Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Club malam
Suara hingar bingar musik malam, berdentum kencang mengiring gerakan meliuk-liuk orang-orang yang melepas penat mereka. Duduk dia pria kurang kerjaan di meja bartender, mencoba berbaur dengan para manusia yang sudah sangat mengenal dunia malam. Nyatanya....
Santana menggeleng pelan, heran melihat pria yang mengajaknya ke club malam, tapi justru memesan jus jeruk. Melihat cara bartender melirik mereka, lalu mencoba menyembunyikan senyumnya, justru membuat Santana malu sekali.
Selesai pemotretan untuk majalah fashion, niat hati pulang untuk istirahat, siapa tahu kan mimpi Senjananya. Ini malah diajak nongkrong mantan calon kakak iparnya dengan alasan suntuk bekerja.
" Kalau niatnya cuma pesan jus jeruk, mendingan tadi mas ajak saya ke cafe aja. " celetuk Santana sedikit sewot.
" Ck.. Kalau di cafe kita nggak bisa ngobrol leluasa dari hati ke hati. " balas Angkara.
Santana mencibir, apanya yang hati ke hati. Santana rasa mereka berdua belum sedekat itu untuk berbicara masalah hati.
" Di apartemen atau di kantor mas kan bisa. " Angkara menggeleng.
" Nostalgia saya tuh, ajak kamu ke sini.. Dulu kan saya cukup dekat sama dunia malam. " curcol Angkara.
" Trus? Mas tobat? "
Angkara menggeleng, " Senja.. Jemput saya sambil bawa pistol mainan. Teriak di tengah sana, sambil teriak nama saya. Katanya saya ada hutang sama dia... Hahahahahahaha.... " Angkara ngakak brutal.
Santana melotot kaget, tidak menyangka bisa ada kejadian macam itu dalam hidup seorang Senjana. Tapi kalau ingat masa SMA dulu, memang Senjana ini punya kelebihan seperti itu. Julukannya aja ' Ranjau Darat '.
" Saya nggak bisa, San. Nggak bisa kalau di kantor nggak ada Senja. Bawaannya pengen ngamuk, kerjaan nggak ada yang beres. Semuanya berantakan. "
" Mas ngomong gitu kesannya kalian ini udah suami istri aja. " Santana kok jadi sewot ya.
" Haha.. Kamu orang kesekian yang ngomong begitu, San. "
" Dulu.. Haruka pernah baby blues karena jadi ibu itu ternyata nggak sesuai dengan ekspetasinya. Dia pengen kasih ASI ekslusif, tapi tiap kali dia kasih ASI, dia sama Anjani balapan nangis. Kamu tahu nggak gosip apa yang muncul di kantor? " Santana menggeleng, meskipun dia sudah ada gambarannya.
" Mereka semua gosipin saya selingkuh sama Senjana, makanya Haruka sampai baby blues.. Gila kan. " Angkara terkekeh.
Entahlah, tapi menurut Santana setiap kali Angkara menceritakan tentang Senjana, kakak dari Yara ini bisa membuat berbagai macam ekspresi. Nggak cuma lempeng sama marah aja settingan wajahnya.
Bagi Santana yang minim interaksi dengan orang lain, bentuk hubungan antara Angkara dan Senjana ini unik sekali. Mungkin alasan Senjana begitu terlihat nyaman saat bersama Angkara karena keduanya sudah menganggap kalau mereka ini saudara kandung.
Tapi hari gini, saudara kandung aja bisa jadi musuh. Ini yang dulunya orang asing, lalu dipertemukan takdir dan menjadi sedekat nadi. Santana jadi iri, meskipun irinya lebih ke arah kenapa bukan dia yang sedekat itu dengan Senjana.
" Senjana itu hidupnya susah, San.. Eh, kalau saya cerita soal Senjana kamu nggak ngerasa bosan kan? " tanya Angkara merasa jika dia selalu menyinggung soal Senjana saat bersama siapapun itu.
Santana menggeleng, lalu dalam hati, ' Saya justru senang mas cerita soal Senja.. Karena saya yang sekarang benar-benar buta soal Senjana. ' batinnya.
