Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembah Kabut
Kaki Satrio tersangkut sesuatu yang lunak di balik semak, dan ia jatuh tertelungkup.
Bruk!
"Aduh...!"
Sesuatu di bawahnya ikut menjerit. Satrio langsung membekap mulut yang menjerit itu dengan tangan kirinya, dan pada saat yang sama, sebuah tangan kecil membekap mulutnya sendiri.
Mereka membeku di dalam semak, saling membekap, dengan mata sama-sama melotot. Yang tertindih di bawahnya Lintang, dengan rambut penuh daun kering dan pisau kecil Damar terselip di pinggangnya. Dua langkah di depan mereka, tanah menurun curam ke dalam lembah yang tertutup kabut putih.
Pelan-pelan, Satrio melepaskan bekapannya. Lintang ikut melepaskan tangannya.
"Kau..." desis Satrio, "Kau mengikutiku dari padepokan?"
"Dari gerbang," bisik Lintang.
"Tapi aku jalan duluan. Kenapa kau bisa ada di depanku?"
"Kakang berhenti makan singkong di bawah pohon asam waktu fajar tadi. Lama sekali." Lintang menepuk-nepuk daun kering dari rambutnya, "Kang Damar pernah cerita jalan pintasnya, lewat kali kering di balik bukit."
Satrio menatap bocah itu, lalu menatap jalan setapak di belakang mereka, yang ia tempuh semalaman dengan bahu nyeri.
"Pulang," katanya.
"Tidak."
"Lintang, di bawah sana ada Bargowo."
"Aku tahu."
"Kalau kau ketahuan, dia dapat sandera baru. Kuikat saja kau di pohon ini sampai aku kembali."
"Lalu anjing hutan datang. Kemarin ada jejaknya di kali kering itu." Lintang menatapnya tanpa berkedip, "Atau aku ikuti Kakang lagi dari belakang, dan Kakang tidak tahu aku di mana."
Satrio menarik napas untuk membantah.
"Atau aku teriak di sini sekarang," lanjut Lintang, lebih pelan lagi.
Satrio melongo.
"HAHAHA!" Tawa Eyang meledak di dalam kepalanya, "Kalah! Kalah berdebat dengan bocah yang tingginya baru sedadamu!"
'Eyang!'
"Tiga kalimat, bocah. Dia cuma butuh tiga kalimat."
Satrio menggaruk tengkuknya keras-keras. Lintang menunduk dan mencabuti duri kecil dari ujung kainnya.
"Aku cuma mau lihat," kata Lintang. Suaranya turun, "Kang Pradipta ada di sana atau tidak."
Satrio berhenti menggaruk.
"Kalau dia memang di sana," katanya pelan, "Kau mau apa?"
Lintang tidak menjawab. Tangannya turun ke pinggang dan menggenggam gagang pisau kecil itu.
"Pisau itu bukan untuk memotong tali, bocah," gumam Eyang pelan.
Satrio menghela napas.
"Kau jalan di belakangku," katanya, "Kalau kusuruh sembunyi, kau sembunyi, dan jangan keluar sampai aku datang menjemputmu."
Lintang mengangguk cepat.
"Itu pisau Kang Damar?"
"Pinjam."
Mereka menuruni lereng terakhir berdua.
Matahari sudah tinggi di atas bukit, tapi begitu mereka melewati barisan semak di bibir lembah, cahayanya berubah pucat seperti senja. Kabut di bawah sana tebal dan kelabu, menggantung setinggi atap rumah, dan dinginnya langsung menempel di kulit seperti kain basah. Batang-batang pohon mati mencuat dari dalam kabut itu, putih kelabu dan tanpa daun, dahannya bengkok ke segala arah. Tanah di bawah kaki mereka lunak dan berbau busuk. Setiap langkah membuat sandal Ki Arya tersedot sedikit, lalu lepas dengan bunyi pelan.
Lima langkah di depan, semuanya putih. Satrio mengulurkan tangan kirinya, dan ujung jarinya pun mulai kabur.
Tapi suara datang dari mana-mana. Kepak sayap burung terdengar jauh di atas sana, bercampur dengan tetes air dari dahan-dahan mati. Di arah yang tidak bisa Satrio tebak, sesuatu yang berat tercebur ke air.
"Di kabut seperti ini, mataku sama butanya dengan matamu," gumam Eyang.
Di kaki salah satu pohon mati, tulang rusuk seekor kerbau mencuat dari lumpur, separuhnya sudah terbenam. Lintang merapat ke punggung Satrio.
Mereka sampai di tepi genangan air yang lebar. Permukaannya tenang dan rata, hijau kehitaman, tanpa riak sedikit pun. Lintang sudah mengangkat kakinya untuk melangkah ke batu di tengah genangan itu.
Satrio menyambar kerah baju Lintang dan menariknya mundur.
Ia mematahkan sebatang dahan mati sepanjang lengan dan menancapkannya ke air yang tenang itu. Dahan itu masuk sejengkal, dua jengkal, lalu terus tertelan pelan-pelan sampai tangan Satrio ikut basah sampai pergelangan. Satrio buru-buru menarik tangannya. Dahan itu lenyap ke bawah permukaan, dan airnya kembali rata.
Lintang menatap genangan itu dengan wajah pucat.
"Kang Damar benar," bisiknya.
