Dadanya terasa dipenuhi oleh kepakan sayap ribuan kupu-kupu yang tak mau diam.

Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Wira di bawah lampu angkringan tadi sore kembali muncul. Senyum miring pemuda itu, sorot mata elangnya yang dalam saat mengupas telur puyuh untuknya, dan suara tawanya yang lepas... semuanya terputar ulang layaknya sebuah film favorit di dalam kepalanya.

Asmara bahkan masih bisa merasakan sisa kehangatan dari sentuhan tangan Wira di puncak kepalanya saat berada di lapangan basket beberapa hari lalu.

Mengingat hal itu, tanpa sadar, seulas senyum kecil dan simpul yang sangat manis merekah di bibir Asmara di sela-sela kunyahannya.

"Alhamdulillah..."

Suara bariton Romo Dwijo memecah keheningan saat beliau meletakkan sendok dan garpunya dengan rapi dalam posisi menyilang di atas piring, tanda bahwa ia telah selesai bersantap. Nyi Surti segera menyodorkan segelas air putih hangat kepada suaminya.

"Ujian Tengah Semestermu sudah selesai semua hari ini, Nduk?" tanya Romo Dwijo membuka percakapan ringan setelah minum. Beliau menatap putrinya dengan pandangan kebapakan yang teduh.

Asmara tersentak kaget dari lamunannya. Ia buru-buru menelan makanannya, lalu meletakkan sendoknya sendiri. "Alhamdulillah, sudah, Romo... Semua mata pelajaran sudah diujikan."

"Bisa mengerjakannya dengan baik? Tidak ada yang ngongso (dipaksakan) kan belajarnya?" timpal Nyi Surti sambil mulai merapikan sisa lauk-pauk di atas tikar.

"Insya Allah bisa, Bu. Asmara sudah belajar dari jauh-jauh hari, jadi tidak terlalu grusa-grusu (terburu-buru) saat ujian," jawab Asmara dengan bahasa kramanya yang sopan.

Romo Dwijo mengangguk-angguk puas. Beliau meraih serbet kain dan menyeka bibirnya pelan. "Syukurlah. Oh ya, Romo kemarin lusa sempat bertemu dengan Pak Anton, guru BK-mu itu, saat sedang sama-sama shalat Jumat di masjid besar."

Mendengar nama Pak Anton disebut, telinga Asmara langsung berdiri waspada. Instingnya mengatakan bahwa topik pembicaraan ini akan mengarah ke satu nama yang sejak tadi sedang mengacaukan isi kepalanya.

"Pak Anton titip salam buat kamu," lanjut Romo Dwijo santai. Beliau kemudian membetulkan letak kacamatanya, menatap Asmara dengan raut wajah yang sedikit penasaran. "Beliau juga bercerita panjang lebar tentang anak baru pindahan dari Bogor itu. Siapa namanya? Wira, kalau tidak salah?"

Deg!

Nama itu meluncur dari bibir ayahnya dengan begitu kasual, namun bagi Asmara, rasanya seperti ada petir yang menyambar tepat di dalam ruang tengah rumahnya.

Tubuh Asmara sedikit menegang, jemarinya meremas pelan ujung kain rok seragam yang belum sempat ia ganti sejak pulang sekolah tadi (karena ia memang pulang terlambat usai dari angkringan).

"I-iya, Romo. Namanya Wira," jawab Asmara. Suaranya, yang biasanya selalu stabil dan tenang, kini terdengar sedikit bergetar dan ragu.

Nyi Surti yang sedang menumpuk piring kotor ikut menoleh, menatap putrinya dengan alis sedikit berkerut. Sebagai seorang ibu yang telah membesarkan Asmara selama belasan tahun, insting Nyi Surti langsung menangkap getaran aneh dari suara putrinya itu.

"Pak Anton bilang, pemuda itu sudah selesai masa hukumannya," sambung Romo Dwijo, sama sekali tidak menyadari gejolak batin putrinya. "Katanya perubahannya luar biasa. Dari yang awalnya keras dan suka memberontak, sekarang jadi murid teladan yang sangat sopan dan sregep (rajin). Pak Anton bahkan memuji kamu setinggi langit, Nduk. Katanya, kamu yang berhasil mengawasi dan membimbing anak itu di Ruang Budaya sampai dia bisa sadar akan tata krama."

Romo Dwijo tersenyum bangga. "Romo ikut bangga mendengarnya, Asmara. Berarti filosofi air yang Romo ajarkan tempo hari benar-benar kamu terapkan untuk memadamkan bara apinya."

Pujian dari ayahnya yang biasanya akan membuat hati Asmara berbunga-bunga, kini justru membuat pipi gadis itu terasa panas.

Jika saja Romo Dwijo tahu apa yang sebenarnya terjadi di sekolah.

Jika ayahnya tahu bahwa sang putri abdi dalem yang dibanggakannya ini justru baru saja meneriakkan kata-kata kasar dengan logat Bogor untuk membela Wira di tengah lapangan.

Jika ayahnya tahu bahwa ia sengaja berbohong tentang "tugas kelompok" demi bisa berduaan memakan nasi kucing di pinggir jalan...