" Waktu gosip soal saya dan Senja jadi makin besar di kantor, saya iseng suruh dia cari pacar. Ya masak udah setua itu dia nggak punya pacar. Kalau nggak salah kan dia seusia kami, San. "
" Tapi dia malah jawab kalau dia nggak mau pacaran sama siapapun karena dia nggak mau ditinggalin lagi. Pas saya bahas kelanjutannya karena saya penasaran, dia malah bilang itu rahasia.. Sialan banget dia itu.. " sambil terkekeh, Angkara geleng-geleng kepala. Tingkah Senjana itu menyenangkan untuknya yang selalu dibuat kesal.
" Ternyata emang bener dia pernah pacaran waktu SMA trus diputusin sama pacarnya karena masalah pribadi. Ini saya denger ceritanya dari Yara, sih. Waktu mereka berdua ngadain acara apaan tuh, yang khusus cewek2 itu... "
" Waktu itu dalam hati saya berkata, bodoh banget orang yang ninggalin cewek seunik Senjana. Dia itu menyenangkan tanpa dibuat-buat. Dia pengertian, perhatian untuk setiap detail yang ada di sekitarnya dan yang paling melekat di dia itu celotehannya yang kadang diluar nulur. "
Santana menyetujui penilaian Angkara dalam hati, " Ya, mas.. Memang bodoh banget pria yang meninggalkan Senjana. " saat mengucapkannya, dia seperti menelan Duri ikan.
*******
Hachih... Hachih..
Yang sedang dibicarakan Angkara dan Santana, terus bersin sejak tadi. Padahal tadi sore Senjana masih merasa baik-baik aja.
" Ck.. Ada yang lagi ngomongin gue nih.. Seratus persen pasti pak bos.. " ujar Senjana sembari cekikikan.
Dalam bayangannya saat ini Angkara sedang pusing sendiri mengurus pekerjaan. Apalagi Jenifer itu terkenal agak lemot, makanya sampai Yara punya dua sekretaris.
" Non.. Jangan di luar terus, udah dingin ini hawanya. " tegur mbok Jumi yang entah kapan sudah berdiri saja di belakang Senjana.
" Ya ampun, mbok.. Kaget aku. " gantian si mbok yang cekikikan.
" Lagi ngapain sih, non? " tanya mbok Jumi yang jadi ikut nimbrung bareng Senjana di teras. Bahkan dia meminta Jamal yang duduk di ruang tamu untuk membuat teh untuknya dan Senjana.
" Nggak lagi ngapa-ngapain, mbok. Cuma menikmati suasana pedesaan. Kapan lagi coba aku bisa cuti? Pak Ang pasti nggak akan kasih izin lagi mau aku sampe pingsan depan mata. " mbok Jumi mengangguk setuju sambil terkekeh.
" Pak Angkara pasti sekarang pusing tujuh keliling ya, non. "
" Bener banget, mbok.. Pasti besok dia bakalan pergi ke dokter penyakit dalam buat periksa. " kedua senang sekali membicarakan kesengsaraan Angkara.
" Eh non.. Rencana ke panti asuhannya jadi? " Tiba-tiba mbok Jumi bertanya tentang rutinitas yang dilakukan Senjana setelah mamanya meninggal dunia.
" Jadi lah, mbok.. Nanti pas hari terakhir aja, sekalian saya bablas ke kota. "
" Mbok boleh nanya nggak, non. " Senjana menatap mbok Jumi lekat.
" Kenapa mbok? Tanya aja lagi, kok kesannya serius amat. "
Mbok Jumi tersenyum, " Kenapa harus di panti yang itu sih, non? Selalu tiap tahun, padahal kan bisa ganti panti asuhan yang lain kalau non mau donatur. " rasa penasaran yang sudah mbok Jumi rasakan selama ini akhirnya berhasil dia utarakan.
" Ehmmmm... Kenapa ya? " Senjana pura-pura seperti tengah berpikir.
" Menurut mbok kenapa? " dia malah balik tanya.
" Dih.. Non Senja ditanya malah balik tanya. "
Senjana tertawa pelan, senang sekali bisa menggoda mbok Jumi yang kalau sudah penasaran pasti nagih jawaban. Hanya saja, Senjana sedikit harus mempersiapkan diri agar tidak mewek kalau membahas masalah ini.
" Kenapa selalu di panti itu, ya??? Karena... dia tumbuh dan besar di sana mbok. " senyum Senjana terlihat miris..