Mereka memutar lewat akar-akar pohon mati yang mencuat dari lumpur, melangkah dari satu akar ke akar berikutnya. Satrio berjalan di depan sambil menusuk-nusuk tanah dengan sebatang dahan baru. Di belakangnya, Lintang memegang ujung baju luriknya, dan gigi anak itu mulai bergemeletuk.
Satrio meraih tangan Lintang yang dingin dan menggenggamnya. Ia mengalirkan sedikit panas ke telapak tangan anak itu, pelan sekali, seperti waktu membuka kampil Branjang. Gemeletuk gigi Lintang berhenti.
"Hangat," bisik Lintang.
"Jangan bilang Sekar. Nanti dia minta juga."
Lalu, dari arah kanan, sebuah suara menembus kabut.
"...dua hari cuma dikasih air. Air rawa pula. Paman, perutku sudah bunyi seperti kentongan..."
Satrio berhenti melangkah. Wajahnya terangkat, dan mulutnya terbuka untuk berseru.
Lintang melompat dan membekap mulutnya dari belakang.
Satrio mengangguk-angguk di balik telapak tangan kecil itu sampai Lintang melepaskannya. Bahu Lintang yang sejak tadi tegang mengendur sedikit. Mereka bergerak ke arah suara itu dengan merangkak. Lumpur dingin merembes ke balutan di bahu kiri Satrio, dan setiap kali lututnya tenggelam, ia harus menariknya keluar pelan-pelan supaya tidak berbunyi. Mereka terus merangkak sampai sebuah batu besar yang ditumbuhi lumut muncul dari dalam kabut. Satrio merapatkan punggung ke batu itu, lalu mengintip dari sisinya.
Di balik batu itu, tanahnya sedikit lebih tinggi dan lebih kering, seperti pulau kecil di tengah rawa. Kabut di sana lebih tipis karena panas dari api unggun di tengahnya. Ada tiga tenda dari kain hitam. Tenda yang paling besar berdiri di belakang, dan pintunya tertutup rapat. Empat lelaki berpakaian hitam duduk di sekitar api. Satu mengasah golok, satu tidur dengan mulut terbuka, dan dua lainnya membakar ikan rawa di ujung ranting.
Di dekat api, ada tiang kayu yang ditancapkan ke tanah. Gandung terikat di sana dengan kedua tangan di belakang tiang. Pipi kirinya lebam keunguan, mata kanannya bengkak sampai tinggal segaris, dan bibirnya pecah. Bajunya robek di bahu, dan kedua pergelangan kakinya juga diikat ke tiang. Di tanah di depannya ada mangkuk tempurung berisi air keruh.
"Paman," katanya lagi kepada penjaga terdekat, "Kalau aku mau dipotong-potong, setidaknya beri aku makan dulu. Daging kurus tidak laku dijual."
Penjaga itu menendang tiang sampai Gandung terbentur.
"Diam, Gendut."
"Gendut itu karena aku baru dua hari tidak makan. Kalau sudah tiga hari, aku jadi kurus. Kalian sendiri yang rugi."
Dua penjaga lain mendengus menahan tawa.
"Temanmu itu," gumam Eyang, "Diikat di tiang, mukanya bengkak, dan yang dia pikirkan masih perutnya."
'Itu Gandung, Eyang.'
Satrio menggigit bibir. Matanya panas, dan sudut bibirnya terangkat sendiri, sampai ia harus menekan mulutnya dengan punggung tangan. Di sebelahnya, Lintang memeluk lutut dan menatap Gandung dengan mata basah.
Dari dalam tenda besar itu terdengar batuk berat, lalu bunyi sesuatu yang diletakkan di atas kayu.
Di atas tiang itu, dahan pohon mati yang paling besar menjulur melintang. Sesuatu tergantung di dahan itu, digulung dan dibungkus kain gelap, sebesar karung beras.
"Bocah," bisik Eyang, "Hitung mereka. Jangan cuma melihat temanmu."
'Empat di dekat api,' batin Satrio, 'Satu tenda besar, tertutup. Dan purnamanya malam ini.'
Dari sisi seberang perkemahan, seseorang muncul dari dalam kabut sambil memikul dua ember kayu.
Sabuk merah bersulam tiga lidah api di pinggangnya lebih dulu menembus kabut, baru kemudian wajahnya.
Lintang menahan napas.
"Lambat!" bentak penjaga yang mengasah golok, "Dari tadi kami haus, Murid Buangan!"
Lelaki itu lebih kurus daripada terakhir kali Satrio melihatnya di gerbang Geni Wening. Rambutnya kusut, tulang pipinya menonjol, dan ada bekas memar di pelipisnya. Ia berjalan menunduk, seperti dulu waktu meninggalkan padepokan dengan sabuk yang sama terseret di tanah.
'Kang Pradipta,' batin Satrio, 'Orang yang menceritakan semuanya pada Bargowo sebelum Malam Obor.'
Tangan Lintang mencengkeram lengan Satrio. Jari-jari kecil itu gemetar hebat, dan cengkeramannya makin kencang.
Pradipta meletakkan kedua ember itu di dekat api. Begitu penjaga yang mengasah golok berpaling ke arah ikan bakarnya, Pradipta mencelupkan mangkuk tempurung di depan Gandung ke dalam ember, lalu meletakkannya kembali berisi air bening. Gerakannya cepat, dan matanya tetap tertuju ke tanah.
Lalu ia menegakkan punggung dan menoleh ke arah kabut di balik batu tempat mereka bersembunyi.