Rasa bersalah dan debaran asmara bercampur menjadi satu adonan emosi yang tak sanggup lagi Asmara sembunyikan di balik topeng ketenangannya.

"R-Romo terlalu berlebihan memujinya," sahut Asmara dengan nada yang nyaris terbata-bata. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam, berpura-pura sibuk merapikan serbet di pangkuannya. "Mas Wira... Mas Wira sebenarnya memang pada dasarnya orang yang baik, Romo. Dia... dia cuma butuh dimengerti saja."

Asmara merutuki mulutnya sendiri.

Mengapa ia harus membela Wira di depan ayahnya?

Mengapa suaranya harus terdengar begitu melunak dan penuh dengan... kepedulian?

Romo Dwijo terdiam sejenak. Sang ayah yang terkenal dengan kepekaan batinnya itu kini mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda. Beliau menatap putrinya lekat-lekat.

Di bawah cahaya lampu gantung, Romo Dwijo dan Nyi Surti bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana semburat merah merona menjalari kulit kuning langsat Asmara.

Rona merah itu menjalar dari pipi, menjalar hingga ke telinga gadis itu. Wajah Asmara yang biasanya sedatar air telaga, kini terlihat seperti buah jambu air yang matang sempurna—panik, salah tingkah, dan dipenuhi oleh kemilau kebahagiaan yang sangat asing.

Nyi Surti menghentikan pekerjaannya. Ia saling bertukar pandang dengan suaminya. Sebuah pandangan penuh arti yang diisyaratkan oleh kedua orang tua yang baru saja menyadari bahwa putri kecil mereka telah tumbuh menjadi seorang remaja yang sedang dimabuk cinta.

"Kamu sakit, Nduk? Kok wajahmu merah begitu?" goda Nyi Surti dengan nada yang sengaja dilembutkan, menyimpan senyum geli di sudut bibirnya.

Asmara semakin gelagapan. Ia refleks memegangi kedua pipinya yang memang terasa panas seperti baru dipanggang di atas tungku arang angkringan.

"M-mboten, Bu... Asmara tidak sakit," kilahnya cepat, suaranya naik satu oktaf karena panik. Ia buru-buru berdiri dari duduk simpuhnya. "Mungkin karena udara malam ini agak gerah, Bu. I-iya, gerah sekali. Asmara permisi bawa piring kotornya ke belakang dulu untuk dicuci ya, Bu, Romo."

Tanpa menunggu persetujuan kedua orang tuanya, Asmara langsung meraih tumpukan piring kotor tersebut dan setengah berlari menuju dapur di bagian belakang rumah. Langkah kakinya yang biasanya selalu teratur dan pelan, kini terdengar berderap tergesa-gesa.

Di ruang tengah, Romo Dwijo dan Nyi Surti tertawa pelan. Tawa yang sangat hangat dan penuh dengan kebijaksanaan orang tua.

"Sepertinya," gumam Romo Dwijo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum, "filosofi air yang Romo ajarkan itu tidak hanya memadamkan api sang pemuda, Bune."

Nyi Surti mengangguk setuju, matanya menatap ke arah pintu dapur yang baru saja dilewati Asmara. "Iya, Pakne. Airnya sepertinya malah ikut mendidih karena terlalu lama di dekat api."

Di dapur yang sepi, Asmara meletakkan piring-piring kotor itu ke dalam bak cuci piring. Ia menyalakan keran air, lalu mencipratkan sedikit air dingin ke wajahnya yang masih memerah padam. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela dapur yang gelap.

Jantungnya masih belum mau berkompromi. Debarannya semakin gila.

Asmara memejamkan mata, menghela napas panjang. Ia menyerah. Ia tak bisa lagi membohongi dirinya sendiri, apalagi membohongi kedua orang tuanya yang sangat peka itu. Ia, Asmara Putri, sang gadis penjaga budaya yang hidupnya penuh dengan aturan yang lurus, kini telah benar-benar jatuh cinta pada seorang begajulan dari Bogor.

.....

.....

Di saat yang bersamaan, di teras rumah Bude Ning, Wira masih memejamkan mata meresapi alunan lirik lagu "JOGJA ISTIMEWA".

Dua remaja itu, yang satu sedang mencuci piring dengan senyum tersipu malu, dan yang satu sedang memandangi langit dengan dada penuh kebanggaan, kini terhubung oleh benang merah yang sama.

Di bawah langit malam Jogja yang magis, di tengah kota yang penuh dengan sejarah, kisah mereka baru saja memasuki babak yang paling istimewa.

Kota ini bukan lagi sekadar tempat mereka berpijak.

Jogja telah menjadi saksi bisu bagaimana sebuah cinta bisa mengubah seorang pemberontak menjadi pelindung, dan mengubah seorang putri kaku menjadi gadis yang berani menantang dunia demi orang yang ia cintai.

Dan bagi Wira maupun Asmara, mulai malam ini, Jogja tidak akan pernah lagi sama.

Jogja akan selalu dan selamanya...

Menjadi istimewa.

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!